
Pemakaman ibu Maria selesai di lakukan sekitar empat jam yang lalu, kepergiannya meninggalkan luka yang mendalam bagi banyak orang termasuk Bisma, bahkan suami Erina itu tidak bisa berhenti menangis sampai akhirnya Bisma tertidur di sofa.
Erina yang melihat keadaan Bisma benar-benar merasa khawatir, terlebih Bisma belum makan dari kemarin malam. Erina mendekati Bisma, lalu duduk di dekat sofa tempat Bisma berbaring dan menghapus sisa air mata di wajah suaminya itu.
"Ini pertama kalinya aku melihat kamu menangisi seseorang selain aku. Mas, sepertinya ibu Maria sangat berarti dalam hidupmu." Ucap Erina pelan, namun berharap Bisma mendengarnya. Bisma harus tahu bahwa Erina cemburu karena hal itu.
Bisma tiba-tiba menahan tangan Erina yang ada pada wajahnya, pria itu masih tidur dan mengigau sesuatu. "Karin, maafkan aku." selang beberapa detik Bisma kembali bicara. "maafkan aku, aku tidak bisa menepati janjiku menjaga ibumu."
Erina menarik tangannya dari Bisma, dia tidak percaya Bisma tidur sambil menyebut wanita lain dan bolehkah Erina cemburu? Erina tahu Bisma sedang sedih karena kepergian ibu Maria, tapi Erina tidak bisa mengerti maksud suaminya itu.
"Erin, suamimu tidak sadar mengatakan itu, Bisma tidak berniat menyakitimu." Ucap nenek Sekar menepuk bahu Erina, nenek Bisma itu tanpa sengaja mendengar perkataan cucunya dan melihat kekecewaan di wajah menantunya.
Tadinya, nenek Sekar masuk ke kamar cucu dan menantunya untuk berpamitan, tapi nenek Sekar mendengar Bisma menyebut nama Kirana di depan Erina. Ya, meskipun Bisma tidak sadar, nenek Sekar takut Erina salah paham.
Erina tersenyum simpul menanggapinya. "Nenek, apa kamu membutuhkan sesuatu?" Tanya Erina berusaha untuk mengalihkan, wanita itu tidak ingin nenek mertuanya membahas tentang perkataan Bisma yang sedikit menyakiti hatinya.
"Tidak, terimakasih. aku akan kembali ke kantor, banyak hal yang harus aku urus disana." Jawab nenek Sekar diakhiri helaan nafas. "Erin, kamu harus tahu kalau Karina hanya gadis yang Bisma anggap sebagai adik kandungnya sendiri."
"Hm, aku tahu. mas Bisma sudah pernah cerita tentang Karina padaku." Ucap Erina masih dengan senyuman yang menghiasi bibirnya meskipun matanya terlihat bengkak karena ikut menangis melihat Bisma yang hampir terus menangis.
Sebenarnya, Bisma tidak pernah menceritakan tentang Karina dan orang yang membuat Erina tahu siapa Karina adalah Leo, tapi Erina terpaksa berkata bohong, Erina tidak ingin nenek Sekar ikut mengkhawatirkan hubungan mereka.
"Karin memang menyukai Bisma, tapi Bisma tidak pernah menyukainya sebagai wanita, kamu tahu itu?" Tanya nenek Sekar memastikan, dia masih takut Erina salah paham terhadap Bisma dan Erina hanya mengangguk menjawab sang nenek.
"Aku juga tahu Karin sudah meninggal, jadi nenek tenang saja, aku mengerti alasan mas Bisma menyebut nama Karin, karena dia menyayangi ibu Maria dan Karin ... sebagai keluarga." Tambah Erina dan membuat nenek Sekar merasa lega.
"Baguslah, kalau begitu nenek pergi sekarang, tolong jaga cucu nenek. Erin, kamu dan Bisma harus hidup bahagia supaya aku tidak merasa bersalah sudah menjodohkan kalian." Setelah itu nenek Sekar benar-benar pergi dari mansion.
Erina tidak sempat menawarkan nenek Sekar untuk makan siang bersama mengingat sebentar lagi akan memasuki jam makan siang. Erina tidak bisa fokus dengan dirinya maupun orang lain karena perkataan Bisma yang tadi mengigau.
Erina menatap kepergian nenek Sekar, sebelum akhirnya kembali menatap Bisma, suaminya itu masih terlihat pulas. Erina beranjak dari sana, lalu mengambil selimut dari lemari dan menyelimuti tubuh Bisma sampai bagian dada.
"Mas, aku masak dulu sebentar." Ucap Erina, lalu mencium kening Bisma dan pergi menuju dapur untuk masak. Erina mengambil semua bahan dari kulkas, dia berniat membuat berbagai hidangan untuk suaminya yang belum makan dari kemarin.
Erina membuat makan siang di bantu Maya dan Siti, dia tidak berani memasak sendiri karena perjanjian yang sudah di sepakati, Erina tidak akan repot-repot mengerjakan tugas maid kecuali memberi bantuan sedikit terhadap mereka.
Tapi, bukan membantu namanya kalau Erina yang turun tangan untuk memasak semua makanan, Maya dan Siti hanya membantu menghidangkan masakan Erina ke meja makan. Erina melakukan itu setiap harinya dan para maid tidak bisa protes.
Erina tersenyum menatap makanan di atas meja, akhirnya semua itu terhidang setelah sekitar tiga puluh menit Erina berkutat dengan dapurnya. Erina berharap Bisma menyukai makanannya dan segera melupakan tentang kematian ibu Maria.
"Maya, aku akan pergi ke kamar sebentar, tolong buatkan teh hangat untuk suamiku." Ucap Erina, lalu meninggalkan ruang makan tanpa menunggu jawaban Maya terlebih dahulu, Erina tahu Maya akan melakukan sesuai perkataannya.
"Mas, kamu sudah bangun?" Tanya Erina ketika memasuki kamar dan melihat suaminya sudah membuka mata. Erina tersenyum dan berjongkok di dekat sofa tempat Bisma berbaring. Sementara Bisma hanya memandangi wanita itu.
"Mas, aku sudah memasak sop iga kesukaanmu, bagaimana kalau sekarang kita makan?" Erina menunjukan senyuman manisnya kepada Bisma.
"Kamu memasak?" Tanya Bisma mengulangi perkataan Erina, suaranya terdengar serak karena baru bangun tidur dan terlalu lama menangis.
"Oh, maksudku--"
"Mas tidak lapar, kamu saja yang makan." Ucap Bisma memotong perkataan Erina, pria itu sudah tahu kelakuan istrinya tanpa perlu penjelasan.
"Tapi aku sudah memasak--"
__ADS_1
"Mas tidak menyuruhmu memasak." Ucap Bisma kembali menyela perkataan Erina, tapi sekarang tanpa sadar pria itu sudah menyakiti istrinya.
Memang benar Bisma tidak menyuruh Erina memasak, tapi Erina hanya melakukan tugasnya sebagai seorang istri dan seharusnya Bisma bisa lebih menghargai usaha Erina untuknya. Erina berusaha untuk tetap menunjukan senyumannya.
"Ya, aku tahu. mas memang tidak menyuruhku masak, tapi mas harus tetap makan karena aku sudah membuatnya." Ucap Erina tenang.
Bisma beranjak dari sofa, Erina tersenyum karena mengira suaminya berubah pikiran, tapi ternyata Bisma malah mengatakan sesuatu yang lebih menyakiti wanita itu. Bahkan, Bisma mengatakan itu sambil memperlihatkan wajah datarnya.
"Erin, aku selalu menurutimu selama ini, tapi sekarang aku sudah mulai lelah, kamu bisa makan sendiri, aku benar-benar tidak lapar." Ucap Bisma.
"Tapi mas belum makan--"
"Harus berapa kali lagi aku mengatakannya? aku tidak lapar! Erin, apa kamu tidak bisa mendengar itu?" Tanya Bisma meninggikan suaranya.
"Tolong berhenti memaksa karena aku tidak sudi makan sop iga buatanmu." Lanjut Bisma semakin menjadi dan berhasil membuat Erina menangis.
Erina menahan tangannya yang akan memegang tangan Bisma, dia tidak menyangka Bisma berani membentaknya hanya karena masalah sekecil itu, Erina berusaha membujuk Bisma makan dan hal itu bahkan tidak pantas disebut masalah.
"Baiklah, sop yang aku buat memang lebih pantas masuk tempat sampah daripada mulutmu." Ucap Erina, lalu berdiri dengan mata yang terus berair.
Bisma tertegun melihat Erina menangis, Bisma tidak mengingat apa yang sudah dirinya katakan, semua itu keluar begitu saja dari mulutnya, dia menyadari sudah melukai Erina ketika melihat air mata pada wajah wanita yang dicintainya itu.
Bisma sudah terbiasa memilih sabar menghadapi istrinya, tapi mengetahui Erina sudah memasak berhasil memancing emosinya, terlebih Erina memaksanya untuk makan, Bisma merasa Erina sudah sangat keterlaluan mengatur hidupnya.
"Erin--"
"Mas, aku akan berhenti memasak, aku tidak akan menghidangkan sampah untukmu lagi." Ucap Erina menyela perkataan Bisma sambil menahan rasa sesak pada bagian dadany.
"Sayang, bukan itu maksudku, aku--"
"Maaf sudah lancang memakai dapurmu, mulai sekarang aku akan lebih tahu diri." Erina kembali menyela perkataan suaminya.
"Erin, tunggu!" Teriak Bisma berusaha mengejar istrinya yang menuruni anak tangga, anehnya langkah Bisma terkalahkan oleh kaki kecil Erina.
Bisma ingin meminta Erina supaya berhati-hati ketika mereka menuruni tangga, Bisma khawatir istrinya terjatuh seperti yang pernah di alami wanita itu, namun Bisma mendadak kesulitan untuk mengeluarkan suaranya, seperti ada sesuatu yang mengganjal di tenggorokannya.
"Nyonya Erin, teh hangat--"
"Buang saja!" Ucap Erina memotong perkataan Maya saat maid itu berniat memberitahu bahwa teh hangat untuk Bisma sudah selesai di buat.
Erina merebut cangkir teh dari tangan Maya, lalu membawanya ke wastafel dan membuang teh itu disana masih dengan mata yang berair, selang beberapa detik Erina menggumamkan kata maaf. Erina sadar tidak seharusnya dia melampiaskan itu kepada Maya yang tidak mengetahui apapun.
"Sayang, mas minta maaf, mas akan makan sop iga buatan kamu." Bisma langsung duduk di meja makan dan berniat makan masakan istrinya.
Tapi, Erina datang dan mengambil mangkuk sop itu sebelum Bisma sempat menyentuhnya, lalu Erina juga membuangnya ke tempat sampah.
"Erin ..." Bisma memekik menatap tempat sampah dan istrinya bergantian, Erina tidak main-main dengan perkataannya, sop iga kesukaan Bisma benar-benar masuk ke dalam tempat sampah.
"Mas, aku tidak pernah memaksamu menurutiku." Ucap Erina menatap suaminya sendu.
"Mas tahu! mas benar-benar minta maaf sudah berkata kasar padamu, tapi kenapa kamu harus membuang sop iga ..."
"Lupakan tentang sop iga!" Ucap Erina menyela perkataan Bisma. Jujur saja Erina merasa sakit hati mengingat sop iga yang di tolak Bisma.
"Sayang ..." Lirih Bisma berusaha meraih tangan Erina, namun istrinya itu lebih cepat menghindar dan membuat Bisma merasa sangat bersalah.
"Mas, aku akan berhenti mengurusimu, kamu memiliki banyak uang dan tentu saja kamu tidak membutuhkan aku untuk mengurusmu."
"Sayang, tolong dengarkan--"
__ADS_1
"Tolong jangan menyela!"
Bisma menghela nafas, lalu mengintruksi Maya yang masih berada disana untuk meninggalkan mereka. Maya langsung mengikuti sesuai intruksi yang Bisma berikan, maid itu mengetahui kedua majikannya sedang bertengkar. Karena teriakan Bisma tadi terdengar sampai lantai bawah.
"Selama ini aku tidak pernah memaksa kamu untuk menurutiku, jadi mulai sekarang lakukan apapun yang ingin kamu lakukan." Ucap Erina.
Erina mengambil nafas sebelum akhirnya pergi meninggalkan Bisma di ruang makan. Erina ingin memaafkan Bisma karena dengan begitu suaminya bisa makan, tapi harga dirinya yang sudah terluka menolak untuk memaafkan. Karena perkataan Bisma sudah sangat keterlaluan.
"Erin, kita belum selesai bicara!" Teriak Bisma, lalu mengacak rambutnya frustasi karena Erina terus melangkah dan mengabaikannya.
"Bisma, kamu sudah keterlaluan." Komentar Leo menghampiri Bisma, pria itu sudah berada disana semenjak mendengar Bisma berteriak di kamar.
"Erin hanya malakukan tugasnya sebagai istrimu, tapi kamu mengatakan seolah dia orang jahat yang sudah mengatur hidupmu." Lanjut Leo.
Bisma mengabaikan perkataan Leo, dia bergegas mengejar Erina yang pergi ke kamar mereka. Leo yang melihat itu hanya mampu menggelengkan kepalanya. Sebenarnya, Leo tidak menyangka bisa mendengar Bisma berteriak kepada Erina, entah apa yang terjadi terhadap sahabatnya itu.
Setelah pemakaman ibu Maria, Leo mengatar Krystal ke apartemen dan menemani wanita itu sebentar di apartemennya, Leo pikir setelah Bisma meminta maaf kepada Erina kemarin semuanya akan baik-baik saja, tapi ternyata Leo malah mendengar Bisma meneriaki sang istri.
Sementara itu Bisma mendengar Erina menangis sampai terisak, pria itu mengatur nafas sebelum akhirnya melangkah mendekati tempat istrinya berbaring. Langkah Bisma terhenti di samping ranjang, tangannya perlahan menyentuh rambut Erina dan membelai rambut itu lembut.
"Erin, mas minta maaf, tolong jangan menangis seperti ini." Ucap Bisma masih dengan tangan yang membelai rambut Erina dan mencium kening wanita itu. Demi tuhan, Bisma tidak bermaksud menyakiti Erina. Karena semuanya terjadi begitu saja tanpa bisa di kendalikan.
Erina menahan tangan Bisma, lalu matanya yang terpejam terbuka dan menatap Bisma yang juga sedang menatap padanya. Mungkin memang selama ini Erina yang salah karena sudah membuat Bisma tidak memiliki pilihan lain selain mengalah dan mungkin Erina yang juga egois.
"Sayang, mas tidak bermaksud--"
"Maaf!" Ucap Erina menyela perkataan Bisma.
"Erin ..." Lirih Bisma.
"Mas, masih ada makanan lain yang bisa kamu makan lebih baik kamu makan." Ucap Erina tiba-tiba lupa akan sakit hati dan harga dirinya ketika melihat wajah bersalah suaminya.
Bisma tersenyum mendengar Erina masih peduli padanya, Bisma berpikir mereka akan berpisah karena kebodohannya hari ini, tapi ternyata Erina masih berbaik hati menyuruhnya makan.
"Hm, baiklah. kalau begitu kamu harus bangun, kita akan makan bersama." Ucap Bisma berusaha membantu istrinya untuk bangun.
"Kalau kamu tidak menyukai makanan yang aku buat untukmu, kamu bisa--"
"Mas menyukai makanan apapun yang kamu masak, ayo mas bantu bangun." Bisma masih berusaha membantu Erina bangun.
"Mas, kamu memintaku untuk terbuka padamu dan inilah aku, meskipun terkadang aku suka meninggikan suara dan selalu acuh terhadap banyak hal, tapi aku paling tidak bisa di bentak."
Bisma dibuat semakin merasa bersalah setelah mendengar perkataan Erina dan Bisma tidak bisa mengatakan apapun selain kata maaf. Bisma tidak seharusnya membentak istrinya, Bisma terlalu tenggelam dalam kesedihan dan membuatnya lupa dengan sumber kebahagiaannya.
"Maaf ..." Lirih Bisma, hanya kata itu yang mampu keluar dari mulutnya. Erina mengambil nafas dan mengambil posisi duduk.
"Mas, kamu tidak perlu terlalu sering meminta maaf, semuanya akan baik-baik saja, lebih baik kamu makan dan maaf aku tidak bisa menemanimu, aku akan tetap disini."
~TBC
"Tidak baik berlama-lama hanyut dalam kesedihan, selain kamu akan menyakiti dirimu sendiri, kamu bisa membuat orang lain terluka."
"Semua orang memiliki kesabaran dan emosi, hanya tingkatnya yang berbeda-beda."
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian. Thanks ❤
Regards,
Nur Alquinsha A.
__ADS_1