Ikatan Tanpa Cinta

Ikatan Tanpa Cinta
ITC #47


__ADS_3

Bukan flashback ya ... selamat membaca ❤


 _____


Bisma maupun Erina sudah mencoba memejamkan mata, tapi mereka masih belum bisa tidur. Kasur tempat mereka berbaring penyebabnya, bayangkan saja Bisma dan Erina harus berbaring di ranjang yang sebenarnya hanya muat untuk satu orang, mereka sampai harus saling memeluk supaya salah satu dari mereka tidak terjatuh.


"Bisma, kamu bisa membuka baju ..." Ucapan Erina tertahan karena wanita itu merasa ambigu dengan perkataannya sendiri.


"Tidak ada AC disini, kalau kamu merasa gerah, kamu bisa membuka bajumu." Larat Erina cepat.


Erina berpikir Bisma tidak bisa tidur karena suhu di ruangan itu sehingga Erina mengusulkan kepada Bisma untuk membuka bajunya. Hanya itu.


Bisma tersenyum simpul. "Memang kamu tidak khawatir kalau saya membuka baju?" Tanyanya.


Sebagai wanita dewasa, Erina mengerti 'khawatir' yang Bisma maksud, tapi Erina berusaha menyangkal maksud Bisma yang ada dalam pikirannya itu.


"Aku lebih khawatir kamu tidak tidur malam ini karena gerah." Jawab Erina, dia mengangkat wajah sebentar untuk melihat wajah suaminya.


"Bagaimana denganmu? kamu juga tidak bisa tidur karena gerah kan?" Tanya Bisma berusaha menggoda Erina.


Tapi, Bisma gagal menggoda istrinya karena setelah itu mereka berdua terdiam, Erina memutuskan untuk tidak menjawab pertanyaan Bisma. Sementara Bisma memejamkan mata sambil merasakan kehangatan yang tersalurkan dari tubuh istrinya. Bisma selalu merasa nyaman berada dalam pelukan Erina.


Bisma mengaku bahwa tempatnya berada saat ini memang panas, sangat berbeda dengan kamar di mansion nya yang terdapat AC, tapi Bisma tidak masalah dengan itu karena yang terpenting adalah wanita di sampingnya. Bisma akan menyukai tempat apapun asalkan Erina bersamanya.


"Bisma?"


"Hm?" Bisma menyahut tanpa membuka matanya.


"Maaf ..." Ucap Erina lirih. Bisma spontan membuka mata dan berusaha menatap wajah istrinya.


"Kenapa minta maaf hum?" Tanya Bisma lembut, dia tersenyum sambil merapihkan rambut Erina yang sedikit berantakan.


"Mungkin selama kita menikah aku belum bisa menjadi istri yang baik dan banyak menyusahkanmu." Erina langsung mengalihkan pandangannya dari Bisma karena tidak berani menatap suaminya.


Erina merasa ada bisikan yang terus menyalahkan dirinya, terlebih ketika Erina ingat bagaimana Soraya memarahi Bisma, wanita itu merasa menjadi pihak bersalah karena Bisma terus di salahkan.


"Tidak perlu minta maaf karena selama ini kamu sudah menjadi istri yang baik bagi saya." Ucap Bisma masih dengan senyuman yang terukir di bibirnya, lalu Bisma mengarahkan Erina untuk menatap wajahnya.

__ADS_1


Erina menatap sendu mata itu. "Bisma, aku sudah berencana meninggalkanmu ..."


Bisma tertegun mendengar kalimat itu dari mulut istrinya, tapi dia masih berusaha untuk tetap tersenyum seolah semuanya akan baik-baik saja.


"Tapi aku tidak bisa, aku tidak bisa membayangkan setiap detik yang akan aku habiskan tanpamu nanti ..."


Erina merasa lega setelah mengungkapkan isi hati dan pikirannya. Sementara Bisma malah terdiam, dia berusaha keras mencerna perkataan Erina yang mendadak seperti teka-teki baginya.


"Bisma, aku merasa seperti berdiri di tepi jurang, aku tidak tahu hal baik apa yang harus aku lakukan agar tidak terjatuh, aku hanya berharap suatu saat kamu menarik tanganku, meski mungkin saja kamu akan mendorongku dari sana, aku selalu berharap kamu menarikku dan membuatku yakin bahwa semuanya akan baik-baik saja, kamu tidak akan membiarkan aku terluka apalagi melukaiku."


Erina menjeda sejenak kalimatnya. "Aku memang tidak tahu diri, kamu sudah sangat baik padaku tapi aku selalu memikirkan kemungkinan bahwa kamu jahat, bahkan aku tidak bisa menyingkirkan rasa tidak percaya terhadap kebaikanmu ini ..."


"Sudah cukup, Erin!" Ucap Bisma menginterupsi perkataan Erina, dibandingkan sakit hatinya karena tidak di percayai, Bisma lebih peduli dengan Erina.


Bisma tidak ingin atau mungkin tidak tega melihat kesedihan di wajah istrinya, lalu Bisma menenggelamkan wajah Erina pada dada bidangnya untuk jaga-jaga barangkali istrinya itu akan menangis. Bisma benar - benar tidak bisa melihat air mata Erina.


Erina bisa mencium aroma tubuh Bisma yang selalu menenangkan baginya, Erina diam-diam tersenyum ketika mengingat pertama kali mereka berpelukan. Saat itu Erina begitu gugup karena Bisma juga merupakan pria pertama yang memeluknya.


"Erin, saya tidak peduli meskipun kamu tidak bisa mempercayai saya seumur hidupmu ..." Bisma merasa ada benda keras yang mengantamnya, dia tidak serius mengatakan itu atau mungkin Bisma masih berharap Erina bisa mempercayainya.


Tapi, jika memang Erina merasa kesulitan untuk mempercayainya, Bisma tidak akan memaksa, dia tidak ingin membuat istrinya itu merasa sulit. Demi tuhan, Bisma hanya ingin Erina terus bersamanya.


"Dan aku membutuhkan bantuan darimu." Erina melanjutkan kalimatnya. Sementara Bisma menatap wanita itu tidak mengerti, dia bahkan tidak tahu hal apa yang bisa dilakukan agar Erina percaya padanya.


"Tolong untuk tidak terlibat rumor dengan Gisella, lagi. Dan aku harap kamu juga bisa lebih pintar kalau ingin dekat dengan wanita lain." Suara Erina terkecat.


Erina tidak tahu dengan pikirannya sendiri, dia hanya teringat perkataan Leo ketika mengatakan hal bodoh itu, Bisma memperlihatkan ekspresi yang tidak kalah bodoh karena mendengar perkataan istrinya.


"Bisma, kamu mendengar apa yang aku katakan?" Tanya Erina memastikan karena tatapan Bisma pada dirinya mendadak berubah kosong.


Bisma dengan cepat mengangguk. "Saya dengar, tapi kenapa kamu menyuruh saya untuk lebih pintar kalau ingin dekat dengan wanita lain?" Tanya Bisma mengutarakan pikirannya.


Erina berdecak pelan. "Ya, tentu saja kamu harus pintar karena aku tidak ingin melihat suamiku mesra dengan wanita lain." Jawabnya.


Bisma tertawa dibuatnya, perkataan Erina ibarat sebuah lelucon yang menggelitiki isi perutnya, Bisma merasa istrinya begitu menggemaskan, bukankah kata yang lebih tepat itu ... "Jangan berani mendekati wanita lain karena aku tidak suka melihatnya."


"Yak! Kenapa kamu tertawa?!" Protes Erina kesal. Pasalnya wanita itu merasa sedang bicara serius.

__ADS_1


Bisma merapatkan kedua bibirnya, dia tidak bermaksud mentertawakan Erina, tapi perkataan Erina memang membuat pria itu terhibur.


"Ish ..." Erina mendorong Bisma sampai pelukan mereka terlepas, lalu dia mengambil posisi duduk, beruntung Bisma bisa menahan dirinya sehingga pria itu tidak harus terjatuh ke lantai.


"Bisma, kamu tidur duluan, aku akan pergi sebentar." Ucap Erina, dia bergegas untuk pergi namun Bisma lebih cepat menahan tangannya.


"Pergi kemana?" Tanya Bisma dengan suara berat. Erina membuang nafasnya kasar.


"Dapur." Jawab Erina singkat. Bisma dengan cepat bangun dari pembaringan.


"Kalau begitu saya akan mengantar kamu ..."


 


 




"Bisma, aku khawatir coklat milikmu dingin." Ucap Erina sambil mendesah diakhir kalimatnya.


Pasalnya Bisma terus memperhatikan Erina semenjak mereka berdua duduk di ruang makan, Erina saja sampai merasa risih di perhatikan Bisma seperti itu. Sementara Bisma terus memperhatikan Erina karena teringat dengan perkataan wanita itu. Bolehkan Bisma berpikir Erina cemburu?


"Bisma?!" Tegur Erina tidak tahan.


Bisma hanya mengerjapkan mata polos dan sukses membuat Erina kesal.


"Aku sudah menyuruhmu tidur duluan kan?"


"Aku belum puas menatap wajahmu." Jawab Bisma cepat membuat Erina bungkam. Dan tanpa mereka berdua sadari, ada dua pasang mata memperhatikan mereka dari jarak yang lumayan dekat.


 _____


Jangan lupa mendukung karya ini dengan menekan tombol suka dan masukan ke daftar favorit kalian. Teruntuk kalian yang tertarik dengan karya-karya aku, silahkan ikuti aku di mangatoon atau instagram (@light.queensha) Terimakasih ...


Regards:

__ADS_1


©2019, lightqueensa.


__ADS_2