INDIGO SYSTEM

INDIGO SYSTEM
Indigo <>30 Aura Hitam IX


__ADS_3

"Tidak apa-apa Al. Aku juga bersalah, seharusnya aku yang bertanya padamu dengan lebih sopan. Wajar saja kamu marah padaku." Vivian juga menunduk sesal.


Mereka berdua menyadari kesalahnnya dan membuat Yuzan sedikit lega, sifat mereka berdua yang seperti Anjing dan kucing mulai sedikit lega.


"Nah, kalau begitu ibu senang mendengarnya." Yuzan mengacungkan dua jempol ke arah Vivian dan Al.


Kemudian tersenyum ramah Al dengan bertanya, "Apakah kerjamu sedang libur?"


"Ya ibu tahu sendiri ak bekerja sebgai intel polisi. Gak ada liburnya sih bu. Cuma aku ingin pulang saja, aku kangen pelukan ibu." Al mengatakan hal tersebut dengan tersenyum kecut, mencoba tegar di depan Yuzan.


Lalu Al meroogoh saku bagian dalam untuk mengambil uang dari kantong plastik ajaib dan memberikan uang 34 juta pada Yuzan.


"Apa ini Al?' Yuzan menyipitkan mata melihat tumpukan uang yang ditaruh di atas meja.


"10 juta untuk melunasi hutangku pada ibu, sisanya buat belanja harian. Aku dapat uang 200 juta dari nona Prida karena memecahkan kasus yang sangat sulit, " kata Al masih tersenyum kecut.


Yuzan langsung memeluk Al dan megelus-elus lembutnya, "Ibu gak nyangka sama kamu nak. Banyak orang yang merendahkanmu dan menganggap kamu bodoh. Nyatanya kamu pintar dan bisa jadi detektif."


"Aku turut senang mendengarnya, Al." Viivian hanya tersenyum lebar pada Al. Padahal ia ingin sekali memeluknya.


Walau syndrome Heterochomia Al sekarang tambah parah menurut penglihatan Vivian. Tapi rasa suka dan cintanya pada Al tidak pernah berubah sejak kecil. Apalagi Al sekarang bertambah kurusan, tentu menambah daya tarik Al dimata vivian.


'Sebenarya kasus ini paman rambut putih juga yang menyelesaikan, malah aku yang terima beresnya,' batin Al menghela nafas panjang, pelukan Yuzan membuat rasa percaya diri Al kembali bangkit.


Ternyata kelainan pada mata dirinya masih ada orang-orang yang mau menerimanya.


Teman-teman panti yang tadinya berencana memprovokasi Yuzan untuk mengusir Al pun mengurungkan niatnya. Setelah mereka tahu jika Al bekerja sebagai intel atau informan Polri di Polres Indramayu.


......................


Rumah Undi, Desa Pringgacala, kevamatan Karangampel.


Birawa, Jayadipa, Setyarini, Undi, dan Prisarasari sedang mengadakan rapat.


"Dasar kamu tak becus Birawa! Kita butuh korban tumbal banyak!" bentak Undi membuat Birawa kesal dan ingin menghabisinya.


"Oh, begitukah? Lalu kamu juga tak becus. Buktinya kamu sebentar lagi akan diseret ke penjara lagi. Apa aku perlu tambahkan buktin-buktinya ke polisi," ancam Birawa dengan menyeringai.


Undi menggebrak mejj dengan kdua kepalan tangannya, "Sial!"


Secara tingkatan undi memang berada lebih tiinggi satu tingkat di atas mereka berempat, yakni tahap mata batin.


Tetapi secara khodam, level Khodam atau makhluk yang dimiliki Undi dan mereka berempat kalah jauh. Undi hanya memiliki khodam level roh jahat, sedangkan mereka berempat di level Ifrit.


Ditambah lagi mereka berempat di tubuhnya memiliki pecahan mustika jagat saksana. Sebenarnya Undi bukan tandingan mereka berempat, makanya ia hanya bisa kesal ketika Birawa mengancamnya.


Hubungan Undi dengan raja iblis Mogharwala sedang tidak baik-baik saja. Karena Endang sebagai tumbal pertama mayatnya sudah ditemukan dan dikebumikan. Maka perjanjian kontrak ajian ciung wanara Undi dengan raja iblis Mogharwala dibatalkan.


Tapi Undi tidak patah arang, ia bekerja sama dengan ayah Rivan bernama ki Sambadra untuk merebut pecahan mustika jagat saksana yang dimiliki oleh Setyarini, Prisarasari, Birawa dan Jayadipa.

__ADS_1


"Lebih baik aku pergi jika hanya melihat kalian berdua bertengkar,' celetuk Jayadipa dengan raut muka dingin sambil menopang dagu di kedua tautan tangannya.


"Sayang, kamu terlalu cepat menyimpulkan. Bukankah kita di jalur yang sama. Tolonglah lebih bersabar sedikit." Dengan elusan lembut, Setyarini membelai pipi Jayadipa.


"Cih, selau saja ambekan. Apa karena kau kalah oleh seseorang?" cibir Prisarasari pada Jayadipa yang terlihat ketus dan dingin.


"Kamu akan tahu jika berhadapan dengannya. Aku juga menduga jika masalah tua bangka ini, dia yang memicunya."


Dengan raut muka geram, Jayadipa menunjuk tegas tepat di dahi Undi. Karena Jayadipa menganggap semua masalah ini disebabkan Undi, hingga menyeret mereka semua berempat.


Jika Undi tidak gagal melakukan kontrak dengan raja iblis Mogharwala, keempat geng Camping Ireng, tidak harus mencari banyak tumbal untuk kebangkitan kekuatan mereka.


Namun rencana yang sudah mereka susun dan jalankan selama 10 tahun dihancurkan oleh satu kesalahan kecil yang diilakukan Undi. Padahal 100%i itu bukan kesalahan Undi.


Al saja yang terlalu pintar bisa menemukan mayat Endang yang telah disembunyikan selama 15 tahun. Walaupun itu dengan bantuan Maung Bodas.


"Kalian benar-benar membuatku muak dan selalu menyalahkanku!" Undi kembali menggebrak meja dan sudah naik pitam, emosinya sudah tak bisa lagi ia tahan.


"Diam!" Birawa geram dan ikut menggebrak meja hingga meja itu terbelah dua. Kemudian melanjutkan, "Masalahini bukan Undi yang salah. Jayadipa kau juga tahu bukan? Aku juga merasakan hal yang sama."


"Ya, aku tahu. Tapi aku lebih senang menimpakan semua kesalahan ini padda tua bangka ini saja." Dengan mudahnya Jayadipa mengatakan hal tersebut.


Undi menghela nafas panjang untuk menenangkan diri agar tak terprovokasi oleh kata-kata Jayadipa.


Sejak lama Jayadipa ingin membunuh Undi dan Rivan yang selalu bermuka manis di depan, namun bermuka busuk di belakangnya.


"Jika kalian tidak mau mengurus pemuda itu. Biar aku yang mengurusnya."


Mendengar pernyataan Prisarasari, Birawa dan Jayadipa melebarkan mata, Setyarini hanya bengong, begitu juga dengan Undi.


Setyarini dan Undi tidak mengetahui perihal Al, dan Birawa juga Jayadipa menganggap hanya mereka berdua yang tahu tentang Al.


"Terserah kamu. Aku tak mau ikut campur walau aku pernah dikalahkannya." Setelah mengatakan hal tersebut Jayadipa hilang dari pandangan mereka berempat mengguanakan ajian lempit sayuta.


"Dasar pecundang, baru melawan bocah ingusan saja sudah takut. Kalau aku pasti ---"


"Seekor ular mati karena menganggap burung yang siap menerkamnya itu hanya burung pipit. Tapi begitu dekat, paham dan mengert dia adalah sekkor Elang," potong Birawa.


Lalu hilang dari pandangan mereka bertiga menggunakan ajian lempit sayuta.


Birawa yang pernah melawan Al sudah menyaksikan 100 roh jahat iliknya hanya dalam dua kali serang hangus tak tersisa.


Bahkan luka dari gelombang kejut trisula sambhu masiih belum sembuh. Jadi ia memutuskan untuk tidak ikut campur untuk menggangu Al, selama kebangkitan kekuatannya belum dilakksanakan.


"Maaf, burung es. Aku tidak ikut campur masalah ini. Aku akan mengikuti Birawa dan Jayadipa."


Setyarini pun hilang dari pandangan menggunakan ajian lempit sayuta, setealah mengatakan hal tersebut.


"Tenang, aku berada dipihakmu. Kumpulkan semua orangmu. Aku sudah mengatur rencana untuk menghabisi pemuda itu. Walau kau masuk penjara, setidaknya kita berhasil membalaskan dendam pada pemuda yang telah membuatmu sengsara," tegas Prisarsari.

__ADS_1


......................


Panti Insan Madani.


Al sedang merebahkan tubuhnya di kamar, setelah masalahnya dengan Vivian selesai.


Al juga memeriksa ponselnya danmelihat banyak pesan dari Bharada Jefry, terkait petunjuk untuk mencari informasi keberadaan pelaku penculikan para orang tua jompo.


"Hm .... Orang tua jompo yang diculik mennurut laporan sudah 10 rang dalam 7 hari terakhir, terdiri dari 5 laki-laki dan 5 perempuan. Kisaran umurnya antara 60 sampai 65 tahun," gumam Al berpikir keras mencoba menemukan sedikit pola penculikan tersebut.


TOK! TOK!


Tiba-tiab Vivian mengetuk pintu kamar dan mengejutkannya, "Ya, silahkan masuk!"


Al langsung bangkit duduk dan segera membukakan pintu. Namun keburu Vivian yang membukanya terlebih dahulu.


"Waktunya makan, aku memasakan makanan kesukaanmu. Aku harapkamu mau memakannya." Vivian merona mengatakan hal tersebut, ia mencoba untuk lebih dekat dengan Al.


Mumpung ada kesempatan yang langka seperti ini jadi ia mnfaatkan dengan baik.


Biasanya al akan marah, namun kali ini ia tersenyum sembari memegangi perutnya, "Terima kasih Vivian. Kamu memang wanita idaman para pria."


"I-idaman para pria." vivian menunduk dengan raut muka semerah kepiting rebus, karena tak sengaja dipuji oleh Al.


Dan tanpa malu-malu Al langsung menggengam tangan Vivian, kemudian menariknya ke arah meja makan.


Vivian benar-benar merasakan seperti tersengar listrik 1 juta volt, hatinya langsung meleleh ketika tangannya di genggam oleh Al.


"Cie-cie, akur ni yee ...," celetuk Yuzan dengan mengacungkan dua jempol.


"Ih, ibu apaan sih." Vivian dan Al tersipu malu.


Vivian seperti seorang istri, ia langsung mengambilkan piring danmengambilkan nasi untuk Al. Nasi tersebut langsung diberi bumbu nasi lengko, yakni berupa tauge, irisan timun, irisan tahu, irisan tempe dan diberi sambal serta terakhir diberi kecap.


"Woaah .... Sepertinya ini enak. Terima kasih Vivian." Al sumringah dengan mengacungkan dua jari pada Vivian.


Tanpa sungkan dan basa-basi, Al langsung makan dengan lahap masakan yang dimasak oleh Vivian. Walau menurut orang lain sederhana, tapi menurut Al ini istimewa.


'Maafkan aku Vivian. Akibat kemarahanku, hampr saja kamu celaka. Akus sudah menarik semua energi negatif yang tak sengaja aku tanam pada otakmu. Aku tak mau kau sepertiku. Aku memang mencintaimu, tapi aku dan kamu berbeda,' batin Al menunduk lalu menyeka air matanya.


Untuk menuutupi rasa sedihnya, Al berpura-pura mengatakan, "Woaah .... Vivian, masakanmu sangat enak. Sampai-sampai air mataku mengalir saking enaknya."


Tapi Vivian hanya tersenyum kecut, ia merasakan hal yang aneh terhadap ujian Al tersebut. Tidak seperti pujiannya, pujian kali ini seperti ada sesuatu yang Al sembunyikan darinya.


"Sama-sama. Aku hanya ingin membuatmu senang saja. Terima kasih juga sudah membantu ibu." Vivian menautkan tangan dengan tersenyum kecut.


"Itu sudah menjadi tugasku. Aku harap semua adik-adik kita di panti bisa sekolah sampai tinggi. Bisa sampai S1, S2, atau S3. Jangan seperti aku yang hanya bisa menjadi es teler, hehehe ...." Al menggaruk kepalanya dengan tangan kiri sambil terkekeh untuk mencairkan susana.


"Aku juga akan ikut membantu. Gajiku juga cukup besar. Panti ini adalah rumah kita, kalau bukan kita siapa lagi yang menjaga dan memakmurkannya."

__ADS_1


__ADS_2