INDIGO SYSTEM

INDIGO SYSTEM
Indigo <>24 Aura Hitam III


__ADS_3

Tapi untuk kesana, bukan perkara yang mudah, harus melewati beberapa tes, salah satunya bukan seorang Sramana.


Sebab mereka akan melakukan permainan di dalam dimensi gaib yang tidak bisa di detekksi oleh pihak yang berwajib sekalipun.


Amin sangat berhari-hati, ia harus menmbang sedemikian mungkin, apalagi Al orang yang baru ia kenal. Amin tipe pemuda yang sangat licik dan tidak gampang memakan umpan yang kecil seperti itu.


"Ah, mas bisa aja. Ya aku hanya pemuda pengangguran dan orang biasa. Masalah motor itu pemberian kedua orang tuaku. Silahkan dinikmati makanannya. Jika kurang pesan lagi."


Al menyodorkan satu nampan gorengan ke meja para pemuda dan juga memesan beberapa kopi lagi. Al sengaja mencekoki para pemuda tersebut dengan berbagai makanan yang ada di warung, untuk mengorek informasi.


Amin yang sedikit curiga menaruh satu kartu di depan meja dan memanggil Al, "Mas, aku punya suatu permainan. Coba tebak kartu ini kartu bergambar apa?"


Al terdiam sesaat dan membaca gerak-gerik Amin, kartu itu memiliki aura hitam yang sama pada Sarkoji, dan Wina. Tapi tidak terlihat pada tubuh Amin.


'Apa dia sedang mengujiku?' pikir Al dengan tatapan tajam dan tersenyum lebar, guna mengaburkan rasa kecuriigaan Amin.


"Kartu bergambar lima hati." Al asal menjawab, padahal ia tahu isi kartu tersebut adalah as hati.


Gerakan Amin sudah al predikis menggunakan ripela aksa dan umur Al berkurang satu hari, akibat efek penggunaan ripela aksa walau sesaat.


[Xixixixi ... umur tuan dikurangi 1 hari karena menggunakan ripela aksa hanya 1 detik]


'nampaknya pemuda ini bukan seorang Sramana, sebab jika ia Sramana karrtu ini akan bereasi dan jawabannya pasti benar menebak kartu ini. Ini adalah mangsa bagus, energinya juga cukup besar dan juga banyak uangnya' batin Amin dengan tersenyum licik.


Bhayangkara aksa berhasil mengelabui amin dengan menghilangkan bau, rasa, aura dan juga jiwa Sramana yang terpancar dari pecahan mustika jagat saksana.


Sebenarnya Al bukan memiliki pecahan mustika jagat saksana, tapi tubuh Al menyimpan wadah mustika jagat saksana. Namun belum sepenuhnya bisa beresonansi dengan para Sramana yang memiliki pecahan batu mustika jagat saksana.

__ADS_1


"Jika ingin ikut bermain, ikutlah denganku!" ajak Amin dengan tersenyum lebar.


Kali ini ia merasa mendapatkan mangsa yang besar, bukan hanya uang tapi juga energi jiwa yang akan dipersembahkan pada bandar kegelapan.


"Baik, aku sangat senang sekali jika mau diajjak bermain. Aku sudah tak sabar memenangkan banyak uang, hehehe ....."


Al terkekeh pelan dan membuat pemuda lainnya tertawa terbahak-bahak mendengar Al terkekeh. Sebab suara Al terkekeh seperti suara tikus chipmunk.


Al merogoh jaketnya dan mengeluarkan uang satu juta dan dibagikan pada keempat pemuda masing-masing 200 ribu, "Bro, doain aku ya. Kali aaja aku menang banyak. Kalau menang aku traktir lagi."


Keempat pemuda tersebut dengan mengulas senyum lebar menerima uang 200 ribu tersebut dan Al langsung membayar semua makanan serta minuman yang telah mereka lahap dengan brutal seperti manusia yang belum makan selama 3 hari.


"Pasti kami doakan menang!" teriak serentak keempat pemuda.


Setelah selesai, Al menaiki mtor dan mengikuti Amin yang sudah dahulu berangkat dengan motor Supir XX miliknya ke arah desa Amis.Al mengekorinya sedekat mungkin, sebab Amin melajukan motornya cukup cepat di jalanan cor beton.


Hnaya dalam 5 menit Al sampai di gapura masuk desa Amis, banyak warga yang berlalu lalang beraktivitas menemur padi.


"Kita akan kesana menggunakan motorku. Titipkan saja motornya ke pemilik warung, tenang saja pasti aman asal berikan ini."


Amin memberikan kartu as itu ke tanga Al. Tangan kanan Al menerimanya dan segerea menuruti perintah Amin untuk memberikan kartu As tersebut ke pemilik warung.


Begitu mnerima kartu bergambar as hatti tersebut, pemilik warung yang semula dngin menymbut Al, langsung terenyum dan menyeringai.


Al yang melihatnya cukup ngeri, sebab pemilik warung tersebut seorang wanita paruh baya dengan gigi yang sangat hitam dan rambut beruban. jika tersenyum seperti itu wajahnya lebih mirip nenek lampir.


Al segera menaiki motor Al dengan tubuh bergidik ngeri membayangkan wanita paruh baya tersebut.

__ADS_1


Amin melajukan motor tersebut cukup kencang di pusat jalan desa Amis. Namun annehnya, seperti para warga tida merasakan sekali keberadaan mereka berdua yang melewati jalan pusat desa tersebut.


Hingga akhirnya sampai di ujung desa yang berbatasan dengan hutan tebu dan hutan jati.


Amin menghentikan motornya dan meminta Al turun, "Silahkan mas masuk ke gapura di depan. Nanti akan ada orang yang akan menjemput. Aku akan menunggu mas disini sampai mas selesai main kebon biinatang."


"Baik." Al mengangguk pelan dan menuruti perintah Amin.


Al berjalan perlahan ke arah gapura dn begitu melewati gapura, ia berpindah tempat ke dalam sebuah hutan jati yang sangat tinggi dan rimbun. Pencahayannya pun kurang dan terkesan temaram,


Dua orang penjaga bertubuh tinggi angsung menghadang Al dan entah datang darimana, "Siapa kamu? Sebutkan kata sandinya!"


"Aku Wong Xin Ting, tuan. Aku baru saja masuk dan belum paham peraturannya."


Kedua penjaga saling menatap, lalu saling mengangguk memberikan isyarat, "Baik, apa kartu yang kamu bawa?"


"Kartu?" Al bingung ia sama sekali tidak membawa satu kartu pun, sebab kartu yang diberikan Amin sudah diberikan pada pemilik warung, dan melanjutkan, " Aku tidak membawa kartu satu pun. Kau hanya iingat jawaban kartuku saat bertemu mas yang mengantarku kemari."


"Ya, apa jawabannya dan totalnya berapa?" tanya salah satu penjaga dengan muka garang.


'Ini seperti sebuah teka-teki. Mereka sangat waspada dan mungkin kewaspadaan merea ini yang menyusaahan polisi mengendus aktivitas perjudian mereka. Aku menjawab 5 hati dan kartunnya itu as ...,' batin Al dan sudah menemukan jawabannya.


"Kartunya 6 hati." Mereka langsung membungkuk hormat dan mepersilahkan Al untuk masuk dengan mengulurkan tangan kanannya ke depan.


Al masuk ke dalam melewati kedua penjaga. Setelah Al masuk, ternyata Sarkoji, Wina, dan setiap orang yang Al temui d sepanjang perjalan mengekor di belakang Al.


"Mari main! Menangkan jiwa kami! Mari main! Menangkan jiwa kami! Mari main! Menangkan jiwa kami!"

__ADS_1


Orang-orang tersebut berterial sambil mengacungkankepalan tangan menuju salah satu meja yang sudah ada seoarang bandar permianan.


Bandar tersebut memakai ikat kepala hitam dengan muka seperti pak raden, namun kumisnya lebih tebal dari kumis milik pak Raden.


__ADS_2