Ikatan Tanpa Cinta

Ikatan Tanpa Cinta
ITC #27


__ADS_3

Erina keluar kamar setelah berhasil membuat Bisma tenang dan berhenti menangis, wanita itu berniat membuat sesuatu di dapur untuk mengisi perut suaminya.


"Erin, kamu baik-baik saja?" Tanya ibu Maria saat Erina sedang menutup pintu kamar, para maid mengatakan Bisma sudah bersikap kasar pada Erina dan hal itu yang membuat ibu Maria khawatir.


Erina sontak menoleh pada ibu Maria dan melemparkan senyuman terbaiknya, Erina mengubah ekspresi wajahnya supaya orang lain tidak tahu dirinya sudah menangis.


"Hm, aku baik-baik saja." Jawab Erina lalu melirik para maid yang ada di belakang ibu Maria.


Para maid menunduk karena masih takut,


tidak biasanya mereka melihat Bisma semarah tadi, meskipun Bisma sering marah, tapi Bisma tidak pernah marah sambil meninggikan suaranya.


Lagipula, Bisma tidak pernah serius kalau marah, selalu ada candaan yang membuat para maid tidak terlalu takut, meskipun Bisma juga suka mengancam supaya para maid menurut.


"Tolong maafkan suamiku." Ucap Erina beralih pada maid sebelum akhirnya melangkah menuju dapur.


Erina tidak bisa terlalu lama mengobrol, dia harus segera membuat sarapan untuk Bisma, karena suaminya itu tidak makan sedikitpun di restoran.


"Erin, tunggu!" Tahan ibu Maria membuat langkah Erina terhenti.


Erina berbalik dan kembali menatap ibu Maria. "Ya, bu?" Sahutnya.


Ibu Maria tersenyum. "Bisma melukaimu?"


Ibu Maria tahu saat Erina datang untuk mengambil barang miliknya, ibu Maria tidak menahan kepergian Erina karena tidak ingin ikut campur dalam rumah tangga Erina dan Bisma.


Menurut ibu Maria, Erina memiliki hak untuk marah, Erina tahu Bisma tidak pulang ke mansion disaat pria itu tidak menepati janjinya, entah kemana perginya Bisma tadi malam.


"Tidak, ibu tenang saja, Bisma tidak akan tega melukaiku." Erina tersenyum.


Sebenarnya, Erina merasa dirinya terlalu percaya diri mengatakan itu, Bisma sudah berhasil melukai tangannya, tapi Erina tidak bisa menarik kembali perkataannya dan memilih mengalihkan pembicaraan.


"Oh ya, maaf aku harus membuat makanan untuk Bisma, suamiku belum sarapan." Ucap Erina ramah sebelum akhirnya kembali melangkahkan kakinya menuju dapur.


Setibanya di dapur, Erina langsung membuat sarapan seadanya untuk Bisma, berhubung yang pertama kali Erina lihat roti, wanita itu membuat roti bakar untuk suaminya.


"Erin, maaf tidak menurut, tapi saya takut kamu pergi, jadi memutuskan untuk menyusul." Ucap Bisma yang tiba-tiba memeluk Erina dari belakang.


Erina menghidangkan roti bakar buatannya diatas piring tanpa mempermasalahkan Bisma yang membuatnya sulit untuk bergerak.


"Aku sudah selesai, kamu bisa duduk." Ucap Erina pelan sambil membawa piring berisi roti bakar buatannya.


"Oh, baiklah." Sahut Bisma tanpa berani membantah Erina, pria itu melepaskan Erina dari pelukannya lalu berjalan menuju meja makan.

__ADS_1


Bisma bersyukur Erina berjanji tidak akan membicarakan perceraian mereka, dan tidak ingin membuat istrinya itu berubah pikiran.


"Mengenai bulan madu--"


"Kita akan pergi besok, makanlah." Ucap Erina memotong perkataan Bisma sambil menghidangkan roti bakar untuk suaminya.


Bisma tersenyum lalu memakan roti bakar buatan Erina dengan lahap, Bisma merasa sangat bahagia sampai air mata keluar dari sudut matanya.


Sebagai seorang pria, Bisma memang berlebihan, tapi Bisma tidak bisa bersikap biasa saja mendengar Erina setuju untuk bulan madu besok.


Hampir saja Erina memutuskan untuk meninggalkan Bisma selamanya, sekarang istri Bisma itu sudah menarik kembali permintaan cerainya.


Erina yang melihat air pada sudut mata Bisma segera menghapusnya dengan lembut. "Aku minta maaf, aku pasti sudah sangat menyakitimu."


Bisma menahan tangan Erina dan tersenyum. "Tidak, seharusnya saya yang minta maaf, saya berjanji tidak akan membiarkan kejadian seperti ini terulang."


"Hm, lain kali bicarakan apapun padaku, jangan biarkan aku mendengar itu dari orang lain." Ucap Erina menanggapi Bisma.


Bisma mengangguk mengiyakan. "Saya pasti akan mengingatnya." Lalu Bisma mencium telapak tangan Erina.


"Habiskan sarapan kamu." Ucap Erina sambil menarik tangannya dari Bisma.


Erina berniat duduk di kursih namun tangan Bisma lebih cepat menahan dan menarik Erina untuk duduk di pangkuannya.


"Saya tahu, akan saya habiskan." Sahut Bisma.


Setelah itu, tidak ada pembicaraan diantara mereka, Bisma kembali memakan roti bakar buatan Erina dan Erina hanya terdiam di pangkuan suaminya.


"Erin, datang bulan kamu sudah selesai?" Tanya Bisma tiba-tiba.


Erina berdehem, pertanyaan Bisma membuat pikiran Erina kemana-mana, tidak mungkin kan Bisma berniat melakukan itu setelah bertengkar.


"Belum, kenapa?" Tanya Erina spontan.


Bisma menelan roti terakhir yang ada pada mulutnya. "Saya baca di internet masa subur wanita itu sepuluh hingga tujuh belas hari setelah haid terakhir."


Erina meneguk ludahnya, Bisma membicarakan masa subur wanita, apa itu artinya Bisma sedang merencanakan kehamilan Erina?


"Saya memaafkan kamu yang sudah berani meminta cerai, tapi saya akan memberi kamu sedikit hukuman." Lanjut Bisma.


Erina tidak mengerti hukuman yang Bisma maksud, sepertinya Bisma akan menghukum Erina setelah datang bulan wanita itu berakhir, mungkin hukuman di ranjang.


"Erin?" Panggil Bisma saat menyadari istrinya terdiam.

__ADS_1


Saat Erina menoleh dan wajah mereka saling berdekatan, Bisma mencium bibir Erina dan membuat mata wanita itu melotot saking kagetnya.


Masalahnya, mereka berdua sedang berada di ruang makan, Erina takut ada yang melihat, tapi Erina juga tidak berani menolak perlakuan Bisma.


"Saya sudah melarang orang bayaran saya datang kesini." Bisik Bisma dengan suara berat dan kembali menempelkan bibir mereka.


Erina sedikit tersenyum mendengar perkataan Bisma, lalu wanita itu membalas perlakuan suaminya, mereka saling melumat hingga terdengar suara khas.


Erina tidak menganggap itu sebagai hukuman, Erina menganggapnya sebagai permintaan maaf karena sudah membuat Bisma menangis.


Erina berjanji pada dirinya bahwa dia hanya akan mendengarkan perkataan Bisma dan tidak akan membiarkan perkataan orang lain mempengaruhi pernikahan mereka.


"Kamu harus bersiap menjalani hukuman nanti, sebaiknya kamu istirahat supaya besok kita bisa pergi." Ucap Bisma setelah ciuman mereka terlepas, namun dengan wajah mereka yang masih berdekatan.


"Aku tidak bisa istirahat, tidak baik tidur sepagi ini dan kita juga belum mengemasi barang untuk besok." Sahut Erina mengingatkan Bisma barangkali suaminya itu lupa.


"Jangan menghamburkan uang untuk membeli pakaian, mana handphone kamu?" Erina mengulurkan tangannya kearah Bisma, meminta ponsel pria itu.


Bisma tidak bertanya untuk apa Erina menginginkan ponsel itu, Bisma langsung mengambil ponselnya dari saku dan memberikan itu pada Erina.


Erina mengambil ponsel itu lalu menggunakan sidik jari Bisma untuk membuka kunci layarnya dan mulai mencari sesuatu disana.


Bisma terkekeh melihat kelakuan Erina. "Kamu bisa menambah sidik jarimu disana." Ucapnya mengusulkan.


"Aku tidak menemukan kontak Leo." Gumam Erina tanpa menanggapi perkataan Bisma karena tidak mendengarnya.


"Kamu berniat menelpon Leo menggunakan handphone saya?" Tebak Bisma.


"Hm." Sahut Erina yang masih fokus mencari nama Leo di kontak Bisma.


Bisma mengambil kembali ponselnya karena itu. "Saya bisa menelpon Leo, apa yang ingin kamu katakan padanya?" Tanyanya.


"Saya tidak akan membiarkan kamu dan Leo bicara, saya takut kamu berencana meminta bantuan Leo untuk meninggalkan saya." Ucap Bisma melanjutkan perkataannya.


Ya ampun Bisma! Padahal Erina hanya berniat meminta tolong Leo untuk mengambil barang-barangnya di rumah sakit sekaligus meminta Leo menyampaikan pada Soraya dan Farhan bahwa Erina tidak jadi menginap di rumah mereka.



Jangan lupa mendukung karya ini dengan menekan tombol suka dan masukan ke daftar favorit kalian. Teruntuk kalian yang tertarik dengan karya-karya aku, silahkan ikuti aku di mangatoon atau intagram (@light.queensha) Terimakasih ...


Regards:


©2019, lightqueensa.

__ADS_1


__ADS_2