Ikatan Tanpa Cinta

Ikatan Tanpa Cinta
ITC #91


__ADS_3

Bisma keluar dari mobil dengan tergesa-gesa, dia barusan mendapat kabar kalau Erina pulang ke mansion dalam keadaan menangis dan langsung mengurung dirinya di kamar, karena itu selesai meeting Bisma memutuskan kembali ke mansion.


Setelah insiden Erina terjatuh dari tangga, Bisma memang meminta para maid untuk menelponnya barangkali terjadi hal seperti ini. Bisma merasa harus lebih memperhatikan Erina, karena Erina belum sepenuhnya menerima apa yang terjadi.


Beruntung Leo sudah mulai bekerja setelah cuti beberapa hari, sehingga ada orang yang bisa Bisma andalkan untuk menggantikan dirinya. Karena tidak mungkin Bisma merepotkan nenek Sekar untuk mengurus perusahaan mereka. Lagi.


"Tuan, nyonya Erin ..."


Bisma mengangguk seolah mengerti apa yang akan Maya katakan padanya, lalu Bisma berlari menaiki anak tangga. Bisma tidak tahu alasan Erina menangis, tapi Bisma tahu saat ini Erina sedang sangat membutuhkan kehadiran dirinya.


Sementara Maya dan maid lainnya hanya bisa berharap tidak terjadi hal buruk terhadap majikan perempuan mereka. Menurut mereka, Erina terlalu baik untuk mengalami hal-hal buruk, dan mereka berharap suatu hari nanti Erina hamil.


Sebagai sesama wanita, mereka tahu bagaimana perasaan Erina, keguguran sekaligus mendapat kabar akan sulit hamil, itu sangat buruk, terlebih sang suami sudah menanti buah hati, mereka saja tidak bisa membayangkan berada di posisi Erina.


"Oh, mas? kamu sudah pulang?" Tanya Erina saat Bisma memasuki kamar, wanita itu tersenyum tapi tidak bisa menutupi matanya yang sedikit membengkak akibat menangis. Bisma langsung menghampirinya dan memeluk tubuh mungil itu.


"Mas, ada apa?" Tanya Erina heran akan sikap Bisma tanpa berniat untuk membalas pelukan suaminya itu, meskipun sebenarnya Erina ingin memeluk Bisma, tapi pelukan tiba-tiba Bisma itu membuat Erina enggan untuk membalasnya.


Erina menangis untuk waktu yang cukup lama sebelum Bisma datang, dan dia tidak tahu alasan Bisma pulang awal sampai memeluknya, mungkin saja sudah terjadi masalah di kantor, atau lebih buruk dari itu, Erina benar-benar tidak tahu.


"Maaf ..." Lirih Bisma yang semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh Erina saat istrinya itu berusaha terlepas darinya. "mas sedang meeting dan tidak tahu kamu menelpon, apa yang terjadi? kamu baik-baik saja? kenapa kamu menangis?"


"Oh?" Erina akhirnya membalas pelukan Bisma dan kembali tersenyum, sepertinya Erina tahu alasan Bisma pulang awal. "aku tahu mas sibuk, tidak apa-apa, lagipula aku juga baik-baik saja." Ucapnya berusaha untuk menenangkan Bisma.


Sebenarnya, Erina menelpon Bisma hanya untuk memberitahu kepulangannya dari rumah Soraya. Hanya itu. Erina tidak berniat mengganggu pekerjaan Bisma, apalagi sampai membuat Bisma khawatir padanya seperti yang terjadi sekarang.


Ya, meskipun Erina menelpon Bisma saat sedang menangis, tapi sungguh Erina sama sekali tidak berniat membuat Bisma khawatir. Erina juga tidak menyangka sampai meninggalkan pekerjaan di kantor hanya karena mendapat telpon darinya.


Bisma mencium puncak kepala Erina agak lama. "Kalau benar kamu baik-baik saja, kenapa kamu menangis? apa terjadi masalah?" Tanya Bisma tanpa berniat melepaskan Erina dari pelukannya, membuat Erina kesulitan untuk sekedar bergerak.


Erina terdiam untuk waktu yang cukup lama, dia ingin memberitahu Bisma apa yang terjadi, tapi ragu dengan respon yang akan di tunjukan Bisma, karena Erina menyadari reaksinya terhadap kehamilan Soraya adalah sebuah kebodohan.


"Erin ..." Panggil Bisma lembut ketika Erina belum memberi jawaban yang diingikannya, lalu Bisma melepaskan pelukannya dan mengarahkan Erina untuk menatap matanya, Bisma benar-benar dibuat penasaran dengan alasan Erina menangis.


"Mas, sebentar lagi jam makan siang, aku akan ke dapur untuk memasak sesuatu." Ucap Erina berusaha untuk mengalihkan, tapi tangan Bisma lebih dulu menghentikan langkahnya, lalu Erina merasakan Bisma kembali memeluk tubuhnya.


"Erin, kamu sudah berjanji akan terbuka padaku, tolong katakan ada apa? kenapa kamu menangis? apa terjadi sesuatu di rumah Soraya, hm?" Tanya Bisma beruntun, membuat Erina menghela nafas, sepertinya Erina sudah tidak bisa menghindar.


Erina merasakan pelukan Bisma menguat, dan membuatnya semakin kesulitan untuk bergerak. Erina susah payah menarik nafas menyiapkan diri untuk membahas hal menyedihkan. "Tidak ada yang terjadi disana, hanya saja ... Soraya hamil."

__ADS_1


Bisma terdiam cukup lama dan berusaha untuk mencerna perkataan sang istri. Soraya hamil, seharusnya itu menjadi hal baik bagi Erina karena mengetahui sahabatnya hamil, tapi Bisma merasa ada sesuatu dibalik perkataan Erina barusan.


"Sahabat baikku hamil, dan aku terang-terangan mengatakan tidak menyukai kehamilannya. Mas, apa yang harus aku lakukan sekarang? aku sudah mengatakan hal buruk kepada Soraya, dia pasti membenciku!" Ucap Erina dengan sedikit frustasi.


Bisma membeku dan kembali berusaha mencerna apa yang Erina katakan padanya, tidak lama setelah itu Bisma mendengar suara isakan keluar dari mulut Erina, dan Bisma masih belum bisa memahami apa yang sebenarnya sudah terjadi.


"Tapi, apa aku benar-benar tidak bisa hamil lagi? kita sudah mengusahakan banyak hal, kenapa harus Soraya yang duluan hamil?" Erina semakin terisak dalam pelukan Bisma, dia sudah tidak bisa menyembunyikan kesedihan yang di alaminya.


"Jadi, karena itu kamu menangis?" Tanya Bisma, lalu Bisma perlahan melonggarkan pelukannya dan menatap mata istrinya. Bisma merasa lega karena tidak ada hal buruk yang terjadi, itu sudah cukup untuk membuat Bisma merasa tenang.


"Sekarang Soraya pasti membenciku." Ucap Erina yang secara tidak langsung menjawab pertanyaan Bisma padanya, tidak peduli apa yang akan Bisma pikirkan tentang dirinya, Erina hanya tidak ingin membuat Bisma terus mengkhawatirkan dirinya.


"Tidak mungkin Soraya membencimu, yang mas tahu dia sangat menyayangimu, dan mas yakin Soraya akan dengan mudah memaafkanmu." Ucap Bisma, lalu menunjukkan senyuman terbaiknya sambil mengusap puncak kepala Erina sayang.


"Mas tidak tahu ..."


"Mas memang tidak tahu apa yang sudah kamu katakan kepada Soraya, tapi mas yakin sahabat kamu juga merasakan hal yang sama." Bisma menghentikan kalimatnya saat Erina menatapnya dengan wajah serius dan menggemaskan baginya.


Bisma memang tidak tahu seburuk apa perkataan istrinya kepada Soraya. Tapi Bisma yakin bukan hanya Erina yang merasa sedih, Soraya juga pasti merasa sedih dengan apa yang sudah terjadi, dan Soraya pasti juga memikirkan perasaan Erina.


Satu hal yang sangat Bisma ketahui, Erina dan Soraya bertengkar karena Bisma tidak mampu menjaga istrinya, andai saja saat itu Erina tidak terjatuh dari tangga, andai Bisma lebih cepat datang dan menyelamatkan Erina dari kejahatan.


Ya, andai. Tapi semuanya sudah terjadi dan Bisma tidak bisa memutar waktu. Terakhir kali Bisma bertemu dokter untuk pemeriksaan Erina, dokter mengatakan bahwa faktor lain penyebab Erina sulit hamil adalah stress yang di alami sang istri.


"Sudah, berhentilah menangis!" Bisma tersenyum hangat dan menghapus air mata di wajah Erina. "mas berjanji akan membantu kamu meminta maaf kepada Soraya, asal kamu mau memenuhi persyaratan yang akan mas berikan padamu."


Erina menatap Bisma seolah meminta suaminya untuk memberitahukan apa persyaratan itu, lalu Erina merasakan tangan Bisma menyentuh kepalanya dengan penuh kasih sayang, perlakuan ini yang membuat Erina menjatuhkan hatinya.


"Ini sangat mudah, kamu hanya harus menemani mas makan siang dan makan malam. Dan satu lagi, kamu juga harus berhenti menangis." Ucap Bisma sambil menatap dalam mata Erina dan tangan kanannya membelai kepala istrinya itu.


Erina tidak tahu persyaratan macam apa yang suaminya berikan, menemani Bisma makan sudah menjadi kebiasaan dan rutinitas Erina sebagai seorang istri, tapi Bisma menjadikannya sebagai syarat dan itu sangat mudah untuk di lakukan.


"Erin ..." Bisma memanggil dengan suara pelan ketika Erina hanya terdiam menatap padanya. "Bagaimana? kamu setuju?" sambil menunjukan jari kelingkingnya, lalu Bisma meraih tangan Erina dan menyatukan jari kelingking mereka.


"Baiklah, mas anggap kamu menyetujuinya."


Bisma tersenyum hangat, dia merasa begini saja sudah cukup untuk menghindari Erina dari rasa stress atau pikiran negatif yang mungkin selalu menghantui istrinya itu. Karena bagi Bisma cinta adalah keajaiban yang bisa menaklukan dunia.


××××××××××××××××××××××××××××××××××

__ADS_1


Malam harinya, Bisma mengajak Erina makan di luar, seperti yang sudah di bicarakan, Bisma bosan dengan masakan Erina, dan Bisma berjanji untuk tidak membiarkan Erina masak, sehingga Bisma membawa istrinya itu ke sebuah restoran.


Setibanya di restoran, Erina terkejut saat melihat Soraya dan Farhan di meja yang sudah Bisma pesan khusus untuk mereka, sepertinya janji Bisma untuk membantu Erina meminta maaf kepada Soraya benar-benar di lakukan malam ini.


"Mas ..."


"Erin ..."


Erina dan Soraya bicara bersamaan membuat mereka berdua saling menatap satu sama lain. Erina ingin meminta maaf atas perkataannya tadi pagi, tapi seperti ada sesuatu yang mengganjal di tenggorokan Erina dan membuatnya sulit bicara.


Sementara Soraya sudah berniat untuk meminta maaf duluan kepada Erina, tapi sepertinya Erina tidak ingin untuk sekedar bertemu dengan dirinya, dan hal itu membuat Soraya mengambil nafas sebelum akhirnya Soraya kembali bicara.


"Erin, kalau kamu tidak menyukai kehadiran kami, aku dan Farhan akan pergi dari tempat ini." Ucap Soraya tiba-tiba saat tatapan Erina tertuju kepada Bisma, dan hal itu membuat pandangan Erina dan yang lainnya tertuju kepada Soraya.


"Siapa yang tidak menyukai kehadiranmu?" Tanya Erina menahan kepergian Soraya, kemudian Erina bergegas menghampiri Soraya dan berhamburan untuk memeluk tubuh sahabatnya itu. "Raya, aku benar-benar minta maaf sudah berkata buruk."


Soraya tersenyum dan membalas pelukan Erina. "Seharusnya aku yang minta maaf, maaf sudah mendahului kamu hamil. Erin, aku tidak berniat untuk menghianati kamu, dan aku juga ..."


"Tidak Raya, kamu tidak salah, orang yang salah disini adalah aku, tadi aku terlalu impulsif, tolong maafkan kebodohanku." Ucap Erina menyela perkataan Soraya dan mengeratkan pelukannya.


Setelah itu, mereka makan dengan tenang sambil sesekali membicarakan hal seru, sesuatu yang tidak menyangkut kehamilan tentunya. Karena baik Bisma, Soraya maupun Farhan tahu kata hamil adalah hal buruk untuk mereka bahas.


"Kalau begitu, aku dan Farhan pulang duluan, terimakasih makan malamnya." Ucap Soraya sambil beranjak dari tempat duduknya, entah mengapa sekarang Soraya merasa sedikit sungkan menggunakan kosa kata lo dan gue kepada Erina.


"Tunggu!" Ucap Erina menahan kepergian Soraya, dan membuat tatapan Soraya tertuju padanya. "Jangan lupa, kalau kamu ngidam sesuatu, telpon aku." Erina tersenyum seolah tidak pernah terjadi apapun diantara mereka sebelumnya.


"Farhan pasti sibuk, mungkin nanti kamu akan mengidam sesuatu, dan aku akan siap untuk kamu repotkan." Ucap Erina memperjelas kalimat sebelumnya, hal itu membuat Soraya meneteskan air mata dan berhemburan memeluk Erina.


"Terimakasih, kamu memang sahabat baikku."


Bisma dan Farhan saling melemparkan senyuman, bahkan saling mengedipkan mata mereka. Jangan salah paham, Bisma maupun Farhan hanya senang karena rencana mereka berhasil, Erina dan Soraya akhirnya berbaikan.


~TBC


"Bukan tentang sebesar apa masalah yang kamu hadapi, tapi tentang bagaimana kamu menyikapinya." (Quotes by IG)


"Kalau kamu mencintai dan tujuanmu untuk menikah tanpa tahu apa itu pernikahan, mungkin kamu akan berakhir dengan penyesalan. Tapi, kalau kamu menikah dan kamu merasa terikat dengan pasanganmu, hal manis yang ada dalam drama akan menjadi sebuah kenyataan." (By me)


Entah apa yang aku tulis. Semoga kalian suka dan jangan lupa tinggalkan jejak kalian. Btw, quotes yang tulis diatas berdasarkan pemikiranku, kalau beda pemikiran berarti kita tidak sejalan dan maaf kalau quotes pertama salah, cuma asal inget aja aku tuh dan aku sadar ingatanku buruk :(

__ADS_1


Regards,


Nur Alquinsha A | IG: light.queensha


__ADS_2