
Bisma tersenyum menatap pintu kamar mandi, tidak ada yang lucu dari pintu itu, Bisma hanya terlalu bahagia mengingat perkataan wanita yang ada di dalam sana, Erina sudah berhasil membuat Bisma mabuk oleh kata-kata manisnya.
"Pasangan sempurna?" Gumam Bisma sambil menutup wajah dengan telapak tangan, lalu tertawa pada detik berikutnya. Siapapun yang melihatnya pasti akan berpikir Bisma gila. Karena pria itu bicara dan tertawa sendirian.
Beruntung Bisma sedang berada di dalam kamar, sehingga tidak akan ada orang yang melihat kelakuan gilanya. Sementara Erina sepertinya masih melakukan ritual membersihkan diri, tanpa tahu kelakuan Bisma akibat perkataannya.
Bisma tiba-tiba menurunkan tangan dari wajahnya sambil mendesah, lalu berkata. "Erin juga menyebutku calon ayah, apa aku benar-benar akan memiliki anak?" Entah kepada siapa Bisma bertanya mengingat pria itu sendirian.
Bisma kembali menutup wajahnya dan menjatuhkan dirinya keatas kasur, dia teringat saat malam pertama mereka, Bisma pertama kalinya mendengar wanita mendesah untuknya dan itu membuatnya menjadi pria sesungguhnya.
Dulu, Leo sering mengatai Bisma banci karena tidak berani meniduri wanita, tapi sekarang Bisma malah merasa bangga karena bisa menjaga keperjakaannya untuk wanita dan cinta pertamanya. Bisma sudah benar di masa lalu.
"Bisma?" Suara itu memaksa Bisma untuk kembali menurunkan tangan dari wajahnya, Erina keluar dari kamar mandi dengan rambut yang masih terlihat basah dan Bisma yang melihat wanita itu berusaha bersikap senormal mungkin.
"Sudah selesai?" Tanya Bisma sekedar basa-basi, lalu mengambil posisi duduk dan memperhatikan Erina yang berjalan kearahnya.
"Hm." Jawab Erina, dia menghampiri Bisma dan memberi handuk pada suaminya itu, lalu berkata. "Bisa membantuku mengeringkan rambut?"
Bisma mengedipkan mata beberapa kali, barangkali wanita di depannya itu hanya ilusinya semata. Karena tidak biasanya Erina meminta bantuan untuk mengeringkan rambut.
"Bisma!" Tegur Erina yang melihat Bisma terdiam sambil menatap padanya.
"Y-ya?" Sahut Bisma cepat, dia bisa melihat Erina mengambil kembali handuknya.
"Tidak jadi, aku bisa mengeringkan rambutku sendiri." Ucap Erina, lalu melangkah menjauhi Bisma dan mengeringkan rambutnya sendiri.
Erina merasa sudah melakukan kesalahan dengan meminta bantuan Bisma, lihatlah suaminya itu malah melongo seolah Erina menginginkan gunung untuk di bawa kehadapannya.
"Menyebalkan!" Gerutu Erina dalam hatinya, tidak lama Erina merasakan ada yang mengambil alih handuk dari tangannya.
"Kenapa berubah pikiran? Saya bisa membantu kamu mengeringkan rambut, duduklah!" Ucap Bisma dari belakang tubuh Erina.
Erina berbalik menatap Bisma yang juga sedang menatap padanya, Erina tidak mengatakan apapun, hanya berekspresi sedatar mungkin.
"Tidak usah, aku bisa mengeringkan rambutku sendiri." Erina berniat merebut handuknya, tapi Bisma malah mengangkat handuk itu ke udara.
"Bisma, kembalikan handukku!" Ucap Erina sambil melompat dan berusaha merebut kembali handuknya dari tangan Bisma.
__ADS_1
Sialnya, Erina tetap tidak bisa menjangkau handuk itu, entah Bisma yang ketinggian atau Erina yang kependekan. Erina benar-benar tidak bisa merebut handuk dari tangan Bisma.
"Haish!" Erina mendengus dan akhirnya berhenti berusaha, dia sudah terlalu lelah untuk melompat. "Baiklah, terserah!"
Bisma menahan pinggang Erina saat wanita itu hendak menjauh, dia tersenyum dan mengecup bibir Erina lembut. Demi tuhan, Bisma tidak bermaksud membuat Erina kesal.
Bisma hanya sedang berusaha menebus kebodohannya beberapa menit yang lalu, Bisma tidak berniat mengabaikan Erina yang meminta bantuan padanya. Karena Bisma hanya kurang percaya Erina meminta bantuan darinya.
"Jangan menolak bantuan saya." Ucap Bisma dengan suara berat, lalu menuntun Erina menuju ranjang. Erina sendiri hanya mengikuti Bisma, ciuman tadi membuatnya terhipnotis.
"Duduklah!" Tanpa meminta persetujuan, Bisma mendudukkan Erina di ranjang mereka, lalu mengambil tempat duduk di belakang istrinya itu dan mulai membantu mengeringkan rambut.
"Erin, kamu menyukai stawberry?" Tanya Bisma saat mencium aroma buah stawberry dari rambut Erina. Bukan hanya rambut, Bisma juga sering mencium aroma yang sama pada tubuh Erina.
Bisma sudah lama penasaran mengenai hal yang satu itu, tapi baru sekarang Bisma bertanya kepada Erina. Karena sebelumnya Bisma tidak memiliki keberanian untuk bertanya.
"Tidak juga, Bryan yang menyukai stawberry." Jawab Erina seadanya. Dia tahu darimana sumber pertanyaan Bisma, kebetulan Erina memang baru saja memakai shampo stawberry.
"Oh ..." Bisma mengangguk mengerti, Bryan memang pria beruntung yang membuat wanita seperti Erina menyukai segala hal tentangnya.
"Bisma, kenapa Leo dan Krystal bisa putus?" Tanya Erina berusaha mengalihkan pembicaraan, rasanya kurang nyaman membicarakan Bryan.
"Kenapa bingung? apa mereka putus karena Leo selingkuh?" Tanya Erina mulai penasaran.
"Bagaimana kamu tahu?" Bisma terkejut Erina mengetahui perselingkuhan Leo, sebenarnya wanita seperti apa istrinya itu, Erina berbeda dengan wanita yang selama ini Bisma temui.
Bisma merasa pemikiran Erina luas, bahkan sangat luas sampai Bisma tidak bisa memahami apa yang ada dalam pikiran wanita itu. Hari ini, Erina sudah dua kali benar menebak.
"Insting wanita." Jawab Erina.
"Menurutku, ada beberapa kemungkinan kalau pasangan yang masih saling mencintai berpisah, salah satunya seperti Leo dan Krystal, berpisah karena salah satu dari mereka selingkuh."
Bisma tiba-tiba menghentikan gerakan tangannya yang sedang mengeringkan rambut Erina, dia merasakan sesuatu saat Erina membicarakan perpisahan. Jujur, Bisma masih takut kalau suatu saat nanti Erina meninggalkannya.
"Ah, jaman sekarang perselingkuhan sudah biasa terjadi, bukan karena cinta dan sayang mereka mulai berkurang, mungkin mereka hanya suka singgah di tempat yang berbeda-beda."
Erina menengok kebelakang dan menunjukkan senyumannya kepada Bisma. "Tapi aku yakin kamu tidak begitu, kalian jauh berbeda."
__ADS_1
Erina tidak begitu yakin, hanya berusaha meyakinkan dirinya. Erina sudah memutuskan untuk bertahan mendampingi Bisma, dia tidak ingin keputusannya goyah karena keraguannya.
Bisma menarik sudut bibirnya, lalu kembali mengeringkan rambut Erina dengan posisi mereka yang saling berhadapan. Bisma malah merasa lebih nyaman dengan posisi seperti itu.
"Bagaimana kalau kita membahas hal lain?" Tanya Bisma mengusulkan.
"Aku belum selesai." Jawab Erina menandakan bahwa wanita itu masih ingin membahas tentang Leo dan Krystal, ada beberapa hal yang membuat Erina penasaran terhadap mantan pasangan itu.
Bisma menghela nafas. "Erin, kisah Leo dan Krystal terlalu rumit untuk kita bahas, bagaimana kalau kita membicarakan tentang kapan kamu mengajak saya bertemu ibumu?"
Erina menatap lurus kearah mata Bisma dan berusaha mencerna perkataan suaminya, dari apa yang Erina dengar, Bisma ingin bertemu dengan ibunya, apa Erina tidak salah dengar?
"Kamu sudah meminta restu kepada ibu saya, jadi kapan saya bisa meminta restu ibumu?" Tanya Bisma memperjelas maksudnya, dia ingin pernikahannya segera mendapatkan restu.
Bukan hanya restu dari neneknya, Bisma juga ingin mendapatkan restu dari keluarga Erina, setelah itu baru mereka akan pantas menjadi pasangan yang sempurna di dunia.
"Kamu mau bertemu ibuku?" Tanya Erina memastikan hal itu sekali lagi. Bisma mengangguk mengiyakan.
Sebenarnya Bisma bukan hanya ingin bertemu ibu mertua, dia ingin bertemu seluruh anggota keluarga Erina, tapi mengingat hubungan keluarga Erina yang kata Farhan buruk, Bisma hanya mengatakan ingin bertemu ibu Erina.
"Jadi kapan?" Tanya Bisma masih dengan tangan yang sedang mengeringkan rambut Erina.
"Pukul aku!" Ucap Erina membuat gerakan tangan Bisma terhenti. Erina barusan meminta Bisma memukulnya? Bisma nyaris tidak bisa mempercayai telinganya sendiri!
"Bisma, aku ingin memastikan ini bukan mimpi, tolong pukul aku." Ucap Erina memperjelas.
Alih-alih menuruti keinginan Erina dan memukul istrinya, Bisma malah mengecup mesra bibir wanita itu dan berkata. "Saya tidak mungkin menyakiti calon ibu dari anak-anak saya."
Erina merasa darahnya berdesir mendengar Bisma menyebutnya 'calon ibu', apa mereka akan secepatnya memiliki buah hati? Erina tiba-tiba terbayang bagaimana wajah anak mereka nanti.
××××××××××××××××××××××××××××××××××××××××
Jujur, penulis cerita ini adalah orang yang kaku, menulis momen romantis itu penyiksaan batin. Karena aku selalu bertanya-tanya, apa ini sudah bener? Hhhh.
Jangan lupa like, favorit dan share ceritaku ya ❤
Regards,
__ADS_1
Nur Alquinsha A.