Ikatan Tanpa Cinta

Ikatan Tanpa Cinta
ITC #51


__ADS_3

Suasana di ruangan itu masih beku meskipun Farhan sudah berusaha mencairkan dengan candaan garing tentang cemilan. Bahkan, kehadiran Soraya tidak bisa mengubah apapun, ketiga pria itu malah khawatir Erina membuka mulut dan memberitahu Soraya apa yang sudah mereka bicarakan.


"Erin, kenapa mereka natap gue gituh?" Tanya Soraya yang mulai merasa risih dengan tatapan para pria, pasalnya mereka terus menatap Soraya sejak lima belas menit lalu dan membuat Soraya tidak nyaman.


Erina mengangkat bahu tanda tidak tahu, lalu berkata dengan tenang. "Mungkin mereka bertiga takut sama lo, atau mungkin ..."


Leo hampir menutup mulut Erina dengan telapak tangannya, kalau Bisma tidak lebih dulu memberikan tatapan mematikan dan memaksa Leo untuk membatalkan niatnya itu. Lagipula Leo juga tidak ingin mengambil resiko kalau sampai membuat Bisma marah karena cemburu.


Soraya mengangkat sebelah alisnya dan kembali melemparkan pertanyaan. "Takut bagaimana maksud lo?" ucapnya mengutarakan apa yang menjadi pertanyaannya saat ini.


Erina menyunggingkan senyuman ketika melihat para pria was-was. "Gue gak tahu, kenapa lo gak nanya langsung sama mereka?"


Bisma, Leo dan Farhan spontan menatap kearah Erina, mereka tidak percaya Erina akan mengusulkan itu, bagaimana kalau Soraya benar-benar bertanya? apa yang harus mereka jawab? Itu yang ada dalam pikiran Bisma, Leo dan Farhan.


"Oh?" Soraya baru akan membuka mulut dan melemparkan pertanyaan, tapi wanita itu teringat apa yang di dengarnya sekitar satu jam lalu, suara itu tiba-tiba menghantui telinga Soraya dan membuat Soraya memilih untuk tetap diam.


Setelahnya, keheningan kembali terjadi, mereka seperti enggan untuk saling bicara. Erina mengamati leher Bisma, dia bisa melihat terdapat sedikit darah disana. Sementara yang lainnya terdiam dengan pikiran mereka masing-masing, para pria merasa lega karena Soraya tidak bertanya.


"Oh ya, Bisma ..." Leo yang tidak betah dalam situasi itu akhirnya memutuskan untuk bicara. "Kamu menyuruh aku kesini untuk menjemput kalian dan mengantar istrimu ke rumah sakit kan? bagaimana kalau kita pergi ke rumah sakit sekarang? mungkin saja bulan madu kalian membuahkan hasil!"


Farhan dan Soraya berpura-pura tidak mendengar perkataan Leo, mereka mendadak salah tingkah karena perkataan Leo mengenai bulan madu yang membuahkan hasil. Leo berusaha memberi kode kepada Bisma untuk bekerja sama, Erina menatap keduanya bergantian dengan dahi berkerut.


"Ya, kamu benar." Sahut Bisma cepat, lalu beralih kepada Erina yang sedang menatap padanya.


"Erin, bagaimana kalau sebelum pulang ke mansion, kita pergi ke rumah sakit terlebih untuk memastikan keadaanmu?" Tanyanya kepada Erina, dia memang membantu Leo kabur dari Soraya, tapi keputusan Erina lebih penting baginya.


Erina terdiam sejenak, dia sangat memahami apa yang sebenarnya terjadi.

__ADS_1


"Lo mau kabur setelah meracuni otak Farhan? Jangan harap! Leo, gue ikuti permainan lo dan mari kita lihat siapa pemenangnya!" gumam Erina dalam hati, lalu tersenyum menatap Bisma.


"Kalau begitu kita akan pergi ke rumah sakit." Erina beranjak dari tempat duduknya. "Tapi sebelum itu kamu harus mandi dulu kan, Bisma?" Tanyanya sengaja ketika melihat Leo ikut beranjak dan sengaja menekankan nama suaminya.


Erina tidak serius setuju pergi ke rumah sakit, dia hanya berpura-pura setuju. Lagipula, Erina tidak merasa sedang sakit, dan apa Leo bilang tadi? siapa tahu bulan madu mereka membuahkan hasil? Ha, tidak tahukah kalau Erina sedang datang bulan saat pergi bulan madu? dan lagi, hamil bukan hal instan!


"Oh?" Belum sempat Bisma menjawab, Erina sudah lebih dulu menarik tangannya, Bisma hanya pasrah dan berdiri mengikuti istrinya, tapi sebelum mereka benar-benar pergi, Erina sempat membisikan sesuatu kepada Soraya.


Bisma menatap Leo seperti berkata. "Maaf, aku tidak bisa membantumu."


Leo hanya bisa berdoa dalam hati, berharap Soraya tidak marah atau bahkan lebih buruk dari itu, terlebih ketika Leo melihat Bisma dan Erina pergi, Soraya memberikan tatapan tajam padanya, Leo terus menyebut nama sang maha kuasa, Leo benar-benar merasa berada dalam masalah besar.


"Bisa jelaskan apa maksud lo, Leo?" Tanya Soraya dingin, tatapannya begitu tajam sampai Leo merasa tertusuk oleh tatapan itu, sementara Farhan hanya diam memperhatikan keduanya.


 ___


"Bisma, apa ini sakit?" Tanya Erina tanpa melihat wajah suaminya, Erina tidak menyangka gigitannya sampai mengeluarkan darah.


Bisma tertegun, dia terdiam untuk beberapa saat dan menyentuh tangan Erina yang ada pada lehernya, lalu tersenyum. "Jadi ini alasannya? kamu khawatir kalau luka kecil yang kamu buat ini menyakiti saya?"


Erina berdehem cukup keras, bukan itu alasan Erina mengajak Bisma meninggalkan ruang tamu, semua itu murni hanya karena Erina ingin memberi pelajaran kepada Leo, siapa suruh Leo berani meracuni pikiran Farhan?!


Erina memang khawatir dan merasa bersalah atas luka pada leher Bisma, dia tidak bermaksud melukai suaminya, Bisma yang memaksanya melakukan itu, Erina sudah bernegosiasi dan meminta Bisma untuk menahan sebentar hasratnya sampai mereka berdua pulang ke mansion, tapi Bisma saja yang keras kepala dan tidak mau mendengarkan Erina.


"Erin, bukan hanya ini tanda yang kamu tinggalkan di tubuh saya kan?" Tanya Bisma ketika melihat Erina kesulitan untuk menjawab pertanyaan sebelumnya. Erina memalingkan wajahnya karena merasa malu.


Erina tidak ingin menunjukan wajahnya yang mungkin sudah mirip kepiting rebus, kenapa Bisma harus mengungkit tanda di tubuhnya?! Erina merasa malu kalau mengingat dirinya saat bermain di ranjang.

__ADS_1


Bisma diam-diam tersenyum, lalu mengarahkan wajah Erina supaya kembali menghadap padanya. Bisma sangat menyukai wajah malu Erina, ekspresi langka yang jarang sekali Erina tunjukan.


"Saya tidak merasa ini sakit, jadi kamu tidak perlu khawatir, hm?" Bisma menunjukkan senyuman terbaikannya sambil membelai wajah Erina dengan tangannya yang lain.


Erina mendesah tidak percaya mendengar perkataan Bisma, sepertinya dia sudah melakukan kesalahan dengan mengajak Bisma pergi dari ruang tamu, dia seharusnya tetap berada disana dan membantu Soraya memberi Leo pelajaran.


"Bisma, lebih baik kamu mandi, aku akan membereskan barang kita dan menyiapkan pakaian ganti untukmu." Erina berniat untuk menghindari Bisma, tapi Bisma lebih dulu menahan pergerakannya dan menarik Erina kedalam pelukannya.


"Erin, terimakasih." Bisik Bisma tepat pada telinga istrinya, Erina terdiam karena tidak mengerti alasan Bisma berterimakasih padanya. Erina tidak merasa sudah melakukan kebaikan terhadap suaminya.


"Saya berjanji tidak akan mengecewakanmu, saya akan menjadi suami dan ayah yang baik untuk kalian." Lanjut Bisma yang membuat Erina tidak bisa berpikir dengan baik.


Apa Bisma juga berpikir Erina hamil makanya pria itu ingin mengajak Erina ke rumah sakit? Haish!


"Bisma, kamu tidak berpikir aku hamil kan?" Tanya Erina pelan dan hati-hati.


Bisma tertawa mendengar pertanyaan Erina. "Kamu lupa, saya pernah mengatakan untuk tidak terlalu memikirkan apapun yang keluar dari mulut Leo?"


"Oh?" Erina sedikit mengangkat wajahnya untuk melihat wajah Bisma.


Bisma tersenyum ketika tatapan mereka bertemu. "Saya ingin memeriksa keadaanmu, bukankah kepala kamu sering sakit?"


Erina menunduk karena malu. "Jadi bukan ..."


"Ya, kita baru melakukannya tadi, bagaimana bisa kamu hamil secepat itu? tapi ada baiknya kalau kita juga konsultasi supaya kamu cepat hamil."


Erina berdehem keras, sepertinya dia sudah berpikir terlalu jauh, Bisma hanya ingin memastikan kesehatan Erina, bukan karena alasan lain yang hanya ada dalam pikiran wanita itu, Erina benar-benar merasa malu dan ingin menenggelamkan dirinya.

__ADS_1


__ADS_2