Ikatan Tanpa Cinta

Ikatan Tanpa Cinta
ITC #62


__ADS_3

"Maaf, hanya ini cemilan yang kami miliki." Ucap ibu Sonya ketika menghidangkan cemilan beserta minuman seadanya diatas meja.


Bisma tersenyum dan membantu ibu Sonya meletakan cemilan beserta minuman itu. "Tidak apa-apa, ini saja sudah lebih dari cukup."


Erina tersenyum melihat begitu baiknya Bisma kepada sang ibu, Erina benar-benar merasa beruntung menjadi istri Bisma, pria itu sempurna untuk ukuran manusia.


"Kenapa kamu tersenyum? cinta sudah membuat kamu gila ya?" Tanya Bayu merusak suasana hati Erina, lalu mengambil cemilan dan memakannya.


Bisma dan ibu Sonya menatap kearah Erina karena perkataan Bayu, mereka hanya menggelengkan kepala saat melihat Erina melempar cemilan kepada Bayu.


"Diam dan tutup mulutmu!" Sahut Erina jengkel.


"Mereka memang kekanak-kanakan." Ucap ibu Sonya kepada Bisma, lalu memilih tempat duduk di dekat menantunya. Karena ada banyak hal yang ingin ibu Sonya tanyakan kepada Bisma.


Bisma mengangguk memahaminya, dia tidak memiliki adik atau kakak, bahkan keluarga saja Bisma merasa tidak memilikinya, melihat Erina dan Bayu membuatnya bahagia.


"Ibu, jangan berkata seperti itu pada orang asing, lagipula hanya kak Erin yang kekanak-kanakan, aku sudah dewasa, ibu tahu?" Protes Bayu.


"Yak, dewasa katamu? kamu hanya kebetulan lebih tinggi dariku, tapi usiamu jauh lebih muda dariku!" Sahut Erina tidak terima.


"Usia tidak menentukan seseorang dewasa, buktinya kamu masih kekanak-kanakan" Ucap Bayu santai dan kembali memakan cemilan.


"Haish, aku sudah menikah, kenapa kamu masih menyebutku kekanak-kanakan?" Erina kembali melayangkan protesan.


"Ho, kamu bangga dengan pernikahan tanpa restu ibu itu?" Tanya Bayu menyahuti perkataan Erina.


"Kalian berhentilah! jangan membuat tamu kita tidak nyaman!" Ucap ibu Sonya menengahi.


"Tidak apa-apa, ibu. aku mengerti." Ucap Bisma kepada ibu mertuanya, lalu bicara kepada Erina.


"Erin, tolong ambilkan barang kita yang ada di dalam mobil, ini kunci mobilnya." Ucap Bisma kepada istrinya, kebetulan mereka membeli sesuatu di perjalanan tadi dan Bisma lupa mengambilnya.


"Kamu pikir kak Erin pembantumu? ambil sendiri!" Ucap Bayu mencegah Erina yang akan mengambil kunci mobil dari tangan Bisma.


Bisma berdehem pelan. "Ah, baiklah. Erin, biar aku yang mengambilnya sendiri."


Erina dengan cepat merebut kunci mobil dari tangan Bisma.


"Jangan dengarkan Bayu, aku akan mengambilkannya." Ucapnya, lalu memberikan tatapan tajam kepada Bayu.

__ADS_1


"Barusan kamu membelaku, huh?" Tanya Erina, lebih tepat sebagai sindiran tajam kepada orang yang sudah berkali-kali membuatnya jengkel.


"Lebih baik kamu mengurusi urusanmu, mas Bisma menyuruhku karena aku istrinya, apa hak mu mengatakan hal seperti tadi?"


Bayu mengangguk santai. "Jadi memiliki istri berarti aku memiliki seseorang untuk aku suruh?"


"Yak!" Teriak Erina tidak terima. Bisma dengan cepat berdiri dan menghampiri istrinya.


"Jangan bertengkar, biar aku saja yang mengambilnya, maaf sudah menyuruhmu." Ucap Bisma yang merebut kembali kunci mobilnya dari tangan Erina.


Bisma tidak ingin menjadi alasan kedua kakak beradik itu bertengkar. Bisma merasa perkataan Bayu ada benarnya juga, dia menikahi Erina bukan supaya memiliki orang yang bisa di suruh.


"Bisma--"


"Duduklah, kamu pasti lelah sudah melakukan perjalanan menuju kesini." Ucap Bisma memotong perkataan Erina.


Erina mendengus. "Kamu yang menyetir, seharusnya kamu yang merasa lelah, biar aku saja yang mengambilnya."


Bayu memutar mata menyaksikan drama di depannya, lalu dia beranjak dari tempat duduknya dan mengambil kunci mobil dari tangan Bisma.


"Aku saja yang mengambil barang kalian, kalian berdua pasti lelah, tapi apa yang ingin kalian ambil dan dimana kalian meletakkannya?" Tanya Bayu dengan wajah tanpa ekspresinya.


"Kamu berpura-pura peduli sekarang, huh?" Tanya Erina masih dengan nada yang sama seperti saat mereka berdebat tadi.


Bayu mendecih. "Jangan terlalu percaya diri, mana mungkin aku peduli padamu, aku hanya tidak ingin membuat ibuku marah."


"Siapa yang kamu sebut ibumu? mmmph ..." Erina menghentikan perkataannya ketika Bayu memasukan sepotong kueh kedalam mulutnya.


Erina tidak bisa mengatakan apapun lagi karena mulutnya penuh dengan kueh itu, Bayu tersenyum melihat wajah lucu kakak perempuannya, lalu Bayu bicara kepada Bisma.


"Bukankah istrimu ini terlalu berisik, orang asing yang menikahi kakakku, apa yang ingin kamu ambil di mobil?" Tanya Bayu.


"Oh, bingkisan di kursih belakang." Jawab Bisma.


Bayu mengangguk mengerti, lalu berjalan meninggalkan ruang tamu. Erina menelan bulat kueh di dalam mulutnya dan berniat memprotes Bayu, namun terlambat karena Bayu sudah lebih dulu keluar dari rumah.


"Haish, bocah nakal itu masih belum berubah." Gerutu Erina kesal. Sementara Bisma dan ibu Sonya hanya tersenyum menanggapinya.


"Kalian berdua duduklah, ada yang ingin ibu bicarakan pada kalian." Ucap ibu Sonya.

__ADS_1


Sementara itu, Bayu yang berada di depan rumah menghapus sudut matanya yang sedikit berair, Bayu tidak tahu kenapa dirinya mendadak cengeng, tapi mengetahui Erina sudah menikah membuatnya sedikit merasa sedih.


Bayu teringat akan masa kecilnya, saat dia berlari hingga terjatuh dan lututnya mengeluarkan banyak darah, lalu Erina membantu Bayu mengobati lukanya dan setelah itu Erina muntah karena tidak bisa mencium bau darah.


Bayu juga teringat saat Erina dan orang tua mereka bertengkar sampai Erina menangis, saat itu Erina masih sempat-sempatnya memikirkan uang sekolah Bayu dan memberi uang sambil tersenyum, padahal Erina sedang sedih.


"Si bodoh itu akhirnya menikah, aku pikir dia akan selamanya terjebak dengan khayalannya menikahi laki-laki Korea." Gumam Bayu.


××××××××××××××××××××××××××××××××××××××××


Malam hari di Karawang atau tempat ibu mertua dan adik ipar Bisma tinggal, Bisma duduk di ruang makan bersama Bayu. Sementara para wanita sedang menyiapkan makan malam untuk mereka.


Sebenarnya, Erina berasal dari kota angin, tapi karena Bayu bekerja di Karawang, ibu mereka mengikuti Bayu dan menetap di Karawang, itu yang Bisma ketahui dari pembicaraan mereka.


Bisma bersyukur sang ibu mertua menerimanya, tapi belum bisa bernafas lega karena sepertinya Bayu masih belum menerima kehadirannya, bahkan Bayu terlihat tidak menyukai Bisma.


"Kenapa kamu menikahi kak Erin?" Tanya Bayu sambil memakan buah apel.


Bisma menelan ludah melihat cara Bayu memakan apelnya, seolah memberitahu kalau Bisma bisa saja hancur seperti apel yang Bayu makan dan Bisma tidak bisa membayangkannya.


Oh ayolah, Bisma sama sekali tidak merasa takut terhadap laki-laki berusia sembilan belas tahun itu, Bisma hanya khawatir Bayu akan menjauhkan Erina darinya. Hal itu lebih menakutkan.


"Aku mencintai kakakmu." Jawab Bisma sekenanya. Karena tidak mungkin Bisma mengatakan kalau sebenarnya pernikahan diantara mereka terjadi akibat perjodohan.


"Mencintai kakakku?" Tanya Bayu mengulangi perkataan Bisma, lalu kembali menggigit apelnya.


"Memang cinta masih berlaku di dunia yang kejam ini?" Bayu kembali bicara dengan mulut yang masih mengunyah apel.


"Bayu, jangan mengganggu suamiku." Ucap Erina tiba-tiba menginterupsi mereka. Bisma tersenyum melihat kedatangan istrinya, sementara Bayu hanya memutar matanya malas.


"Aku tidak mengganggunya, kamu saja yang terlalu berlebihan." Jawab Bayu santai.


"Oh ya, kamu tahu kan rumah ini cuma ada dua kamar, jadi kalian tidak bisa tidur bersama selama menginap disini"


××××××××××××××××××××××××××××××××××××××


Bagaimana pendapat kalian tentang Bayu? Jangan lupa like, favorit, komentar dan share.


Regards,

__ADS_1


Nur Alquinsha A.


__ADS_2