Ikatan Tanpa Cinta

Ikatan Tanpa Cinta
ITC #75


__ADS_3

Erina belum bisa tidur karena memikirkan tentang kemungkinan Gisella menyewa orang untuk membunuhnya dan entah mengapa Erina merasa kurang percaya kalau Gisella terlibat dalam kecelakaan yang dia alami kemarin.


Bukan tanpa alasan, Erina percaya Gisella tidak mungkin menyuruh orang membunuhnya karena bahkan Gisella pernah mengingatkan Erina untuk berhati-hati. Jadi, sehari sebelum Erina kecelakaan, Erina dan Gisella sempat bertemu.


Saat itu, Erina sedang bekerja di cafe, Gisella datang dan mengajaknya untuk bicara. Erina sempat berpikir Gisella menemuinya untuk mencari masalah, tapi ternyata Gisella mengatakan hal yang tidak terduga padanya.


"Kamu wanita yang sangat beruntung." Gisella bicara sambil tersenyum, Erina merasa ada yang salah dari wanita itu, Erina ingat Gisella pernah menyuruhnya untuk meninggalkan Bisma dengan sangat angkuh, tapi saat itu ada yang berbeda.


"Kamu memiliki pria yang mencintaimu dengan tulus, tidak seperti aku yang hanya pemuas nafsu semata dan aku minta maaf sudah menjadi duri dalam pernikahanmu." Erina memilih untuk tetap diam ketika Gisella tidak berhenti bicara.


"Bisma adalah satu-satunya orang yang aku percaya bisa menyelesaikan masalahku, aku pernah menginginkan dia disampingku, hanya supaya aku tidak perlu menjual tubuhku demi popularitas, tapi Bisma tidak menyukaiku."


"Maksudmu?" Hanya kata itu yang mampu keluar dari mulut Erina, dia tidak mengerti maksud Gisella mengatakan semua itu padanya.


"Maaf, aku tidak bisa terlalu lama berada disini, aku harus pergi." Gisella terburu-buru pergi dan membuat Erina menyadari ada yang tidak beres.


Erina sempat mengejar Gisella untuk meminta penjelasan, tapi tiba-tiba saja mereka di hadang oleh beberapa orang atau mungkin hanya Gisella yang menjadi target orang-orang itu. Karena mereka langsung menarik Gisella untuk pergi.


"Tunggu ..." Erina berniat membantu Gisella sampai Gisella membisikan sesuatu padanya.


"Kedatangan aku kesini hanya untuk meminta maaf padamu, sekarang sebaiknya kamu kembali dan berhati-hatilah ..." Erina mengingat semua yang Gisella katakan padanya dengan jelas dan itu benar-benar mengganggu pikirannya.


Erina merasa bahwa mungkin saat ini Gisella juga sedang dalam kesusahan sehingga akan sangat tidak mungkin Gisella menyuruh orang untuk membunuhnya. Ha, Erina baru ingat pria yang membuatnya terjatuh mengatakan sesuatu.


"Sayang, kamu masih belum istirahat?" Suara itu membuat lamunan Erina pecah, Bisma sudah berdiri di depan kamar mandi dengan rambut basah dan handuk melingkar di pinggangnya, Erina berdehem pelan melihat suaminya itu.


"Kenapa, hm?" Tanya Bisma ketika melihat Erina hanya terdiam sambil menatap padanya. Bisma perlahan mendekati tempat istrinya berbaring.


Erina mengambil posisi untuk duduk. "Mas, bisa kita bicara? ada sesuatu yang ingin aku katakan padamu, apa mas memiliki waktu sebentar saja?"

__ADS_1


"Erin, apa setelah terbentur kepala kamu mengalami gangguan? kamu sampai meminta ijin untuk bicara?" Tanya Bisma tidak habis pikir.


"Tentu saja aku memiliki banyak waktu untukmu, memang apa yang ingin kamu bicarakan?" Langkah Bisma terhenti di samping ranjang mereka, lalu pria itu duduk di kasur dekat Erina.


Erina tersenyum simpul menanggapi perkataan Bisma. "Baiklah, tapi apa tidak lebih baik mas memakai baju terlebih dahulu?" Jujur saja, Erina merasa kurang nyaman melihat suaminya itu.


"Kamu tenang saja, aku akan mengendalikan diriku, aku tidak mungkin meminta hak ku saat kamu sedang sakit." Ucap Bisma tenang.


Erina berdehem pelan, bukan itu alasan Erina meminta Bisma memakai bajunya, Erina khawatir tidak bisa konsen bicara karena terus memandangi tubuh bak atlet suaminya.


"Kenapa diam? apa yang sebenarnya ingin kamu bicarakan, hm?" Bisma memegang kedua sisi wajah Erina supaya menghadap padanya.


Erina menarik nafasnya sebelum bicara. "Mas yakin Gisella yang menyuruh orang membunuhku?" sambil menatap mata Bisma dan membuat pria di depannya menghela nafas.


Bisma langsung menurunkan tangannya dari wajah Erina, lalu beranjak dari tempat duduknya dan berjalan untuk mengambil pakaian. "Mas sudah meminta kamu tidak memikirkan itu kan?"


Bisma bicara tanpa melihat Erina, dia juga memakai kaos sambil membelakangi lawan bicaranya itu. Melihat itu, Erina jadi merasa bersalah dan perlahan mendekati Bisma.


Sebenarnya, kepala Erina masih terasa sangat berat dan sakit, tapi berada di rumah sakit membuatnya teringat apa yang dokter katakan, sehingga Erina memilih pulang ke mansion.


"Gisella sepertinya mengalami hidup yang sulit, aku hanya ingin memastikan mas tidak salah menuduh orang." Lanjut Erina mengeratkan pelukannya dan memejamkan matanya.


"Kamu ingat, wanita jalang itu pernah mempersulit pernikahan kita?" Bisma menyambar perkataan Erina, lalu berbalik sehingga mereka berdua saling berhadapan satu sama lainnya.


Erina menghela nafas, sepertinya dia harus berhenti membicarakan Gisella atau Bisma akan terpancing emosinya. Jujur, Erina sudah lelah menghadapi masalah dan pertengkaran.


Erina sadar semua masalah yang muncul dalam pernikahan mereka terjadi atas kesalahannya dan Erina merasa harus lebih berusaha supaya tidak ada lagi pertengkaran diantara mereka.


"Erin, istri kesayangan mas, sebaiknya kamu tidur, kamu ingat apa yang dokter katakan? kamu harus banyak istirahat." Ucap Bisma lembut namun penuh penekanan disetiap kalimatnya.

__ADS_1


"Iya, mas." Putus Erina, lalu berjalan kembali ke ranjang dan membaringkan dirinya disana. Sebenarnya, Erina merasa tertampar ketika Bisma membahas apa yang dokter katakan padanya.


Erina kembali teringat pembicaraan Bisma dan dokter, Erina kehilangan calon bayinya beserta kesempatan untuk memiliki anak, mungkin itu hukuman atas kesalahannya kepada Bisma.


"Mas berjanji akan mencari orang yang sudah berani melukaimu dan bayi kita, jadi kamu tidak perlu memikirkan apapun, hm?" Ucap Bisma sambil memandangi Erina yang sudah berbaring.


Bayi kita? Hhhhh. Erina belum merasakan bagaimana rasanya mengandung, Erina belum tahu yang namanya mengidam atau hal lain yang seharusnya dirasakan para wanita hamil.


Erina baru saja mengetahui kehamilannya dan di hari yang sama Erina juga kehilangan janin yang ada dalam kandungannya itu. Erina merasa bahwa semua itu adalah hukuman baginya.


Bisma yang mengetahui Erina melamun segera menghampiri istrinya itu, tepat setelah Bisma selesai memakai celana pendeknya, lalu Bisma kembali duduk di dekat Erina berbaring.


Bisma mengecup lama kening Erina dan kembali mengajak wanita itu bicara. "Kenapa melamun? apa yang sedang kamu pikirkan, hm? kamu teringat perkataan dokter padaku?"


Erina tersenyum mendapatkan perlakuan sederhana Bisma yang terasa manis baginya. Memang benar apa yang Gisella katakan, Erina beruntung menerima cinta dari pria sebaik Bisma.


"Sayang, kamu harus ingat kalau kita hanya belum waktunya memiliki anak, bukankah tidak ada yang sulit di dunia ini bagi sang pencipta?"


"Mas benar, kita akan buktikan kalau dokter hanya sedang melakukan kesalahan, suatu hari nanti aku akan hamil dan rumah ini akan ramai dengan buah buah hati kita." Erina menimpali.


"Mas, sekarang sudah waktunya makan siang dan mas masih belum makan apapun, pergilah makan, aku akan disini untuk istirahat." Ucap Erina mengalihkan sambil melemparkan senyuman.


Erina ingin membuat makanan untuk suaminya, tapi Erina tahu Bisma akan melarangnya, jadi Erina hanya menyuruh Bisma makan, lagipula Erina juga merasa kepalanya sedikit pusing.


"Oh, hampir saja aku lupa, kamu juga belum makan, sebaiknya makan sebentar, baru setelah itu kamu bisa istirahat."


"Hm, baiklah. Mari makan bersama." Erina kembali mengambil posisi untuk duduk, lalu Erina dan Bisma saling melemparkan senyuman, mereka merasa semuanya akan baik-baik saja selama ikatan mereka tidak terlepas.


Bukan hanya karena mereka saling mencintai, tapi Erina dan Bisma percaya bahwa mereka memang terlahir untuk bersama. Meskipun menghadapi sesuatu yang lumayan sulit untuk satu sama lainnya. Mereka harus bersama.

__ADS_1


Lagipula, tidak ada pernikahan tanpa adanya masalah bukan? Ya, Erina dan Bisma meyakini hal itu, orang lain hanya menghadapi ujian yang berbeda dari yang sekarang mereka alami, tapi intinya tetap sama, mereka mengalami ujian.


__ADS_2