Ikatan Tanpa Cinta

Ikatan Tanpa Cinta
ITC #36


__ADS_3

Bisma mengajak Erina pergi ke N Seoul Tower. Dia mendapat informasi bahwa ada sebuah tempat bernama Love Lock di puncak menara. Mitosnya, tempat ini bisa mengabadikan cinta kepada pasangan dengan memasang gembok di sekitar pagar, lalu setelah itu membuang kunci gemboknya sebagai harapan akan terus bersama.


Ya, alasan utama Bisma mengajak Erina ke N Seoul Tower memang untuk mengabadikan cintanya kepada Erina di puncak menara. Dia ingin mencoba kebenaran dari mitos itu, dan jika pernikahannya dengan Erina langgeng sampai maut memisahkan mereka, maka Bisma akan percaya bahwa mitos itu bukan sekedar mitos.


"Erin, ayo ke teras." Bisma langsung menarik tangan Erina menuju teras ketika mereka sudah sampai di puncak N Seoul Tower.


Bisma sudah membawa gembok yang akan diberi namanya dan juga nama Erina. Sementara Erina hanya mengikuti langkah Bisma karena tangannya ditarik oleh pria itu.


"Erin, tulis nama kamu disini." Suruh Bisma sambil memberikan gemboknya kepada Erina. Dia juga melemparkan senyuman ketika Erina menatapnya.


"Menurut mitos ..."


"Aku tidak menyangka kamu percaya mitos." Erina menyela Bisma yang akan memberi penjelasan, lalu wanita itu mengambil gemboknya.


"Kita bisa terus bersama kalau kita berdua memang menginginkannya." Erina terkekeh dan mulai menulis namanya. Dan tiba-tiba Erina kembali teringat perkataan Soraya tadi malam.


"Bisma, kalau aku menemukan bukti kamu dan Gisella memiliki hubungan, apa kamu akan marah karena aku ikut campur urusan pribadimu?" Lirih Erina dalam hatinya.


"Maaf, aku sudah berusaha menekan rasa curiga ini, tapi tetap tidak yakin padamu. Aku takut perkataan dan sikap manismu ini hanya sandiwara."


Erina kembali melirih dalam hatinya. Dan tanpa Erina sadari, sudut matanya mulai beralir. Bisma yang menyadari Erina menangis segera menghapus air mata istrinya dengan lembut.


"Erin, kenapa?" Tanya Bisma cemas. Erina menatap Bisma dan membuat pandangan mereka bertemu.


"Saya semakin yakin kamu berniat meninggalkan saya setelah kita pulang dari negara ini." Giliran Bisma yang berkata lirih di dalam hatinya.


"Aku sudah menulis namaku." Erina memegang tangan Bisma yang berada di wajahnya dan memberikan gemboknya pada tangan itu.


"Giliran kamu ..." Ucap Erina tanpa menjawab pertanyaan Bisma.


Bisma mendesah pelan. Dia memegang erat gembok di tangannya sambil terus menatap Erina tepat pada matanya.


"Erin, saya tidak tahu masalah yang kamu hadapi atau kesalahan yang saya perbuat, apapun itu ... saya tidak akan membiarkan kamu pergi."

__ADS_1


Setelah itu, Bisma menulis namanya di gembok dan menulis sebuah harapan disana. Bisma sangat mengandalkan mitos di N Seoul Tower. Dia berharap gembok cinta mereka akan membuat pernikahan mereka bertahan.


"Aku tidak akan pergi kecuali kamu mengusirku." Sahut Erina santai. Pada kenyataannya memang Erina tidak berniat pergi, kecuali hubungan antara Bisma dan Gisella membuatnya terusir.


"Saya akan memegang perkataanmu." Ucap Bisma mengakhiri. Dia kemudian menarik Erina sehingga membuat jarak diantara mereka hilang.


"Erin, kamu harus percaya kalau saya tidak akan mengusirmu." Suara Bisma berubah melirih. Bisma kemudian memegang tengkuk Erina dan mencium bibir istrinya itu.


Erina memejamkan mata dan mulai membalas ciuman Bisma. Tidak peduli meskipun mereka sedang berada di tempat umum, Erina hanya tahu saat ini dirinya menginginkan ciuman itu.


Bisma menyadari Erina meneteskan air mata dan langsung menghentikan ciumannya. Erina membuka mata, Bisma menatap mata berair itu.


"Saya mengajak kamu kesini bukan untuk melihat kamu menangis." Ucap Bisma pelan. Dia berpikir bahwa perkataan Erina di coex artium hanya akan menjadi sebuah ilusi.


"Bisma, aku akan mengaku padamu ... aku menyukaimu semenjak pertama bertemu denganmu." Erina memberi jeda pada kalimatnya. Dia sengaja tidak menanggapi perkataan Bisma.


Bisma terdiam dan menunggu Erina melanjutkan kalimatnya.


"Aku lebih dulu menyukaimu, Bisma. Dan itu pertama kalinya aku suka terhadap orang asing kecuali Bryan."


"Kamu harus tahu bahwa dari banyak hal yang aku benci di dunia ini, kamu menjadi salah satu dari bagian kecil yang aku sukai." Erina tersenyum tipis dan kembali bicara.


"Dulu, aku membenci orang karena mereka menghina Bryan, kamu bisa bayangkan seberapa besar rasa sayangku padanya? Dan sayangku padamu melebihi itu!"


Bisma tertegun. Dia tidak tahu mengapa hatinya merasa perih. Dia mendengar dengan jelas bahwa Erina sedang mengungkapkan perasaan terhadapnya. Tapi Bisma merasa ada sesuatu dibalik perkataan istrinya itu.


"Aku mengatakan ini supaya kamu percaya kalau aku tidak akan pergi, kecuali kamu mengusirku." Erina terkekeh dan mengusap tengkuknya.


Tidak ada yang lucu. Erina hanya berusaha mencairkan suasana. Dia merasa beberapa hari ini hubungannya dengan Bisma sangat aneh. Dan baru saja semakin aneh karena Erina mengutarakan perasaannya.


Bisma merasa ada maksud tertentu dari kata 'kamu' dan 'mengusir' yang terus Erina ucapkan. Bisma tidak tahu apa maksudnya, tapi dia cukup percaya dirinya tidak akan mengusir Erina. Mereka akan bersama sampai akhir.


"Bagaimana kalau sekarang kita pasang gemboknya?" Tanya Erina saat melihat Bisma hanya terdiam. Dia merasa menjadi wanita bodoh yang terus mengoceh pada pria di depannya.

__ADS_1


"Sebelum memasang gemboknya ..." Bisma mengangkat gembok di tangannya ketika Erina berusaha untuk merebut gembok itu darinya.


"Saya ingin mengaku ... saya juga menyukaimu sejak pertama kali kita bertemu. Jadi bukan kamu yang lebih dulu menyukai saya. Dan kamu juga harus tahu bahwa kamu adalah cinta pertama dalam hidup saya."


Bisma tersenyum ketika melihat Erina membisu. Dia kemudian berjalan melewati Erina dan memasang gembok mereka di pagar N Seoul Tower.


"Sudah selesai, kita tinggal membuang kuncinya." Ucap Bisma. Dia merasa tidak ada yang perlu di khawatirkan karena tidak mungkin dirinya mengusir Erina.


Erina berbalik dan menatap punggung Bisma. Tidak lama Bisma ikut berbalik.


"Erin, bagaimana kalau kita makan?" Tanya Bisma masih dengan senyuman yang terukir pada wajahnya.


Erina merasa ketampanan Bisma bertambah setiap kali suaminya itu tersenyum. Dan itu yang membuat Erina sulit mengendalikan hatinya. Karena Bisma sering tersenyum padanya. Erina kemudian menggeleng.


Bisma mengerutkan dahinya. "Tidak mau?" Tanyanya ketika melihat Erina menggelengkan kepala.


Erina menyadari kebodohannya dan langsung berdehem pelan.


"Kita akan pergi makan." Jawab Erina cepat. Meskipun belum waktunya makan siang, perut Erina sudah lapar karena mereka datang ke N Seoul Tower dengan berjalan kaki.


Bisma bukan pria kejam yang sengaja membiarkan istrinya jalan kaki, hanya saja Erina menolak menggunakan alternatif untuk datang ke tempat mereka berada saat ini. Dan Bisma hanya menuruti keinginan Erina.


Dahi Bisma semakin berkerut. "Lalu kenapa kamu menggelengkan kepala?" Tanyanya keheranan.


"Hanya kebiasaan ketika aku merasa pusing." Jawab Erina sekenanya. Erina tidak berbohong, memang dia memiliki kebiasaan menggeleng gelengkan kepala ketika merasa pusing.


"Oh, kamu pusing? apa kita perlu pergi ke rumah sakit?" Tanya Bisma yang dengan cepat menghampiri Erina dan memeriksa suhu badan istrinya itu dengan punggung tangannya.


Erina tidak menyangka reaksi Bisma akan sangat berlebihan!



Jangan lupa mendukung karya ini dengan menekan tombol suka dan masukan ke daftar favorit kalian. Teruntuk kalian yang tertarik dengan karya-karya aku, silahkan ikuti aku di mangatoon atau intagram (@light.queensha) Terimakasih ...

__ADS_1


Regards:


©2019, lightqueensa.


__ADS_2