
"Mas, kenapa kamu turun?" Tanya Erina ketika melihat Bisma turun dari mobil. Erina dan Bisma berada di depan rumah Soraya, mereka datang untuk mengantarkan nasi goreng. Katanya, Soraya mengidam nasi goreng buatan Erina.
"Kenapa?" Bisma membalikan pertanyaan sambil memasang wajah polos, meskipun sebenarnya mengerti maksud Erina. Sekarang sudah siang, Bisma mungkin akan terlambat pergi ke kantor mengingat jam kerja di mulai sepuluh menit lagi.
Tapi, bagi Bisma itu sama sekali tidak masalah, lagipula tidak akan ada yang berani menegurnya meskipun nanti Bisma terlambat. Tidak berniat sombong, karena memang kenyataannya Bisma pemimpi orang-orang di perusahaannya.
Bisma tidak perlu khawatir telat atau apalah itu namanya, dia lebih takut kejadian beberapa hari yang lalu terulang. Bisma ingin memastikan Erina baik-baik saja setelah bertemu Soraya, setidaknya hanya itu yang bisa Bisma lakukan untuk istrinya.
"Mas, kamu bisa telat ke kantor." Ucap Erina mengingatkan Bisma sambil menatap suaminya itu dengan dahi berkerut. Tidak lama Bisma meraih tangan Erina dan menggandengnya untuk berjalan menuju rumah Soraya dan Farhan.
"Kita bisa pergi ke kantor setelah mengantar nasi goreng untuk Soraya." Ucap Bisma sebelum akhirnya mereka berdua tiba di depan rumah minimalis itu, lalu Bisma mengetuk pintu dan mengabaikan tatapan Erina kepada dirinya.
"Kenapa mereka lama sekali?" Gumam Bisma saat pintu di depannya tidak kunjung di buka. Bisma sadar Erina terus menatap padanya, tapi berusaha untuk terus mengabaikan tatapan Erina sampai akhirnya Erina membuatnya harus menyerah.
"Sayang, kamu tahu? tatapan memujamu itu terlalu berlebihan! kamu membuatku gugup!" Bisma menatap wanita di sampingnya dan membuat tatapan mereka bertemu, Bisma tiba-tiba meneguk ludah melihat mata Erina.
Tadinya, Bisma berniat pura-pura gugup, tapi tatapan Erina membuatnya benar-benar merasa sangat gugup. Bisma ingin menghindari tatapan Erina padanya, tapi entah kenapa Bisma merasa terkunci dengan tatapan istrinya itu.
Erina sendiri menatap Bisma sambil berusaha mencerna apa yang suaminya katakan. Kita? apa Erina tidak salah dengar? Bisma berniat mengajaknya ke kantor? tapi untuk apa Erina datang ke tempat kerja suaminya?
Tidak lama terdengar suara pintu terbuka dan seseorang berdehem mengalihkan perhatian suami-istri itu, Erina dan Bisma menoleh kearah sumber suara secara bersamaan, Soraya berdiri di hadapan mereka dengan wajah bantalnya.
"Raya, ini nasi goreng pesanan kamu." Ucap Erina sambil memberikan kotak makanan di tangannya. Soraya tidak menerima kotak makan dari tangan Erina, malah menatap bingung Erina karena tidak merasa sudah memesan nasi goreng.
"Kata Farhan, kamu mengidam nasi goreng yang aku buat. Lihatlah! aku sudah membuat nasi goreng untuk kalian." Ucap Erina memperjelas perkataannya. Hal itu membuat Soraya menatap Erina dan Bisma secara bergantian.
Memang bukan Soraya yang memberitahu Erina bahwa Soraya sedang sangat menginginkan nasi goreng, Farhan yang diam-diam memberitahu Erina saat wanita itu menelpon menanyakan apa yang Soraya inginkan dalam fase mengidamnya.
Setelah makan malam bersama empat hari lalu, Erina setiap hari menelpon Soraya dan bertanya barangkali ada yang sedang Soraya inginkan, tapi Soraya selalu mengatakan tidak ada yang di inginkannya karena tidak mau merepotkan Erina.
Hari ini, berhubung ponsel Soraya sulit sekali di hubungi, Erina memutuskan untuk menelpon Farhan dan Farhan mengatakan Soraya sedang sangat menginginkan nasi goreng buatan Erina sehingga Erina terburu-buru membuatnya.
Kalian yang Erina maksud adalah Soraya dan bayi di kandungannya. Karena Erina tahu jam segini Farhan sudah berangkat ke cafe, Erina hanya membuat nasi goreng untuk Soraya, lagipula yang mengidam juga Soraya bukan Farhan.
Soraya mencibir dalam hati, bisa-bisanya Farhan memberitahu Erina, padahal Soraya sudah melarang keras Farhan untuk merepotkan Erina. Meskipun Soraya memang sangat menginginkan nasi goreng itu, tapi lebih penting depresi Erina.
__ADS_1
Soraya sudah berusaha menahan keinginannya dengan membuat nasi goreng sendiri, bahkan Soraya juga sudah kembali tidur. Karena ternyata nasi goreng buatannya tidak berhasil memenuhi keinginannya sampai Erina dan Bisma datang.
"Raya, tolong terima nasi gorengnya, kami tidak memiliki banyak waktu disini." Ucap Bisma menengahi dan memberikan kotak makan itu tepat pada tangan Soraya, lalu kembali meraih tangan Erina. "Maaf, kami harus segera pergi."
Bisma menarik tangan Erina tanpa menerima penolakan, dia tidak membiarkan Erina terlalu lama berada di rumah Soraya karena takut ada air mata di wajah istrinya, karena alasan apapun Bisma tidak akan membiarkan Erina menangis.
"Mas ..." Ucap Erina memekik, dia menoleh ke belakang dimana masih ada Soraya yang sedang berdiri disana, lalu kembali melihat Bisma yang berjalan di depannya. "Kenapa kamu menarik tanganku? aku dan Soraya belum selesai ..."
"Mas sudah telat, sayang." Ucap Bisma memotong perkataan Erina sambil melempar senyuman, dia membuka pintu mobil untuk Erina dan meminta Erina masuk dengan sedikit dorongan. "Khusus hari ini kamu harus menemani mas di kantor."
Erina yang ingin protes memilih untuk menutup rapat mulutnya, dia harus ingat tidak boleh menolak keinginan suami, lagipula menemani Bisma di kantor tidak ada salahnya, Erina juga merasa bosan terus berada di mansion mereka.
Sementara itu, sudut mata Soraya beralir setelah melihat mobil Bisma pergi dari perkarangan rumahnya, lalu Soraya menatap kotak makanan di tangannya dan tersenyum, air dari setiap sudut matanya semakin menetes karenanya.
"Maaf, terimakasih, Erin ..."
××××××××××××××××××××××××××××××××××××
"Selamat pagi, nona Erin." Sapa Leo saat melihat Erina datang. "Lama tidak bertemu, bagaimana kabar anda? anda terlihat ..." Suara deheman yang cukup keras menginterupsi perkataan Leo, lalu tubuh tegap Bisma berdiri tepat di hadapannya.
"Pagi, kabar istriku sangat baik kalau tidak ada orang sepertimu yang menyapanya." Ucap Bisma sarkas sambil menyambut tangan Leo yang sebelumnya terulur kepada Erina, sepertinya Leo harus diingatkan kembali tentang sesuatu.
Karena setiap kali Leo menggoda Erina, bukan wajah Erina yang memerah, melainkan wajah Bisma yang terlihat menahan emosi, dan Leo sangat menikmatinya, akhirnya Bisma dibuat kesal karena cemburu terhadap wanita.
Setelah sekian lama Bisma akhirnya bertemu wanita yang dicintainya. Sebagai sahabat, Leo ikut merasa senang, dan mereka tidak akan lagi disangka tertarik terhadap sesama jenis karena tidak memiliki kekasih atau teman wanita.
Ya, dulu memang banyak sekali yang mengira Bisma dan Leo memiliki hubungan sesama jenis. Karena setiap kali ada wanita yang datang untuk menemui Bisma untuk urusan hati, para wanita itu pasti akan pulang dengan wajah kecewa.
Bisma terkenal cuek di kantor, karyawan wanita seksi saja tidak pernah di lirik olehnya, bahkan pernah suatu hari ada karyawan yang sengaja menunjukan bentuk tubuh indahnya, Bisma langsung memecat karyawan wanita itu.
Oh ya Rose, client yang bertemu dengan Bisma di pernikahan Leo dan Krystal, dia salah satu wanita yang mendapat penolakan Bisma. Sebelum Rose pulang ke negara ayahnya, Korea selatan, Rose pernah mengejar cinta Bisma tapi tidak berhasil.
"Ck, berhentilah basa basi." Ucap Bisma, lalu menghempaskan tangan Leo dan menarik Erina masuk ke dalam ruangan kerjanya. Sementara Erina hanya mengikuti langkah Bisma, dia mana tahu apa yang terjadi diantara Bisma dan Leo.
"Kamu memang sudah berubah, Bisma." Gumam Leo disertai senyuman khas. Sama seperti orang lain, harapan terbesar Leo untuk Bisma dan Erina adalah mereka cepat memiliki anak, karena kadang Leo merasa kasihan melihat Bisma.
__ADS_1
Bukan karena Leo tahu Bisma menginginkan buah hati, Leo berharap Erina cepat hamil supaya Bisma bisa lebih fokus terhadap pekerjaan, dan supaya Leo tidak melihat wajah khawatir yang selalu Bisma tunjukan saat berada di kantor.
Cinta Bisma terhadap Erina memang begitu besar, tapi cinta itu tidak akan cukup kalau Erina masih terpuruk atas kehilangan anak mereka. Bahkan, Bisma sering cerita tentang Erina yang kadang berbicara hal yang berbau perpisahan.
Sudah lama tidak terjadi, tapi kemarin Bisma kembali bercerita, entah apa yang mendasari Erina membicarakan itu, Leo hanya bisa menyarankan Bisma untuk mengadopsi seorang anak untuk menghentikan pemikiran Erina.
Sekilas Erina terlihat baik-baik saja, wanita itu masih sama seperti pertama kali bertemu Leo, tapi sebenarnya Erina hanya tidak menunjukannya. Erina sakit. Bisma bisa saja kehilangan Erina besok atau hari lainnya.
"Mas, kamu yakin ingin aku menemanimu di tempat ini?" Kalimat itu yang pertama keluar dari mulut Erina setelah pintu besar di ruangan Bisma tertutup, dia khawatir keberadaannya akan mengganggu pekerjaan Bisma di kantor.
"Hm, kenapa? apa kamu tidak menyukai tempat ini?" Tanya Bisma lembut, lalu dia menyatukan jemarinya dengan jemari Erina dan menarik pelan Erina menuju sofa, ekspresi wajah Bisma berubah seketika saat mereka hanya berdua disana.
Erina terdiam mengamati sekitar tanpa menjawab pertanyaan Bisma kepadanya dan hanya menurut saat Bisma menyuruhnya duduk di sofa, lalu Erina tersenyum melihat bingkai foto di ruangan suaminya. Foto pernikahan mereka.
"Mas, kamu percaya aku mencintaimu, kan?" Tanya Erina tiba-tiba, dia menatap Bisma yang duduk di depannya sambil tersenyum. Bisma tidak menyukai senyuman itu, Erina pasti akan mengatakan hal aneh dan tidak masuk akal.
"Kamu harus tahu perasaanku padamu tidak akan berubah, dan kalau suatu saat nanti aku pergi ..."
"Sayang, mas akan mengambil cemilan untukmu sebentar." Ucap Bisma memotong perkataan Erina, cukup sekali Bisma mendengar kata-kata itu keluar dari mulut istrinya, dan apapun yang terjadi Bisma tidak akan membiarkan Erina pergi.
"Mas, kalau aku tidak menolak untuk berpisah darimu, apa aku egois?" Tanya Erina sambil menahan tangan Bisma yang hendak pergi dan menatap Bisma dengan mata yang sudah mulai berair. Pertanyaan itu selalu menghantuinya.
Bisma tidak menjawab, hanya membawa tubuh mungil Erina ke dalam pelukannya, ini kedua kalinya Erina bertanya hal yang sama dan Bisma benar-benar tidak tahu harus menjawab apa. Karena Bisma takut melakukan kesalahan.
"Mas, aku mencintaimu ..." Lirih Erina.
Bisma semakin mengeratkan pelukannya, dia akan menganggap apa yang Erina katakan sebagai angin. Selain kata cinta, Bisma akan menganggap Erina tidak pernah mengatakan apapun lagi. Dan kalau cinta tidak cukup kuat untuk membuat Erina bertahan, maka Bisma akan membuktikan bahwa kebersamaan mereka adalah keharusan.
~ TBC
"Pernah tidak kalian berada di titik mencintai dan dicintai, tapi keadaan seolah tidak berpihak pada kalian? pernah kalian merasa kurang pantas menjadi pendamping atau pasangan orang itu?"
"Kadang, cinta saja belum cukup untuk membuat suatu hubungan bertahan. Karena justru banyak sekali orang yang memilih menghilang supaya cintanya bisa bahagia dengan yang lain."
"Cinta itu rumit, pernikahan itu rumit, perasaan itu rumit, dan semua hal di dunia ini rumit, kita tidak akan merasa mudah dalam menghadapi semuanya, maka kalian nikmatilah prosesnya."
__ADS_1
Regards,
Nur Alquinsha A | IG: light.queensha