Ikatan Tanpa Cinta

Ikatan Tanpa Cinta
ITC #84


__ADS_3


Hari keempat Erina dan yang lainnya liburan di Bali, mereka makan bersama di pinggir pantai Jimbaran sambil menikmati pemandangan sunset. Menu yang mereka pesan lengkap, ada ikan bakar, udang, cumi-cumi, lobster dengan nasi putih, sambal merah, dan plecing kangkung.


"Leo, cobain cuminya." Ucap Krystal menyuapi cumi-cumi kepada tunangannya. "menurut kamu gimana? enak banget kan?" sambil mengunyah cumi-cumi yang ada di dalam mulutnya itu.


"Serius, cumi-cumi terenak yang pernah aku makan ya disini!" Lanjut Krystal sambil mengecap makanan di mulutnya, setelah itu Krystal mencoba lobster yang terhidang dengan nasi.


Leo hanya tersenyum dan mengangguk untuk menanggapi Krystal karena mulutnya penuh dengan cumi-cumi, padahal sebenarnya Leo tidak terlalu menyukai makanan laut yang satu itu.


Selang beberapa detik Krystal kembali bicara kepada Leo sambil mengarahkan tangannya ke mulut tunangannya itu. "kamu juga harus nyoba lobster, ini tidak kalah enak, kamu pasti suka."


"Hm, baiklah." Sahut Leo, lalu pria itu melahap lobster dari tangan Krystal. Memang beda rasanya kalau disuapi oleh wanita terkasih, meskipun Leo juga tidak suka lobster tetap terasa enak.


Krystal tersenyum melihat Leo menikmati lobster nya, lalu wanita itu mencoba makanan lain tanpa memperdulikan siapa yang memesan makanan itu, Bisma saja belum menyentuh apapun.


"Udang dan ikan bakarnya juga enak. aku sampai tidak mau berhenti makan." Ucap Krystal girang, orang lain mungkin akan berpikir Krystal wanita kampungan yang baru merasa makan itu.


Ya, meskipun kenyataannya Krystal berasal dari keluarga kaya yang sudah terbiasa dengan makanan enak dan mewah, tapi cara Krystal makan memang terlihat sangat kampungan.


Bahkan, Erina dan Bisma sampai menelan ludah mereka melihat Krystal makan, mereka tidak menyangka wanita sekurus Krystal memiliki selera makan yang lumayan mengerikan.


Krystal hampir menghabiskan semua makanan yang mereka pesan, hanya tersisa plecing kangkung disana dan Bisma yang membayar semua makanan itu belum menyentuh apapun.


"Mas, lebih baik kamu juga makan." Ucap Erina mengalihkan perhatiannya kepada Bisma sambil menyimpan plecing kangkung di piring suaminya itu, Erina dengan sengaja memelankan suaranya.


Bisma menoleh kearah Erina dan menghela nafas. "Mas akan memesan lagi makanannya." lalu pria itu beranjak dari tempat duduknya, namun tangan Erina lebih cepat menahan kepergiannya.


Krystal baru menyadari ketika melihat Bisma beranjak, wanita itu susah payah menelan makanan di mulutnya. "maaf aku sudah menghabiskan makanannya." Ucapnya tidak enak.


Erina tertawa pelan dengan tangannya yang masih memegang tangan Bisma. "Tidak apa-apa, lagipula aku juga tidak terlalu menyukai makanan laut." setelah itu Erina beralih pada suaminya.


"Mas, tidak perlu memesan banyak, kamu pesan makanan yang kamu inginkan, aku akan makan kangkung saja." Ucap Erina kepada Bisma dan membuat pria itu kembali ke tempat duduknya.


"Kalau begitu, mas juga makan kangkung saja. Benar kata Leo, kita harus mengirit pengeluaran." Ucap Bisma yang langsung memakan kangkung tanpa peduli tatapan yang lain padanya.


Krystal memutar mata melihat Bisma dan sang istri, dia akhirnya menemukan alasan lain mengapa Bisma menjatuhkan hatinya kepada Erina. Karena Erina wanita sederhana, tapi justru hal itu yang membuat Krystal merasa kesal.


"Bisma, apa perusahaanmu akan bangkrut hanya karena kamu memesan makanan untuk istrimu?" Tanya Krystal sarkas saking kesalnya terhadap Bisma yang membiarkan Erina makan kangkung, lalu beralih menatap teman barunya.


"Erin, kamu tidak perlu mengirit, tapi kalau suami kamu yang pelit itu tidak mau membayar makananmu, aku bersedia membayarnya, cepat pesan makanan!" Oceh Krystal kepada Erina.


Erina tersenyum menanggapi Krystal berbeda dengan Bisma yang mendecih. Bisma sudah berniat baik memesan makanan untuk Erina, tapi sang istri menolak untuk di belikan makanan.


Jangan percaya Erina tidak menyukai makanan laut! karena setahu Bisma, istrinya pernah memasak makanan laut untuk mereka berdua, Bisma tahu kalau Erina berbohong demi Krystal.


Well, Bisma mengikuti Erina untuk makan kangkung bukan tanpa alasan, pria itu tahu Erina berusaha menjaga perasaan Krystal yang merasa tidak enak karena sudah menghabiskan makanan sehingga Bisma memilih mengikuti istrinya itu.


"Mas Bisma tidak salah karena aku sendiri yang tidak menyukai makanan laut." Ucap Erina membela suaminya, Erina kurang terima Bisma disebut pelit karena kenyataannya tidak begitu.


"Terimakasih atas niat baikmu, aku benar-benar tidak menyukai makanan laut, jadi maaf aku tidak bisa menerima tawaran baikmu itu." Lanjut Erina disertai senyuman yang terukir indah di bibirnya.


"Nona Erin!" Ucap Leo menginterupsi setelah sekian lama pria itu terdiam dan memperhatikan ketiga orang yang debat masalah makanan, lalu Leo mengambil nafas dan kembali bicara.


"Kamu yakin tidak mau mencoba makanan laut di tempat ini? sekarang hari terakhir kita di Bali, jangan sampai kamu menyesal dan bukankah kamu harus memperhatikan pola makanmu?"


Bisma dan Krystal memandangi Leo curiga. Sementara Erina kembali beralasan bahwa dirinya memang benar-benar tidak menyukai makanan laut sehingga tidak akan menyesal meskipun tidak sempat mencicipi makanan laut itu.


"Leo, kamu sangat perhatian terhadap istriku, dan sepertinya dugaaanku benar, kamu tertarik pada istriku? kamu sangat peduli padanya?"


"Bagaimana aku tidak mengira kalian suami istri kalau sikapmu pada Erin seperti itu saat pertama kali aku melihat kalian berdua?"

__ADS_1


Bisma dan Krystal menyerang Leo, mereka berdua cemburu akibat perkataan Leo kepada Erina yang benar-benar terdengar ambigu di telinga mereka, kemudian Erina angkat bicara untuk meleraikan.


"Kalian jangan berpikir negatif, kami sama-sama memiliki seseorang di hati kami." Ucap Erina, lalu wanita itu menyendokan makanan ke depan mulut Bisma. "kita harus segera menyelesaikan makan kita supaya bisa menikmati liburan."


×××××××××××××××××××××××××××××××××××××××


Erina dan Bisma duduk di tepi pantai menatap ombak yang perlahan menyentuh kaki mereka, tidak ada Leo dan Krystal disana karena kedua orang itu memilih kembali ke resort duluan. Sementara Erina dan Bisma sengaja menghabiskan waktu berdua mereka di pantai.


"Mas, aku tidak mau mengikuti program hamil lagi." Ucap Erina tiba-tiba memecahkan keheningan yang terjadi diantara mereka dan membuat Bisma spontan menoleh padanya.


"Mas, aku yakin tanpa program hamil pun kita akan tetap memiliki anak, jadi boleh aku berhenti mengikuti program itu? karena semakin sering bertemu dokter, aku hanya akan lebih takut menerima kenyataan kalau aku memang sulit hamil." Erina mengatur nafasnya sejenak.


"Mas, aku tidak ingin menyembunyikan apapun darimu, makanya aku mengatakan ini, aku tidak merasakan apapun dari program hamil itu selain menumpuk rasa takut. jadi ..."


"Mas tidak memaksamu mengikuti program hamil, kamu mau berhenti juga tidak masalah." Ucap Bisma menyela disertai senyuman.


"Maaf ..." Erina menunduk tidak berani menatap suaminya, wanita itu merasa bersalah karena masih belum bisa mengusir rasa takutnya.


Bisma mengarahkan Erina untuk kembali menatap padanya. Erina sempat menolak, tapi mereka akhirnya saling melempar pandangan.


"Kamu tidak perlu meminta maaf, mas mengerti dan apapun yang menjadi keputusanmu, mas akan berusaha mengerti, karena mas yakin kamu tidak akan sembarangan mengambil keputusan." Ucap Bisma menatap dalam mata istrinya itu.


"Oh, tapi bagaimana kalau aku memutuskan untuk pergi? apa mas akan berusaha mengerti?" Tanya Erina menyambar perkataan Bisma.


Tidak! Erina tidak serius dengan perkataannya, dia hanya sedang berusaha menyangkal bahwa perkataan Bisma hampir membuatnya melayang.


"Pergi kemana, hm?" Tanya Bisma, lalu mengacak rambut istrinya itu gemas. "kamu tidak mungkin menemukan jalan untuk pergi dariku." tegasnya.


"Benarkah? bagaimana kalau aku menemukan jalan untuk pergi darimu? mas akan berusaha mengerti?" Tanya Erina masih belum menyerah.


"Kalau begitu coba saja kamu pergi, kamu akan mengetahui jawabannya nanti." Ucap Bisma kesal, lalu menurunkan tangannya dari wajah Erina dan beranjak dari pasir yang di dudukinya.


Berhubung kaki mungil Erina tidak sebanding dengan langkah lebar Bisma, wanita itu akhirnya berlari mengejar suaminya. Namun karena tidak berhati-hati, Erina tersandung dan terjatuh.


Erina meringis merasa perih pada jari kelingking kakinya yang tanpa sengaja menginjak kaca, entah darimana asalnya kaca tersebut. Bisma tidak tahu Erina terjatuh terus melangkahkan kakinya menjauh dan membuat Erina geram.


"Mas Bisma! kamu serius akan meninggalkan aku disini?!" Teriak Erina sampai tenggorokannya terasa sakit. "sudahlah! biarkan saja pria itu pergi, percuma juga terus berteriak dia pasti tidak akan mendengar teriakanku."


Erina hampir saja terjungkal kebelakang ketika dirinya berusaha bangun sambil menggerutu tiba-tiba saja sebuah tangan terulur padanya. Erina mengangkat wajah melihat siapa pemilik tangan tersebut, ternyata tangan itu milik yang Bisma kembali dengan wajah khawatir.


"Kamu baik-baik saja?" Tanya Bisma sambil melihat Erina dari atas ke bawah, lalu pria itu berjongkok karena melihat kaki Erina terluka dan tangannya juga terabaikan oleh Erina. "Kaki kamu berdarah, kita harus kembali ke hotel supaya kakimu bisa cepat di obati."


Erina mendengus, sekarang saja Bisma peduli kakinya terluka, kemana saja pria itu saat Erina berusaha mengejarnya. "hanya luka kecil, tidak usah berlebihan." posisi Erina belum sepenuhnya berdiri sehingga mereka saling menatap saat Bisma mengangkat wajahnya.


"Maaf, ini gara-gara mas." Ucap Bisma merasa bersalah karena menyebabkan Erina terluka.


"Hm, memang gara-gara mas, coba mas tidak berjalan cepat meninggalkan aku." Ucap Erina memasang wajah kesal yang di buat-buat.


"Maaf ... tadi mas kesal karena kamu berniat meninggalkan mas." Ucap Bisma lirih dan membuat Erina menghela nafas, lalu Bisma memposisikan dirinya membelakangi Erina supaya istrinya itu bisa menaiki punggungnya.


"Naiklah! mas akan menggendongmu ke hotel." Ucap Bisma bersiap menggendong Erina.


"Tidak perlu, mas. aku masih bisa berjalan." Tolak Erina dengan halus, lalu membantu suaminya berdiri, meskipun tenaga Erina tidak cukup kuat untuk itu. "aku juga belum mau kembali ke hotel, bagaimana kalau kita belanja sebentar?"


Bisma menolak di bantu Erina untuk berdiri. "kaki kamu terluka, mas akan tetap menggendongmu, cepat naiklah ke punggungku!" ucap Bisma masih dengan posisi membelakangi Erina.


"Kaki aku hanya terluka sedikit, mas hanya perlu membantu aku mencari toilet, aku akan membersihkan lukaku disana." Ucap Erina masih berusaha membujuk Bisma berdiri.


"Mas akan membantu kamu mencari toilet kalau kamu mau di gendong." Tegas Bisma, terkadang ancaman seperti ini perlu supaya Erina yang keras kepala lebih menurut.


"Haish, baiklah." Erina akhirnya naik ke punggung Bisma dan membuat Bisma tersenyum puas, ternyata Erina memang mudah di ancam.

__ADS_1


"Mas tidak akan membiarkan kamu pergi. tidak akan pernah." Ucap Bisma ketika sudah berhasil menggendong Erina di punggungnya.


"Aku juga hanya bercanda, mas. kenapa mas menganggapnya serius?" Sahut Erina melingkarkan tangannya pada leher Bisma.


"Jangan bercanda untuk hal seperti itu karena mas tidak menyukainya. kita sudah terikat dan kamu tidak akan bisa pergi, meski dalam mimpimu sekali pun, kita akan tetap bersama."


Erina mengakhiri dengan mencium pipi Bisma. "Aku mengerti. aku sudah berjanji untuk hidup bersama mas sampai akhir, bahkan dalam mimpi pun kita tidak akan pernah berpisah."


"Ah, bagaimana kalau kita membeli oleh-oleh untuk Maya dan yang lainnya?" Tanya Erina mengalihkan dengan hal lain. Erina juga ingin memberi hadiah kecil untuk maid di mansion.


"Baiklah, kalau begitu mari kita shoping."


×××××××××××××××××××××××××××××××××


"Leo, menurutmu kemana perginya Erin dan Bisma, kenapa mereka belum kembali?" Tanya Krystal ketika pasangan suami istri itu belum juga kembali sampai lewat jam makan malam.


Saat ini, Krystal dan Leo tidak berada di kamar mereka, keduanya berada di kamar Erina dan Bisma, mereka baru selesai membantu pasangan suami istri itu packing. Krystal sengaja menawarkan dirinya untuk mengemas barang sebagai permintaan maafnya kepada Erina.


Sebenarnya Erina sudah menolak tapi Krystal memaksa sampai akhirnya Erina menerima niat baik Krystal padanya dan membiarkan Krystal mengemasi barangnya. Krystal juga yang awalnya menyarankan Erina dan Bisma untuk menikmati liburan mereka sebelum pulang ke Jakarta.


"Kenapa harus pusing memikirkan mereka? lebih baik kamu berbaring disini bersamaku!" Ucap Leo sambil menepuk tempat kosong di sampingnya.


Posisi Leo saat ini sedang berbaring di kasur. sebagai sekretaris pribadi Bisma, tentu saja hal itu di anggap tidak sopan, tapi berhubung mereka liburan sebagai sahabar, Leo berani berbaring di kasur Bisma dan sang istri.


Mengenai hubungan Leo dan Krystal yang berkembang pesat empat hari ini, mereka hanya berhasil menyesuaikan diri setelah masalah yang terjadi diantara mereka. Dan lagi pula mereka akan segera menikah, mana mungkin terus kaku terhadap satu sama lainnya.


"Berbaring di sampingmu?" Tanya Krystal memastikan, tatapannya terlihat ragu karena mereka tidak sedang berada di kamar sendiri.


"Hm, kenapa? bukannya kita sudah terbiasa tidur bersama?" Leo membalikan pertanyaan sambil menatap intens tunangannya.


"Cih, kita memang sudah biasa tidur bersama, tapi sekarang kita berada di kamar Bisma, bagaimana kalau dia dan istrinya datang?"


"Ya, biarkan saja, aku juga sudah sering melihat Bisma bermesraan dengan istrinya." Ucap Leo, lalu menarik tangan Krystal sehingga wanita itu terjatuh tepat diatas tubuhnya.


Krystal berusaha bangun, namun Leo memeluk erat tubuhnya dan membuatnya kesulitan bahkan untuk sekedar bergerak. Krystal akhirnya memilih pasrah berada diatas tubuh tunangannya.


"Leo, bagaimana kalau Bisma dan Erin datang?" Tanya Krystal namun tanpa berusaha menjauhkan dirinya dari Leo, wanita itu malah menyandarkan kepalanya pada dada bidang Leo.


"Sudah aku bilang biarkan saja. mereka juga pasti bisa mengerti kita." sahut Leo acuh, Leo tidak pernah memperlakukan Krystal seperti wanita lainnya yang harus memuaskan nafsunya.


Selama ini, Leo hanya sebatas memeluk Krystal di tempat tidur dan tidak berpikir untuk melakukan hal lebih dari itu. Mungkin kalian tidak akan percaya bagaimana bisa pria dan wanita tidak melakukan apapun saat tidur di kamar yang sama.


"Bisma bukan orang yang pengertian, kamu tahu itu kan?" Ucap Krystal sambil sedikit mengangkat wajahnya untuk melihat Leo.


Ya, Bisma memang bukan orang yang pengertian di masa lalu mereka, sebab Bisma sering mengusir Krystal dan Leo karena katanya mereka mengganggu konsentrasinya untuk belajar.


"Tidak, sekarang Bisma akan mengerti karena ada Erin di sampingnya." Jawab Leo disertai senyuman, bertepatan dengan itu Bisma dan Erina memasuki kamar dan memergoki mereka.


"Leo, Krystal, apa yang sedang kalian lakukan di kamarku?"


×××××××××××××××××××××××××××××××××××××



Siapa yang belum follow IG aku? hehe. akan ada cerita baru setelah cerita ini tamat. Rencanya mau aku share infonya di instagram. Jadi follow ya ... jangan lupa juga mampir ke profil mangatoon aku dan follow juga.


Silahkan tinggalkan jejak kalian untuk bagian ini. Thanks ❤


Regards,


Nur Alquinsha A | IG: light.queensha

__ADS_1


__ADS_2