
Bisma terbangun ketika mendengar ponselnya berdering, lalu meraba meja nakas dimana ponselnya tersimpan disana. Bisma melihat layar itu dengan mata menyipit, nama sahabatnya tertulis disana dan Bisma langsung menerimanya.
"Ya, Leo. ada apa?" Tanya Bisma setelah menggeser ikon hijau pada layar ponselnya.
"Bisma, aku sudah tahu siapa yang membuat Erin jatuh dari tangga." Ucap Leo dari sembrang sana, Bisma yang mendengar itu mengarahkan pandangannya pada wanita yang sedang tidur dalam pelukannya, wajah Erina terlihat damai.
"Tunggu sebentar!" Bisma perlahan menurunkan tangan Erina yang melingkar pada pinggangnya, lalu beranjak dari kasur dengan hati-hati dan berusaha untuk tidak mengusik tidur Erina.
Bisma pergi ke balkon supaya bisa lebih leluasa, sebenarnya Bisma sangat memikirkan orang yang berani mencelakai Erina, dia juga tidak bermaksud menyalahkan Gisella tanpa bukti. Bisma hanya tidak ingin pikiran Erina terbebani.
"Sekarang kamu bisa mengatakan siapa yang sudah mencelakai istriku." Titah Bisma.
"Mario, keponakan pemimpin agensi Gisell."
"Jadi benar Gisell terlibat?" Rahang Bisma mengeras mengetahui siapa yang sudah membuat Erina celaka, Mario harus membayarnya.
Bisma mengenal siapa Mario, dia pernah menjadi selebritis sebelum narkoba membawanya ke meja hijau, tidak disangka sekarang berandalan itu beralih propesi menjadi pembunuh bayaran.
Ha, atau mungkin membunuh Erina adalah usahanya untuk kembali meraih popularitas yang sudah hilang, mungkin si pemimpin agensi menjanjikan itu, sayang sekali usahanya gagal.
Bisma ingat kalau Gisella memiliki hubungan khusus dengan pemimpin agensi itu, mungkin Gisella tidak terima masuk penjara dan akhirnya mengadu, tapi kenapa harus Erina sasarannya?
"Tidak. maksudku, sepertinya Gisell tidak terlibat, orang yang ada di balik kecelakaan Erin hanya pemimpin agensinya."
Bisma terdiam karena mendengar penjelasan tidak terduga dari mulut Leo. Hanya pemimpin agensi Gisella, tapi kenapa pria tua itu mengincar Erina? apa Erina sudah menyinggungnya?
"Kenapa pemimpin agensi Gisell ingin membunuh istriku?" Tanya Bisma kontan, lalu terdengar helaan nafas dari sebrang sana.
"Ini yang tidak aku mengerti, tapi menurutku sepertinya Erin mengetahui sesuatu yang bisa mengancamnya." Jawab Leo berasumsi.
"Maksudmu?" Bisma malah lebih tidak mengerti, masalahnya Erina bukan orang yang akan peduli dengan urusan orang. Bisma mengetahui hal itu.
"Kata Soraya, Gisell menemui Erin di cafe. wanita itu meminta maaf dan sedikit menceritakan tentang dirinya yang hanya menjadi pemuas nafsu, mungkin itu alasannya." Jelas Leo.
"Mas ..." Suara itu menginterupsi percakapan Bisma dan Leo via telpon. Bisma membalikan tubuhnya dan melihat Erina sudah berdiri disana dengan mata yang masih mengantuk.
"Sayang, kenapa kamu bangun, hm?" Tanya Bisma, lalu mematikan telpon secara sepihak.
__ADS_1
Erina tidak menjawab, dia menghampiri Bisma dan langsung memeluk erat tubuh suaminya itu, Erina baru saja mengalami mimpi buruk. Erina bermimpi Bisma menikahi wanita lain.
Bisma memasukan ponselnya ke dalam saku, sebelum akhirnya membalas pelukan Erina dan menciumi puncak kepala wanita yang dicintainya itu. "Kenapa? apa kamu mimpi buruk?"
"Mas temani kamu tidur lagi, ya?" Bisma kembali bertanya ketika Erina masih membisu.
"Tidak, aku tidak mau tidur." Ucap Erina pada akhirnya, meski hanya mimpi Erina tidak ingin kembali mengalami mimpi buruknya itu.
"Lalu, apa kamu mau minum? mungkin kamu akan merasa lebih tenang setelah minum." Bisma menebak Erina memang mengalami mimpi buruk.
"Lima menit!" Ucap Erina ketika Bisma hendak melepaskan pelukan mereka. "aku mohon lima menit saja, biarkan aku memeluk mas."
Bisma terkekeh dan mengeratkan pelukannya pada tubuh Erina. "Kenapa hanya meminta lima menit? mas siap memelukmu seumur hidup."
Erina merinding membayangkan dirinya akan berpelukan dengan Bisma seumur hidup, tapi bukankah itu lebih baik dibandingkan Bisma memeluk wanita lain nantinya?
"Mas, aku akan berusaha mempersiapkan diri kalau mas mau menikahi wanita lain--"
"Hey, apa yang kamu bicarakan? kamu kembali memikirkan perkataan Leo? kamu lupa--"
"Bukankah kita sudah sepakat untuk tidak terlalu memikirkan perkataan dokter?" Tanya Bisma setelah berhasil mengecup bibir ranum Erina.
"Kamu akan menjadi wanita satu-satunya bagiku, aku akan setia padamu sekalipun kita tidak akan memiliki anak, karena kamu lebih penting dari apapun yang ada di dunia ini."
×××××××××××××××××××××××××××××××××××××××
Erina merasakan sesak pada bagian dadanya ketika melihat Bisma memeluk mesra wanita asing, ternyata pria tetaplah pria, Bisma selingkuh dan mengatakan bahwa Erina tidak pantas untuknya, wanita asing itu lebih pantas.
"Erin, sadarlah. kamu adalah wanita paling egois yang pernah aku temui, kamu bahkan tidak pantas menangis di hadapanku seperti ini."
"Mas ..." Erina merasa tidak sanggup untuk menanggapi perkataan Bisma. Mau apalagi, Erina sadar bahwa dirinya memang wanita egois.
Tapi, Erina tidak terima Bisma meninggalkannya demi wanita asing di hadapannya itu, Bisma pernah mengatakan kalau Erina akan menjadi wanita satu-satunya, lalu apa yang terjadi sekarang? siapa yang bisa menjelaskan ini?
"Erin, pergilah! apa kamu akan terus mengganggu kami?" Bisma membenamkan wajahnya pada leher wanita asing itu dan menciuminya.
Erina semakin merasa hancur melihat adegan mesra di depannya, dia ingin meninggalkan tempat itu karena tidak kuat, tapi kakinya sangat sulit untuk di gerakan sehingga Erina hanya diam menyaksinya suaminya mencumbu wanita lain.
__ADS_1
Erina menutup mata dan berusaha menguatkan hatinya, dia berharap yang terjadi di depannya hanya mimpi buruk yang akan segera berakhir. Lalu Erina merasakan sebuah tangan menyentuh lembut wajahnya dan terdengar suara ...
"Sayang ..." Seakan suara itu menarik Erina pergi, Erina sudah tidak menemukan Bisma dan wanita asing tadi, mereka berdua menghilang.
"Erin, apa kamu mimpi buruk lagi?" Suara itu kembali terdengar, Erina mencari sumbernya, ternyata Bisma yang barusan bicara padanya.
Erina membutuhkan waktu sampai akhirnya menyadari sesuatu, kejadian barusan hanyalah mimpi buruk. Erina bersyukur karena melihat Bisma tanpa siapapun disampingnya, bahkan tatapan Bisma padanya masih tetap sama.
"Erin ..." Ucapan Bisma terhenti ketika Erina tiba-tiba memeluknya dan nyaris membuat pria itu kehilangan keseimbangan.
"Mas, kenapa kamu baru pulang?" Tanya Erina dengan suara bergetar, mimpi buruk tadi benar-benar membuatnya takut.
Malam ini Bisma terlambat pulang, Erina sudah berusaha menghubungi suaminya itu, tapi tidak ada satupun panggilan yang Bisma terima sampai akhirnya Erina tertidur sambil memegang ponsel karena terlalu lama menunggu Bisma pulang.
Bisma sendiri baru pulang karena harus mengurus sesuatu dan Bisma sengaja meng-silent ponselnya ketika dia menemui orang yang sudah mencelakai Erina, tanpa disangka ada puluhan panggilan tidak terjawab dari istrinya itu.
"Banyak pekerjaan di kantor yang harus mas urus, maaf karena tidak mengabarimu." Ucap Bisma melirih, lalu Bisma membalas pelukan Erina, dia tahu Erina masih sering bermimpi buruk.
"Hm, aku mengerti mas sibuk, mas tidak sampai telat makan bukan?" Tanya Erina mengalihkan.
Bisma merasa Erina sudah banyak berubah, tapi ada sesuatu yang mengganjal hatinya, Erina seperti memaksakan dirinya untuk lebih memahami Bisma dan malah Bisma yang merasa bersalah karena membohongi Erina.
Bisma tidak memiliki kesibukan di kantor, dia sebenarnya pergi ke klub malam. Sudah sembilan hari setelah Erina kecelakaan, baru sekarang Bisma memiliki waktu untuk menemui Mario di tempat nongkrongnya, yaitu klub malam.
××××××××××××××××××××××××××××××××××××××
Kurang greget perasaan pas Erina mimpinya :v Oh ya, sekedar menjawab komentar kalian tentang 'cerita Indo kok visual Korea' atau 'cast korea kok di panggil mas' atau komentar semacam itu.
Sebelumnya perkenalkan dulu, aku gadis menuju 22tahun dan aku pernah jadi ansos (anti sosial), terus sekalinya aku bersosialisasi, aku terjun ke dunia k-pop, jadi aku gak hafal artis Indonesia.
Kalian sah-sah aja mau bayangin muka siapa pas baca cerita ini. Dan tentang panggilan mas, cerita berlatar belakang Indonesia, lebih tepatnya Jakarta. Lantas? Masa dipanggil oppa.
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian: like, favorit dan share. makasih ❤
Regards,
Nur Alquisha A.
__ADS_1