Ikatan Tanpa Cinta

Ikatan Tanpa Cinta
ITC #46


__ADS_3

Flashback 2


Satu bulan setelah Erina datang ke Jakarta, Erina perlahan melupakan masalah keluarganya, Soraya tidak pernah melihat Erina menangis malam, lagi. Erina juga sudah mulai bekerja di cafe milik Farhan dan Soraya sejak satu minggu yang lalu.


"Raya, musik vidio Bryan rilis." Erina berteriak heboh sambil menghampiri Soraya, lalu Erina tersenyum menatap layar ponselnya, Soraya ikut tersenyum melihat kebahagiaan di wajah sahabatnya itu.


"Mana coba gue lihat ..." Ucap Soraya menanggapi Erina. Dia tersenyum melihat Erina bahagia, Bryan memang idola yang sangat luar biasa. Soraya bersyukur bisa mengenal Bryan dan grupnya.


"Permisi, apa kalian sibuk? saya ingin pesan makanan ..." Suara itu terdengar sekaligus menginterupsi Erina yang hendak berbagi layar ponsel untuk menonton musik vidio Bryan.


"Oh?" Soraya dan Erina melihat kearah sumber suara.


"Kami tidak sibuk." Bukan Soraya yang bicara, melainkan Erina, wanita itu terlihat semakin bahagia mengetahui ada yang datang ke cafe, terlebih orang itu berniat memesan makanan.


"Mau pesan apa?" Tanya Erina terlihat sangat antusias.


"Saya pesan dua porsi makanan dan minuman untuk sarapan ..."


"Terus menunya?" Tanya Erina tertahan, pasalnya pria yang memesan barusan berjalan menjauhinya.


Pria itu berbalik dan melemparkan senyuman kepada Erina.


"Menunya terserah, kebetulan bos saya tidak suka pilih-pilih makanan."


"Tapi ..." Erina berdecak.


Soraya melihat wajah kesal Erina, tapi hanya sebentar karena setelah itu Erina kembali terlihat bersemangat dan tersenyum pada pria di depannya.


"Kalau begitu tunggu sebentar!"


Soraya hanya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal melihat Erina. Dia bingung kemana perginya wajah kesal yang sempat Erina tunjukkan tadi.


Selama satu bulan tinggal satu rumah dengan Erina membuat Soraya tahu bahwa mood teman sosial medianya itu memang cepat sekali berubah.


"Teman kerja anda terlihat senang ..."


Soraya berusaha tersenyum seramah mungkin menanggapi komentar pria di depannya, lalu dia melihat Farhan yang memasuki cafe dengan membawa begitu banyak belanjaan.


"Oh, ada pelanggan?" Farhan berjalan menuju dapur setelah memberi kode kepada Soraya bahwa pria itu akan pergi ke dapur menyimpan belanjaan.


"Ha, sampai lupa ... silahkan duduk dan menunggu pesanan anda." Ucap Soraya ramah kepada pelanggannya.


Tapi, sebelum pelanggan itu menjawab, terdengar suara teriakan dari arah dapur. "Raya, Erin pingsan!"


 ____


"Erin, lo baik-baik aja?" Tanya Soraya tepat disaat Erina membuka matanya. "Kenapa lo pingsan?"


"Raya ..." Lirih Erina tanpa menjawab pertanyaan Soraya, lalu dia menunduk dan mulai meneteskan air matanya.

__ADS_1


Soraya menebak ada sesuatu yang membuat Erina tiba-tiba menangis. Dia kemudian menatap pria di depannya.


"Tuan, saya minta maaf, tapi bisakah anda pergi?" Tanya Soraya kepada pria itu, Erina menatap mereka bergantian.


"Raya, gue ..."


"Sekali lagi saya minta maaf, tapi bisa anda pergi sekarang?" Tanya Soraya sengaja menyela perkataan Erina.


Soraya tidak ingin pria di depannya itu menonton kesedihan teman baiknya, meskipun Farhan sedang menyiapkan pesanan orang itu.


Pria itu tidak menjawab karena ada yang menelponnya. "Ya, Bisma? Aku akan segera kesana!"


Tanpa mengatakan apapun, pria itu pergi begitu saja dari cafe karena terburu-buru, tapi Erina yang melihat itu menjadi merasa bersalah.


"Raya, kenapa lo ngusir dia?" Tanya Erina kesal, lalu mengambil posisi duduk dan menatap tajam Soraya.


"Erin, apa yang terjadi? kenapa lo menangis?" Soraya tidak begitu peduli dengan pertanyaan Erina.


 ___


Keesokan harinya, Soraya tertidur di kamar Erina, karena semalam wanita itu sengaja menemani dan mendengarkan curahan hati Erina.


Soraya akhirnya tahu alasan Erina menangis, Erina mendengar kabar bahwa ibunya sakit, dan Erina ingin sekali menjenguk ibunya.


Tidak sesederhana itu, Erina memang ingin menjenguk ibunya, tapi Erina ragu dengan dirinya sendiri dan merasa tidak pantas bertemu ibunya.


Soraya terbangun ketika mendengar suara tangisan, dia membuka mata dan melihat Erina duduk di pojok kamar sambil memeluk lututnya.


"Kenapa?" Tanya Soraya lembut.


"Bryan ..." Jawab Erina terisak. Soraya tidak mengerti maksud Erina.


"Bryan kenapa?" Soraya masih bertanya dengan lembut. Dalam hati, Soraya berharap tidak ada hal buruk yang terjadi pada idola mereka.


Erina tiba-tiba membuat pelukan Soraya terlepas. "Raya, kayaknya gue butuh udara segar ..."


Soraya tidak mengerti mengapa Erina bisa merubah suasana hatinya, teman sosial media Soraya itu tersenyum dan mengusap kasar air matanya.


"Gue baperan banget ya? Maaf ..."


Soraya terdiam, dia yakin Erina hanya sedang berusaha menyembunyikan kesedihannya. Dan Soraya belum tahu apa yang terjadi kepada Bryan.


Setelah Erina keluar kamar, Soraya melihat sosial medianya, dia terkejut mengetahui berita kencan Bryan dan sepertinya ini alasan Erina menangis. Erina pasti sudah melihat berita itu.


Sebagai sesama penggemar, Soraya bisa memahami Erina, meskipun hal itu terkesan berlebihan, tapi memang menyakitkan mengetahui idola sendiri berkencan dengan wanita lain.


Bukan berarti Erina maupun Soraya berharap bisa berkencan dengan sang idola, mereka hanya ... sebenarnya hal ini terlalu rumit, hanya Erina dan Soraya yang mengetahui alasan masing-masing.


 _____

__ADS_1


"Permisi!" Erina duduk sendirian di taman ketika seseorang tiba-tiba menyapa dan menepuk bahunya.


"Kenapa melamun?" Tanya orang itu, seorang pria berwajah tampan. Erina hanya menatap kosong pada pria itu, dia sedang tidak berminat bicara.


"Baru putus cinta ya?" Tanya pria itu sok tahu. Erina terus menatapnya tanpa minat untuk menjawab.


Pria itu melemparkan senyuman dan duduk di samping Erina.


"Saya tidak pernah pacaran dan belum tahu rasanya putus cinta, tapi mungkin ini berguna untukmu ... suatu saat nanti akan ada pria yang mencintaimu tanpa harus kamu memintanya. Kamu tidak pantas bersedih demi pria yang tidak menghargai perasaanmu. Meskipun ditinggalkan memang berat."


Erina mendengus pelan mendengar perkataan pria di sampingnya.


"Bisma!" Suara itu membuat Erina dan pria di sampingnya menoleh.


"Haish." Giliran pria di samping Erina yang mendengus, lalu pria itu menatap dalam pada mata Erina.


"Nona, saya harus pergi atau telinga kamu akan sakit mendengar manusia itu mengoceh disini" Lalu pria yang tadi di panggil Bisma itu berdiri.


"Sampai jumpa!" Pria itu tersenyum dan melambaikan tangannya kepada Erina sebelum akhirnya pergi.


Erina menarik sedikit sudut bibirnya menatap kepergian pria itu.


"Tidak pernah pacaran, hhhh?"


 __


"Raya, duduklah! Kamu tidak kasihan anak kita pusing ibunya terus mondar mandir?" Farhan tidak tahan untuk tidak berkomentar.


Soraya masih terus mondar mandir di teras rumah mereka tanpa peduli dengan perkataan suaminya, wanita itu terlihat mencemaskan Erina yang belum pulang sejak tadi pagi.


Erina tidak datang ke cafe dan ponselnya juga tidak bisa di hubungi, Soraya khawatir karena sekarang sudah hampir jam sembilan malam dan masih belum ada kabar baik.


"Raya!" Tegur Farhan untuk yang kesekian kalinya, dia merasa kasihan pada anak yang ada dalam kandungan Soraya, sudah lebih dari sepuluh menit istrinya itu mondar mandir.


Soraya masih tidak mendengarkan Farhan, lalu tidak lama Erina datang, Soraya bernafas lega melihat Erina baik-baik saja. Bahkan jauh lebih baik, Erina datang dengan senyuman.


"Erin, lo kemana aja?" Tanya Soraya mulai mengintrograsi Erina.


Erina melirik Farhan, suami Soraya itu hanya mengangkat bahunya.


"Erin, Bryan ..."


"Gue tidak punya hak sedih atau marah, Bryan cuma idola gue dan Bryan berhak bahagia ..." Erina melemparkan senyuman.


"Oh ya, Soraya ... barusan gue bertemu laki-laki aneh dan gue lupa nama dia."


 ____


Jangan lupa mendukung karya ini dengan menekan tombol suka dan masukan ke daftar favorit kalian. Teruntuk kalian yang tertarik dengan karya-karya aku, silahkan ikuti aku di mangatoon atau instagram (@light.queensha) Terimakasih ...

__ADS_1


Regards:


©2019, lightqueensa.


__ADS_2