
Al dibawa ke rumah Bharada Jefry di perumahan Bumi Patra Pertamina. Rumah sederhana dengan konsep modern minimalis berukuran 7x12 meter.
Bharada Jefry membawa Al dengan motor Yabohai R13 berwarna hitam dengan strip aksen merah.
Tentu saja Al sangat senang. Baginya menaiki motor dari pabrikan asal negeri matahari terbit tersebut merupakan sebuah impiannya sejak kecil.
"Pak, anda baik sekali. Padahal jujur, aku sering mengira bahwa polisi itu maaf, buruk," kata Al mengutarakan isi hatinya sambil turun dari motor tersebut.
Bharada Jefry turun dan membalas perkataan Al, "Ya seharusnya manusia itu belajar menjadi manusia yang baik. Aku juga masih jauh dari kata baik. Tapi tak semua polisi punya citra buruk dan citra baik. Intinya kita harus bersikap baik dan waspada saja."
"Maaf, pak. Motor bapak jadi kotor, biar nanti aku cuci." Al menangkupkan tangan dan merasa tidak enak karena tubuhnya yang banyak lumpur, motor Bharada Jefry jadi kotor dan bau.
"Tidak masalah, yang penting kamu mandi saja dahulu. Aku akan siapkan makanan untukmu."
Setelah mengatakan hal tersebut dengan mengulas senyum ramah, Bharada Jefry menuntun Al ke kamar mandi tamu untuk membersihkan diri dan mengambilkan pakaian miliknya di kamarnya untuk Al.
Bharada Jefry kembali ke kamar mandi tamu yang berada di ruang tamu, dan mengetuk pintu, "Ini bajumu untukmu mas ...."
"Vectorio Alzinsky, panggil saja Al, pak!" sahut Al dari dalam kamar mandi dan sedang membilas kepalanya.
"Vectorio Alzinsky," gumam Bharada Jefry sambil mengelus dagunya dan tangan kirinya menaruh kaos serta celana training di meja di samping pintu kamar mandi.
"Apakah ia dukun yang berinisial 'V.A' tersebut? Dari huruf awalnya sangat cocok 100%. Tapi pemuda ini sangat tidak cocok menjadi dukun dan lagi masih muda banget. Atau ...." sambungnya dengan tersenyum lebar, sebab menemukan sedikit titik terang mengenai siapa orang yang menaruh mayat Endang di depan lobi Polres Indramayu.
Al sudah membersihkan diri dan berganti pakaian, ia tidak mungkin mengeluarkan pakaian yang ia bawa dari dalam kantong plastik ajaib. Bisa-bisa Bharada Jefry curiga.
Padahal bagi seorang Sramana seperti Bharada jefry yang berada ditahap Kharisma Alit itu sudah biasa melihat para Sramana menggunakan Ajian Lempit Sayuta.
Yakni ajian yang bisa menyimpan benda ke ruang dimensi, semakin besar TM yang digunakan semakin besar pula ruang penyimpanan dimensinya.
Bharada Jefry yang seorang Sramana tentu bisa melakukannya, tapi bukan untuk dipertontonkan secara umum.
"Mari makan!" ajak Bharada Jefry ke meja makan di ruang makan yang berukuran 3x4 meter plus dapur.
Al dan Jefry duduk berhadapan, tatapan mata Jefry seperti seorang interogator yang siap melancarkan pertanyaan padda Al, raut muka serius dengan tatapan mata yang tajam seperti manik mata elang membidik mangsanya.
"Nama kamu Vectorio Alzinsky?"
Al lansgung menunduk ketakutan, "Ya, pak."
__ADS_1
'Aduh, jangan-jangan aku akan ditangkap karena paman rambut putih menaruh mayat itu di depan lobi.'
"Aku hanya ingin bertanya, kenapa mas ada disana tiba-tiba?" tanya lagi.
"Itu, anu pak ---"
"Apa ada khodam yang membantumu memecahkan masalah mayat yang selama 15 tahun tak bisa ditemukan oleh Sramana tingkat tinggi pun?" potong Bharada Jefry langsung ke intinya dan tak mau bertele-tele.
"Sramana? Maksud bapak?" Al menyipitkan mata dengan istilah tersebut.
"Baiklah, aku akan menceritakannya." Dengan menopang dagu di kedua tautan tangan, Bharada Jefry mulai bercerita.
......................
...Istana Kurusetra....
10.000 tahun yang lalu.
Kaisar Wijaya Kusuma baru saja menikahi anak seorang saaudagar kaya bernama Wulandari menjadi istri keduanya.
Pernikahan dengan istri pertamanya bernama Assmarini hanya berselang satu bulan.
Apalagi Kaisar Wijaya Kusuma memiliki wajah yang ssangat tampan. Nyatanya bukan hanya dua wanita yang menyukainya, tapi ribuan wanita.
Tapi ia punya prinsip hanya ingin menikahi maksimal dua wanita.
Hingga disaat matahari tepat di atas ubun-ubun terjadi insiden yang diluar nalar.
"Aaakh, sakit kang mas." Wulandari memegangi perutnya, tepatnya bagian ovarium.
"Kenapa dinda?" tanya Kaisar Wijaya cemas.
"Entah kanda, sakit sekali rasanya di bagian ini, aaaakh!" Kaisar Wijaya segera menggendong Wulandari ala bridal style ke kamarnya untuk segera diobati.
Kaisar Wijaya segera membuat pil pereda nyeri dan menelankannya ke mulut Wulandari. Rasa sakitnya hilang, namun mata Wulandari berubah dengan manik mata berwarna emas.
"Jangan kemari! Jangan kemari!" Wulandari ketakutan dan beringsut mundur, matanya dapat menangkap makhluk halus yang di sekitar kamarnya.
Kaisar Wijaya menyipitkan mata melihat kondisi Wulandari yang tiba-tiba menjadi aneh dan ketakutan.
__ADS_1
"Sayang, tenanglah. Ada aku disini." Kaisar Wijaya mencoba memeluk Wulandari untuk menenangkannya.
Tapi didorong agar jangan mendekati Wulandari, "Pergilah iblis, pergi! Jangan mendekat! Kau iblis!"
"Ada apa kanda?" Assmarini masuk ke dalam kamar Wuandari dengan tergesa-gesa.
Meski berbagi cinta dengan Wulandari, tapi Asmarini sama sekali tidak cemburu dan menganggap Wulandari adalah adiknya, malah seperti adik kandung.
Assmarini langsung memeluk Wulandari dan tak menolaknya, malah langsung memeluk Asmarini balik.
"Sepertinya masalahnya adalah aku," gumam Kaisar Wijaya menepuk jidatnya sendiri lalu keluar dari kamar Wulandari.
Setelah melewati pintu kamar Wulandari, langkah kakinya terhenti, ia merasakan energi asing berada di dalam tubuh Wulandari.
Kaisar Wijaya mencoba memundurkan langkah untuk mendekati kamar Wulandari, tetapi ia tak merasakan energi asing tersebut. Kaisar Wijaya mencoba berjalan perlahan ke depan dan merasakan energi asing tersebut.
"Tunggu, kenapa jika ada di dekatnya aku tidak merasakannya? Tapi ketika aku agak jauh merasakannya."
Sambil bergumam kaisar Wijaya melangkahkan kakinya untuk menjauh dari kamar Wulandari.
Benar saja, semakin lama semakin kuat getaran energi yang berada di dalam wadah energi Wulandari.
Bukan hanya itu, ia merasakan istana Kurusetra sekarang dipenuhi banyak makhluk yang tak kasat mata.
'Apa yang sebenarnya terjadi, apakah ada hal yang mengundang mereka semua datang kemari. Tapi itu apa?' pikir kaisar Wijaya dalam batinnya.
Di luar istana, tepatnya pintu gerbang istana yang dijaga banyak penjaga, seorang perempuan berjubah hitam dan kepalanya tertutup tudung hitam, matanya berkeliling sambil komat-kamit membaca mantra ajian jagat semesta.
Yakni ajian yang mengumpulkan seluruh energi pada satu wadah energi dan membutuhkan media wadah energi atau kundalini seorang wanita yang masih suci juga sakti mandraguna..
Kasarnya, wanita ini sedang mengirimkan santet ke perut Wulandari yang dijadikan sebaga tampungan energi.
Tetapi, semua jenis energi, baik energi positif dan energi negatif, juga energi alam, energi metafisika serta energi chakra itu akan dibenturkan ke dalam wadah energi milik Wulandari.
Di dalam perut Wulandari atau tepatnya wadah energinya terkumpul lima jenis energi. Jika dibiarkan, Wadah energi Wulandari akan meledak dan bisa menghancurkan semua orang.
Wulandari akan menjajdi bom atom berjalan yang bisa meledak kapan pun dan dimana pun jika salah penanganan.
"Baguslah, aku tingal menunggu waktu, agar kalian semua mati bersama beserta rakyat yang kau cintai Wijaya Kusuma," gumam Soka Citrandala dengan tersenyum licik.
__ADS_1