Ikatan Tanpa Cinta

Ikatan Tanpa Cinta
ITC #68


__ADS_3

Erina tidak bisa menebak ekspresi yang sedang suaminya tunjukkan, sebelumnya Bisma masih terlihat angkuh di depan neneknya, tapi sekarang Bisma menangis setelah nenek Sekar pergi.


"Erin, aku tidak berniat jahat." Lirih Bisma sambil menatap kosong Erina yang saat ini berdiri di depannya, kemudian tangannya yang meraih tangan Erina dan menciumnya beberapa kali.


Erina menghela nafas lalu memeluk Bisma yang sedang duduk sehingga wajah suaminya itu terbenam tepat pada dadanya. Erina berharap pelukannya bisa membuat Bisma merasa tenang.


Bisma tertegun, sepertinya Erina tidak menyadari apa yang dirinya lakukan, Bisma masih pria normal meskipun saat ini pria itu sedang menangis karena merasa bersalah pada neneknya.


"Maaf sudah menyebut mas jahat." Ucap Erina dengan nada rendah sambil mengusap kepala Bisma dan membuat Bisma berdehem pelan.


Bisma merasa kurang nyaman dengan perlakuan Erina yang membuat bagian bawahnya bangun, dia akhirnya menjauhkan wajahnya dari dada Erina lalu mengangkat wajah menatap sang istri.


"Erin, apa kamu berusaha merayuku? aku ingat saat di Karawang kamu juga ..." Bisma sengaja menggantung kalimatnya untuk menggoda Erina.


Erina berdecak melihat tatapan nakal Bisma padanya, mata pria itu masih terlihat berair, tapi bisa-bisanya berusaha mengoda Erina.


Erina mengingat dengan jelas hal konyol apa saja yang dia lakukan saat mereka berada di Karawang dan Erina sangat malu atas perbuatannya sendiri.


Tapi, Erina tidak menyangka Bisma sengaja menggunakan itu untuk kepentingan dirinya sendiri, bahkan Bisma sengaja menyerangnya.


"Barusan mas mengabaikan permintaan maafku, maka jangan salahkan aku kalau nanti ..."


"Kamu mencoba mengancamku?" Tanya Bisma tidak habis pikir dan langsung menyela perkataan Erina, bisa-bisanya Erina mengancam setelah tadi berusaha membuatnya tenang.


Erina menggeleng cepat. "Aku tidak memiliki kekuatan untuk mengancam orang besar seperti mas." Lalu wanita itu menyeringai.


Bisma mendengus karena Erina merendah, padahal kenyataannya selama ini Erina selalu membuat Bisma merasa terancam oleh sikapnya.


Bisma memilih untuk tidak menanggapi perkataan Erina, dia menarik tangan Erina dan membuat wanita itu terduduk di pangkuannya, baru setelah itu Bisma membisikan sesuatu.


"Erin, aku merindukan sentuhanmu ..." Bisik Bisma lalu menggigit gemas telinga Erina, bahkan tangannya sengaja masuk kedalam pakaian Erina.


Erina tersentak, selain karena Bisma yang tiba-tiba menarik tangannya dan membuatnya terjatuh di pangkuan pria itu, Erina juga terkejut karena Bisma menyentuh bagian sensitifnya.

__ADS_1


"Bisma ..." Erina memekik sambil melihat sekitar barangkali ada orang yang melihat mereka.


Sebenarnya, Erina bisa saja menyingkir dari pangkuan Bisma, tapi ada sesuatu yang menahannya dan membuat Erina enggan turun dari pangkuan Bisma, bahkan kini tangannya sudah melingkar sempurna di leher Bisma.


"Kamu lupa dengan apa yang sudah kita sepakati?" Tanya Bisma yang sengaja menghembuskan nafasnya pada tengkuk Erina.


"Panggil aku mas." Lanjut Bisma dan memberi kecupan pada leher Erina.


Erina merasa darahnya berdesir, lalu menatap Bisma dan membuat wajah mereka berhadapan dalam jarak dekat, hanya tersisa beberapa senti, bahkan hidung mereka sampai bersentuhan.


"Kamu dengar, sayang? panggil aku mas!" Bisma bicara lembut namun dengan penekanan, dia menyeringai saat menyadari Erina menahan nafas. Lucu sekali wajah memerah istrinya itu.


"Istriku, aku sudah menahannya selama di Karawang, sekarang sudah waktunya kamu bertanggung jawab." Suara berat itu kembali terdengar ketika Erina munutup rapat mulutnya.


Erina meneguk ludahnya, tubuh Erina ingin sekali mendapat sentuhan Bisma, tapi akal sehatnya menolak. Erina harus ingat tentang kemungkinan ada orang yang melihat mereka.


"Mas, aku mohon ..." Erina tidak sanggup bicara karena tangan Bisma yang sudah benar-benar masuk pakaiannya menyentuh bagian dadanya.


"Bisma, nona Erin, apa itu kalian?" Tanya seseorang yang memasuki ruang keluarga. Erina maupun Bisma bisa melihat Leo yang berdiri tidak jauh dari tempat mereka berada.


"Oh, ternyata benar kalian, aku pikir kalian masih di Karawang." Ucap Leo sambil memasang wajah innocent dan membuat Bisma ingin sekali memukul wajah sekretarisnya itu.


Erina kontan menyingkir dari pangkuan Bisma, entah sudah berapa kali Erina harus menanggung malu karena Leo yang sudah sering memergoki mereka, tuhan sepertinya menegur Erina dan Bisma untuk lebih mengenal tempat.


Karena kalau tidak salah ingat, Leo selalu ada saat Bisma dan Erina tidak bisa mengendalikan diri mereka, kecuali saat Erina dan Bisma berbulan madu di Korea, Leo selalu memergoki pasangan yang baru menikah satu bulan itu.


"Jangan menatapku seperti itu, kalian bisa melanjutkannya, aku akan pergi." Leo kembali bicara ketika mendapatkan tatapan tajam Bisma.


Bisma menghiraukan perkataan Leo, dia lebih penasaran dengan alasan Leo berada di rumah neneknya, lalu Bisma beranjak dari tempat duduknya dan melangkah mendekati Leo.


"Aku benar-benar minta maaf, jangan khawatir, aku akan pergi sekarang." Ucap Leo yang merasa was-was menerima tatapan tajam Bisma.


"Tunggu!" Ucap Bisma menahan Leo yang hendak meninggalkan ruang tengah.

__ADS_1


"Leo, sedang apa kamu di rumah nenekku?" Tanya Bisma menuding Leo, sepertinya ada sesuatu yang membawa Leo datang ke rumah neneknya.


*****


Tidak disangka, Leo menemui nenek Sekar hanya untuk membahas Leo yang berniat melamar Krystal. Tentu saja alasannya karena Leo sudah tidak memiliki keluarga dan nenek Sekar ingin menjadi wali dari sahabat cucunya itu.


Tadinya, Bisma berpikir nenek Sekar sudah menghasut Leo untuk membantu merusak pernikahannya dengan Erina, tapi ternyata pemikiran Bisma yang terlalu jahat terhadap sang nenek, tidak ada niat jahat yang Bisma pikirkan.


"Kamu yakin mau melamar Krystal?" Tanya Bisma setelah pembicaraan panjang mengenai hal apa yang membawa Leo datang ke rumah neneknya.


Saat ini, Bisma, Leo, Erina dan nenek Sekar sedang berada di ruang makan, mereka makan malam bersama sambil membahas lamaran Leo, semuanya terlihat serius membicarakan niat baik Leo terhadap Krystal, kecuali Erina yang terdiam.


Selain karena Erina merasa tidak memiliki hak untuk bicara, wanita itu juga tidak tahu hal baik apa yang harus dia katakan pada Leo, tapi dibalik itu Erina merasa senang karena rencananya akhirnya membuahkan hasil yang sangat baik.


"Tentu saja aku yakin, aku menunggu Krystal bertahun-tahun bukan untuk membuat semuanya sia-sia." Jawab Leo tegas disertai senyuman.


Erina tersenyum mendengar jawaban Leo. Sebagai seorang wanita, Erina merasa terharu dengan kesetiaan Leo terhadap Krystal, rasanya Erina ikut bahagia untuk Krystal yang beruntung mendapatkan kesetiaan seorang pria.


Nenek Sekar juga tersenyum, dia merasa seperti memiliki dua cucu karena kehadiran Leo. Mungkin selama ini nenek Sekar tidak berperan baik sebagai nenek, tapi mulai sekarang nenek Sekar berjanji akan memperbaiki kesalahannya.


Sementara Bisma, pria itu menoleh kearah Erina karena mendengar istrinya tertawa pelan menanggapi perkataan Leo, sepertinya Leo sudah membuat Erina terpesona, lihat saja bagaimana Erina tersenyum sambil memandangi Leo.


"Erin, kenapa kamu harus tersenyum berlebihan sepertu itu?" Komentar Bisma, dia tidak suka melihat Erina tersenyum untuk orang lain.


Perlu diingat, pria yang menjadi alasan Erina tersenyum adalah orang yang sudah membuat Bisma gagal menyentuh istrinya. Dan sekarang Erina berani-beraninya tersenyum? Bisma ingin sekali membuat Erina menyadari kesalahannya.


"Oh?" Erina menoleh kearah Bisma dan senyumannya perlahan luntur ketika menyadari cara Bisma menatapnya, mirip seperti binatang buas yang sedang menatap mangsanya.


Apa Erina sudah melakukan kesalahan?!


*****


Jangan lupa dukungan kalian untuk cerita ini: like, favorit dan share. Makasih ❤

__ADS_1


__ADS_2