
Al keluar dari pusaran putih dan tiba di belakang warung dimana ia memarkirkan motornya.
Dengan rasa gelisah dan khawatir, Al lansgung menaiki motor dan menyalakannya. Lalu melajukan motornya sekencang mungkin agar tak dikejar oleh Birawa.
"Sial, aku malah terjebak dengan kasus dengan pelakunya para Sramana atau apalah itu. Ini akan sulit menangkap mereka," gumamnya kesal sambil terus menarik pegangan gas motornya kuat-kuat.
Ia tak sadar jika kondisinya sudah malah hari, tapi berkat pandangan mata ripela aksa yang mampu memprediksi setiap gerakan, Al berhasil menghindari setiap jalan yang berlubang.
[Xixixiixi .... Umur tuan dikurangi 6 tahun sebab telah menggunakan ripela aksa selama 10 menit]
Rasanya Al ingin sekali memukul sistem, namun apalah daya ia tak bisa berbuat apa-apa. Penggunaan ripela aksa sangat menguras umurnya, namun ia sama sekali tak bisa mengendalikan penggunaannya tersebut.
Merasa perutnya lapar, Al berhenti di salah satu kedai nasi goreng di pasar Cikedung. Ia memarkirkan motornya dan langsung memesan, "Pak, nasi gorengnya satu telornya 3, minumnya teh manis hangat!"
Al mencoba melupakan semua kejadian yang ia hadapi sebelumnya dengan menghela nafas panjang dan duduk sambil menunggu nasgi gorengnya siap dihidangkan.
Sedang asyik-asyiknya menunggu, mata Al melebar manakala ada pocong yang sedang berdiri di samping wajan penggorengan dimana nasi goreng tersebut sedang diproses.
Pocong itu meludahkan ludahnya beberapa kali ke wajan yang sedang diaduk-aduk oleh penjual nasi goreng.
"Hoeek ...." Al mual dan muntah karena melihat pocong tersebut, sebab merasa jiik dengan air liur pocong yang hijau dan sangat bau tersebut.
'Dasar, apa tidaak ada cara lain berdagang menggunakan jasa pocong pesugihan,' batin Al menyeka mulutnya yang berlendir sebab cairan air liurnya dan masih merasa mual.
"Pak, aku gak jadi pesan. Tapi ini aku bayar." Al menaruh uang 50 ribu dan mendekati pedanngan tersebut. Lalu berbisik ke telinganya, "Aku bisa melihat pocong yang bapak pelihara. Bila perlu aku akan tangkap pocong ini dan aku musnahkan. Berdagang itu dengan cara halal pak, jangan seperti ini."
Pocong yang mendengar bisik-bisik tersebut juga gemetar, ia dapat melihat aura yang sangat mendominasi keluar dan menyelimuti tubuh Al.
Pedagang nasi goreng tersebut bukannya sadar malah marah, "Pergi sana, ini bukan urusanmu!"
Al pun pergi dengan perasaan mual dan kesal. Setelah mata batinnya aktif, Al sangat sensitif dengan makhluk halus, namun tidak semua makhluk halus ia dapat lihat.
Seteleh kejadian tersebut, Al lebih selektif mencari kedai untuk makan, beberapa kali ia meliat kedai yang memiliki khodam pesugihan.
Tapi ada pula kedai yang ramai tanpa pesugihan, hanya mengandalkan pelayanan dan resep rahasia yang turun temurun terjaga kualitasnya.
Al berhenti di gerobak mie ayam dengan pedagang yang raut wajahnya lesu. Dari ekspresinya, ia mungkin belum dapat pelanggan satu pun dari pagi.
"Bang, pesan mie ayam satu, makan sini ya bang!" pinta Al dengan tersenyum lebar, sediikit menghibur pedagang mie ayam walau itu hanya senyuman.
"Baik, mas. Tunggu ya, tenang dijamin gak pake lama." Pedagang bernama pak Jumari tersebut akhirnya ikut tersenyum juga.
Ia mulai memasukan mie ke dalam panci besar dan sayuran caisim yang sudah dipotong-potong.
__ADS_1
Sembari menunggu, Al mengajak Jumari untuk berbincang, "Pak, bapak sangat ulet ya berdagang. Walau pedagang lain menggunakan hal-hal yang diluar nalar, bapak tidak menggunakannya," celetuknya.
"Ya, mas. Bapak hanya mengandalkan resep turun temurun saja mas. Tapi ...." Jumari tidak melanjutkan pernyataannya, ia langsung menunduk pasrah dengan raut muka sendu.
"Ya, pak. Aku tahu." Al langsung tersenyum lebar, sebab ia melihat banyak tuyul sebelumnya di depan gerobak Jumari.
Tuyul tersebut ada yang menirim, mungkin saingan usaha pak Jumari. Namun begitu Al tiba, tuyul-tuyul tersebut langsung kabur lari kalang kabut.
Mia ayam tersebut sudah selesai dan berhasil dihidangkan oleh pak Jumari di atas meja.
Dengan mengulas senyum pak Jumari berkata, "Semoga mas senang menikmatinya."
Al pun tanpa basa-basi mengambil sendok daan garpu lalu mengaduk mie ayam tersebut. Porsinya sangat banyak dengan toping ayam yang hampir luber melebihi mangkuk sajian.
Al mulai menyantap dengan mencicipi kuahnya terlebih dahulu merasakan cita rasa dan harumnya yang begitu menggoda.
Mata Al lanngsung melebar manakala kuah itu tertangkap oleh lidahnya dan merasakan rasa yang begitu nikmat, "Pak, mienya enak banget. Aku psan dua mangkuk lagi."
Tanpa basa-basi dengan tatapaan mata bagai naga menerkam mangsanya, Al langsung meniup-niup mie tersebut dan menyeruputnya beberapa kali dengan beberapa kali telan.
"Mantap, enak banget sumpah!" Raut wajah Al sumringah dengan bulir-bulir keringat yang deras membasahi wajahnya.
Pak Jumari semakin bersemangat menyiapkan dua mangkuk mie ayam lagi, sebab satu mangkuk yang sudah ia hidangkan sudah hampir habis dimakan oleh Al.
"Ya, beegitulah pak, hehehe ...," celetuk Al sambil terkekeh dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Dari jauh, tuyul yang lebih besar dari ukuran tuyul yang lain, terus mengawasi Al yang sedang menunggu. Al tahu tapi membiarkannya begitu saja, sebab menurutnya bukan ancaman.
"Pak, apa selama beberapa hari ini jualannya sepi?" tanya Al membuat mata Jumari melebar. Sebab apa yang tanyakan itu benar dan terjadi dalam beberapa hari ke belakang.
"I-iya mas. Kok, bisa tahu?" Jumari tertegun cukup lama dengan mata melebar sambil menyiapkan pesanan dua mangkuk mie ayam yang Al pesan lagi.
"Maaf, pak. Bukannya aku buruk sangka sama orang, tapi jualan bapak sepertinya ada yang menutup dengan makhluk gaib. Istilah kita kiriman orang pak," jelas Al membuat Jumari semakin yakin.
Awalnya ia menganggap semua ini adalah hal yang biasa dan menolak mentah-mentah semua anggapan tentang hal-hal yang berbau mistis dan klenik. Sebab ada sebuah prinsip atau istilah yang berkembang dimasyarakat 'Ini zaman milenial masih saja percaya klenik itu omong kosong.'
Nyatanya itu terjadi juga pada Jumari saat ini, "Lihat pak! Pelanggan bapak sudah banyak yang datang."
Padahal kondisi sudah larut malam hampir pukul 23.00 WIB, tetapi pelanggan yang biasa makan mie ayam pak Jumari berbondong-bondong datang.
"Pak, kemana saja? Sakit kah? Aku tiap hari lewat gerobak bapak selalu tidak ada."
"Iya, pak. Sudah dua minggu ini aku rindu sekali dengan mie ayam bapak."
__ADS_1
"Bapak memang benar-benar penyiksa sejati perutku."
Pernyataan para pelanggan Jumari semakin menguatkan keyakinannya, bahwa memang julanya ada yang nutup.
Al segera bertindak, ia menempelkan siluet tombak trsiula yang sangat kecil, untuk mengusir para roh jahat yang akan kembali merongrong jualan mie ayam Jumari.
Jumari kembali menghidangkan dua mangkuk ke meja dan Al tanpa malu-malu langsung menyantapnya.
Para pelangan yang sedang mengantri, hanya bisa meneguk salivanya dalam-dalam melihat Al begitu lahap memakan mie ayam favorit mereka.
Disaat Al memakan mie ayam tersebut, beberapa kali ia melihat dengan pandangan bhayangkara aksa, ciri orang yang sama dengan tubuh terselimuti aura hitam.
Al sejenak menghentikan kunyahannya dan matanya mulai berkeliling mengamati orang yang lalu lalang di jalan, baik yang berjalan kaki, pengendara motor atau pengendara mobil.
"Bukannya yang masuk ke dalam wilayah bandar judi tersebut hanya 20 orang. Lalu kenapa masih ada orang lain lagi yang memiliki gejala yang sama?" pikir keras Al dengan bergumam dan ada beberapa pembeli mie ayam yang mendengarnya.
Namun mereka tak mengerti dengan apa yang Al gumamkan.
Al secepatnya menyelesaikan makan mie ayamnya, misi mencari informasi tentang perjudian gelap di desa Amis, informasinya 100% ia sudah tangkap dan cerna. Waktunya ia melapor ke Bharada Jefry untuk diproses selanjutnya.
"Pak, berapa semuanya?" tanya Al pada Jumari yang sedang sibuk menyiapkann pesaanan para pelanggan yang semakin membludak walau iu di malam hari.
"Gratis mas. Berkat mas pelanggan saku sudah kembali," sergah Jumari sambil mendorong tangan Al yang mengulurkan uang pecahan lima puluh ribu.
"Ah, jangan pak. Jualan tetap jualan, aku hanya menolong saja dengan ikhlas. Jika ada masalah seperti ini lagi, bapak catat saja nomorku."
Al membuka ponsel miliknya dan memperlihatkan nomor miliknya ke Jumari. Dengan segera Jumari mencatatnya ke ponsel butut miliknya, "Terima kasih mas."
Al tetap meberikan uang lima puluh ribu pada Jumari lalu pergi dengan menaiki motor dengan kecepatan sedang, tujuannnya adalah rumah Bharada Jefry.
Selama perjalanan menuju rumah Bharada Jefry, Al mencoba melatih dirinya untuk menggunakan bhayangkara aksa, dan ripela aksa agar selalu jangan kadang-kadang aktif secara otomatis.
Lagipula ia juga ingin hidup normal, tidak harus selalu meliha makhluk halus. Apalagi kejadian Al mimpi bertemu dengan hantu kuntilanak rangkak atau Endang yang matinya belum sempurna masih membekas dalam ingatan Al.
Sesakti-saktinya Al, ia masih punya rasa takut pada makhluk halus yang mempunyai bentuk terlalu seram dan ekstrim menurut pandangan kacamatanya.
Tak sadar saambil berlatih menggunakan bhayangkara aksa dan ripela aksa sekuat tenaga, Al berhasil mengendalikan penggunaan kedua aksa, sekaligus ia sudah sampai di depan rumah Bharada Jefry.
Sebenarnya Al ingin ke rumah Bharada Jefry, utamanya ia ingin numpang tidur, sekaligus melaporkan rincian masalah perjudin gelap di desa Amis.
Al menekan bel di samping gerbang rumah Bharada Jefry, sebab sambil menyetir motor, Al mencoba menelepon Bharada Jefry, namun tidak diangkat.
Sesaaat bulu kuduknya merinding, akan tetapi Al enggan mengguakan bhayangkara aksa untuk melihat makhluk halus yang berada di sekitar tempat tersebut.
__ADS_1
"Ajian Padma Siwa!" Al memejamkan mata untuk mendeteksi dalam radius 100 meter, ada berapa makhluk halus yang masuk radar pendeteksinya, dan melanjutkan, "Cukup banyak juga di sekitar tempat ini. Pak Jefry kuat juga tinggal sendiri dalam lingkungan yang banyak makhluk halus lalu lalang di sekitar tempat ini."