
…
Malam hari pukul 19.00, Desa Plosokerep.
Darmin yang sedang asyik menikmati secangkir kopi bersama Sujana dan Raswa. Tiba-tiba dikejutkan oleh suara motor yang berhenti di pos ronda.
“Ini mas bayarnya,” ucap sosok pemuda yang bonceng di belakang tukang oejk dengan memberikan uang pecahan 100.000.
“Tapi mas ga ada kembalian,” sergah tukang ojek mengembalikan uang 100.000 tersebut ke arah sosok pemuda yang memakai sweater hitam yang menutupi bagian kepalanya.
“Sudah, buat mas saja. Anggap saja itu rizki untuk anak dan istri mas.”
Sosok pemuda tersebut langsung membalikan badan setelah mengucapkan hal tersebut ke tukang ojek.
“Ko, kamu pulang dari Jakarta?” tanya Darmin yang tiba-tiba berdiri dan mendekati sosok pemuda tersebut.
Padahal Sujana dan Raswa tidak bisa melihat wajah pemuda yang baru saja turun dari motor tersebut. Sebab penerangan lampunya kurang memadai alias lampunya rusak.
Riko yang ingin segera pulang ke rumahnya yang berjarak 10 rumah dari jalan raya tersebut terpaksa membuka penutup kepalanya, “Eh, ya min. Bagaimana kabarnya min?”
Riko tersenyum kecut tapi mukanya sedikit kurang senang pada Darmin, Sujana, dan Raswa. Sebab ia merasa sudah sukses di jakarta walau hanya menjadi bos pemulung.
Sedangkan mereka bertiga sudah 1 tahun lebih masih menganggur dan belum mendapatkan pekerjaan lagi. Riko menganggap mereka sudah masa depan suram.
Agar tidak dicap sombong, Riko memberikan bungkusan yang berisi 2 ikat rambutan pada Darmin, “Min, maaf ya. Aku tidak bisa menemani kalian nongkrong. Ini ada buah tangan dari Jakarta.”
“Terima kasih, Ko. Istirahatlah, masalah nongkrong gampang bisa lain kali.”
Dengan tersenyum lebar Darmin menerima plastik hitam besar berisikan dua ikat rambutan.
Setelah Riko pergi, mereka bertiga sambil di pos ronda asyik ngobrol kesana kemari sambil menyeruput kopi ditemani rambutan.
“MIn, kok hari ini gak ada kejadian ya min. Padahal ini sudah jam 1 pagi. Biasanya 7 hari kemarin kejadian selalu dipukul 23.00.”
Sujana mulai berbicara ke arah mistis tentang kejadian penemuan para remaja yang nasibnya hampir sama seperti Muna dan Arizal.
Mereka boncengan, menaiki motor dengan tipe yang sama seperti yang dinaiki Arizal dan Muna. Jam kejadiannya pun sama di jam 23.00, namun belum ada penyelidikan lebih lanjut tentang penyebabnya apa. Tapi akibatnya sama, mereka koma seperti Arizal dan Muna setelah merasakan melindas sesuatu.
Anehnya posisi jatuhnya pun sama dari 7 kejadian termasuk Arizal dan Muna, mereka jatuh miring ke kiri.
“Ah, paling si jurig sudah bosan kali main-mainnya. Masa satu minggu mainnya gitu-gitu saja. Kalau aku setannya ya mainnya lain laggi lah,” celetuk raswa sambil menyeruput kopi yang sudah dingin dan sudah 3 gelas ia habiskan.
“Huh … dasar maruk!” Sujana yang kesal atas celetukan Raswa menoyor dahinya dan melanjutkan, “Memang setan atau jurignya kaya kamu.”
“Ya kali.” Raswa kesal dengan menyebikan bibir.
“Aduh bro, perutku lapar nih. Kita nyari makan yuk!” ajak Darmin sambil mengelus-elus perutnya yang berbunyi keras.
“Ah, dasar perut karet! Makan rambutan satu ikat masa belum kenyang juga.” raswa melampiaskan kekesalan pada Sujana dengan menepuk perut Darmin cukup keras.
“Aw, sialan kau Raswa Gorila Sugriwa!” pekik Darmin.
“Bagaimana kalau kita mancing saja? Tenang aku ada pancing.” Raswa memberikan usul denganmenepuk daada bagian kiri.
Lalu pergi mengambil tiga pancing yang terbuat dari bambu yang sudah dibentuk menjadi pancingan di rumahnya yang berada hanya di belakang pos ronda.
“Memang hebat kawan kita ini euy.” Darmin langsung tersenyum lebar mengacungkan dua jempol ke arah Raswa yang sudah membawa tiga pancingan.
Mereka pun pergi ke arah sungai yang terhubung ke jembatan Saradan yang berada di selatan Desa Plosokerep.
Mereka sama sekali tidak mengkhawatirkan jika harus bertemu demit atau jurig. Sebab sungai itu masih dekat dengan rumah penduduk di bagian selatan desa.
Mereka pun pergi menuju sungai di bagian selatan Desa Plosokerep membawa satu pancingan masing-masing.
__ADS_1
Perut lapar pun mereka tahan demi mendapatkan ikan yang banyak di malam hari.
Saat akan sampai ke bibir sungai yang berdekatan dengan rumah terakhir salah satu warga. Merek bertiga mendengar sebuah d******, mereka terdiam sesaat di di samping rumah tersebut.
“Min! Min! Ini lagi indehoy min. Sudahlah jangan diurusi,” lirih Sujana pada telinga Darmin.
namun pendengaran Darmin berbeda bukan sebuah d******, tapi kalimat tolong yang sangat melengking.
“Bukan goblok, dia meminta tolong. Lebih baik kita dobrak pintunya,” balas darmin lirih.
takutnya sedang terjadi tindakan kejahatan. jadi Darmin berpikir untuk melakukan dengan pelan agar tak membahayakan si korban yang berada di dalam rumahnya.
“Goblok kau min. Dia lagi indehoy, lihat si otong aku dan si Wawa juga sudah tegang.”
Sujana dan Raswa memperlihatkan bagian vital mereka ke arah Darmin dan sudah tegang seperti rokok cerutu yang cukup panjang menembus lapisan tipis sarungnya.
Darmin tak peduli, yang jelas ia dengar adalah suara orang minta tolong. Jadi ia bergegas mendobrak pintu depan rumah tersebut.
Alangkah terkejutnya Darmin ketika berhasil masuk salah satu kamar dimana suara teriakan itu berasal dan mendapati orang yang ia kenal sedang memakan jantung gadis berumur 17 tahun tersebut.
“Riana?!” Darmin berteriak dengan mata membola dan langsung melemparkan kursi kayu kecil yang berada di samping kanannya, “Wanita ib ….”
Teriakan Darmin berhenti disertai kursi itu pun tak jadi ia lempar setelah melihat wanita yang memakan jantung tersebut adalah wanita yang ia cintai, yakni Siwi Mahasiwi.
Siwi menoleh ke arah Darmin dengan menyeringai, lalu melompat menembus jendela. namun bukannya jendela itu pecah, tapi Siwi malah menembus jendela tersebut dan terlihat bayangannya oleh Sujana juga Raswa.
“Tolong! Tolong!” Darmin berteriak dari dalam dan Raswa serta Sujana yang ketakutan sempat melihat Siwi mulutnya berlumuran darah segera masuk ke dalam rumah.
“Riana?!” Raswa dan Sujana yang baru masuk ke kamar Riana juga langsung melebarkan mata.
Dada bagian kirinya telah robek dan darah masih merembes ke kasurnya. Para warga yang lain datang setelah mendengar teriakan Darmin.
Tak lama pak lurah Desa Plosokerep juga ikut datang untuk melihat. Hampir 80% warga keluar menuju rumah Riana dan inngin melihatnya.
Lalu ia keluar sebab tak tega melihat gadis berumur 17 tahun harus mati mengenaskan. Pak Lurah harji langsung menghubungi polisi dan menahan sementara darmin, Sujana, dan Raswa sampai polisi datang, sebab mereka bertiga adalah saksi kunci kematian Riana.
Selepas subuh tim polsek kecamatan Terisi baru datang dan rumah Riana langsung dipasang garis polisi dan diadakan olah TKP.
Darmin, Sujana, dan Raswa dibawa ke kantor Polres Terisi untuk dimintai keterangan. AKP Mujahid juga membawa Ki Rasdi, takutnya kasus pembunuhan ini ada kaitannya dengan kejadian mistis 7 hari belakangan ini.
Setelah polisi menerima keterangan dari Darmin, Raswa, dan Sujana, mereka menyimpulkan jika pembunuhnya seorang perempuan bernama Siwi.
Tetapi ketika mereka bertiga mengatakan jika Siwi sudah 6 bulan yang lalu meninggal mereka jadi bingung.
Bagaimana mungkin orang yang sudah mati bisa membunuh? Logika seperti ini tidak masuk akal.
tapi dari mimik wajah, dan gestur tubuh mereka bertiga salah satu tim polisi yang menjadi interogator sama sekali tidak menyangsikan keterangan mereka.
Ki Rasdi di undang ke dalam kantor AKP Mujahid, “Ki, apakah kasus ini ada kaitannya dengan kejadian 7 hari ini? Coba Ki Rasdi terawang, apakah perempuan bernama Siwi ini punya saudara kembar yang ngelmu? Kami benar-benar buntu menyelesaikan kasus ini.”
Ki rasdi pun menunduk dengan menghela nafas sangat panjang, karena dia pun mengalami hal yang sama dengan kejadian demi kejadian tragedi di jembatan Saradan. Ditambah lagi kasus ini yang sungguh membingungkan.
Masalahnya Ki rasdi sendiri yang menyaksikan sewaktu mayat Siwi ditemukan di bibir sungai Saradan robek bagian jantungnya dan jantungnya tersebut sudah tidak ada.
“Pak, sungguh. Aku pun tak mengerti, aku juga angkat tangan akan kasus ini. Temanku pun sekarang sedang koma. Bapak pasti tahu kabar tentang Bharada Jefry yang bertugas di Polres Indramayu bukan?”
“Oh, pak Jefry?” AKP Mujahid membulatkan mulut dan melanjutkan, “Jadi pak Jefry teman bapa? Mungkin kala dia sudah sehat kita bisa menyelesaikan kasus ini.”
Seluruh polisi di Indramayu tahu jika Bharada jefry dianggap polisi yang memiliki dua profesi dan satu lagi paranormal. Sebab ia bisa memecahkan kasus yang kadang diluar nalar logika dan bisa menemukan pelakunya sesuai logika.
Tapi keberadaan Akpol divisi khusus sangat dirahasiakan oleh pemerintah Indonesia. Mereka beranggapan divisi khusus ini memang harus rahasia dan tersembunyi dari apapun dan siapapun.
Hanya beberapa pejabat tinggi Polri dan TNI yang tahu akan divisi khusus Akpol Sramana. Mereka menyebut para lulusannya sebagai Abimana.
__ADS_1
Mereka serentak hanya bisa menghela nafas panjang. Niat hati AKP Mujahid menyelesaikan kasus ini hanya di level Polsek, namun lagi-lagi kasus ini akan berpindah tangan ke level Polres.
Darmin, Sujana, dan Raswa dipulangkan ke rumah masing-masing setelah dimintai keterangan.
Namun mereka bertiga tidak mengetahui jika suasana di dalam desa Plosokerep sendiri sekarang mencekam. Ditambah lagi banyak beredar kabar dan isu yang belum tentu benar kebenarannya, suasana desa semakin tidak kondusif.
Mereka pun pulang bersama Ki sardi dengan mobil miliknya, walau itu hanya mobil pick up. Bagi trio marjinal seperti mereka menaiki mobil merupakan suatu kebahagian, walau itu bukan mobil mewah.
“Enak ya min, punya mobil. Bisa jalan-jalan dan bawa banyak orang.” Raswa menyadarkan kepalanya di tautan kedua tangannya sambil tubuhnya.
“Enak matamu! Jadi orang itu jangan melihat enak yang belum kita rasakan. kalau bahasa jawanya sawang sinawang!” Darmin menoyor kepala Raswa dan hanya membuat Raswa terkekeh.
Kemudian melanjutkan, “Punya mobil berarti harus siap segalanya. Biaya perawatan dan beli bahan bakarnya juga. Kalau kaya kita yang kaum marjinal ini, boro-boro buat beli bensin. Buat makan sehari-hari aja kadang kita nyolong di kebon singkong tetangga, hahahaha ….”
“Hahaha ….”
“Hahaha ….”
Mereka pun bertiga tertawa sangat lepas menikmati hidup. Padahal hidup mereka bertiga jauh dari kata layak dan cukup. Tetapi, mereka mensyukurinya dengan tersenyum walaupun kenyataan itu tak seindah surga.
Dari balik pohon, absen ada sekelebat bayangan yang mengawasi mereka bertiga. Absen Darwin cukup terkejut ketika wajah yang ia tangkap dari kedua bola matanya merupakan wajah Sini yang sedang menyelidiki ke ayahnya.
Darmin yang sedang tertawa pun mereda tertawanya dan mencoba tetap tertawa keras menutupi hal yang menurutnya diluar nalar dari kedua sahabatnya tersebut.
‘Siwi, kenapa kau menampakan diri di saat aku mulai sedikit bernafas lega tentang dirimu. Kenyataannya kamu sudah tiada, tapi kenapa wajahmu itu sangat mirip dengan orang yang telah membunuh Riana.’
‘Apakah kematianmu hanya kematian semu? Atau ada orang lain yang sama denganmu?’ pikir Darmin keras di sela tawanya.
…
Kompleks Mansion Bharata Group.
Mobil yang membawa Al langsung dicegat di depan pintu masuk komplek Bharata group.
“Permisi pak, ada yang bisa dibantu?” Sopir taksi online membuka kaca mobil dan tersenyum ramah pada penjaga yang memakai setelan jas merah dan berdasi merah tersebut.
“Maaf, pak. Mas ini mau ke Mansion Bharata SVIP 01,” jawab sopir taksi online sambil menangkupkan tangan.
“Maaf, pak dan mas.” Penjaga keamana dengan tubuh tegap tersebut menangkupkan tangan dengan tersenyum ramah.
Kemudian melanjutkan, “Nona Prida berpesan jika ada yang ingin bertemunya harap dibatalkan niatnya. Nona Prida tak bisa diganggu saat ini.”
Setelah mendengar hal tersebut, tiba-tiba kepala Al pusing dan ia memberikan uang pada sang sopir taksi online sebesar 100.000.
Mata kanannya bergerak sangat cepat bagai mesin slot, para penjaga di komplek mansion semuanya adalah Sramana bukan manusia biasa. Mereka tahu dari aura Al bukan aura manusia biasa.
Penjaga lain pun muncul dan mengepung Al, “Diam di tempat! Atau kami akan melumpuhkanmu dengan paksa!” ancam penjaga lain yang baru keluar dari pos penjaga.
“Aku hanya ingin bertemu Prida Maheswari. Kenapa begitu sulit?” Al menautkan tangan lalu menggelengkan kepalanya ke kiri dan ke kanan.
Al yang dilihat sekarang seperti bukan Al yang sebelumnya. Kepribadiannya 180 derajat berubah, bahkan seperti kepribadian Naga Taksaka yang arogan dan tengil.
“Kami hanya menuruti perintah dari nona Prida dan menjaga keamanan di komplek ini. Kalau kau mau berbuat onar, kami takan sungkan!” ancam penjaga yang lain dengan sikap kuda-kuda dan kepalan tangan mengepal.
Ripela aksa di mata kanan Al aktif dengan 5 tomoe emas, para penjaga yang berjumlah 10 orang dan sopir taksi online langsung gemetar melihat mata tersebut.
Apalagi para penjaga yang seorang Sramana tersebut, mereka tahu jika seorang Sramana bisa membangkitkan aksa bukan seorang Sramana biasa.
“Lebih baik kita izinkan dia masuk dan menemui nona Prida. Biar nona yang mengurusnya, daripada kita dibuat babak belur,” bisik kepala penjaga pada salah satu anak buahnya dan dibalas anggukan oleh anak buahnya tersebut.
“Baik, mas. kami izinkan masuk. tapi sebelumnya berikan identitas anda!” pinta kepala keamanan komplek Mansion Bharata Group dan Al memberikan kartu tanda penduduk miliknya.
Al hanya menyunggingkan senyum dengan raut muka menyeringai menata mereka satu persatu. Semua penjaga lututnya langsung lemas dan bergetar hebat seperti terkena gempa 3,2 skala richter.
__ADS_1