
"Kamu yakin mau pulang ke Jakarta sekarang?" Tanya Bisma ketika membantu Erina berkemas.
Bisma tidak tahu alasan Erina tiba-tiba ingin kembali ke Jakarta, sebelumnya mereka hanya membahas tentang Erina yang belum hamil dan wanita itu meminta Bisma untuk bersabar.
Bisma baru saja keluar kamar ibu Sonya dan berniat membiarkan Erina beristirahat, tapi tiba-tiba saja Erina keluar kamar dan mengatakan bahwa mereka harus pulang secepatnya.
Bisma menerka ada sesuatu yang membuat Erina mendadak ingin pulang, mungkin menyangkut Soraya. Saat mereka bulan madu di Seoul saja Erina sampai memaksa ingin pulang.
"Hm." Sahut Erina hanya dengan gumaman.
"Baiklah, tapi kenapa kamu ingin pulang?" Tanya Bisma tidak mengerti, pasalnya mereka sudah sepakat untuk seminggu menginap di Karawang.
"Tidak ada alasan, memang mas tidak ingin pulang ke Jakarta?" Erina balik bertanya tanpa melihat lawan bicaranya.
Bisma mengangguk semangat meskipun Erina tidak sedang menatap padanya. "Aku menyukai tempat ini, jadi kenapa kita harus buru-buru pulang, hm?"
"Mas menyukai tempatnya atau menyukai orang-orang yang ada disini?" Tanya Erina masih sibuk mengemas barangnya.
Bisma terdiam sejenak memikirkan jawaban untuk pertanyaan Erina, dia menyukai Karawang karena ada ibu mertua dan adik iparnya di kota ini, orang-orang yang Bisma sukai juga hanya mereka, ibu Sonya dan Bayu.
"Oh ya, baju mas yang ada di kamar Bayu sudah semuanya diambil?" Erina menyela Bisma yang akan menjawab pertanyaannya.
"Sudah, aku menyukai orang-orang yang ada disini, jadi bagaimana kalau kepulangan kita diundur?" Bisma menarik-narik baju Erina bak anak yang meminta uang jajan kepada ibunya.
Baiklah, sebenarnya Bisma tidak membantu Erina berkemas, pria itu hanya membantu mengambil pakaian dan barangnya dari kamar Bayu, sementara yang mengemasnya hanya Erina.
Bisma tidak melakukan apapun selain berusaha membujuk Erina supaya mereka tidak jadi pulang. Bisma juga ingin memastikan Erina tidak akan menyesal memilih pulang secepat ini.
Erina akhirnya berhenti berkemas dan menatap suaminya, Bisma sempat berpikir Erina setuju, tapi sepertinya Bisma sudah kembali melakukan kesalahan. Erina tidak terlihat menyetujuinya.
"Jadi mas suka sama orang-orang yang godain mas di toko?" Tuding Erina yang membuat Bisma menelan kasar ludahnya, bukan apa-apa, Erina menodong Bisma menggunakan gunting.
Tadi Erina sedang menggunting benang yang menyangkut pada resleting tasnya dan spontan menodong suaminya menggunakan gunting, dia berniat sedikitpun menyakiti Bisma.
"T-tidak, kenapa dengan orang-orang di toko?" Tanya Bisma tergagap, selain takut melihat gunting, Bisma juga kurang mengerti apa yang sedang Erina bicarakan.
__ADS_1
Erina mendengus melihat wajah sok polos Bisma, lalu Erina menyimpan gunting di meja nakas dan kembali mengemas barangnya, alasan Erina ingin pulang ke Jakarta sangat sederhana, nenek Sonya memintanya berkunjung ke rumah dan Erina tidak tahu caranya menolak. Hanya itu.
Bisma bernafas lega mengetahui Erina sudah menyimpan gunting itu, ternyata Erina masih cukup waras untuk tidak menyakiti ayah dari calon anak-anaknya. Karena hanya Bisma yang boleh menjadi ayah dari anak yang Erina lahirkan, bukan pria lain sekalipun pria itu Bryan.
"Erin ..." Bisma merengek meminta penjelasan saat Erina mengabaikan pertanyaannya.
"Mas, bisa membantu aku menelpon ibu?" Tanya Erina mengalihkan, kebetulan saat itu memang ibu Sonya dan Bayu sedang berada diluar.
"Oh? kamu belum menjawab pertanyaanku!" Ucap Bisma tanpa menjawab permintaan Erina sebagai pembalasan karena Erina sudah mengabaikan pertanyaannya.
"Yasudah kalau tidak bisa, aku bisa menelpon ibuku sendiri." Ucap Erina kembali tidak memperdulikan Bisma yang seolah menuntut meminta jawaban darinya.
Bisma dengan cepat merebut ponsel dari tangan Erina, dia tidak percaya Erina masih bisa keras padanya. Bisma pikir Erina akan memberi penjelasan setelah wanita itu diabaikan, tapi ternyata Bisma selalu salah dan tetap kalah.
"Aku akan menelpon ibumu, apa yang harus aku katakan padanya?" Ucap Bisma sambil berusaha mengotak-atik ponsel Erina padahal ponsel itu terkunci.
Erina mendengus tidak percaya melihat Bisma yang tidak bertanya sandi ponselnya. "Masukan tanggal lahirmu, baru kunci layarnya akan terbuka dan setelah itu tolong katakan pada ibu kalau kita akan kembali ke Jakarta."
*****
Bisma menoleh kepada Erina sebentar. "Rumah nenekku?" Tanyanya memastikan.
Bisma ingat terakhir kali bertemu neneknya, mereka membicarakan perceraian dan Bisma tidak tahu hal apa yang membuat Erina ingin bertemu sang nenek, tapi dibandingkan itu Bisma lebih takut kalau sang nenek kembali membicarakan perceraian.
Bisma berharap bukan nenek Sekar yang ingin Erina datangi, tapi memang ada nenek lain yang Erina kenali di Jakarta? Bisma rasa tidak ada dan itu membuat Bisma takut, bagaimana kalau nenek Sekar benar-benar membahas perceraian?
"Hm." Sahut Erina membenarkan pertanyaan Bisma.
Bisma yang sedari tadi memikirkan sejak kapan Erina memakai tanggal lahirnya sebagai sandi kunci layar akhirnya merasa pikirannya teralihkan akibat hal itu, apa ini alasan Erina ingin cepat-cepat pulang ke Jakarta?
"Kenapa kamu mendadak ingin bertemu nenek?" Tanya Bisma berusaha bersikap tenang meskipun sebenarnya merasa khawatir.
"Nenek meminta kita datang, apa mas dan nenek bertengkar lagi?" Tanya Erina teringat saat Bisma menangis di rumah nenek Sekar, lalu Erina menatap Bisma yang masih fokus menyetir.
"T-tidak, kami tidak bertengkar, aku hanya heran kenapa nenek tidak menghubungi langsung kalau ingin bertemu kita." Jawab Bisma sambil tersenyum dan menatap Erina sebentar.
__ADS_1
Erina menebak ada sesuatu yang terjadi, buktinya Bisma terlihat salah tingkah saat menjawab pertanyaan Erina dan Erina terus menatap padanya, sepertinya memang ada sesuatu yang terjadi dan Bisma berusaha menyembunyikannya.
Erina memegang tangan kiri Bisma dan berkata. "Jangan khawatir, mungkin nenek hanya ingin bertemu kita." Ucapnya
Erina berusaha menenangkan Bisma seolah tahu apa yang terjadi, padahal Erina tidak mengetahui apapun kecuali tentang hubungan Bisma dan nenek Sekar yang kurang baik.
Bisma tersenyum menatap Erina sekilas. "Aku percaya semuanya akan baik-baik saja hanya karena kamu memintaku untuk tidak khawatir."
Erina memang tidak tahu kalau Bisma dan sang nenek pernah membicarakan tentang perceraian, sehingga semakin yakin ada sesuatu yang sudah terjadi saat mendengar jawaban Bisma barusan.
Dalam hati Bisma. "Aku sudah memilih untuk percaya padamu, aku harap kamu tidak membuatku kecewa."
*****
Leo si playboy yang akhirnya bertemu kembali dengan belahan jiwanya:
"Jangan berpikir untuk merasa kehilangan baru setelah itu kamu menyesal." (Leo)
Leo mengenal dia sebagai gadis konyol dan ceroboh yang hobby bermain piano, Krystal:
"Aku tidak pernah melihat kebelakang karena ada banyak hal menakutkan yang sengaja aku tinggalkan disana." (Krystal)
Pemeran utama wanita dan pria:
"Jika mengandalkan cinta, aku dan dia tidak akan bertahan sampai akhir, mungkin aku akan pergi dengan alasan bahwa dia pantas bahagia bersama wanita yang lebih sempurna." (Erina)
"Bagaimana caranya menghapus ingatan orang tanpa membuatnya terluka? Aku ingin menghapus sebagian ingatan dia, aku ingin membuat dia lupa tentang apa yang pernah terjadi diantara kami." (Bisma)
Silahkan pecahkan teka-teki tentang kisah mereka selanjutnya. Aku akan lebih berusaha supaya cerita ini segera bertemu titik akhir. Jangan lupa untuk memberi dukungan kalian (like, favorit, komentar dan share) Kalo bisa sekalian rating dan tip nya :v
__ADS_1