
Erina tersenyum menatap wajah Bisma yang masih terlelap, suaminya itu terlihat berkali-kali lebih tampan dengan wajah damai dan nafas beraturan. Erina tidak ingat sejak kapan dirinya memiliki keberanian untuk menatap wajah itu. Bahkan, Erina baru menyadari bahwa melihat wajah Bisma adalah hal pertama yang paling dirinya inginkan saat membuka mata di pagi hari.
Selama ini, Erina terbiasa melihat keberadaan Bisma di samping tempat tidurnya saat wanita itu bangun, kecuali tempo hari saat Erina menginap di rumah sakit dan mereka bertengkar, wajah tampan Bisma selalu menyapa pagi Erina. Dan hari ini Erina merasa ada sesuatu yang hilang setelah mereka tidur di kamar terpisah. Erina sampai harus menyelinap ke dalam kamar Bayu.
"Mas ..." Panggil Erina berusaha membangunkan Bisma sambil mengusap kepala suaminya sayang. Sementara Bayu sepertinya sudah pergi bekerja.
"Mas ..." Erina kembali berusaha membangunkan Bisma, tapi suaminya itu masih bergeming sehingga mengundang dengusan Erina.
"Gue curiga Bisma dan Bayu ngerumpi manja tadi malam." Gumam Erina dalam hati karena tidak biasanya Bisma susah di bangunkan.
"Mas Bisma ..." Ucap Erina sambil menepuk kedua sisi wajah Bisma, dia masih belum menyerah untuk membangunkan suaminya.
"Hm?" Sahut Bisma pada akhirnya. Meski sekedar gumaman, setidaknya Erina mendapatkan respon dari pria yang masih menutup matanya.
"Bangun!" Ucap Erina sambil menepuk kedua sisi wajah Bisma lembut.
"Hm, iya." Bisma kembali menyahuti dan akhirnya membuka mata, dia sedikit terkejut melihat keberadaan Erina di kamarnya.
"Erin, dimana adik kamu?" Tanya Bisma yang dengan cepat mengambil posisi duduk. Meskipun kesadaran Bisma belum terkumpul, tapi Bisma ingat kalau semalam dia tidur bersama Bayu.
"Mas bergadang semalam?" Tuding Erina tanpa menjawab pertanyaan Bisma terlebih dulu.
Kesadaran Bisma langsung terkumpul mendengar nada bicara Erina yang sedikit berbeda. Memang benar Bisma bergadang semalam dan Bisma tidak ingin hal itu menjadi masalah baginya.
"Erin, aku bisa jelaskan--"
"Mas, aku hanya bertanya, jangan berlebihan." Ucap Erina memotong perkataan Bisma.
"Maaf." Ucap Bisma karena tidak tahu kata apa yang pantas untuk menanggapi perkataan Erina.
Bisma merasa bahwa dirinya harus lebih sering mengalah untuk hal apapun menyangkut Erina. Karena Bisma tidak ingin Erina meninggalkannya seperti yang selama ini ada dalam bayangan dan mimpi buruknya. Bisma tidak akan sanggup merasakan yang namanya kehilangan Erina.
Erina mengambil nafas sejenak, tidak mengerti alasan Bisma tiba-tiba meminta maaf padanya. "Kenapa mas minta maaf?"
__ADS_1
"Aku takut melakukan kesalahan yang tidak aku sadari, makanya aku meminta maaf padamu. Erin, apa ibumu--" Bisma menghentikan perkataannya saat Erina membungkam mulutnya, Erina memberikan kecupan lembut pada bibir Bisma.
"Aku juga mencintai mas." Ucap Erina meniru apa yang pernah Bisma lakukan padanya.
Bisma hanya mampu terkekeh menyaksikan kelakuan istrinya, lalu saat Erina duduk di pangkuan Bisma dengan posisi mereka yang saling berhadapan, Bisma merasa tubuh bagian bawahnya sedikit menegang.
"Erin, apa ibumu mencariku?" Tanya Bisma sambil berusaha menahan hasratnya. Bisma harus ingat tempatnya berada saat ini, dia tidak mungkin menyalurkan hasratnya di kamar Bayu.
"Oh, ibu sudah pergi ke toko, memang kenapa ibuku harus mencari mas?" Erina balik bertanya, lalu memeluk Bisma sambil menyandarkan kepadanya pada bahu suaminya itu.
Bisma mendesah pelan, dia tidak tahu apa yang terjadi pada istrinya, Erina berubah menjadi sedikit manja dan hal itu membuat Bisma harus berusaha lebih keras menahan hasratnya.
Bisma menanyakan ibu Sonya dan Bayu karena khawatir sang ibu mertua dan adik ipar memberi penilaian buruk padanya, Bisma baru bangun saat matahari sudah muncul ke permukaaan.
"Erin ..." Bisma ingin sekali meminta Erina turun dari pangkuannya, tapi Bisma takut Erina salah paham dan mengira Bisma tidak menyukai kelakuan manja istrinya itu.
"Hm." Sahut Erina mengangkat sedikit wajahnya dan membuat wajah mereka saling berdekatan.
"Kak Erin." Teriakan Bayu menginterupsi mereka berdua, Erina menyingkir dari pangkuan Bisma saat mendengar suara langkah mendekat.
Tidak lama Bayu memasuki kamar, dia terlihat kaget dengan keberadaan Erina di dalam kamarnya. "Eoh, kenapa kakak ada disini?"
"A-aku ..." Belum sempat Erina menyelesaikan kalimatnya, Bayu sudah lebih dulu menarik Erina keluar dari kamar dengan cara yang tidak manusiawi karena yang Bayu tarik kerah bajunya.
"Jangan berpikir untuk berbuat mesum di kamarku." Ucap Bayu setelah berhasil menarik Erina keluar kamar. Erina mendengus kesal.
"Berbuat mesum bagaimana, hah? aku hanya berniat membangunkan suamiku!" Ucap Erina membela diri, Erina saja tidak sadar sudah menggoda Bisma, bagaimana dia akan menerima saat Bayu menuduhnya berbuat mesum.
"Kakak pikir aku tidak melihatnya, aku curiga suami kak Erin memakai pelet sampai kak Erin berubah liar seperti tadi." Ucap Bayu dalam hati.
Tanpa Erina dan Bisma sadari, Bayu menyaksikan apa yang terjadi di dalam kamar, makanya Bayu sengaja meneriaki Erina ketika Bayu menyadari akan terjadi aksi tidak pantas di kamarnya.
Bayu sudah dewasa, dia cukup memahami apa yang akan terjadi selanjutnya setelah Bisma dan Erina saling menatap dalam waktu yang cukup lama, jadi Bayu langsung menghentikannya.
__ADS_1
"Jangan masuk ke dalam kamar pria." Ucap Bayu mengingatkan dan mengabaikan ocehan Erina. Sementara Bisma hanya menyaksikan apa yang terjadi diantara kakak beradik itu.
Bisma tidak bisa membela Erina karena istrinya itu sedang menghadapi sang adik ipar, Bisma harus tetap diam karena takut melakukan kesalahan kalau sampai salah bicara.
"Meskipun kamar pria, tapi aku ini kakakmu, aku juga masuk kedalam kamarmu hanya untuk membangunkan suamiku ..."
"Aku tidak peduli alasannya, kakak tetap tidak boleh masuk ke dalam kamarku." Sahut Bayu memotong perkataan Erina untuk kedua kalinya.
Erina memutar mata jengah. "Baiklah. Tolong katakan pada suamiku, aku sudah menyiapkan sarapan untuknya dan sebaiknya dia segera mandi, aku menunggunya di ruang makan."
Setelah itu, Erina pergi begitu saja meninggalkan Bayu dan juga Bisma yang hanya menatapnya dari dalam kamar, Erina tidak mengerti alasan Bisma tidak membelanya dan Erina juga tidak tahu mengapa dirinya begitu kesal.
Erina merasa ada sesuatu yang mendorongnya sampai berani menggoda Bisma seperti tadi. Oh, Erina baru menyadari apa yang dirinya lakukan kepada Bisma sebelum Bayu datang. Haish, benar-benar membuat Erina malu.
"Gue pasti sudah gila." Gerutu Erina pada diri sendiri.
Sementara itu, Bayu berbalik menatap Bisma setelah memastikan Erina pergi, dia memberikan tatapan yang sulit untuk diartikan oleh Bisma.
"Apa yang terjadi pada kakakku, kenapa dia aneh?" Tanya Bayu kepada Bisma yang memberikan tatapan bingung padanya.
Sebenarnya Bayu sudah pergi bekerja, tapi ponselnya tertinggal di kamar sehingga Bayu kembali untuk mengambil ponselnya itu, tanpa disangka Erina ada di dalam kamarnya dan sedang menggoda Bisma.
"Apa mungkin kak Erin hamil?" Bayu kembali bertanya mengutarakan hal lain yang ada dalam pikirannya.
Bisma tertegun mendapatkan pertanyaan seperti itu dari Bayu, apa Erina muntah-muntah?
×××××××××××××××××××××××××××××××××
Jangan lupa like, favorit, komen dan share ya ... sesungguhnya hal-hal seperti itu sangat membantu penulis menumbuhkan rasa semangatnya. Thanks ❤
Regards,
Nur Alquinsha A.
__ADS_1