Ikatan Tanpa Cinta

Ikatan Tanpa Cinta
ITC #73


__ADS_3

"Erin, bagian mana yang terasa sakit? apa perlu aku memanggil dokter, hm?" Tanya Bisma.


Erina tersenyum sambil menyatukan jemari mereka. Erina sudah lama sadarkan diri, dia bahkan mengetahui apa saja yang terjadi di ruangannya. Erina hanya berpura-pura tidur.


Erina tidak tahu harus bereaksi seperti apa ketika dokter dan Bisma membicarakan tentang kegugurannya. Erina sedih dan terpukul terlebih saat dokter mengatakan dirinya akan sulit hamil.


Tapi, ada hal yang lebih membuat Erina sedih dan terpukul, yaitu ketika mengetahui Bisma menyalahkan dirinya sendiri, Erina sudah salah mengira perasaan Bisma sudah berubah padanya.


"Kepalaku sakit, Mas." Jawab Erina sambil meringis dan memegang kepalanya yang di perban dengan tangannya yang lain. Erina tidak berbohong, kepalanya benar-benar terasa sakit.


"Kalau begitu aku akan--"


"Tapi aku tidak membutuhkan dokter, aku hanya butuh mas di sampingku." Ucap Erina memotong perkataan Bisma disertai senyuman.


"Erin ..."


"Jangan tinggalkan aku." Erina kembali menyela Bisma dengan suara melirih manja.


Bisma menghela nafas lalu kembali duduk disamping tempat tidur Erina. Sementara Leo dan Krystal yang berada di dalam ruangan itu hanya memperhatikan Erina dan juga Bisma.


"Leo, tolong panggilkan dokter." Ucap Bisma kepada Leo tanpa menatap lawan bicaranya itu.


"Tidak, aku tidak mau bertemu dokter." Ucap Erina menyela sebelum Leo sempat menanggapi perintah Bisma padanya. Erina merasa dirinya tidak cukup kuat untuk melihat dokter.


Erina khawatir dirinya menjadi lemah ketika melihat dokter yang mengatakan bahwa dia akan sulit hamil. Erina tidak mungkin membiarkan itu terjadi, dia harus tetap terlihat kuat untuk Bisma.


"Sayang, aku harus memastikan keadaanmu terlebih dahulu." Ucap Bisma bernegosiasi.


Erina menggeleng kuat. "Aku benar-benar tidak butuh dokter, aku hanya ingin mas tetap berada disampingku, mas tidak perlu khawatir, aku baik-baik saja, aku mohon percayalah."


"Istri pertama, Bisma mengkhawatirkanmu, apa tidak sebaiknya aku memanggil dokter?" Leo berniat membantu Bisma, tapi yang dia lakukan malah membuat dirinya sendiri dalam masalah.


"Oh, kamu menganggap dia istri pertamamu?" Krystal yang sedari tadi diam akhirnya bicara sambil menatap galak tunangannya.


"Tidak, bukan begitu maksudku ..."


"Lalu, apa kamu mendoakan Bisma nikah dengan wanita lain?" Tanya Erina menyela Leo yang akan memberi penjelasan kepada Krystal.


"Leo, istriku baru saja sadarkan diri, jangan meracuni pikirannya, siapa juga yang berniat menikahi wanita lain?" Bisma menimpali dengan nada kesal dan membuat nyali Leo menciut.

__ADS_1


Leo mendesah frustasi, niat baiknya tidak tersampaikan dengan baik, semua orang yang ada disana sekarang menghakiminya, termasuk Bisma yang sedang berusaha dibantu olehnya.


"Kalian bisa membunuh aku sekarang?" Ucap Leo mendrama dengan wajah sok sedih.


Bisma dan Krystal saja sampai merasa mual melihat wajah Leo. Berbeda dengan Erina yang saat ini tertawa dengan mata sedikit berair, dia mentertawakan kebodohan dirinya sendiri.


"Sayang, kenapa menangis? aku tidak mungkin menikahi wanita lain seperti yang Leo katakan!" Ucap Bisma panik melihat istrinya menangis. Leo dan Krystal terdiam memperhatikan Erina.


"Tidak, aku tidak menangis, hanya saja wajah Leo terlalu lucu." Erina tersenyum saat mengatakan itu, tapi semuanya tahu bahwa bukan itu alasan Erina menangis. Krystal saja bisa menyadarinya.


"Oh ya, maaf aku tidak menghadiri pertunangan kalian." Ucap Erina langsung beralih kepada Leo dan Krystal, namun tidak ada yang menggubris perkataan Erina, mereka memilih diam.


"Leo, Krystal, bisa kalian meninggalkan kami?" Bisma tiba-tiba memasang wajah datar, dia juga merasakan ada sesuatu yang membuat Erina menangis, tapi bukan karena wajah lucu Leo.


"Hm, baiklah." Leo yang mengerti langsung menarik tangan Krystal keluar, padahal mereka belum lama masuk ruangan Erina.


"Erin, apa kamu mendengarnya?" Tanya Bisma setelah memastikan Leo dan Krystal keluar.


"Maksud mas?" Erina menghapus air mata yang berada di sudut matanya. Erina tidak sedang berpura-pura, dia benar-benar tidak mengerti maksud perkataan Bisma barusan.


"Kamu mendengar saat dokter mengatakan ..." Bisma menghentikan kalimatnya karena tidak ingin gegabah, bagaimana kalau itu hanya perasaannya dan Erina tidak benar-benar tahu?


"Selain keguguran, aku juga akan sulit hamil, apa tentang itu?" Tanya Erina sambil tersenyum simpul menatap pria yang sangat dicintainya.


"Kamu tahu?" Tanya Bisma dengan suara tercekat, ternyata dugaannya benar dan Bisma merasa dunianya mendadak terhenti. "Jadi benar itu alasan kamu tidak ingin bertemu dokter?"


"Ya, aku tahu. aku tidak ingin bertemu dokter, bukan untuk menyangkal kenyataan bahwa aku bukan wanita sempurna ..."


"Erin, tolong jangan mengatakan hal itu, kamu akan tetap menjadi wanita sempurna yang aku miliki." Ucap Bisma menyela perkataan Erina.


Erina tersenyum lalu mencium tangan Bisma yang sedari tadi dia genggam. "Terimakasih, mas memang pria terbaik yang pernah aku temui."


"Maaf, aku gagal melindungi kamu dan anak kita."


"Aku sudah ceroboh dan membuat anak kita celaka, aku juga minta maaf."


Bisma dan Erina sama-sama tersenyum setelah saling mengucapkan kata maaf, mereka berusaha melupakan apa yang sudah terjadi dan menjadikan itu sebagai pembelajaran.


"Kalau kita terus berusaha dan berdoa, aku yakin Tuhan berbaik hati, kata sulit akan menghilang dan kamu akan hamil." Ucap Bisma lembut.

__ADS_1


"Hm, kita hanya belum waktunya memiliki anak. Kalau kita berhasil membuat Tuhan yakin, beliau akan menghadirkan anak diantara kita." Balas Erina tidak kalah lembut disertai senyuman.


"Oh ya, bukankah sekarang sudah malam? bagaimana kalau kita tidur?" Tanya Erina berusaha mengalihkan dengan hal lain.


"Ya, kamu benar. Sebaiknya kamu istirahat." Jawab Bisma kemudian menarik tangannya dari Erina dan merapihkan selimut istrinya itu.


"Mas tidak dengar? Kita harus tidur bersama!" Ucap Erina sedikit menekankan kalimatnya, lalu dia bergeser memberi tempat untuk Bisma berbaring nantinya. "Tidurlah disampingku!"


"Oh?" Bisma menatap Erina ragu.


"Mas, aku ingin tidur sambil memelukmu." Ucap Erina manja, memang sudah banyak yang berubah semenjak satu bulan ini, Erina terkadang tidak sungkan untuk bermanja pada suaminya.


"Baiklah." Putus Bisma yang akhirnya berbaring di samping Erina, tidak lama setelah itu Erina mendekap erat tubuhnya.


"Selamat malam." Ucap Erina pelan.


"Hm, selamat malam, istriku." Balas Bisma lalu mencium kening Erina.


Sementara itu, Leo dan Krystal masih berada di depan ruangan Erina, bahkan mereka menjadi saksi apa yang sudah terjadi di dalam dan Leo yang melihat itu merasa iba dan kasihan.


Leo tahu bagaimana antusiasnya Bisma ingin memiliki anak, Bisma sering mengatakan pada Leo kalau pria itu ingin Erina melahirkan anak perempuan sebagai anak pertama mereka.


Tapi, tuhan lebih berkuasa dan membuat Bisma kehilangan harapan untuk memiliki anak. Ha, Leo mengetahui apa yang terjadi karena mendengar obrolan suster di depan ruangan Erina.


Leo tahu Erina keguguran dan akan susah hamil.


"Leo, apa kamu sedih karena istri pertamamu tidur dan berpelukan bersama pria lain?" Tanya Krystal menginterupsi lamunan Leo.


Leo meringis mendengarnya lalu menatap Krystal yang juga sedang menatap padanya. "Aku hanya bercanda tadi, kenapa kamu masih saja mengingatnya, hm?" Tanyanya menahan kesal.


"Bukan salahku, ini karena aku memiliki ingatan yang sangat baik."


××××××××××××××××××××××××××××××××××


"Kamu ingin membaca cerita pernikahan tanpa adanya masalah? Maaf, meskipun aku si penghalu akut, aku tidak bisa menulis itu karena yang terjadi di sekitarku tidak demikian." (Author)


Oke, jangan lupa tinggalkan jejak kalian sebagai obat: like, favorit dan share cerita ini. Thanks ❤


Regards,

__ADS_1


Nur Alquinsha A.


__ADS_2