
Erina bisa bernafas lega, dia tidak mengidap penyakit apapun, dokter mengatakan pusing yang Erina rasakan hanya karena anemia, bukan karena menderita penyakit berbahaya.
Erina harus berterimakasih kepada Bisma yang memaksanya pergi ke rumah sakit. Karena tanpa suaminya itu Erina tidak akan memiliki keberanian untuk sekedar bertemu dokter.
"Nona Erin, apa kamu hamil?" Tanya Leo setelah cukup lama terdiam, Leo penasaran tentang alasan Erina terus tersenyum semenjak mereka keluar dari rumah sakit.
Saat ini, Erina, Bisma dan Leo sedang berada di sebuah restoran yang terletak tidak jauh dari rumah sakit, mereka memutuskan untuk makan siang di luar sebelum pulang.
Erina baru selesai melakukan pemeriksaan saat jam makan siang tadi sehingga Bisma mengajaknya makan di restoran sekitar rumah sakit dan Leo mengikuti mereka berdua.
Erina tersedak mendengar pertanyaan Leo, dia buru-buru meneguk air karena tenggorokannya terasa sakit dan hal itu membuat para pria kelabakan tanpa kecuali.
"Erin, kamu baik-baik saja? apa tenggorokan kamu sakit?"
"Nona Erin, kamu baik-baik saja?"
Bisma dan Leo saling bersautan, mereka terlihat mengkhawatirkan Erina yang batuk-batuk sambil memegang leher, lalu Bisma memberi tatapan tajam kepada Leo.
"Tidak bisakah kamu mengontrol bicaramu?" Tanya Bisma menggeram.
"Apa maksudmu? aku hanya bertanya, apa itu salah?" Ucap Leo menanggapi Bisma.
Erina mengangkat tangan kanannya untuk meleraikan Bisma dan Leo.
"Aku baik-baik saja." Ucap Erina menjawab pertanyaan Bisma dan Leo padanya.
"Bisma, aku tidak berbohong, aku baik-baik saja." Erina menegaskan saat melihat Bisma hendak mengatakan sesuatu kepada Leo.
"Baiklah." Putus Bisma pada akhirnya, lalu memilih untuk melanjutkan makannya, tapi Leo malah kembali mengajak Erina bicara.
"Jadi, apa kamu hamil, nona Erin?" Leo mengulangi pertanyaan yang belum Erina jawab. Bisma kembali memberikan tajam, sementara Erina masih terlihat tenang.
"Tidak, kenapa kamu tiba-tiba menanyakan itu? kalau kamu ingin segera menggendong bayi, kamu bisa segera menikah!" Sahut Erina sengaja membalikan keadaan.
Bisma yang berniat menegur Leo diam-diam tertawa melihat wajah pucat pasi sahabatnya, entah bagaimana Leo akan menanggapi perkataan Erina yang sedikit keterlaluan itu.
Ya, tentu saja Erina disebut keterlaluan karena menyuruh Leo menikah disaat pria itu bahkan tidak memiliki kekasih, tapi Bisma juga senang Erina bisa membalas keusilan Leo.
"Ternyata kamu mengerti maksudku, aku ingin kamu hamil supaya aku bisa segera menggendong bayi, ah anakmu pasti akan cantik sepertimu." Ucap Leo dengan girang.
Erina dan Bisma baru akan menanggapi perkataan Leo, tapi sebuah suara menginterupsi pembicaraan mereka.
__ADS_1
"Bisma?" Panggil seseorang yang menghampiri meja tempat Erina, Bisma dan Leo duduk. Erina tidak mengenali orang itu, sementara Bisma dan Leo menatap dengan mata melotot.
"Krystal?" Gumam Bisma dan Leo bersamaan, nyaris tidak terdengar, namun masih bisa tertangkap oleh indera pendengaran Erina, sepertinya kedua pria itu mengenali seseorang yang saat ini berdiri diantara mereka.
Krystal melirik Leo sinis, lalu menunjukan senyuman manisnya kepada Bisma, bahkan wanita itu memeluk Bisma dengan sangat antusias dan membuat ketiga orang yang ada disana membulatkan mata mereka.
"Bisma, aku kangen sama kamu." Ucap Krystal dengan nada manja.
Bisma terperanjat dengan perlakuan tiba-tiba Krystal. Sementara Erina dan Leo langsung memalingkan wajah mereka.
"Krys--"
"Oh ya, apa kabar? bagaimana keadaan nenek kamu?" Tanya Krystal yang secara tidak langsung memotong perkataan Bisma.
"Tolong lepaskan tanganmu ..." Ucap Bisma pelan, dia sudah berusaha melepaskan diri dari pelukan Krystal, tapi tenaga Krystal lumayan dan membuat Bisma sulit terlepas.
Erina mendengus saat melirik kearah Bisma dan suaminya itu masih berada dalam pelukan wanita lain. Erina ingin sekali menyeret tangan wanita itu supaya menjauhi miliknya.
"Kenapa gak dorong wanita itu? Bisma, jangan sampai membuat kesabaran gue habis!" Gumam Erina dalam hati sambil berusaha menekan kata sabar pada dirinya sendiri.
Krystal masih saja memeluk Bisma seakan sedang melepaskan rindu karena mereka sudah lama tidak bertemu. Tanpa peduli dengan kedua orang yang ingin menyeretnya.
Bisma berdehem menatap Erina, dia lebih peduli pada Erina dibandingkan wanita yang saat ini berjarak sangat dekat dengan dirinya.
"Er--"
"Bisma, kamu benar-benar tidak kangen padaku?" Tanya Krystal kembali memotong Bisma yang hendak bicara kepada Erina.
Krystal memberikan tatapan tidak bersahabat kepada Erina, tidak jauh berbeda dengan cara Krystal menatap Leo tadi, Krystal terlihat tidak menyukai keberadaan Erina disana.
Bisma baru akan membuka mulutnya dan berniat meminta Krystal untuk menjaga sikap di depan Erina, tapi sebuah suara kembali menginterupsi mereka.
"Krystal!" Teriak seseorang dari kejauhan dan membuat perhatian Krystal teralih pada orang itu. Krystal mendengus mengetahui siapa yang datang dan memanggil namanya.
"Haish. Bisma, aku harus pergi, nanti aku akan menghubungimu." Krystal berjalan cepat menghampiri orang yang memanggilnya.
Sebelum benar-benar meninggalkan tempat itu, Krystal sempat tersenyum manis dan melambaikan tangannya kepada Bisma.
Bisma menarik nafas, lalu bicara dalam hati. "Kenapa pergi begitu saja? Bagaimana caraku menjelaskan pada mereka berdua?"
Bisma melihat Erina dan Leo memberikan tatapan tajam padanya. Bisma merasa hidupnya akan berakhir hari itu juga, tatapan Erina dan Leo benar-benar membunuhnya.
__ADS_1
Bisma menelan ludah sebelum bicara. "Erin--"
"Aku mendadak tidak nafsu makan." Ucap Erina menyela perkataan Bisma sambil menaruh sendok yang sebelumnya dia pegang ke atas piring dengan kasar.
Bisma bahkan Leo tersentak mendengar suara khas dari sendok dan piring yang saling bersentuhan itu. Sementara Erina terlihat tidak peduli mengetahui Bisma dan Leo kaget.
"Erin, kamu salah paham, Krystal--"
"Aku juga sudah kenyang." Sahut Leo ikut menyela perkataan Bisma dan membuat wajah bosnya itu memerah menahan emosi.
"Tidak bisakah kamu diam? aku sedang bicara kepada istriku!" Ucap Bisma dengan penuh penekanan akibat emosi.
"Ya, baiklah. Silahkan bicara, dasar penghianat." Ucap Leo menanggapi Bisma, entah kenapa pria itu terlihat begitu kesal.
Erina terdiam sambil berusaha mencerna umpatan Leo barusan, lalu Erina mendahului bicara karena melihat Bisma akan bicara.
"Bisma, sebaiknya kamu cepat menghabiskan makananmu, aku tidak ingin terlalu lama berada di tempat ini." Ucap Erina datar.
Bisma membuang nafas kasar dan mengacak rambut frustasi, sepertinya Erina kembali salah paham dan Leo malah diam tanpa berniat membantu Bisma menjelaskan.
"Erin--"
"Aku benar-benar tidak betah disini. Jadi tolong, Bisma habiskan makanan kamu karena aku ingin segera pulang." Erina tidak memberi kesempatan Bisma untuk bicara. Lagi.
Bisma masih belum menyerah, dia kembali berusaha menjelaskan kesalahpahaman yang terjadi dan berkata. "Erin, ini tidak seperti yang kamu pikirkan, saya dan Krystal--"
"Kamu tidak tahu apa yang ada dalam pikiranku, Bisma. Jadi berhenti bicara dan habiskan makanannya, aku ingin segera pulang." Tanpa sadar Erina berteriak.
Bisma tersentak, sepertinya Erina benar-benar sudah salah paham dan marah, wanita itu bahkan membuat perhatian orang-orang tertuju kearah mereka karena teriakannya.
Sementara Leo, pria itu hanya diam memandangi Bisma dan Erina, dia tidak berniat menjadi penengah karena dia juga merasakan apa yang Erina rasakan.
××××××××××××××××××××××××××××××××××××××
Jangan lupa tinggalkan jejak, like, favorit dan share cerita ini kalau kalian suka sama ceritanya. Karena aku mungkin tidak akan tahu seberapa antusiasnya kalian terhadap cerita ini kalau kalian tidak meninggalkan jejak, jadi mana suara kalian? Hehe ...
Btw, ada yang bisa nebak siapa Krystal? Erina masih belum hamil, yang kemarin mikir Erina hamil jangan kecewa ya? 🤭
Regards,
Nur Alquinsha A.
__ADS_1