
Erina dan Bisma tiba di Jakarta sekitar jam 03:45 sore, mereka menunggu Leo datang menjemput sambil makan di cafe dekat bandara. Dan selama makan di cafe atau mungkin lebih lama dari itu, Erina dan Bisma saling terdiam.
Erina sudah sering menunjukkan tubuh polosnya ketika mereka sedang menghabiskan malam bersama, tapi Erina tidak pernah merasa semalu ini sebelumnya, mungkin karena biasanya Bisma yang membuka pakaian Erina.
Well, Erina malu karena handuknya terlepas saat Bisma sedang menatap padanya. Bagaimana bisa itu terjadi? Erina saja tidak ingin mengingatnya, hal itu sangat memalukan sehingga Erina menjadi lebih pendiam.
Sementara Bisma diam karena Erina sulit diajak bicara, dia sudah berusaha bersikap biasa sampai mengajak Erina bicara ketika mereka masih berada di pesawat, tapi Erina seperti enggan untuk bicara dengan suaminya.
"Selamat siang menjelang sore, nona Erin." Suara itu menginterupsi keheningan yang terjadi, Erina dan Bisma menoleh kearah sumber suara.
Leo menghampiri dengan senyuman yang membuat orang lain salah paham. Pasalnya sekretaris Bisma itu hanya menyapa Erina, sementara keberadaan Bisma malah terabaikan.
"Saya yang menyuruh kamu datang kesini, Leo!" Ucap Bisma. Dia merasa Leo memang serius menyukai Erina. Dan hal itu membuatnya tidak senang.
Leo menarik nafas dan menatap Bisma yang sedang menatap dingin padanya. Dan Erina hanya memperhatikan mereka berdua tanpa ingin membalas sapaan Leo, dia sedang merenungi rasa malunya terhadap Bisma.
"Selamat sore menjelang siang, tuan Bisma ..."
"Telat!" Sahut Bisma tanpa membalas perkataan Leo, lalu beranjak dari tempat duduknya dan mendekati Leo.
"Aku akan membayar makanan, kamu jangan berani macam-macam." Bisik Bisma kepada Leo.
"Aku tidak akan macam-macam pada istrimu, kamu tenang saja." Jawab Leo santai. Bisma menoyor kepala Leo karena suara kerasnya.
Bisma sengaja berbisik agar Erina tidak mendengarnya, tapi Leo malah bicara keras dan membuat Bisma merasa Leo sedang berusaha membuatnya malu.
"Yak!" Leo hendak memprotes, tapi Bisma sudah lebih dulu pergi dan hal itu membuat Leo berdecak. Bisma sudah sangat biasa bersikap semaunya.
Erina yang melihat Bisma pergi merasa memiliki kesempatan untuk mencari informasi mengenai hubungan Bisma dan Gisella. Dan Erina tidak perlu terus diam karena merasa malu.
"Leo, boleh aku bertanya sesuatu padamu?" Tanya Erina mengalihkan perhatian Leo, sekretaris Bisma itu menatap pada Erina sambil menunjuk dirinya sendiri.
"Ya, kamu! Meskipun pria bernama Leo di dunia ini banyak, tapi Leo yang aku kenali disini hanya kamu!" Jawab Erina dengan muka datar dan serius.
Leo meringis pelan dan menarik nafas sebelum bicara.
"Baiklah, nona Erin. Apa yang ingin anda tanyakan?" Tanya Leo sopan.
__ADS_1
"Aku tidak mau basa-basi, apa benar waktu itu Bisma menemuimu?" Tanya Erina. Pria di depannya terlihat diam seperti memikirkan sesuatu.
"Sebelum gosip mengenai Bisma dan Gisella menyebar, apa kalian sempat bertemu?" Tanya Erina memperjelas.
Leo langsung tahu arah pembicaraan Erina. Sepertinya dugaan Leo benar, Bisma dan Erina pulang cepat karena suatu masalah. Dan Gisella menjadi alasan dibalik masalah itu.
"Benar, saya dan pak Bisma bertemu waktu itu. Nona Erin, anda masih tidak mempercayai pak Bisma?" Tebak Leo.
"Leo, lebih baik kamu duduk, aku merasa kurang nyaman kalau kamu berdiri." Ucap Erina tanpa menjawab pertanyaan Leo.
Leo hanya menurut dan duduk di depan Erina. Dia juga merasa pegal kalau harus terus berdiri.
"Jadi anda masih curiga pak Bisma dan Gisella memiliki hubungan?" Tanya Leo begitu penasaran.
"Tidak, bukan begitu. Hanya saja ... aku kurang yakin mereka tidak memiliki hubungan." Jawab Erina pelan.
Masalahnya, Erina merasa harus lebih menjaga perkataan saat bicara dengan Leo karena tidak ingin Bisma sampai tahu bahwa dirinya masih curiga.
Leo menghela nafas. "Memang apa bedanya curiga, kurang yakin dan tidak percaya?" Pikirnya.
"Leo, aku tahu kalian bersahabat, tapi bisakah kamu memberitahu kebenaran tentang hubungan mereka? Dan apa kamu bisa menganggap aku sebagai seorang adik yang meminta arahan?"
"Jika saya mengatakan hubungan pak Bisma dan Gisella hanya sebatas orang asing, apa anda percaya?" Tanya Leo.
Erina tertegun dan tidak bisa berkata apapun karena perkataan Leo barusan terdengar ambigu di telinganya.
"Nona Erin, saya tidak tahu bagaimana kisah cinta anda di masa lalu, tapi pak Bisma berbeda dengan orang yang ada di masa lalu anda. Dan seharusnya anda bersyukur bisa menjadi wanita pertama bagi bos saya."
Leo mengira Erina memiliki masa lalu yang buruk dengan mantan kekasihnya sehingga berkata demikian. Sementara Erina masih membisu. Dan tanpa keduanya sadari, Bisma mendengar apa yang barusan mereka bicarakan.
Sepuluh menit berlalu tanpa saling bicara, Bisma tiba-tiba berdiri di samping Leo dengan tangan yang menutup wajah sekretarisnya agar berhenti menatap Erina. Dia bersikap seolah tidak tahu apapun.
"Leo, siapa yang mengijinkan kamu menatap istri saya?" Tanya Bisma dengan mata yang tertuju pada Erina.
Sementara dalam hati Bisma berkata. "Leo, aku tidak pernah mengijinkan kamu berkata kasar kepada Erina."
Erina menatap Bisma sendu. Dia tidak sedih Leo menyinggung masa lalunya karena yang Erina ingat malah Ayahnya. Dan bagaimana bisa Erina membandingkan Ayahnya dengan pria sebaik dan selembut Bisma.
__ADS_1
"Erin, apa Leo sudah mengganggu kamu?" Tanya Bisma beralih kepada istrinya saat mengetahui Leo akan membuka mulutnya.
"Tidak! Bisma, bisa kita pergi ke rumah Soraya sekarang?" Erina sengaja mengalihkan karena tidak ingin Leo sampai mengadu kepada Bisma.
"Nona Erin, kamu berniat kabur dari rumah lagi?" Tanya Leo menyambar. Bisma langsung membungkam mulut sekretarisnya itu dengan tangan.
"Lebih baik kamu menutup mulutmu!" Titah Bisma tanpa peduli tatapan aneh orang-orang.
Leo berdumel dalam hati. "Tanganmu sudah menutup mulutku, lalu bagaimana aku akan menutupinya?"
"Erin, sebaiknya kamu pergi ke mobil duluan." Ucap Bisma beralih kepada Erina yang sedang memandanginya.
"Hm, baiklah." Sahut Erina kemudian beranjak dan pergi. Dia juga tidak ingin terlalu lama berada disana. Meskipun sebenarnya Erina sedikit khawatir tentang Leo dan mulut pria itu.
"Bisma, istrimu sudah pergi jadi lepaskan tanganmu, lagipula aku juga tadi tidak berniat menatap istrimu!" Ucap Leo kesal pasalnya tangan Bisma hampir menutupi seluruh wajahnya.
Bisma memutar mata dan menurunkan kedua tangannya.
"Leo, lain kali jangan bicara kasar kepada istriku." Ucap Bisma sambi menatap serius Leo.
Ya, memang itu alasan Bisma meminta Erina duluan. Bisma ingin menegaskan kepada Leo bahwa sekretarisnya itu tidak berhak menyinggung Erina.
Leo berdecak. "Jadi kamu mendengar apa yang aku katakan kepada istrimu?" Tebaknya dan menatap berani Bisma.
"Aku tidak akan berkata begitu kalau--"
"Aku tidak peduli apapun alasan kamu, tidak ada yang boleh menyakiti Erina." Ucap Bisma memotong perkataan Leo.
"Erina mencurigaimu, dia--"
"Aku tahu, aku mendengar semua yang kalian bicarakan, dan terimakasih sudah membelaku, tapi lain kali kamu harus lebih menjaga perasaan Erin, kita tidak pernah tahu bagaimana kehidupan Erin di masa lalu." Bisma kembali memotong perkataan Leo.
Sementara Erina sedang menunggu mereka di luar cafe karena tidak tahu dimana Leo memarkirkan mobilnya. Dan yang paling penting ... Erina tidak tahu mobil Leo. Dia keluar hanya karena Bisma memintanya.
Jangan lupa mendukung karya ini dengan menekan tombol suka dan masukan ke daftar favorit kalian. Teruntuk kalian yang tertarik dengan karya-karya aku, silahkan ikuti aku di mangatoon atau intagram (@light.queensha) Terimakasih ...
__ADS_1
Regards:
©2019, lightqueensa.