
Erina tidak tahu mimpi buruk yang Bisma maksud, dia mengajak suaminya mengunjungi makam ibu mertuanya karena Bisma mengatakan rindu pada ibu monika, tapi Bisma tiba-tiba saja meminta sang ibu untuk tidak datang dalam mimpi buruknya lagi, dan Erina benar-benar tidak tahu mimpi apa itu.
Erina terdiam selama Bisma bicara, dia berusaha memberi Bisma ruang untuk mengutarakan keluh kesahnya kepada ibu monika dan entah kenapa Erina jadi merasa bersalah pada Bisma, mungkin saja Bisma mengatakan itu karena masalah yang terjadi diantara mereka beberapa hari terakhir ini.
"Saya sudah selesai, bagaimana kalau kita ke rumah sakit?" Tanya Bisma sambil menghadapkan dirinya kepada Erina.
Erina menatap Bisma dengan padangan kosong, lalu tangannya tergerak untuk menyentuh kembali wajah Bisma dan menghapus air mata pada wajah suaminya dengan sangat lembut, Erina bisa ikut merasakan sakit yang pria di depannya itu rasakan hanya melalui tatapan mereka.
"Bisma, apa kamu membutuhkan teman cerita?" Erina bertanya tanpa menanggapi pertanyaan Bisma padanya.
Bisma tersenyum dan menahan tangan Erina yang berada pada wajahnya. Ternyata benar dugaan Bisma, mimpi buruknya akan membuat Erina terbebani, buktinya saja Erina menawarkan diri untuk menjadi teman ceritanya. Erina terlihat begitu khawatir.
"Erin, kamu sudah berjanji akan ikut bersama saya ke rumah sakit, apa kamu lupa?" Tanya Bisma berusaha mengalihkan.
Erina menghela nafas dan menarik paksa tangannya dari Bisma sehingga tangan Bisma yang sedang menahan tangannya itu terjatuh.
"Jangan mencoba mengalihkan pembicaraan!" Tekan Erina, lalu melemparkan padangan kearah lain seakan tidak mau menatap Bisma.
"Bisma, aku minta maaf, aku memang bukan istri yang baik dan aku sering--" Erina berhenti bicara karena Bisma tiba-tiba memeluknya.
"Berhenti mengucapkan kata maaf atau saya akan membungkam mulutmu." Ucap Bisma yang memang sengaja mengancam Erina.
Erina tidak peduli dengan ancaman Bisma barusan, dia yakin Bisma tidak akan berubah kejam apalagi membungkam mulutnya.
"Bisma--"
"Kita sudah membuat kesepakatan untuk pergi ke rumah sakit setelah mengunjungi makam ibu saya." Ucap Bisma memotong perkataan Erina tanpa membiarkan wanita itu bicara.
"Erin, saya tegaskan sekali lagi, saya tidak suka mendengar kamu meminta maaf, jadi berhentilah mengatakan itu." Lanjut Bisma.
Erina membisu, dia tidak tahu harus mengatakan apa untuk menanggapi Bisma, lagipula apa salahnya meminta maaf?
"Saya hanya ingin mendengar kata-kata indah dari mulutmu." Bisma kembali bicara dan berhasil membuat Erina berdumel.
"Kata-kata indah bagaimana maksudnya? Bisma pikir gue penyair apa?" Gerutu Erina dalam hati sambil memutar matanya.
__ADS_1
Bisma semakin memeluk Erina meskipun wanita itu tidak membalas pelukannya. Bisma memejamkan mata merasakan kehangatan yang istrinya salurkan padanya. Nyaman.
"Erin, saya tidak melarang kamu bicara, kenapa kamu terus diam?" Tanya Bisma, lalu melepaskan pelukan diantara mereka.
Bisma mengarahkan Erina untuk menatap padanya. Demi tuhan, Bisma merasa takut hanya dengan melihat istrinya diam.
Erina menarik nafas sebelum bicara. "Tidak ada yang ingin aku katakan, makanya aku diam, apa aku melakukan kesalahan?"
Bisma mendengus pelan mendengar itu, bisa-bisanya Erina bicara santai dengan wajah polos yang membuat Bisma ingin menerkamnya. Dan akhirnya Bisma mencium kening Erina sebagai pelampiasan.
"Tidak, kamu tidak salah, jadi apa kita bisa pergi dari tempat ini?" Ucap Bisma menekankan kalimat terakhirnya.
Bisma merasa sudah terlalu lama mereka berada disana, dia juga sudah merasa puas dan lega bicara pada pusara ibunya.
"Lalu apa setelah ini kita akan pergi ke rumah sakit?" Tanya Erina tanpa menjawab pertanyaan Bisma terlebih dahulu.
Bisma mengangguk. "Saya ingin memastikan kalau sakit kepala kamu memang sakit kepala biasa, bukan karena penyakit lain."
"Oh, Jadi kamu tidak percaya padaku?" Tanya Erina sambil memasang wajah pura-pura kesal.
"Bukan tidak percaya padamu, saya hanya ingin memastikan kamu baik-baik saja, hanya itu." Jawab Bisma meluruskan.
"Baiklah, apapun itu, tidak bisakah kita pulang ke mansion saja?" wanita itu memasang wajah sememelas mungkin supaya Bisma memehuni keinginannya.
"Saya mau datang ke tempat ini karena kamu sudah berjanji bahwa kita akan pergi ke rumah sakit." Jawab Bisma menegaskan.
Erina berdecak. "Baiklah, kita akan pergi ke rumah sakit." Putusnya, lalu kembali menghadap pusara ibu Monika dan berkata.
"Ibu, kami berdua pamit, assalamualaikum." Setelah itu Erina berjalan meninggalkan tempat itu begitu saja, mengabaikan Bisma.
Bisma tersenyum menatap punggung Erina, dia gemas sekali melihat perubahan Erina akhir-akhir ini, sebenarnya Bisma ingin sekali menerkam Erina yang memasang wajah melas tadi, tapi Bisma menahannya supaya Erina mau pergi ke rumah sakit.
Tanpa mereka sadari, ada sepasang mata yang memperhatikan mereka dari kejauhan, orang itu terus menggerutu karena menyesal sudah menyusul Bisma dan Erina. Dia adalah Leo, pria itu sengaja menyusul karena bosan terlalu lama menyunggu majikannya.
Tapi, Leo malah menyaksikan adegan-adegan yang kurang sehat untuk kerja hatinya saat hendak menghampiri Bisma dan Erina, pasangan itu sepertinya tidak mengenal tempat sampai bermesraan di depan makam. Sungguh mengesalkan.
__ADS_1
"Yak! Erin, tunggu!" Teriak Bisma yang menyadarkan Leo untuk segera kembali ke mobil, dia harus tiba di mobil lebih dulu supaya kedua majikannya tidak sadar kalau Leo menguntit mereka. Haish, kenapa harus terjebak seperti ini? Pikir Leo.
×××××××××××××××××××××××××××××××××××
Leo benar-benar menyesal sudah mengatakan lebih baik melihat Bisma dan Erina bermesraan, lihatlah bagaimana nasibnya sekarang, Leo kembali menjadi supir karena Erina tidak lagi duduk di sampingnya, wanita itu kini terduduk cantik di samping Bisma.
Ya, meskipun saat ini Bisma dan Erina tidak sedang bermesraan, Leo tetap menyesal, pria itu lebih suka kalau Erina duduk di sampingnya karena dengan begitu Leo tidak seperti supir pribadi mereka. Hanya itu alasannya, bukan karena Leo menyukai Erina!
"Erin, saya mengajak kamu ke rumah sakit karena khawatir--"
"Hm, aku mengerti." Jawab Erina memotong perkataan Bisma.
Leo bisa melihat wanita itu tersenyum manis kepada Bisma melalui kaca spion dan itu membuat Leo mencibir dalam hati.
"Syukurlah kalau kamu mengerti." Sahut Bisma yang ikut tersenyum menatap Erina.
Leo yang kembali melihat hal itu merasa mual, tidak bisakah mereka berdua duduk dengan tenang di dalam mobil Leo? Haish!
Sementara itu, Erina bergumam dalam hatinya. "Sebenarnya aku takut pergi ke rumah sakit, aku takut kalau aku memiliki penyakit yang mematikan. Bisma, apa saat itu kamu akan tetap bersamaku?"
"Kita pergi ke rumah sakit?" Tanya Leo yang akhirnya menginterupsi Bisma dan Erina, pasangan itu bersamaan menatap kearah Leo.
"Hm." Sahut keduanya dan membuat Leo mengeram.
Hanya hm? Pasangan yang sudah mengumbar kemesraan dan membuat Leo terjatuh saat berlari menuju mobil hanya mengatakan itu?
"Baiklah, sesuai keinginan kalian, tuan, nyonya."
××××××××××××××××××××××××××××××××××
Sesuai janji, aku up setiap hari, makasih atas dukungan kalian teman-teman, makasih reader kesayanganku 🥰 postingan instagramnya akan menyusul setelah beberapa bab cerita ini up 😉 Jangan lupa like, favorit dan share ceritanya ya 🤭 Banyak banget permintaan authornya ya ... haha
Regards,
Nur Alquinsha A.
__ADS_1