Ikatan Tanpa Cinta

Ikatan Tanpa Cinta
ITC #70


__ADS_3

Erina tersenyum menatap secangkir kopi yang tidak Bisma minum semalam, dia tersipu mengingat hal apa yang sudah membuat Bisma tidak meminum kopinya itu. Karena tadi malam mereka harus melewati malam panjang bersama.


"Nyonya, ada yang bisa saya bantu?" Tanya Maya menginterupsi lamunan Erina, matanya melirik cangkir yang sedari tadi Erina lihat.


Maya menerka ada sesuatu yang menarik dari cangkir berwarna putih itu sampai-sampai majikan perempuannya terus tersenyum.


Well, Maya memang berada di dapur sudah sekitar sepuluh menit yang lalu dan selama itu Maya melihat Erina terus tersenyum.


Maya ingin sudah berkali-kali hampir menegur Erina, tapi dia ragu karena takut tegurannya membuat Erina merasa terganggu olehnya.


Erina mendesah ketika menyadari keberadaan Maya tepat di belakang tubuhnya, lalu Erina menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal.


"Nyonya, apa anda ingin membuat sarapan? bagaimana kalau saya bantu?" Maya kembali bertanya pada Erina meskipun terdengar ragu.


"Oh?" Erina melihat kearah tangga sebentar, kebetulan letak dapur lumayan dekat dengan tangga menuju lantai dua di mansion itu.


Tadinya, Erina datang ke dapur untuk membuat sarapan, tapi Erina tiba-tiba ingat bahwa Bisma sudah melarangnya melakukan pekerjaan rumah.


Erina membuang nafasnya mengingat hal itu, lalu menatap Maya yang terlihat sedang menunggu jawaban darinya dan akhirnya Erina mendesah.


"Maya, bisa tolong buatkan sarapan, sepertinya suamiku sudah bosan dengan sarapan yang aku buat, jadi bisa kamu membantuku membuatkan sarapan untuknya?" Tanya Erina.


"Nyonya ..." Lirih Maya merasa tidak nyaman dengan cara Erina meminta tolong padanya.


Maya merasa membantu Erina sudah menjadi tugasnya sebagai orang yang di gajih untuk melakukan pekerjaan rumah, malah seharusnya Maya yang sadar diri karena selama ini sebagian besar tugasnya di kerjakan oleh Erina.


Tapi, memang dasar majikan perempuan Maya itu terlalu baik, Erina selalu saja sungkan ketika menyuruh Maya dan yang lainnya, malah kesannya Erina seperti meminta bantuan. Maya merasa beruntung bekerja di mansion itu.


"Kalau kamu tidak bisa, aku akan meminta bantuan yang lain." Ucap Erina ketika tidak kunjung mendapatkan jawaban dari Maya.


"Tunggu!" Maya menahan tangan Erina yang hendak meninggalkan dapur.


"Nyonya, mana mungkin saya tidak bisa membantu anda, apa yang harus saya siapkan untuk sarapan anda dan tuan Bisma?" Tanya Maya, tangannya masih memegang tangan Erina.


"Oh, baiklah. Kamu bisa menyiapkan apa saja. Kami pernah pilih-pilih makanan." Jawab Erina disertai senyuman yang membuat Maya semakin terpesona dengan majikan perempuannya itu.


Tanpa keduanya sadari, Bisma menyaksikan momen tidak biasa yang terjadi antara istri dan maid di mansionnya, Bisma sedikit aneh melihat tatapan Maya pada Erina. Jangan bilang ...

__ADS_1


"Maya, kenapa kamu menatap istri saya seperti itu?" Tanya Bisma dengan mata yang memicing curiga kearah Maya dan tangan maid nya itu.


"Saya tahu istri saya cantik, tapi kamu ..." Bisma menggantung kalimatnya karena tidak sanggup mengucapkan apa yang ada dalam pikirannya.


"Bisma!" Tegur Erina mengalihkan perhatian suaminya. Sementara Maya hanya mampu menundukkan wajahnya tidak berani.


"Sayang, apa perlu aku ingatkan lagi?" Tanya Bisma sambil menatap Erina.


Maya mulai merasa tidak nyaman berada diantara kedua majikannya. Karena Maya mengetahui maksud perkataaan Bisma, dia semalam diam-diam memergoki Bisma dan Erina.


Maya tidak mengetahui tentang kopi karena dia memergoki Bisma dan Erina ketika kedua majikannya itu memasuki kamar. Ha, tolong jangan memaksa Maya untuk mengingatnya.


"Mas, apa yang kamu lakukan disini?" Tanya Erina mengalihkan, bukan hanya Maya yang merasa tidak nyaman, Erina juga merasa demikian.


"Oh?" Bisma berpikir sejenak karena melupakan alasannya datang ke dapur dan secara kebetulan dia melihat cangkir kopi tadi malam.


"Aku ingin mengambil kopi yang kamu buatkan untukku tadi malam." Jawab Bisma lalu mengambil cangkir berwarna putih itu. Bisma berniat meminum kopinya, tapi suara Erina lebih dulu menghentikannya.


"Mas, kopinya sudah dingin." Ucap Erina terdengar panik, dia takut kopi yang sudah di malamkan itu berubah menjadi zat beracun.


Bisma tidak berbohong saat mengatakan dirinya datang ke dapur untuk mengambil kopi buatan Erina, dia serius akan hal itu karena merasa harus menghargai apa yang sudah Erina buat untuknya.


Erina meringis melihat Bisma. "Mas ..."


Sementara itu, Maya akhirnya tahu alasannya Erina terus tersenyum dan wanita itu ikut merasa bahagia mengetahui keberuntungan Erina yang memiliki suami baik berbonus tampan.


"Sayang, ayo kita kembali ke kamar, aku takut ada yang cemburu disini." Ucap Bisma sambil melirik Maya yang tersenyum aneh.


"Mas terlalu percaya diri, Maya tidak menyukaimu." Ucap Erina seolah membela Maya, dia tahu Bisma hanya sedang menggoda Maya.


"Hey hey, bukan itu maksudku, Maya mungkin menyukaimu, jadi ... ah." Bisma mendesah kesakitan karena Erina mencubit pinggangnya.


"Jangan asal bicara, Mas." Ucap Erina memperingatkan suaminya.


Bisma hanya terkekeh dan mengucapkan maaf kepada Maya, lalu dia melingkarkan tangannya pada pinggang ramping Erina dengan tangan lain yang masih memegang secangkir kopi.


"Ayo ke kamar." Ucap Bisma setelah memastikan Maya memberinya maaf. Karena kalau tidak maka Erina akan marah padanya.

__ADS_1


Maya hanya menggeleng sambil menatap punggung kedua majikannya, mereka pasangan sempurna yang tuhan ciptakan. Maya berharap mereka bisa terus bersama dan selalu di anugerahi kebahagiaan oleh tuhan.


"Erin, aku melihat tatapan Maya padamu tidak biasa, sepertinya Maya memang ..."


"Maya masih bisa mendengar kamu, Mas." Ucap Erina memotong perkataan Bisma.


Erina benar-benar tidak mengerti dengan apa yang terjadi pada suaminya, Bagaimana bisa Bisma mengira Maya menyukai Erina? Konyol!


Bisma kembali terkekeh tanpa menanggapi perkataan Erina, dia merasa geli membayangkan kalau Maya benar-benar menyukai Erina.


Tapi, siapa yang tidak akan berpikir Maya mencintai Erina kalau Maya menatap Erina seperti tadi? Maya menatap kagum Erina.


"Oh ya, apa mas hari ini kerja?" Tanya Erina berusaha mencari topik pembicaraan.


Erina dan Bisma sudah sampai di tangga terakhir paling atas, tinggal beberapa langkah lagi maka mereka berdua akan tiba di depan kamar.


"Iya, mas kerja. Kenapa? Kamu masih belum puas liburan?" Tanya Bisma, padahal cuti kerja Bisma kurang pantas sebagai liburan. Karena mereka hanya melakukan silaturahmi keluarga.


Erina tersenyum. "Kalau nanti siang aku mengantar makan siang ke kantor mas, boleh?"


Bisma terdiam, dia terlihat berpikir keras untuk mendapatkan jawaban atas pertanyaan Erina, hal itu membuat Erina berpikir Bisma tidak memberi ijin, tapi yang terjadi selanjutnya ...


"Kamu bercanda? Kamu tidak perlu meminta ijin untuk datang ke kantorku, aku juga senang kalau kamu mau mengantar makan siang untukku."


Memang benar apa yang Maya katakan, Erina dan Bisma adalah pasangan yang sempurna, tapi pada dasarnya tidak ada kehidupan sempurna di dunia ini, Erina dan Bisma hanya belum bertemu sesuatu yang menguji pernikahan mereka.


Kehadiran Gisella hanya bagian kecil dari ujian pernikahan Erina dan Bisma, masih ada kemungkinan tuhan ikut bermain dalam pernikahan mereka, dan bukankah tidak ada yang lebih berkuasa dari pencipta alam semesta ini?


××××××××××××××××××××××××××××××××


Apa yang akan terjadi selanjutnya? apa akan ada Gisella kedua atau Gisella belum menyerah mendapatkan Bisma? Ikuti terus kisah Erina dan Bisma ya ...


Jangan lupa kalau authornya suka obat (like, favorit dan share) makasih ❤


Regards,


Nur Alquinsha A.

__ADS_1


__ADS_2