
"Erin tidak menceritakan masalah keluarganya padamu mungkin karena dia tidak ingin kamu menggunakan itu untuk menindasnya."
Bisma teringat perkataan Farhan ketika melihat Erina menghampirinya dengan membawa nampan berisi makanan. Lalu Bisma melihat wanita itu tersenyum dan duduk di hadapannya.
Farhan sudah menceritakan banyak hal yang tidak Bisma ketahui tentang Erina, termasuk tentang perselingkuhan ayah Erina dan tentang ibu Erina yang mentalnya terganggu karena perselingkuhan itu.
Bisma akhirnya tahu alasan Erina sedih ketika Bisma menceritakan orang tuanya waktu itu. Karena ternyata Erina mengalami hal yang sama dengan Bisma. Bahkan sepertinya lebih buruk dari yang Bisma alami.
"Erin, sebenarnya saya bisa membeli makan di luar ..."
"Sayang sekali, aku tidak mengijinkan kamu membeli makanan di luar."
"Kamu sedang sakit, saya ..."
"Hanya sedikit pusing, tangan dan kakiku baik-baik saja, aku masih bisa mengurus kebutuhan kamu."
Bisma menghela nafas karena Erina terus menyela perkataannya. Dia tidak tahu cara menang ketika bicara dengan istrinya. Erina masih terlihat lemas, tapi wanita itu memaksakan diri untuk memasak.
"Terimakasih ..." Ucap Bisma dengan suara rendah, lalu mengambil piring berisi nasi goreng yang Erina berikan padanya.
"Aku hanya melakukan tugasku, maaf aku hanya memasak itu ..."
"Tidak apa-apa, terimakasih sudah menjadi istri yang baik untuk saya." Bisma tersenyum dan langsung memakan nasi goreng buatan istrinya. Bisma selalu menyukai apapun masakan Erina.
"Dan terimakasih sudah mau menjadi istri saya meskipun waktu itu kamu takut dan ragu untuk terlibat pernikahan. Saya berjanji akan membuat kamu bahagia sampai melupakan lukamu."
Bisma melanjutkan kalimatnya dalam hati sambil terus tersenyum, Erina yang melihat itu hanya ikut tersenyum memperhatikan Bisma, entah kenapa Erina merasa senang melihat suaminya itu tersenyum.
Oh ya, Farhan juga menceritakan tentang ketakutan Erina terhadap pernikahan, Farhan bilang sebelum Erina menikah wanita itu sempat di dekati oleh beberapa pria dan Erina menolak mereka semua.
Erina langsung menolak karena pria-pria itu mencoba mendekatinya dengan cara melamar, Erina tidak terlalu mengenali mereka, Erina hanya tahu bahwa pria-pria itu pernah datang ke cafe milik Farhan.
Farhan bilang, Erina pernah cerita kepada Soraya bahwa wanita itu menyesal sudah menolak mereka, bukan karena pria-pria itu memiliki kelebihan yang baru Erina sadari, Erina menyesal karena tidak memberi kesempatan untuk saling mengenal.
"Erin, bagaimana kalau saya memecat beberapa pelayan di mansion kita?" Tanya Bisma sambil mengunyah makanan di mulutnya. Kebetulan Farhan memberitahu cara supaya Erina sedikit menurut.
__ADS_1
Kata Farhan, Erina adalah wanita dengan prinsip yang kuat dan juga keras kepala. Erina menurut jika ada sesuatu yang menyentuh hatinya dan Bisma yakin hal itu akan membuat hati Erina tersentuh.
Kenapa Bisma membawa nama pelayan?! Soraya mengatakan Erina pingsan karena kelelahan dan menyalahkan Bisma atas hal itu. Sementara Bisma berpikir Erina lelah karena pekerjaan wanita itu.
Benar. Bisma sedang berusaha supaya Erina tidak terlalu bekerja keras dan ingin istrinya berhenti mengurus pekerjaan rumah, Bisma sengaja membahas hal itu sebelum mereka kembali ke mansion.
Well, malam ini Bisma dan Erina menginap di rumah Farhan dan Soraya, mereka tidak pulang ke mansion karena Erina ingin tetap berada di rumah Soraya untuk memastikan sahabatnya baik-baik saja.
Erina masih memikirkan Soraya meskipun dirinya sendiri saja sedang tidak sehat, memang benar apa yang Farhan katakan, Bisma juga merasa menjadi orang ketiga diantara Erina dan Soraya.
Tapi, Erina masih peduli dengan nasib perut suaminya meskipun Erina sedang bersama Soraya, bahkan Erina bersikeras membuat makanan untuk Bisma ketika Soraya menyuruhnya istirahat.
"Kenapa tiba-tiba memecat pelayan?" Tanya Erina tidak mengerti.
Saat ini, Bisma dan Erina sedang berada di sebuah kamar yang dulunya kamar Erina. Mereka hanya berdua disana. Soraya sudah diajak pergi oleh Farhan karena tidak ingin mengganggu. Sementara Leo, pria itu sedang melakukan tugas yang Bisma berikan padanya, membawa koper ke mansion.
Erina tidak mengerti alasan Bisma ingin memecat para pelayan disaat mereka saja belum kembali ke mansion. Dia hanya tahu bahwa para pelayan membutuhkan pekerjaan mereka untuk bertahan hidup di kota keras seperti Jakarta. Dan Bisma dengan kejamnya ingin memecat mereka?!
"Saya tidak bisa membayar pelayan yang tidak melakukan pekerjaannya." Jawab Bisma. Dia masih terus makan sambil berbicara dengan istrinya.
"Erin, selama ini kamu mengerjakan hampir semua tugas mereka, jadi kita pecat saja Maya dan Siti, bagaimana?" Tanya Bisma menyela pemikiran Erina.
"Tidak!" Jawab Erina cepat. "Aku kurang setuju kamu memecat mereka."
Bisma berhasil menghabiskan nasi goreng buatan Erina, kemudian dia menyimpan piring bekasnya ke meja nakas dan menatap kedua manik istrinya.
"Lalu apa kamu setuju untuk berhenti mengerjakan tugas mereka?" Tanya Bisma sambil mendekatkan wajahnya pada wajah Erina dan membuat wanita itu mundur.
"Bisma, aku harap kamu tidak terlalu memikirkan perkataan Soraya." Ucap Erina tanpa menjawab pertanyaan Bisma.
Erina berpikir Bisma melakukan itu karena tersinggung dengan perkataan Soraya. Dia ingat Soraya langsung menyalahkan Bisma ketika Erina membuka matanya.
Bisma tersenyum. "Saya tidak memikirkan perkataan Soraya, saya hanya tidak bisa membayar orang yang tidak bekerja." Ucap Bisma menegaskan maksudnya.
"Bisma ..."
__ADS_1
"Erin, saya harap kamu mengerti!" Ucap Bisma menyela perkataan Erina, kemudian mengambil gelas berisi air mineral dari nampan yang Erina pegang dan langsung meminumnya dalam satu kali tegukan.
"Baiklah, kalau begitu aku setuju." Ucap Erina cepat, dia tidak bisa membiarkan Bisma memecat Maya dan Siti.
"Setuju apa?" Tanya Bisma berpura-pura tidak mengerti maksud Erina, lalu menyimpan kembali gelas kosong di tangannya ke meja nakas.
"Aku akan berhenti mengerjakan tugas mereka." Jawab Erina, dia menggigit bibir bawahnya karena sebenarnya Erina masih keberatan kalau tugasnya sebagai istri diambil alih orang lain.
Bisma tersenyum puas, lalu menyentuh bibir Erina. "Jangan melukai dirimu sendiri."
Erina merasa jantungnya terpacu ketika tangan Bisma menyentuh permukaan bibirnya, terlebih Erina menyadari apa yang sedang Bisma tatap, suaminya itu menatap lekat bibirnya.
"Mulai sekarang saya akan berusaha menjagamu dan tidak akan membiarkan kamu terluka." Bisma memberi kecupan singkat pada bibir Erina, lalu membisikan sesuatu. "saya menyukai cuci mulutnya."
Bisma mengembangkan senyumannya ketika melihat ekspresi wajah Erina. "Seharusnya saya menyadari lukamu sejak awal. Erin, saya minta maaf sudah menambah luka itu ..." Lanjutnya dalam hati.
Sebenarnya tidak ada yang berhak untuk di salahkan kecuali keadaan ...
****
Sementara di tempat lain,
"Raya, kalau kamu mempercayaiku, aku harap kamu juga bisa mempercayai Bisma! Menurutku, kamu sudah berlebihan! Dan sebaiknya kamu berhenti ikut campur dengan pernikahan Erin! Jangan membuat Erin meragukan suaminya, lagi!"
Soraya terdiam, dia bukan tidak bisa mempercayai Bisma, dia hanya khawatir Bisma membuat Erina kecewa. Meskipun Soraya tahu bahwa dia tidak seharusnya ikut campur dalam rumah tangga Erina.
Dan mengenai sikap keras Soraya terhadap Bisma, semuanya berjalan begitu saja. Soraya terus teringat wajah putus asa Erina di rumah sakit, wajah yang sama ketika Erina pertama kali datang ke Jakarta.
_____
Jangan lupa mendukung karya ini dengan menekan tombol suka dan masukan ke daftar favorit kalian. Teruntuk kalian yang tertarik dengan karya-karya aku, silahkan ikuti aku di mangatoon atau instagram (@light.queensha) Terimakasih ...
Regards:
©2019, lightqueensa.
__ADS_1