Ikatan Tanpa Cinta

Ikatan Tanpa Cinta
ITC #39


__ADS_3

Erina tidak menyangkal, dia memang beruntung menikah dengan pria sebaik Bisma. Selain tampan dan kaya, Bisma memiliki satu kelebihan yang tidak di miliki pria lain, Bisma tidak pernah memaksakan kehendaknya.


Ya, meskipun selama ini Erina selalu menurut kepada suaminya, tapi Erina melakukan itu atas keinginannya. Sementara Bisma malah tidak pernah memaksa Erina, suaminya itu hanya sering menggoda Erina yang penurut.


Erina mengetahui suaminya pria baik, hanya saja perasaan takut terhadap sakit hati mengalahkan segalanya. Erina seperti di dorong untuk sadar bahwa tidak ada pria tampan yang tidak suka bermain perasaan.


"Erin, kamu belum tidur?" Tanya Bisma membuyarkan lamunan Erina.


Erina menatap Bisma yang memasuki kamar hotel. Bisma baru saja pulang setelah mengurus segala yang mereka perlukan untuk pulang besok. Bisma pergi dari sore dan baru kembali sekitar jam sembilan malam.


"Kenapa lama sekali, Bisma? Apa kamu sudah makan? Kamu membuat aku khawatir!" Celoteh Erina sambil menghampiri Bisma dan langsung memeluk tubuh tegap suaminya.


Bisma terkekeh. "Saya baru beberapa jam pergi, Erin! Dan sekarang kamu sudah merindukan saya?" Tanya Bisma menggoda Erina.


Erina mencubit kecil pinggang Bisma karena kurang menyukai perkataan suaminya. Bisma memang selalu merusak suasana saat Erina berusaha memberi sedikit perhatian.


"Aku tidak merindukanmu, hanya khawatir." Jawab Erina yang malah membuat Bisma semakin tertawa.


"Baiklah, saya akan menganggap kamu khawatir sampai memeluk saya begitu erat seperti ini." Ucap Bisma masih terkekeh, lalu membalas pelukan Erina.


"Ya terserah!" Sahut Erina. Dia sedang tidak ingin berdebat dengan Bisma. Karena pertengkaran mereka sudah sangat cukup baginya.


Erina tidak pernah percaya ketika ada orang yang mengatakan pertengkaran akan membuat hubungan semakin erat, tapi sekarang setelah mengalami sendiri Erina mempercayainya.


Erina jadi ingin berusaha memperbaiki dirinya setelah bertengkar dengan Bisma. Dia tidak ingin melakukan kesalahan yang sama. Erina merasa harus lebih meyakinkan Bisma bahwa pria itu sangat penting baginya.


Tapi, meskipun begitu Erina akan tetap menyelidiki hubungan Bisma dan Gisella. Dia ingin membuat semuanya jelas supaya Soraya tidak khawatir. Baru setelah itu Erina berjanji akan menjadi istri yang lebih baik.


Bisma tersenyum simpul. "Erin, kamu yakin mau pulang?" Tanyanya.


Erina mengangkat sedikit wajahnya agar bisa menatap sang suami yang lebih tinggi darinya. "Ya, Bisma. Aku minta maaf--"


"Saya tidak keberatan kalau kamu ingin pulang, tapi negara ini ... kamu yakin akan meninggalkan negara yang ingin kamu kunjungi ini?" Tanya Bisma memotong permintaan maaf Erina.


Erina tersentuh mengetahui Bisma begitu peduli terhadapnya. Mungkin selama ini memang Erina yang kurang memperdulikan suaminya dan terlalu menjaga hatinya agar tidak terluka.

__ADS_1


Bisma menyadari Erina melamun, dia melonggarkan pelukannya agar bisa lebih leluasa menatap istrinya. Lalu dia tersenyum dengan tangan kanan yang menyentuh wajah Erina lembut.


"Erin, sejak awal saya mengajak kamu kesini agar kamu bahagia. Seharusnya saya yang minta maaf karena sudah bersikap egois."


Erina tertegun mendengar perkataan Bisma. Dia tidak bisa berkata apapun. Sepertinya bukan Bisma yang tidak baik melainkan Erina yang kurang baik untuk suaminya.


Bisma menghela nafas pelan karena Erina masih menatap kosong kepada dirinya. Dia kemudian mendekatkan bibirnya pada telinga Erina dan membisikan sesuatu.


"Erin, sebelum pulang ke Indonesia ... saya ingin membuat kenangan yang indah bersamamu disini, tapi apa datang bulan kamu sudah selesai?"


Erina cukup mengerti dengan maksud Bisma, dia kemudian berdehem dan memalingkan wajahnya dari Bisma. Dan berusaha memikirkan cara untuk mengalihkan pembicaraan.


"Bisma, aku sudah mengemas barang kita, apa kamu tidak mau mengecek siapa tahu ada barangmu yang tertinggal?" Tanya Erina. Dia bernafas lega bisa mendapat topik yang bisa mengalihkan pembicaraan mereka.


Bisma berusaha keras menahan tawa melihat wajah Erina, dia tidak serius ingin membuat kenangan itu, Bisma hanya tidak ingin Erina terus melamun dan merasa bersalah padanya.


"Tidak perlu! Saya percaya kamu tidak akan ceroboh ..." Jawab Bisma sambil mengarahkan wajah Erina supaya bisa menatap padanya.


"Jadi, apa datang bulan kamu sudah selesai?" Tanya Bisma mengulang karena belum mendapatkan jawaban yang dirinya inginkan.


"Belum?" Tanya Bisma karena melihat Erina menggeleng. Erina benar-benar membuat Bisma gemas, wanita itu terlihat salah tingkah.


Erina berdehem. Dia tidak berani membohongi suaminya. Tapi ...


"A-aku ... datang bulan ku sudah selesai." Jawab Erina. Dia memutuskan untuk mengatakan yang sebenarnya. Meskipun harus mengambil resiko.


Erina akan berusaha menerima jika nanti dia hamil dan hubungan Bisma dengan Gisella terbukti benar. Erina akan berusaha menerima nasibnya sebagai seorang istri yang di campakan suaminya setelah hamil.


Bisma terkekeh lalu mencium bibir Erina. Dan yang terjadi selanjutnya ...



Bisma memperhatikan wajah terlelap Erina sambil tersenyum. Semalam mereka tidak melakukan apapun selain tidur bersama. Dia tidak tega membuat Erina kelelahan karena harus melayani hasratnya.


Bisma dan Erina sudah berhari-hari tidak melakukan hubungan badan. Dan selama itu Bisma merasa tersiksa sehingga harus lebih menahan dirinya atau Bisma akan membuat Erina tidak bisa tidur.

__ADS_1


Erina adalah wanita pertama dan akan menjadi wanita terakhir yang melayani Bisma di tempat tidur. Bisma bisa memuaskan hasratnya setelah mereka berada di Indonesia.


"Erin ..." Bisma membangunkan istrinya sambil merapikan rambutnya yang sedikit berantakan.


"Hm?" Erina bergumam dan perlahan membuka matanya.


"Selamat pagi, istriku." Bisma mencium kening Erina dan membuat wanita itu membuka mata sepenuhnya.


Erina berdehem menyadari Bisma yang sedang menatap padanya. Dia berusaha mengumpulkan kesadaran dan bergegas duduk karena merasa kurang nyaman dengan posisi mereka.


"Bisma, jam berapa sekarang? kita akan pulang ke Indonesia kan?" Tanya Erina tanpa berani menatap suaminya.


Bisma mengikuti Erina duduk dan melihat kearah jam yang ada di kamar hotel mereka.


"Iyah kita akan pulang, sekarang sudah jam tujuh, tapi saya mengambil penerbangan siang, kamu jangan terlalu khawatir." Jawab Bisma yang merasa memahami pertanyaan Erina.


Erina merasa lega. Dia memang sempat berpikir mereka akan ketinggalan pesawat karena bangun siang. Erina tidak tahu sekarang jam berapa, tapi matahari sudah menyapa ketika Erina membuka matanya.


"Oh ya, saya sudah memesan makanan, sebaiknya kamu mandi agar kita bisa sarapan bersama." Ucap Bisma.


Erina tiba-tiba mengingat kejadian semalam sehingga bergegas turun dari kasur, dan Bisma yang melihat itu tidak melakukan apapun selain menatap Erina yang memasuki kamar mandi.


"Sepertinya Erina melupakan sesuatu." Gumam Bisma sambil melihat pintu kamar mandi. Dia menggelengkan kepala.


Ya, Erina memang lupa membawa pakaian ke dalam kamar mandi. Karena biasanya Erina tidak mau mengganti pakaian di luar kamar mandi. Ternyata dugaan Bisma salah, Erina bisa ceroboh ketika baru bangun tidur.


Sementara di dalam kamar mandi, Erina masih belum menyadari apa yang terlupakan, Erina malah mengingat tentang dia yang semalam membalas ciuman Bisma dan mengira mereka akan melakukan hal yang lebih dari sekedar ciuman sampai akhirnya Bisma mengatakan ...


"Selamat malam istriku, semoga mimpimu indah."



Jangan lupa mendukung karya ini dengan menekan tombol suka dan masukan ke daftar favorit kalian. Teruntuk kalian yang tertarik dengan karya-karya aku, silahkan ikuti aku di mangatoon atau intagram (@light.queensha) Terimakasih ...


Regards:

__ADS_1


©2019, lightqueensa.


__ADS_2