
Bisma menahan senyuman memperhatikan istrinya yang masih tertidur pulas, lucu sekali Bisma sempat mengira hotel del Luna sebagai drama romantis yang terisi oleh adegan dewasa, ternyata drama itu bergenre fantasi horor.
Saat pemeran utama pria dan wanita berada di kereta. Bisma mengira si wanita akan mencium si pria sebagai ganti hadiah ulang tahun, tapi ternyata hadiah yang wanita itu berikan adalah kemampuan untuk melihat hantu. Mengerikan!
Hey, Bisma tidak takut melihat hantu buta di drama tersebut, lagipula Bisma yakin hantu hotel del Luna itu sebenarnya wanita cantik. Bisma hanya sedikit kecewa karena harapannya tidak terpenuhi dan Bisma harus menahan hasratnya.
Tapi, hal itu terbayar ketika Bisma melihat Erina tertidur di bahunya. Bisma teringat saat mereka berdua menonton episode lima, Erina berkali-kali menutup wajah karena takut terhadap nasib Chan sung yang memasuki kamar hotel nomer 13.
Bisma baru tahu kalau ternyata istrinya lumayan penakut. Bahkan, semalam Erina tidak sampai melihat adegan Man wol mencium Goo chan sung. Karena Erina tertidur tepat setelah Man wol datang dan menyuruh Chan sung untuk berlari.
Ya, memang ada adegan pemeran utama wanita mencium pemeran utama pria, tapi adegan itu muncul di waktu yang kurang tepat dan Bisma masih harus tetap menahan hasratnya sampai akhirnya Bisma memutuskan untuk ikut tidur.
"Sayang bangun. kita harus sarapan sebelum ke pantai." Ucap Bisma berusaha membangunkan istrinya itu. Rasanya aneh ketika Bisma harus membangunkan Erina. Karena Bisma lebih terbiasa di bangunkan daripada membangunkan.
Sebenarnya, Bisma pernah sekali membangunkan Erina saat mereka menginap di rumah Soraya dan istrinya itu sedang sakit, tapi entah mengapa rasanya berbeda saat Bisma membangunkan Erina dan wanita itu sedang dalam keadaan sehat.
"Hm." Erina melenguh pelan, lalu membuka mata dan memposisikan dirinya untuk duduk. Erina memang termasuk orang yang mudah bangun, kecuali Erina merasa kelelahan seperti waktu itu, Erina pasti akan lebih susah untuk di bangunkan.
"Memang jam berapa sekarang?" Tanya Erina karena Bisma menghalangi pandangannya dari jam yang ada di kamar itu.
"Jam setengah tujuh. Leo dan Krystal pasti sudah menunggu kita." Jawab Bisma, lalu dia menarik tangan Erina membantu istrinya itu berdiri.
"Tunggu!" Erina menatap Bisma dengan mata mengantuknya dan bibir yang melengkung ke bawah. "Mas, kamu yakin mau ke pantai?"
Bisma mengangguk mengiyakan perkataan Erina. "Memang kenapa? kamu tidak mau ke pantai? atau kamu mau berkunjung ke tempat lain?"
Erina menggeleng menandakan bahwa wanita itu tidak menginginkan keduanya. Demi tuhan, Erina masih sangat mengantuk karena baru bisa tidur setelah sholat subuh. Erina memang ketiduran saat mereka menonton drama, tapi tidak lama setelah itu Erina terbangun dan tidak bisa tidur.
"Mas, bagaimana kalau hari ini kita liburan di kamar saja?" Tanya Erina masih dengan wajah mengantuknya, bahkan matanya nyaris tertutup. "aku masih benar-benar mengantuk."
Bisma sempat terdiam karena perkataan Erina terdengar ambigu di telinganya, tapi melihat Erina mengantuk seperti itu membuat akal sehatnya berontak. Bisma akhirnya membantu Erina untuk duduk di ranjang mereka. Bisma tidak sekejam itu untuk memaksa Erina pergi ke pantai.
"Yasudah, kamu tunggu dulu disini sebentar, aku akan menemui Leo dan Krystal." Bisma mencium kening Erina dan mengacak rambut istrinya itu sebelum akhirnya pergi meninggalkan kamar.
Kemarin, Bisma dan Leo sepakat untuk sarapan bersama di luar resort ini, tapi karena Erina ingin terus berada di kamar, Bisma memutuskan untuk membatalkan rencana mereka. Bisma sengaja datang langsung ke kamar Leo supaya pembicaraan mereka bisa lebih jelas nantinya.
Well, selain sarapan bersama, Bisma berencana memberi kejutan di ulang tahun istrinya, hari ini tepat tanggal empat oktober Erina berulang tahun. Bisma sudah menyiapkan kejutan untuk istrinya itu, tapi Erina tidak ingin keluar kamar, jadi Bisma harus membatalkan rencananya.
"Tolong pelan-pelan."
"Tidak bisa, kalau pelan tidak akan terasa, lebih baik kamu diam dan menikmatinya."
"Krys ..."
"Berisik! aku belum berhasil membuat tanda merahnya. Leo, kamu sabarlah sebentar!"
"Tapi aku sudah mau keluar."
"Iya, tahan sebentar lagi, aku belum selesai."
"Kenapa lama sekali, Krystal?"
"Jangan protes, ini yang pertama untukku, jadi aku belum mahir melakukannya."
"Krystal, berhenti dulu! serius, aku sudah tidak kuat, benar-benar hampir keluar ini!"
"Ck, yasudah!"
Bisma menahan tangannya yang akan mengetuk pintu kamar Leo dan Krystal, suara itu membuat Bisma ragu untuk mengetuk pintu. Bisma takut mengganggu kegiatan pasangan di dalam sana. Bisma tahu bagaimana rasanya di ganggu saat sedang asik-asiknya bercumbu itu tidak enak.
__ADS_1
Bisma mengambil nafas, lalu memutar tubuhnya dan melangkahkan kaki menuju kamar lain atau kamar yang di tempatinya dan juga Erina, mungkin lebih baik Bisma memberitahu Leo melalui pesan. Bisma tidak ingin merusak suasana yang terjadi antara Leo dan Krystal.
Sementara itu, Leo akhirnya merasa lega setelah berhasil mengeluarkan air kemihnya. Ha, Leo dan Krystal tidak melakukan apa yang ada dalam pikiran Bisma. Karena yang barusan terjadi sebenarnya Krystal sedang mengkerik punggung Leo dan Leo terus mengeluh kesakitan.
Leo berteriak mau keluar karena pria itu sudah tidak tahan ingin buang air kecil ketika Krystal terus melarangnya untuk beranjak. Sebelum Bisma tiba di depan kamar mereka, Krystal tidak henti-hentinya mengomeli Leo yang semalam tidak tidur di kamar dan malah tertidur di balkon.
"Sudah selesai? ayo cepat duduk disini! mau aku kerik lagi kan?" Tanya Krystal menepuk kasur di hadapannya mengkode Leo supaya duduk disana.
"Iya, kenapa hari ini kamu mendadak bawel?" Gerutu Leo namun tetap menuruti Krystal, sepertinya karma sedang menghukum pria itu.
Leo sering meledek Bisma yang terlalu penurut terhadap Erina, tapi sekarang Leo yang mau tidak mau harus menuruti Krystal, tunangannya itu benar-benar berubah bawel semenjak tadi pagi memergoki Leo tidur di balkon, sepertinya sakit Leo kali ini lumayan menguntungkan.
"Tapi tidak apa-apa, aku lebih suka kamu bawel daripada terus menghindar." Ucap Leo ketika Krystal baru akan membuka mulutnya.
Leo menaruh pantatnya di kasur depan Krystal sehingga punggung Leo yang sudah sedikit memerah menghadap wanita itu. Krystal tidak langsung melanjutkan apa yang sempat tertunda, Krystal terdiam sambil memandangi punggung Leo, apa terlihat jelas kalau Krystal menghindar?
"Kenapa kamu diam? tidak mau melanjutkan karyamu itu di punggungku?" Tanya Leo melirik Krystal hanya dengan sudut matanya.
Krystal tersadar dari lamunannya, lalu wanita itu memberikan uang koin yang sebelumnya dia pegang kepada Leo. "Kamu kerik sendiri saja!"
Krystal beranjak dari tempat duduknya, lalu dia berjalan menuju balkon, sebenarnya Krystal ingin sekali keluar dari area kamar mereka, tapi Krystal merasa harus tetap berada disana barangkali Leo membutuhkan sesuatu. Krystal harus ingat kalau sekarang tunangannya sedang sakit.
"Yak!" Krystal mendengar Leo berteriak, tapi Krystal memilih untuk tidak memperdulikan itu, siapa suruh Leo berani menyinggungnya.
Tidak lama Krystal merasakan sebuah tangan melingkari pinggang dan perutnya. Krystal hanya menoleh sekilas melihat pria yang saat ini meletakan dagu pada bahunya tersebut. Krystal berusaha mengabaikan keberadaan Leo karena terlalu malas untuk bicara pada tunangannya itu.
"Kenapa tidak memakai bajumu? mau masuk angin lagi, huh?" Tanya Krystal memandangi pemandangan yang terlihat dari balkon itu.
Krystal merasa jantungnya hampir melompat ketika Leo tiba-tiba memeluknya, bisa di bilang ini pelukan pertama setelah sekian lama Krystal dan Leo berpisah. Saat hari pertama Krystal datang ke Indonesia, Krystal memeluk Bisma karena Krystal berpikir Leo sudah menikah.
"Hm." Jawab Leo sekedar bergumam, lalu Leo membalikan tubuh Krystal supaya tunangannya itu menghadap padanya.
Leo terkekeh melihat ekspresi menggemaskan dari tunangannya, lalu Leo menekan kedua pipi Krystal yang sedikit mengembung seperti yang biasa Leo lakukan saat mereka masih kuliah.
"Kamu harus menyelesaikan dulu karyamu, baru aku akan memakai bajuku." Jawab Leo.
"Karya apa maksudmu, huh? daritadi kamu terus mengeluh lama!" Tutur Krystal mengingatkan.
"Sekarang aku tidak akan mengeluh, jadi bisa kita lanjutkan? aku masih tidak enak badan!"
Krystal berdecak. "Baiklah, kalau begitu aku akan mengkerik punggungmu, lagi."
××××××××××××××××××××××××××××××××××××××
Bisma terheran ketika tidak menemukan Erina di ranjang mereka, lalu Bisma mendengar suara air dari kamar mandi, sepertinya istri Bisma itu sedang berada disana, entah apa yang membawa Erina ke kamar mandi, Bisma ingat wanita itu tadi mengeluh masih mengantuk.
Sekitar lima belas menit Bisma menunggu Erina sampai akhirnya gorden yang menutupi kamar mandi transparan di kamar itu terbuka dan memperlihatkan Erina yang hanya terbalut handuk. Tidak biasanya Erina keluar kamar mandi hanya menggunakan handuk.
"Mas sudah menemui Leo?" Tanya Erina berjalan menghampiri Bisma, sepertinya wanita itu sudah tidak malu menggunakan handuk di depan Bisma.
"Hm." Sahut Bisma menatap Erina, pria itu sudah menahan hasratnya semalaman dan sekarang Erina berani menggodanya menggunakan handuk.
"Sarapan kita belum datang ya?" Erina kembali bertanya dan duduk disamping Bisma yang saat itu sedang duduk di ranjang mereka.
"Sayang, lebih baik kamu memakai bajumu dulu." Ucap Bisma tanpa menjawab pertanyaan Erina karena pria itu sudah kehilangan fokusnya, terlebih ketika Bisma mengingat apa yang dia dengar di depan kamar Leo dan Krystal.
"Oh, baiklah." Erina kembali beranjak dari tempat duduknya, lalu wanita itu berjalan kearah lemari.
__ADS_1
Tanpa di sangka Erina tidak pergi ke kamar mandi, wanita itu langsung memakai bajunya disana dan membuat Bisma melihat semua yang di lakukan sang istri dengan mata melotot. Bisma terkejut atas perubahan Erina yang satu itu, Erina sudah tidak malu-malu lagi rupanya.
"Mas, aku lapar." Ucap Erina setelah mengenakan pakaiannya. Erina kembali mendekati Bisma dengan ekspresi santai seolah wanita itu tidak melakukan apapun atau mungkin Erina tidak sadar Bisma memperhatikannya.
Tangan Erina menggapit tangan kiri Bisma dengan manja dan menyandarkan kepalanya pada bahu pria itu. "Kenapa sarapannya belum datang? bagaimana kalau aku mati kelaparan?"
Bisma nyaris tidak mengenali wanita yang duduk di sampingnya itu, Erina tidak bisanya bersikap manja dan mendrama seperti itu, Erina adalah wanita dewasa yang sedikit emosional, tapi sekarang Erina menjadi wanita yang berbeda.
"Mas Bisma!" Ucap Erina menegur Bisma karena suaminya itu terus diam sehingga Erina merasa terabaikan, lalu Erina mengangkat kepalanya dari bahu Bisma dan mencium pipi kiri pria itu.
Sebelum Bisma kembali ke kamar mereka atau tepat setelah Bisma meninggalkan kamar untuk menemui Leo dan Krystal di kamar lain, Erina sadar kalau dirinya sudah melakukan kesalahan dengan menolak ajakan Bisma untuk pergi ke pantai. Erina berpikir mungkin Bisma kecewa.
Erina langsung memaki dirinya sendiri yang masih saja tidak tahu diri. Erina menekankan kepada dirinya untuk lebih berusaha membuat Bisma betah berada di sampingnya, Erina tidak mungkin membiarkan Bisma jajan di luar terlebih Bisma memiliki senjata untuk menyerang Erina.
Ya, senjata itu adalah alasan Bisma memilih wanita lain. Karena Erina tidak bisa memberi Bisma keturunan. Meskipun Bisma mengatakan tidak mempermasalahkan hal itu, Erina merasa bahwa dirinya masih harus waspada dengan melakukan semua hal sebaik yang dia bisa.
"Kenapa kamu diam, hm? maaf soal tadi, aku sudah tidak mengantuk dan kita bisa tetap pergi ke pantai." Ucap Erina disertai senyuman.
Bisma menarik sebelah sudut bibirnya melihat wajah Erina dari jarak yang sangat dekat, lalu pria itu memposisikan tubuhnya diatas tubuh Erina hanya dengan satu kali hentakan. Sekarang Bisma sudah tidak bisa menahan dirinya, bagian bawahnya meminta untuk di puaskan.
"Sayang sekali, aku sudah tidak mau pergi ke pantai, aku mau kita berlibur di kamar ini seperti yang kamu katakan sebelumnya." Ucap Bisma dengan suara berat dan menyeringai.
Bisma akhirnya melepaskan hasratnya kepada sang istri, mereka melakukan itu begitu lama sampai Bisma lupa untuk menghubungi Leo. Karena Bisma maupun Erina terlalu sibuk untuk saling memuaskan dan mencari kepuasan.
"Tutup telingamu! suara itu tidak pantas untuk kamu dengarkan!" Ucap Leo kepada Krystal ketika mereka berdua berdiri di depan kamar Bisma dan Erina. Tadinya, mereka berdua mendatangi kamar itu karena Bisma tidak bisa di hubungi, tidak di sangka mereka malah mendengar suara desahan.
"Haish, kamu ini benar-benar keras kepala!" Leo akhirnya menutupi telinga Krystal karena wanita itu tidak melakukan apa yang Leo suruh padanya, lalu Leo memutarkan tubuh Krystal dan mengajak tunangannya pergi dari tempat itu.
"Krystal, sepertinya kamu sangat suka mendengar suara mereka." Ucap Leo menyindir ketika mereka berhasil menjauh dari kamar Bisma dan Erina.
"Tidak! kata siapa aku menyukainya?" Sahut Krystal membiarkan Leo terus menutupi telinganya, tidak peduli dengan tatapan orang.
"Kalau tidak, kenapa kamu tidak menutup telinga, hm?" Tanya Leo kesal.
"Percuma tutup telinga, aku masih mendengar suara mereka berdua dengan sangat jelas!"
"Ck, kamu ini pandai sekali bicara!"
"Tentu saja, aku sudah belajar bicara sejak usiaku satu tahun dan sekarang aku sudah mau kepala tiga, jadi aku sudah terbiasa bicara."
"Memang kamu bisa mengingat apa yang kamu lakukan saat berusia satu tahun? konyol!"
"Ingatanku tidak cukup baik untuk mengingat itu, tapi setahuku balita umur satu tahun sudah belajar bicara dan mungkin saat itu ..."
"Ya ya, baiklah. kamu memang benar-benar pandai bicara! aku mengaku kalah darimu!"
"Bagus kalau begitu, tapi sebenarnya aku tidak terlalu berharap menang darimu."
Leo hanya mendecih tanpa mau menanggapi perkataan Krystal. Karena Leo tahu berdebatan mereka tidak akan berujung nantinya, Krystal terlalu pandai bicara dan menanggapinya akan memakan waktu yang sangat lama.
××××××××××××××××××××××××××××××××××××
"Dalam dunia cinta, ada pasangan yang memilih perdebatan untuk mempererat hubungan mereka. Ketahuilah, memang berdebat untuk hal-hal kecil lebih menyenangkan ketimbang tidak pernah berdebat tapi langsung bertengkar hebat."
"Jika kamu sudah menikah, berusahalah untuk terbuka terhadap pasanganmu, asal jangan membuka keburukan orang tuamu kepadanya."
Aku ucapkan banyak terimakasih kepada kalian semua yang sudah mengikuti cerita ini, terimakasih untuk tidak bosan membacanya meski kisah mereka jauh dari kata sempurna. Terimakasih juga sudah membuat cerita ini mencapai 1.20M viewers. Terimakasih. Oh ya, maaf aku tidak membalas komentar kalian tentang definisi cinta. Aku sayang kalian semua ❤
Regards,
__ADS_1
Nur Alquinsha A | IG: @light.queensha