Ikatan Tanpa Cinta

Ikatan Tanpa Cinta
ITC #74


__ADS_3

Erina dan Bisma memutuskan kembali ke mansion. Ah ralat, Erina yang memaksa ingin pulang meskipun Bisma sudah membujuk supaya Erina tetap di rumah sakit selama beberapa hari.


"Mas, jangan marah, tolong jangan mendiamiku seperti ini, aku ..." Erina berhenti bicara ketika Bisma tiba-tiba menghentikan langkahnya sehingga Erina menabrak dada bidang pria itu.


"Kamu tahu aku marah, tapi kenapa kamu tetap keras kepala? kenapa kamu tidak menurut? kamu tahu kalau aku memintamu di rawat untuk kebaikan kamu sendiri?" Tanya Bisma beruntun.


"Hey, kenapa kamu tersenyum?" Protes Bisma ketika melihat istrinya tersenyum, tidak seperti wanita lain yang kebanyakan menangis saat di marahi suami, Erina malah terlihat senang.


"Mas tahu, ini pertama kalinya mas marah?" Tanya Erina masih dengan senyuman di bibirnya.


Bisma mendengus. "Jadi kamu senang melihat aku marah, hm?" sambil menekan kedua pipi tembem Erina dengan tangannya, lalu Bisma memberi kecupan pada bibir wanita itu.


Erina mengangguk polos karena tangan Bisma membuatnya sulit untuk bicara, dia memang senang melihat Bisma marah karena dengan begitu mereka bisa saling terbuka satu sama lain.


Erina sadar kalau Bisma lebih sering memendam amarahnya dan itu membuat Erina merasa bersalah. Karena Erina malah lebih sering mencurigai Bisma dan membuat pria itu kecewa.


"Kamu akan sering melihat aku marah kalau terus keras kepala, aku tidak meminta apapun darimu, aku hanya ingin kamu tetap berada disampingku dan lebih memperhatikan kesehatanmu."


Erina menghela nafas kemudian menurunkan tangan Bisma dari wajahnya.


"Mas ..." Erina menunjuk sesuatu dengan matanya atau lebih tepatnya Erina memberitahu Bisma bahwa para maid sedang memperhatikan mereka berdua. Bisma mengikuti arah pandangan Erina.


"Oh, ada apa?" Tanya Bisma kepada para maid. Seolah mengerti bahwa Bisma sedang mengintruksi supaya para maid pergi, keempat maid itu akhirnya memutuskan untuk pamit.


"Maaf tuan, kami permisi, kalau ada sesuatu yang anda atau nyonya Erin butuhkan, anda bisa memanggil kami." Ucap Siti mewakili dan bergegas pergi bersama ketiga maid lainnya.


"Mereka benar-benar mengganggu kita." Gumam Bisma mencibir para maid karena mereka sudah datang pada waktu yang kurang tepat, lalu Bisma kembali menatap Erina dengan mata teduhnya.


"Jadi, apa kamu akan terus membuat aku marah karena kamu senang melihatnya?" Tanya Bisma ketika Erina baru akan membuka mulutnya.


"Tentu saja tidak karena aku lebih suka melihat mas tersenyum." Jawab Erina sambil tersenyum, lalu mengalihkan dengan hal lain. "Mas belum sempat sarapan kan? bagaimana kalau ..."


"Kamu memang tidak mendengarkan apa yang aku katakan padamu." Ucap Bisma memotong perkataan Erina dengan suara melirih, lalu pria itu sedikit menunduk dan menggendong Erina.

__ADS_1


Bisma hampir saja tersipu karena Erina mengatakan lebih suka melihatnya tersenyum, tapi perkataan Erina selanjutnya membuat Bisma kembali kesal, Erina berniat membuat makanan?


Erina hanya diam ketika Bisma mengangkat tubuhnya, dia tidak ingin membuat kesalah lain dengan menolak untuk digendong oleh suaminya itu, lagipula Erina juga merasa pusing.


"Tidak ada yang perlu kamu lakukan selain istirahat, lagipula buat apa aku membayar orang kalau aku masih mengandalkan istriku yang sedang sakit untuk mengurusku?" Oceh Bisma.


Erina buru-buru menutup mulut Bisma dengan telapak tangannya dan satu tangan yang melingkar pada leher suaminya itu. Karena barusan Bisma tidak bisa mengontrol suaranya.


"Terimakasih sudah khawatir padaku." Ucap Erina lalu mengecup pipi kiri Bisma dan menyandarkan kepalanya pada dada bidang pria itu. "Tapi tidak bisakah mas bicara lebih pelan?" Tanyanya.


"Kamu yang memancingku bicara nada tinggi, sayang." Jawab Bisma ketika tangan Erina sudah turun dari mulutnya, perlahan Bisma mulai melangkahkan kakinya menuju kamar mereka.


"Aku minta maaf, aku berjanji tidak akan mengulanginya, mulai sekarang aku akan lebih menurutimu." Ucap Erina sambil mengeratkan tangannya yang melingkar pada leher Bisma.


"Bagus, aku harap kamu menepati janjimu atau aku akan membuat kamu menyesal nantinya." Bisma tidak bermaksud mengancam, dia hanya menegaskan kalau dirinya akan lebih keras.


"Hm, baiklah." Sahut Erina singkat, setelahnya mereka terdiam dalam pikiran masing-masing.


Tapi, Erina tidak mungkin membiarkan pernikahan mereka berakhir menyedihkan setelah begitu banyak hal yang Bisma lakukan dan Erina masih belum melakukan apapun untuk pria itu.


Erina memilih untuk tetap berada disamping suaminya sampai Bisma sendiri yang menyuruhnya pergi. Erina akan melakukan itu untuk membayar kesalahannya terhadap Bisma.


Kalau nanti Bisma benar-benar menyuruh Erina pergi, Erina berjanji akan meninggalkan Bisma dengan suka rela dan menganggap perpisahan mereka sebagai kesalahan dirinya sendiri.


Sementara Bisma, pria itu merasa bahwa Erina berusaha menyembunyikan kesedihan sekaligus rasa bersalahnya. Erina mungkin berpikir Bisma akan meninggalkannya, makanya Erina berubah.


"Erin, aku mandi sebentar, oke?" Ucap Bisma setelah membaringkan Erina di kasur, tidak terasa mereka akhirnya tiba di dalam kamar.


"Hm, Iya." Erina mengangguk pelan dan melemparkan senyuman kepada Bisma.


"Kamu benar-benar berubah menjadi penurut." Ucap Bisma sambil mengusap puncak kepala Erina, lalu tidak lama Bisma mendesah pelan.


"Sebenarnya kamu istri baik dan penurut, kamu hanya keras kepala untuk beberapa hal, tapi kebanyakan hal itu yang tidak aku sukai." Bisma meluruskan kalimat sebelumnya tentang Erina.

__ADS_1


Erina hanya tersenyum simpul. "Mas, bisakah kita bicara sebentar sebelum kamu pergi mandi?"


"Baiklah, apa yang ingin kamu bicarakan?" Tanya Bisma lalu duduk di tepi ranjang tempat Erina berbaring dan menunggu istrinya itu bicara.


"Mas, apa kamu berpikir Gisella yang menyebabkan aku jatuh dari tangga?" Tanya Erina teringat ketika Bisma berniat menemui Gisella.


"Gisella mengirim pesan ancaman kepada nenek sebelum aku menemukan kamu sudah jatuh dari tangga." Ucap Bisma yang secara tidak langsung menjawab pertanyaan Erina barusan.


"Bukan Gisella." Ucap Erina tiba-tiba dan membuat Bisma bingung, masalahnya Bisma tidak mengerti arah pembicaraan Erina.


"Maksud kamu?" Tanya Bisma mengutarakan apa yang menjadi pertanyaannya saat ini. Erina mengambil nafas sebelum kembali bicara.


"Bukan Gisella yang mendorongku." Jawab Erina memperjelas, padahal mereka tidak pernah membahas tentang kecelakaan yang Erina alami.


"Mas, aku terjatuh gara-gara seorang pria, aku tidak mengenal siapa pria itu, tapi dia sengaja datang untuk membunuhku." Ungkap Erina.


Bisma mengepalkan tangan, mendengar apa yang Erina katakan barusan membuatnya emosi. "Aku akan membuat Gisell menyesal, berani sekali jalang itu mengirim orang untuk membunuhmu."


Erina baru pertama kalinya melihat Bisma marah, bahkan suami Erina itu mengumpat dan mengucapkan kata-kata kasar. Erina saja sampai merasa takut melihat kemarahan Bisma.


"Mas, kamu yakin Gisell pelakunya? bagaimana kalau bukan?" Tanya Erina, entah kenapa Erina tidak bisa percaya kalau Gisella pelaku utamanya.


Bisma menghela nafasnya sejenak sebelum bicara. "Sayang, kamu tidak perlu memikirkan apapun, sebaiknya sekarang kamu istirahat."


"Tapi ..."


"Mas tidak akan membiarkan pria itu menyakiti kamu lagi, istirahatlah." Bisma menyela sambil menutupi sebagian tubuh Erina dengan selimut.


"Baiklah." Putus Erina meski setengah hati. Karena sebenarnya Erina masih ingin mengatakan beberapa hal kepada Bisma.


Bisma tersenyum, lalu pria itu mengecup lama kening Erina. "Kamu bisa mengatakan padaku kalau kepalamu sakit dan jangan sampai kamu menyembunyikan rasa sakitmu, mengerti?"


Erina merasa Bisma berubah menjadi bawel.

__ADS_1


__ADS_2