
Erina tersenyum menatap benda kecil di tangannya, dia terlihat bahagia melihat dua garis merah pada benda yang ada di genggamannya itu, akhirnya tuhan mengabulkan salah satu doanya.
"Aku hamil." Gumam Erina dengan mata yang sedikit berair karena terlalu bahagia.
Saat ini, Erina sedang berada di kamar mandi, dia baru saja menyelesaikan ritual membersihkan dirinya, tanpa di sangka test pack yang iseng Erina beli itu memperlihatkan dua garis merah.
"Sayang, aku menunggu di bawah ya?" Ucap Bisma dari balik pintu disertai suara ketukan.
Erina ingin sekali memberitahu Bisma bahwa dirinya hamil, tapi sepertinya sekarang bukan waktu yang tepat, mereka harus menghadiri pesta pertunangan Leo dan Krystal terlebih dahulu.
Sudah satu bulan semenjak Leo berencana melamar Krystal, akhirnya niat baik sekretaris Bisma itu tersampaikan melalui pertunangan yang akan di laksakan di salah satu hotel mewah.
"Sayang, kamu tidak pingsan di dalam kan?" Tanya Bisma karena tidak mendapat sahutan.
Erina mendesah, tidak banyak yang berubah dari perlakuan Bisma padanya, pria itu masih sering menggoda Erina, bahkan Bisma masih suka menggoda Erina dengan cara melebihkan sesuatu.
"Ya, sebentar lagi aku selesai." Sahut Erina pada akhirnya, dia harus bergegas untuk menghadiri pertunangan Leo dan Krystal supaya bisa cepat memberitahu Bisma tentang kehamilannya.
Erina sangat yakin suaminya itu akan senang mengetahui kehamilannya. Karena selama ini Bisma sangat mengharapkan Erina hamil dan kabar baik akhirnya hadir juga diantara mereka.
"Baiklah." Setelah itu terdengar langkah menjauhi kamar, Erina bisa mendengar langkah Bisma karena kebetulan dia tidak sedang menyalakan kran air.
Erina melakukan persiapan secepat mungkin, dia tidak ingin sampai terlambat menghadiri pertunangan Leo dan Krystal, tapi Erina masih berusaha supaya tidak membuat Bisma malu.
Erina keluar kamar setelah memastikan tidak ada yang salah dengan penampilannya, tidak lupa Erina juga membawa benda kecil yang nanti akan wanita itu tunjukkan kepada Bisma di dompetnya.
"Mas?" Tegur Erina ketika menghampiri Bisma dan Bisma hanya terdiam menatap padanya.
"Kenapa menatapku seperti itu? apa aku terlihat aneh?" Ucap Erina mendadak tidak percaya diri.
Bisma tertawa pelan, bisa-bisanya Erina salah paham dengan tatapannya, Bisma sampai terdiam menatap Erina karena mengagumi kecantikan istrinya, Erina terlihat sempurna di mata Bisma.
"Benar aku aneh? kalau begitu aku akan ..."
"Kamu cantik." Ucap Bisma memotong perkataan Erina, lalu menggandeng tangan istrinya itu.
"Kamu terlihat sempurna sampai aku hampir tidak mengenali dirimu." Bisma melanjutkan kalimatnya disertai senyuman yang membuat pria itu terlihat sangat tampan di mata Erina.
Erina tersipu malu mendengarnya, tapi wajah itu hanya bertahan beberapa detik. Karena Erina kembali memasang wajah tanpa ekspresinya. Erina memang paling pandai mengubah raut wajahnya.
"Tidak usah menghiburku." Ucap Erina dengan suara kesal yang dibuat-buat.
"Aku tahu, aku juga mencintaimu, istriku." Ucap Bisma setelah mengecup singkat bibir Erina.
__ADS_1
Erina mendorong tubuh Bisma karenanya. "Kamu memang tidak bisa diajak bicara." Lalu Erina menjalan keluar mansion mendahului Bisma.
"Hey, tunggu!" Teriak Bisma, dia langsung berlari kecil mengejar Erina keluar mansion.
"Erin, kamu benar-benar cantik malam ini." Ucap Bisma sambil berjalan disamping Erina.
Erina menoleh sekilas kepada Bisma yang berjalan di sampingnya dan berkata. "Berarti sebelum malam ini aku selalu jelek, hm?"
"Tidak, kamu selalu terlihat cantik di mataku, hanya saja sekarang kamu terlihat lebih cantik." Ucap Bisma berusaha meluruskan.
Erina menghentikan langkah di depan Bisma dan membuat Bisma ikut menghentikan langkahnya. Erina masih menunjukan wajah tanpa ekspresi yang selama ini selalu menjadi andalannya.
"Kamu belajar merayu dari siapa, sayang?" Tanya Erina dengan sedikit menekankan kata terakhir.
Bisma mendengus, bisa-bisanya Erina menuduh dirinya merayu disaat Bisma berkata jujur. Bisma baru akan membuka mulut untuk menanggapi Erina, tapi Erina mendahuluinya bicara.
"Suamiku, kita bisa terlambat, apa tidak bisa kita pergi sekarang?"
*****
Erina dan Bisma akhirnya tiba di hotel dimana pertunangan Leo dan Krystal berlangsung, mereka sengaja datang lebih cepat dari para tamu undangan. Karena harus memastikan pesta pertunangan Leo dan Krystal berjalan lancar.
Sekarang, Erina dan Bisma sedang berada di dalam lift, kebetulan hanya ada mereka berdua disana dan membuat mulut Erina merasa sedikit gatal ingin memberitahu Bisma tentang kehamilannya. Mungkin sekarang waktunya.
"Mas?" Erina menoleh kepada Bisma yang masih setia menggandeng tangannya.
"Bagaimana kalau aku hamil?" Tanya Erina, dia tidak tahu kenapa kalimat itu yang keluar dari mulutnya, hanya saja kata-kata 'aku hamil' seperti menyangkut di tenggorokannya.
"Kamu hamil?" Bisma memastikan bahwa hal itu yang Erina tanyakan padanya.
"Hm." Gumam Erina disertai anggukan kepala.
"Erin, mas tidak terlalu berharap kamu hamil." Ucap Bisma yang membuat kebahagiaan Erina menghilang seketika.
Tidak. Bukan maksud Bisma tidak mengharapkan kehamilan Erina, pria itu hanya takut Erina merasa terbebani dengan keinginannya memiliki buah hati, tapi Erina tidak berpikir demikian.
Dalam dunia ini, kata adalah permainan paling rumit, kamu mungkin tidak tahu bahwa kata yang terdengar buruk bermaksud baik atau sebaliknya, makanya kamu harus lebih pandai memahami.
"Oo ..." Erina melemparkan senyuman kepada Bisma, namun satu tangannya terkepal kuat menahan emosi dan kekecewaan.
"Tunggu, apa kamu hamil?" Tanya Bisma menyadari ada sesuatu karena Erina tidak biasanya menanyakan itu. Erina tertawa pelan.
"Tidak, aku hanya asal bertanya." Jawab Erina.
__ADS_1
Bisma menyadari ada sesuatu, dia sempat melihat ekspresi kecewa Erina beberapa detik yang lalu, tapi Bisma berusaha meyakinkan dirinya bahwa apa yang di lihatnya tadi salah.
"Bagaimana bisa aku mengatakan aku hamil, kamu saja tidak mengharapkan bayi ini." Lirih Erina dalam hati, namun masih bisa tersenyum.
"Oh, kamu mengagetkanku, aku pikir kamu hamil." Ucap Bisma sambil memasang wajah kesal yang di buat-buat dan hal itu kembali membuat Erina salah paham padanya.
Bertepatan dengan itu lift berbunyi menandakan mereka sudah sampai di lantai tujuan, lantai tempat Leo dan Krystal akan bertunangan, Bisma menggandeng Erina keluar saat pintu lift terbuka.
"Mas, menurutmu apa ada toilet disekitar tempat ini?" Tanya Erina tiba-tiba menghentikan langkahnya dan membuat langkah Bisma ikut terhenti tidak jauh dari lift berada.
"Tidak jauh dari sini ada toilet, kenapa? kamu mau pergi ke toilet?" Bisma balik bertanya. Tentu saja Bisma sangat tahu setiap tempat di hotel karena hotel itu merupakan salah satu miliknya.
"Hm." Gumam Erina menjawab Bisma.
"Mau aku antar?" Tanya Bisma disertai senyuman di wajahnya. Tidak ada yang berubah dari sikap Bisma kepada Erina, tapi entah kenapa Erina merasa ada sesuatu yang berbeda.
Erina menggeleng cepat. "Mas tunjukkan saja dimana toiletnya, aku akan pergi sendiri."
"Oh, kamu tinggal lurus, nanti di samping kanan ada ruangan bertuliskan toilet." Ucap Bisma memberitahu letak toiletnya.
"Baiklah, mas pergi duluan, aku akan menyusul." Erina berniat melangkah menuju toilet, tapi tangan Bisma dengan cepat menahan tangannya.
"Kamu yakin mau pergi sendiri?" Tanya Bisma memastikan, dia takut Erina tidak bisa menemukannya di tempat pesta nanti.
"Mas, aku bukan anak kecil, aku bisa pergi sendiri." Jawab Erina meyakinkan.
Setelah itu, Bisma hanya bisa menatap punggung Erina, wanita itu pergi begitu saja meninggalkan Bisma. Langkah Erina terlihat berat karena teringat dengan pembicaraan mereka di lift.
Erina berpikir Bisma sudah mulai bosan padanya, itu sebabnya Bisma sekarang mengatakan tidak mengharapkan kehamilannya. Dan hal itu benar-benar menyakiti hati Erina.
Bisma tidak beranjak sedikit pun dari tempatnya berdiri saat ini, dia memutuskan untuk menunggu Erina disana. Bisma tidak ingin nanti Erina sampai kesulitan menemukan dirinya.
"Bisma, dimana istrimu?" Tanya nenek Sekar yang entah sejak kapan berada disana.
"Erin pergi ke toilet, nek." Jawab Bisma, hubungan cucu dan nenek itu memang sudah membaik.
"Sebaiknya kamu menyusul dia, nenek khawatir istrimu dalam bahaya."
××××××××××××××××××××××××××××××××××
"Satu-satunya hal yang membuat pernikahan bermasalah adalah hatimu. Percayalah ..." (Author)
Jangan lupa dukung cerita ini dengan cara: like, favorit dan share. Thanks ❤
__ADS_1
Regards,
Nur Alquinsha A.