INDIGO SYSTEM

INDIGO SYSTEM
Indigo <>13 Misteri Sramana IV


__ADS_3

"Kenapa siluman disini lebih menyeramkan dari terakhir kali aku masuk ke dalam hutan ini. Ajian Beluk Sandarawa: Maung Bodas!"


Dengan bulu kuduk yang meremang, Wijaya merapal mantra pemanggilan untuk memanggil siluman macan puti yaitu Muang Bodas.


Namun sama sekali tidak ada efek dan reaksi apapun. Ajian Beluk Sandarawa seperti ada yang menghalangi, bahkan untuk berkomunikasi dengan para siluman atau khodam yang sudah Wijaya kontrak pun tidak bisa.


Wijaya menarik nafas dalam-dalam dn mengumpulkan tenaga dalam di kedua ttelapak tangannya, "Ajian Bayu Bajra!" serunya.


Wijaya melepaskan pukulan ke berbagai arah untuk menicptakan badai topan yang sangat besar untuk mengusir kabut hitam yang menghalangi pandangannya.


Kabut hitam itu menghilang dalam sekejap dan menampakan banyak makhluk halus yang mewujudkan wujudnya di depan Wijaya.


"Minggir kalian!" titahnya tegas dan berapi-api.


Para makhluk halus mulai dari pocong, kuntilanak, genderuwo, wewe gombol berbaris-baris menghalangi Wijaya agar tak mengejar Wulandari.


"Hihihi .... Tidak mau, wanita itu akan tinggal disini dan menjadi ratu kami," celetuk Wewe Gombel sambil tertaawa cekikikan.


"Apa kalian tidaak takut denganku?" bentak Wijaya semakin dibuat geram oleh para barisan siluman dan arwah gentayangan.


"Takut? Kami tidak takut dan kami akan buat kau menjadi tumbal persembahan kepada ratu baru kami, hihihi ...."


Para Makhluk halus semakin banyak setelah tawa Wewe Gombel menggema di hutan pegunungan Apuy.


Tawa itu adalah tawa pemanggil agar siluman dan makhluk halus lainnya untuk datang menjgegal langkah Wijaya agar tidak berhasil mengejar Wulandari.


"kalian menguji kesabaranku, ajian Moksala Rudra! Ajian Gada Brahma!"


Kedua kaki Wijaya memakai greeves bermotif cakar naga dan kedua tangannya juga memakai gauntlet kepala naga.


Kedua kakinya diselimuti petir berwarna biru dan kedua tangannya diselimuti kobaran api.


Wewe Gombel melambaikan tangan ke depan memberi perintah pada barisan Genderuwo untuk menyerang Wijaya.


Kaisar Wijaya melesaat cepat dengen kecepatan cahaya dan melepaskan pukulan bertubi-tubi ke arah dada Genderuwo.


BAM! BAM!


Setelah dada mereka berlubang, tubuh makhluk berbulu hitam lebat tersebut luruh menjadi debu.


KAisasr Wijaya tidak membiarkan barisan para hantu untuk menyerangnya terlebih dahulu, ia terus membabi buta menghantamkan pukulan dan tendangan pada kepala, dada, bahu pada barisanmakhluk halus yang menghalanginya.

__ADS_1


BAM! BAM!


Puluhan, ratusan, sampai ribuan makhluk halus yang terus berdatangan tanpa henti dibuat luruh menjadi debu dengan tendangan ajian moksala rudra dan pukulan ajian gada brahma.


Namun, ketiika memukul perut Wewe Gombel, Wijaya justru terpental dan menabrak beberapa pephonan hingga memuntahkan darah.


"Guhak, sial! Siluaman kampret, benar-benar menguji kesabaranku, aaaargh ...! Ajian Trisula Sambu!"


Wijaya bangkit denngan mengerang dan membentuuk siluet trisula berwarna emaas dan dilemparkan ke arah Wewe Gombel.


BOOM!


Wilayah hutan pegunungan Apuy bergetar dan terjadi longsor di kaki gunung. Pepohonan dalam radius 200 meter ambruk dan beberapa meter rata dengan tanah,


Soka Citrandala rupanya mengikuti Wijaya ke hutan pegunungan Alas Apuy untuk mengawasi mereka berdua.


"Lebih baik, aku akan membunuh mereka berdua disini. Tempat yang sunyi, sepi, dan angker sangat cocok untuk menjadi kuburan mereka berdua. Ini adalah balas dendam kakak angkatku Kaisar Kertarajasa jayawardhana. Mapus kalian, Ajian Jagat Saksana!"


Soka CItrandala yang sedang melayang di atas ketinggian 3000 meter menangkupkan tangan sembari mendeteksi keberadaan Wulandari dan menemukannya.


Wulandari sedang bersemedi di puncak gunung Apuy, Ciremai. Soka Citrandala menembakan sinar laser dari ujung jarinya mengarah ke arah Wulandari.


Sinar laser berwarna ungu disertai energi negatif yang sangat pekat berhasil mengenai perut Wulandari, atau lebih tepatnya wadah energi milik Wulandari.


Hanya dalam satu hembusan nafas, Wijaya berhasil sampai di sebuah gua dekat kawah dimana tempat Wulandari bersemedi.


Bukannya Wulandari meledak, tapi kristal mustika jagat semesta di dalam wadah energi miliknya semakin membesar.


Urat ototnya menonjol dengan warna berganti-ganti seperti pelangi, mulai dari merah, jingga, kuning, hijau, biru, ungu dan nila, serta terus silih berganti dengan cepat.


Wijaya sedikit khawatir dan lansgung memegang perut Wulandari, "Aaaaargh ...!"


Wijaya meruang kesakitan karena energi jiwa dan energi chakranya diserap cepat oleh wadah energi di dalam perut Wulandari.


Kristal Mustika Semesta perwujudan dari 6 jenis energi membesar dan berevolusi menjadi kristal jagat saksana.


Mata Wulandari bergerak cepat seperi mesin slot dan terus bergerak, kondisi Wulandari benar-benari dilluar kendali WIjaya.


"Aaargh ...!" Wijaya meraung kesakitan dan semakin lama semakin keras raungannya.


Pasalnya, Wulandari terus menyerap banyak makhluk halus dan 6 jenis energi termasuk energi dewa yang berada di dalam tubuh Wijaya.

__ADS_1


"Sial, kenapa malah jadi seperti ini. Kenapa mereka belum mati juga."


Soka Citrandala terbang melesat ke arah kawah pegunungan Apuy dengan menngeraskan rahang.


Rencana pembunuhannya untuk menghabisi Wijaya dan Wulandari dua kali sudah gagal.


Justru membuat Wulandari semakin kuat dan bisa menciptakan mustika yang sangat langka di dunia ini bernama mustika jagat saksana.


"Hoeek ...." Seketika itu Wulandari memuntahkan sebuah bola kristal pelangi, itu adalah mustika jagat saksana.


"Ha-ha ...." Soka CItrandala yang sudah tiba di depan mulut gua di kawah pegunungan Apuy tertawa jahat dan melanjutkan dengan melesat untuk mengambil mustika jagat saaksana yang terjatuh di depan Wulandari dan Wijaya yang sudah lemah, "Selamat tinggal."


Soka Citrandala berhasil mengambil mustika jagat saksana yang memiliki 6 jenis energi dan 1 juta makhluk halus yang berkumpul di dalamnya.


"Ta-takan ku-kubiarkan," lirih Wijaya dengan tubuh terkapar dan mencoba bangkit, "Ajian Angkusa Sangkara!"


Wijaya membentuk siluet pedang dan melemparkannya ke arah Soka CItrandala yang sudah terbang jauh.


Namun siluet pedang berwarna merah pekat tersebut mengejar Soka Citrandala, pedang tersebut seperti memiliki jiwa dan pikiran. Pedadng tersebut tidak membiarkan Soka Citrandala itu untuk kabur.


JLEB!


Pedang itu terbang sangat cepat, secepat kecepatan cahaya dan berhasil menggapai Soka CIntrandala juga berhasil menusuk perutnya dari belakang.


"Uhuk ...." Soka CIntrandala memuntahkan seteguk darah dan tubuhnya terbang limbung.


Tubuh itu meluncur cepat ke permukaan tanah, Wijaya yang masih bisa melihat dengan persepsi ajian Padma Siwa melepaskan siluet tombak trisula, "Ajian Trisula Sambu!"


Siluet tombak Trisula melesat ke arah tubuh Soka CIntrandala yang sudah tewas dan mengenainya di udara.


BOOM!


Cahaya teraang menerangi langit disertai kepulan assap dan debu. Mustika Jagat Saksana terpecah berkeping-keping dan terbang ke berbagai arah oleh fluktuasi udara dari hantaman siluet tombak trisula milik Wijaya kusuma.


Pecahan-pecahan Mustika Jagat Saksana menyebar ke seluruh pelosok nusantara, bahkan dunia dan menempel pada manusia.


Sejak saat itu manusia bisa melihat makhluk halus daan bisa melakukan kontrak dengan mereka.


Bagi manusia yang tubuhnya memilki pecahan mustika jagat saksana, mereka tidak harus bersekutu dengan makhluk halus, tapi makhluk halus yang akan menawarkan diri untuk melakukan kontrak dengannya.


Mereka yang memiliki pecahan mustika jagat saksana dan diturunkan turun-temurun oleh buyut atau leluhur mereka disebut Sramana.

__ADS_1


Flashback end.


__ADS_2