Ikatan Tanpa Cinta

Ikatan Tanpa Cinta
ITC #72


__ADS_3

Bisma menuruti perintah nenek Sekar, dia menyusul Erina ke toilet karena takut terjadi sesuatu pada wanita yang dicintainya itu. Menurut nenek Sekar, ada kemungkinan Gisella akan melakukan sesuatu terhadap Erina.


Bisma tidak percaya ternyata nenek Sekar sudah melakukan sesuatu kepada Gisella. Sang nenek melaporkan Gisella ke polisi karena sudah berani mencemarkan nama baik Bisma, tapi tanpa disangka ada yang menjamin wanita itu bebas.


Dan kata nenek Sekar barusan, beliau mendapatkan pesan yang berisi sebuah ancaman, tidak tertulis dengan jelas siapa yang akan celaka, hanya saja Bisma takut orang itu berniat melukai Erina saat Erina tidak berada disampingnya.


"Erin ..." Bisma membuka pintu toilet wanita tanpa memperdulikan tatapan orang-orang yang ada di dalamnya, Bisma hanya peduli satu hal dan satu nama, yaitu keselamatan Erina.


"Erina!" Teriak Bisma sambil menelusuri setiap sudut tempat itu, tapi hasilnya nihil, Erina tidak ada di toilet dan Bisma hanya mempermalukan dirinya dengan memasuki toilet wanita.


"Maaf, apa kalian melihat istriku?" Tanya Bisma kepada orang yang ada disana dengan suara bergetar, dia benar-benar takut terjadi sesuatu kepada Erina. Hampir semuanya menggeleng.


Mereka mana tahu wanita mana yang beruntung menikahi pria tampan yang nyasar ke toilet wanita itu, malah diantara mereka ada yang berharap si pria tampan menjadi suaminya.


Bisma tidak memperdulikan tatapan kagum dan memuja yang para wanita berikan padanya, lalu Bisma keluar dari toilet begitu saja, dia harus menemukan Erina sebelum terjadi sesuatu.


Bisma tidak tahu kemana Erina pergi, nalurinya mengatakan padanya untuk melangkah ke tangga darurat yang ada di dekat sana, tempat yang jarang sekali di lewati oleh orang lain.


"Erin, dimana pun kamu berada, aku harap kamu baik-baik saja." Lirihnya dalam hati, Bisma berlarian menuluri anak tangga sampai matanya menemukan seseorang yang tertidur di lantai.


Bisma bergegas menghampiri orang yang tidur di lantai dengan darah kental disekitar kepalanya itu, dia berharap wanita itu hanya kebetulan memakai gaun yang sama dengan Erina.


Namun, Bisma harus menelan bulat harapannya, dia bisa melihat wajah cantik istrinya di penuhi darah, orang yang terjatuh dari tangga itu benar-benar Erina, istri tercintanya.


"Erin ..." Setetes air keluar dari sudut mata Bisma, lalu Bisma meraih tubuh Erina kedalam pangkuannya, dia harus bergegas membawa Erina ke rumah sakit, tapi tubuhnya terasa lemas.


"Kenapa kamu ada disini? apa yang sebenarnya terjadi?" Bisma terisak dan meraih tubuh Erina ke dalam pelukannya sampai sesuatu menarik perhatiannya, benda di dekat dompet Erina.


"Bisma ..." Ucap seseorang dari atas tangga tempat Bisma dan Erina berada, Leo yang berdiri diatas sana terkejut dengan apa yang dilihatnya.


Bisma melihat kearah Leo dengan tatapan sendu. "Leo, tolong panggil ambulans."


Bisma merasa sudah menjadi pria gagal, dia bahkan tidak bisa melakukan apapun untuk membawa Erina ke rumah sakit, tubuhnya terasa sangat lemas, terlebih saat melihat darah Erina.


Bisma tidak hanya melihat darah di kepala istrinya, dia juga melihat ada darah yang mengalir pada bagian kaki Erina, sepertinya darah itu berasal dari janin Erina, bukannya dua garis pada benda tadi menandakan bahwa Erina hamil.

__ADS_1


Sebelum Erina terjatuh, Erina baru tiba di depan toilet lalu tiba-tiba ada pria yang menarik paksa tangannya, Erina sudah berusaha melepaskan dirinya, tapi tenaga pria itu lebih besar.


"Hey, sepertinya kamu salah orang, aku sama sekali tidak mengenalmu." Ucap Erina berusaha melepaskan tangannya dari sang pria.


Pria itu menyeringai dan mencengkram tangan Erina kuat ketika mereka sudah tiba di tangga darurat, tempat itu sepi sehingga tidak akan ada orang yang melihat mereka disana.


"Tidak mungkin aku salah orang, kamu Erina azkia davina kan?" Tanya pria yang detik itu juga mengunci Erina di tempok.


Erina tidak tahu darimana pria itu mengetahui namanya karena sebelumnya mereka tidak pernah bertemu, tapi melihat perlakuan si pria padanya, Erina menyimpulkan pria di depannya itu memiliki niat jahat. Tapi apa salah Erina?


"Tuan, selagi aku masih bicara baik-baik, sebaiknya kamu menyingkir dan pergi, aku takut tidak bisa mengendalikan diriku." Ucap Erina tenang sambil berusaha mendorong tubuh si pria.


Pria di depan Erina tertawa mengejek. "Ternyata kamu masih menjadi wanita sombong, aku jadi ingin segera membuatmu memohon di bawahku untuk aku puaskan."


Erina tidak tinggal diam ketika pria itu membelai wajahnya, entah mendapatkan kekuatan darimana, Erina berhasil mendorong pria itu dan Erina berniat keluar dari tangga darurat.


Tapi, pria itu lebih dulu menahan kepergian Erina, hanya sekejap Erina sudah berada dalam pelukan pria asing itu, Erina mengakui ketampanan pria yang saat itu memeluknya.


"Brengsek!" Erina tidak tertarik dengan wajah tampan, dia bahkan menampar pria yang berani memeluknya itu, tepat setelah Erina kembali mendorong si pria supaya menjauh darinya.


"Kamu mencari kesenangan? sayangnya aku bukan wanita yang ada dalam fantasi liarmu itu! kamu benar-benar salah orang." Ucap Erina.


"Kamu lumayan bertenaga. sebenarnya aku datang kesini untuk membunuhmu, tapi ..." Pria itu berjalan semakin mendekati Erina.


Erina berjalan mundur untuk menghindari pria di depannya, tanpa menyadari bahwa dirinya berada di ujung tangga dan saat itu juga Erina terjatuh.


"... aku tidak tega membunuhmu dengan tanganku sendiri." Pria itu meringis melihat Erina terjatuh dengan kepala berkali-kali terbentur pada anak tangga. Pasti itu terasa sakit.


"Sampai bertemu kembali, sayang."


*****


Bisma memegang benda kecil milik Erina dengan perasaan kacau, dia memejamkan mata mengingat apa yang Erina katakan di lift, ternyata Erina berniat memberitahu kehamilannya.


"Erin, aku minta maaf, aku sudah gagal menjaga kalian." Lirihnya. Bisma mendapatkan kabar dari dokter bahwa Erina keguguran dan hal itu membuatnya sangat terpukul.

__ADS_1


Erina saja belum memberitahu kehamilannya dan Bisma harus memberitahu bahwa wanita itu keguguran. Bisma benar-benar tidak bisa membayangkan reaksi Erina nantinya.


Bisma sedang duduk disamping tempat tidur Erina, istrinya itu masih belum membuka mata sampai malam hari. Bisma menggenggam tangan Erina dengan tangannya yang lain.


"Bisma ..." Panggil Leo yang memasuki ruang rawat Erina bersama Krystal yang berdiri disampingnya. "Maaf kami baru bisa datang kemari."


Pertunangan Leo dan Krystal nyaris gagal karena Erina mengalami kecelakaan, tapi Bisma menyuruh Leo untuk melanjutkan acara pertunangan itu tanpa kehadirannya.


"Bagaimana keadaan nona Erin?" Tanya Krystal menimpali. Bisma menatap kedua orang di depannya dengan pandangan kosong, lalu Bisma melepaskan tangan Erina.


"Erin masih belum sadar." Bisma tidak bisa menahan air matanya supaya tidak keluar, dia sedang berada pada titik terlemahnya. Tidak ada yang lebih sakit mengetahui istrinya terluka.


"Krystal, bisa kamu menemani istriku?" Tanya Bisma masih dengan tatapan kosongnya.


"Oh." Krystal tidak langsung menjawab, lalu dia melirik Leo yang berdiri disampingnya.


Leo menghela nafasnya sebelum bertanya. "Kamu mau pergi kemana? Erin membutuhkanmu!"


"Aku akan menemui Gisell." Jawab Bisma lurus.


"Tidak usah, kamu diam saja disini, aku bisa membereskan masalah Gisell." Ucap Leo.


"Tapi aku tidak bisa berdiam diri disini melihat istriku terbaring." Bisma meninggikan suaranya, terdengar nada putus asa dari kalimatnya.


Tidak lama Bisma merasa sebuah tangan memegang tangannya. Bisma melihat kearah Erina dan wanita itu sudah membuka matanya.


"Mas, kenapa kamu berteriak?"


××××××××××××××××××××××××××××××××××


Siapa kira-kira pria yang membuat Erina terjatuh? apa benar dugaan Bisma kalau orang itu suruhan Gisella? Ikuti terus ceritanya ya ...


"Hal baik tidak selalu datang dari tawa dan kebahagiaan. Kamu tidak akan pernah tahu hal baik apa yang Allah siapkan dalam air matamu saat ini. Ingat, rencananya pasti lebih indah dari apa yang sudah kamu rencanakan dan semua hal terjadi tidak lain adalah atas kehendak darinya." (Author)


Jangan lupa memberi dukungan cerita ini dengan cara: like, favorit dan share. Thanks ❤

__ADS_1


Regards,


Nur Alquinsha A.


__ADS_2