
"Erin, kamu baik-baik saja?"
Erina menghela nafas panjang. Dia mulai bosan mendengar pertanyaan Bisma. Pasalnya suami Erina itu terus menanyakan hal yang sama semenjak mereka meninggalkan teras menara.
Saat ini, Erina dan Bisma berada di lantai lima N Seoul tower, lebih tepatnya di restoran n.GRILL. Erina dan Bisma sedang menunggu makanan yang sebelumnya sudah mereka pesan.
"Kamu terlihat kurang sehat, Erin!"
Erina ingin sekali menyumpal mulut Bisma. Pria itu sepertinya tidak mengerti bahasa manusia. Erina sudah terlalu lelah memberitahu Bisma bahwa dirinya baik-baik saja.
Tidak lama seorang pelayan datang mengantarkan dua porsi sirloin steak beserta minuman. Erina mengucapkan terimakasih kepada pelayan itu sehingga Bisma merasa terabaikan.
"Erin ..."
"Kamu tahu, Bisma?! Aku paling tidak suka mendengar orang memanggil namaku sampai tiga kali!" Ucap Erina memotong perkataan Bisma.
Bisma terdiam. Dia tidak merasa sudah memanggil Erina sebanyak itu. Dan ...
"Kamu yang lebih dulu mengabaikan saya, Erin!"
"Aku sudah menjawab pertanyaanmu, Bisma! Dan ini sudah keempat kalinya kamu memanggil namaku dalam satu menit!" Ucap Erina menahan kesal.
Erina membuang nafasnya kasar. Dia sudah sangat frustasi dengan rasa bimbang di hatinya. Dan Bisma tidak membiarkannya tenang. Setiap Erina melamun, Bisma pasti bertanya hal yang sebelumnya sudah Erina jawab.
Bisma berusaha mencerna perkataan Erina. Dia akhirnya mengerti maksud istrinya. Tapi Bisma malah senang mengetahui Erina kesal. Bisma merasa akan lebih menarik kalau dirinya terus membuat istrinya itu kesal.
"Erin, Erin, Erin." Ucap Bisma sengaja.
Erina mendecih. Dia berpura-pura tidak mendengar perkataan Bisma barusan. Karena mendengarkannya hanya akan membuatnya kesal. Lalu Erina mulai memakan steak nya.
Erina hanya akan mendengarkan apa yang ingin dia dengar, ingat!
"Erin, kamu tidak sedang menderita penyakit mematikan 'kan?" Tanya Bisma tanpa berani menatap Erina. Dia memperhatikan sirloin steak miliknya.
Bisma hanya ingin memastikan bahwa asumsinya mengenai perubahan Erina tidak benar. Karena asumsinya yang satu ini membuatnya paling takut kehilangan Erina.
Bisma akan setia terhadap Erina meski istrinya itu memiliki penyakit mematikan, tapi Bisma tidak bisa membayangkan jika nanti maut membawa Erina pergi.
Erina hampir tersedak kalau tidak buru - buru menelan steak di mulutnya. Lalu wanita itu meneguk air minum.
"Kamu mau aku mati?" Tanya Erina dengan kekesalan yang memuncak. Lalu rasa kesalnya menghilang ketika melihat wajah menyedihkan Bisma.
"Bisma, aku tidak berbohong, aku baik-baik saja dan aku tidak menderita penyakit mematikan." Ucap Erina melembut. Dia merasa tidak tega melihat wajah suaminya.
__ADS_1
Bisma menatap mata Erina dalam. Dia kemudian tertawa hambar dan teringat perkataan Erina tadi malam. Ketika Erina terbangun dan mengatakan sesuatu yang tidak bisa di mengerti.
"Kamu sudah tidur? Bisma, aku tidak bisa tidur karena merasa di kepalaku ini terdapat beban!" Kurang lebih itu yang Bisma dengar tadi malam.
Semalam Bisma sengaja berpura-pura tidur. Sementara Erina yang mengira Bisma sudah tidur mengeluh mengenai kepalanya yang terdapat beban hingga mengundang banyak asumsi.
"Bisma, aku minta maaf kalau suatu hari nanti aku pergi tanpa pamit." Bisma ingat Erina juga mengatakan itu. Dan memang Bisma mengajak Erina ke Love Lock bukan tanpa alasan.
Bisma sangat berharap tempat itu bisa membantu mereka untuk tetap bersama. Bisma tidak sanggup dan tidak akan pernah sanggup di tinggalkan Erina.
"Lalu kenapa kamu berniat pergi, Erin?" Lirih Bisma dalam hatinya. Dia tidak memiliki cukup keberanian bertanya langsung kepada Erina.
"Bisma, sebaiknya kamu makan." Tegur Erina. Dia merasa aneh dengan tawa Bisma barusan. Terlebih ketika Bisma tidak menanggapi perkataaanya.
"Erin, kalau kita saling menyayangi dan kamu tidak memiliki penyakit mematikan, apa yang mungkin akan membuat kamu pergi?" Tanya Bisma sambil menatap kosong Erina.
"Maksud kamu?" Tanya Erina tidak mengerti. Bisma menarik sedikit sudut bibirnya.
"Tidak apa-apa, sepertinya saya sudah di pengaruhi alkohol." Jawab Bisma. Padahal pria itu sama sekali tidak meminum alkohol yang di maksud.
Erina menghela nafas. "Bisma, aku sudah mengatakan padamu, aku tidak akan meninggalkanmu ..."
"Kalau saya tidak mengusirmu kan?" Tanya Bisma memotong perkataan Erina. Dia kemudian menghapus air yang sedikit menetes di sudut matanya.
"Erin, kamu sudah berjanji tidak akan meninggalkan saya, dan jangan pernah berpikir untuk mengingkarinya."
Erina meremas celana jeans yang dia gunakan. Dia merasa sakit melihat air mata di wajah suaminya. Dia tahu pria yang pandai bersandiwara tidak akan menggunakan air matanya. Sementara Bisma dua kali menangis karenanya.
Erina seharusnya bisa mempercayai Bisma setelah waktu itu melihat Bisma menangis. Tapi entah mengapa hatinya masih sangat sulit mempercayai orang lain. Dia selalu waspada supaya hatinya tidak mendapat luka.
Dan melihat apa yang terjadi sekarang, Erina sudah mengambil peran sebagai istri yang jahat terhadap suaminya. Lalu setelah ini apa yang harus Erina lakukan? Sementara Erina kesulitan mengendalikan hati dan ketakutannya.
"Erin, makanlah! Setelah ini kita akan pergi ke hello kitty island." Ucap Bisma sambil mengumbar senyumannya. Lalu mulai menikmati makanannya.
Bisma membutuhkan banyak tenaga untuk terus menghadapi Erina. Dia memakan sirloin steak dengan lahap supaya mendapatkan tenaga yang di butuhkan untuk menghadapi istrinya.
"Katanya banyak hal imut disana, cepat habiskan makanan kamu!" Ucap Bisma tanpa melihat Erina. Dia hanya fokus kepada sirloin steak nya.
Erina sudah tidak berselera makan, dia mendadak mual karena perdebatan yang barusan terjadi dan Erina hanya terus memperhatikan Bisma yang hampir menghabiskan makanannya.
"Erin, mau saya suapi?" Tanya Bisma ketika sudut matanya melihat Erina diam tanpa menyentuh makanan.
"Aku sudah kenyang." Jawab Erina sekenanya. Matanya tidak melepaskan Bisma dari pandangannya.
__ADS_1
Bisma akhirnya menatap Erina hingga tatapan mereka kembali bertemu. Dia menghela nafas sejenak. Lalu setelah itu menunjukan senyuman terbaiknya.
"Erin, saya minta maaf sudah merusak nafsu makan kamu, saya berjanji tidak akan mengulanginya." Bisma mengangkat jari kelingkingnya kearah Erina.
Bisma merasa menghadapi Erina harus secara lembut atau resikonya Erina akan benar-benar pergi. Dan Bisma tidak mungkin membiarkan itu terjadi.
Erina menatap tangan dan wajah Bisma bergantian. Kemudian Erina menyambut jari kelingking Bisma dan melemparkan senyuman kepada suaminya.
"Baiklah, aku akan memaafkanmu." Ucap Erina. Dan ketika Erina menarik tangannya, jari kelingking Bisma dengan cepat menahannya.
"Saya ingin mendengar kamu berjanji tidak akan pernah meninggalkan saya." Ucap Bisma dan tersenyum. Erina mendesah pelan.
"Pria ini!" Cibir Erina dalam hatinya.
"Baiklah, terserah!" Sahut Erina malas. Dia menarik kembali tangannya, tapi Bisma masih menahannya.
"Saya ingin kamu berjanji." Ucap Bisma tidak puas. Dia hanya tersenyum saat melihat wajah kesal Erina.
"Aku tidak bisa berjanji."
"Berarti benar kamu berniat pergi?"
"Tidak!"
"Lalu?"
"Baiklah, aku Erina azkia davina tidak akan meninggalkan Bisma melviano radhika, aku berjanji. Kamu puas?"
Bisma sudah mendengar janji dari mulut Erina, tapi pria itu masih belum melepaskan tangan Erina dan membuat Erina sangat kesal.
"Bisma, kamu mau apalagi? Aku sudah berjanji padamu!" Ucap Erina teramat sangat kesal. Padahal sebelumnya dia masih dikuasai rasa bersalah terhadap pria di depannya itu.
Bisma mengembangkan senyumannya. Bisma terharu Erina mengetahui bahwa masih ada hal yang dia inginkan. Dan ternyata Erina cukup peka terhadapnya.
"Saya ingin kamu makan." Ucap Bisma masih dengan senyuman.
Erina menghela nafas. Dia memilih pasrah dan menuruti keinginan Bisma. Sejak awal Erina tidak bisa menolak Bisma, kecuali Bisma memang sedang pantas mendapatkan penolakan. Dan mulai sekarang Erina harus kembali mengingatnya.
Jangan lupa mendukung karya ini dengan menekan tombol suka dan masukan ke daftar favorit kalian. Teruntuk kalian yang tertarik dengan karya-karya aku, silahkan ikuti aku di mangatoon atau intagram (@light.queensha) Terimakasih ...
Regards:
__ADS_1
©2019, lightqueensa.