INDIGO SYSTEM

INDIGO SYSTEM
Indigo <>29 Aura Hitam VIII


__ADS_3

Mereka menyelesaikan sarapan paginya dengan penuh keakraban, layaknya seorang sahabat.


Padahal pertemanan mereka baru seumur jagung, namun ada sebuah ikatan batin yang kuat antara mereka yang tak bisa diartikan.


Setelah selesai membersihkan diri, Al pergi bersama Bharada Jefry ke Polres Indramayu untuk memberikan informasi pada atasannya terkait kasus perjudian gelap.


Untuk menentukan langkah Polres Indramayu menangani masalah tersebut. Kasus ini bukan kasus biasa yang bisa ditangani oleh Polsek Cikedung selaku penjaga wilayah keamanan yang bertanggung jawab di sektor Cikedung.


Birawa banyak berkomplot dengan para mafia judi, narkoba, dan penadah besar barang curian di Indramayu yang merupakan organisasi bawah tanah di Indramayu.


Hal itu juga sangat sulit ditembus oleh para polisi, sebab banyak melibatkan para Sramana yang menjadi anak buah Undi sang pemimpin geng mafia bawah tanah yang disebut Camping Ireng.


Petinggi Polres Indramayu sudah tahu jika pelakunya adalah geng Camping Ireng. Namun menemukan buktinya ini susahnya luar biasa, sebab mereka bertransaksi di luar dimensi biasa dan sulit terdeteksi dan sangat ketat keamanannya.


Mereka berharap dengan adanya Al bisa membuka tabir informasi yang sangat sulit dipecahkan oleh para penyelidik Polres indramayu, bahkan penyelidik Polri tersebut.


Al dan Bharada Jefry tiba di parkiran motor Polres Indramayu dengan membawa masing-masing motor mereka.


Al sudah berkonsultasi dengan bharada Jefry terkait kasus selanjutnya yang akan dicari nformasinya oleh Al, yakni kasus penculikan orang tua jompo yang sedang marak terjadi di Indramayu.


Kasus ini cukup sangat membuat Al tertarik. Pasalnya yang diculik bukan anak-anak atau perjaka atau juga gadis. Tapi orang tua jompo yang umurnya sudah sangat tua.


Al masuk ke ruangan Bharaka Andri dan memebrikan keterangan yang sangat rinci. Bharaka Andri langsung bertindak dengan untuk mencari orang yang bernama Amin, sesuai apa yang Al gambarkan tentang pemuda pengangguran tersebut.


Al juga meminta Bharaka Andri untuk meminta keterangan pada Sarkoji dan Wina. Al memang tidak tahu nama mereka, hanya memberikan gambaran yang rinci terkait Wina dan sarkoji yang bisa berada di arena perjudian gelap.


"Pak, aku meminta maaf karena ikut pasang juga. Ini terpaksa aku lakuakn demi menyelamatkan orang-orang yang menjadi tawanan bandar judi tersebut," jelas Al polos.


"Justru kamu hebat Al. Apakah kamu tidak tahu orang yang kamu lawan itu?" tanya Bharaka Andri dengan mata berbinar-binar mendengar keberanian Al melawan Birawa seorang diri dan melanjutkan, "Aku saja paling terkencing-kencing jika bertemu dengannya. Mereka berempat di dalam dunia bawah tanah sebagai papat mata iblis."


"Gluk!" Al meneguk salivanya dalam-dalam mendengar penjelasan Bharaka Andri dan melanjutkan dengan menyeka keringat di dahinya, "Sungguh pak. Apa yang bapak katakan itu benar dan aku telah bertemu dua orang dari julukan yang bapak sebutkan tadi."


"Baiklah, Al. Untuk sementara kamu cari informasi mengenai kasus penculikan orang tua jompo. Terima kasih atas informasinya, tim kami akan bergerak cepat menangani kasus perjudian gelap," kata Bharaka Andri dengan tersenyum lebar dan disambut anggukan tegas Al.


"Siap, pak. Terima kasih, aku izin pamit untuk kembali bertugas." Al memberikan hormat pada Bharaka Andri lalu keluar dari ruangannya dan menuju tempat parkir motor.


Tetapi ia sangat bingung harus memulai darimana pencarian informasinya. Kasus ini terlalu unik dengan target orang tua jomp baik kakek-kakek atau nenek-nenek dan motif kasusnya mash belum jelas.


'Sistem apakah kasus perjudian gelap itu masih belm selesai? Sehingga belum masuk kasus yang telah aku selesaikan?' tanya Al dalam batinnya.


[Xixixixi .... Belum tuan. Setiap kasus harus diselesaikan sampai pelakunya tertangkap, sebab ini menyangkut sebuah kejahatan, kecuali kasusu orang hilang yang tidak ada pelakunya]


Menatap layar anntarmuka tersebut, Al hanya bisa menghela nafas panjang dan bertitah dalam batinnya, 'Sistem! Tunjukan statusku!'


[Xixixixi]


[Status]


¤--------------¤--------------¤


[Nama: Vectorio Alzinsky (Pemburu hantu)]

__ADS_1


[Level Indigo: Paranormal (1500/3000)]


[Rank Tubuh: G (0/10)]


[Indigo Koin: 1200]


[Kemampuan: Bhayangkara Aksa, Ripela Aksa, Luzion Aksa, Ajian Nawadewanata]


[Kontrak makhluk halus:-]


[Saldo: 11.000.000]


[Inventaris: -]


[Untuk meningkatkan level Indigo tuan akan mendapatkan poin pengalaman Indigo dari menyelesaikan misi, memusnahkan makhluk halus]


[Level makhluk halus: Arwah gentayangan, roh jahat, jin, setan, Ifrit, dan Iblis. Semakin tinggi level semakin tinggi poin yang didapat]


¤--------------¤--------------¤


Al menatap layar antarmuka tersebut sembari berpikir, 'Sistem, aku sudah mempelajari semua ajian nawadewanata. Namun untuk meningkatkan efektifitas kekuatannya harus meningkatkan rank tubuhku. Lalu bagaimana cara menaikan rank tubuhku?'


[Xixixixi .... Ada berbagai cara meningkatkan rank tubuh. Pertama tuan latihan sampai lemak tuan turun atau hilang dan tubuh tuan menjadi atletis. Kedua menyerap hawa kematian dari suatu tempat yang paling angker, ketiga menyerap energi negatif, keempat menyerap energi positif, kelima menyerap energi alam]


[Setiap penyerapan memiliki kecepatan dan kekurangan masing-masing. Semakin tinggi rank tubuh yang akan diterobos, semakin banyak pula energi dan jenis energi yang diserap]


[Saat ini tuan telah membuka ajian bhayangkara sayuta, yakni ajian yang mampu menyerap energi kegelapan atau energi negatif, baik dari suatu tempat atau dari sisa-sisa energi yang tuan telah bunuh]


Al segera menunduk, takut perubahan matanya ini dilihat oleh orang lain dan bisa mengundang hal yang buruk baginya.


Dengan syndrome heterochromia saja Al selalu dianggap dan dipandang sebelah mata. Apalagi punya banyak jenis pupil mata yang aneh sekarang, pupil mata yang kadang-kadang bergerak cepat bagai mesin slot. Al bisa dianggap monster oleh orang lain yang melihatnya.


Al segera menonaktifkan bhayangkara aksa yang telah berevolusi menjadi deityas aksa.


[Selamat, tuan telah berhasil mengevolusikan bhayangkara aksa menjadi deityas aksa]


Al mencoba mengaktifkan kembali deityas aksa daan menganalisis apa kemampuan dari deityas aksa.


Dalam pandangan mata deityas aksa, Al dapat melihat banyak makhluk halus yang sebelumnya tidak dapat di tangkap oleh pandangan bhayangkara aksa.


Namun jumlah makhluk halus tersebut tidaklah banyak dan cukup membuat Al sangat ketakutan.


Pasalnya bentuk mereka ada yang menyeramkan dengan kepala terbelah dan di belahan kepalanya muncul banyak gigi-gigi taring yang tajam dengan air liur yang menetes.


"Si-sial, makhluk macam apakah mereka? Rupa mereka sungguh menyeramkan." Al langsung menunduk dan menonaktifkan deityas aksa.


Makluk halus yang dilihat oleh Al merupakan perwujudan dari Sramana yang sudah menyatu dengan pecahan mustiika jagat saksana.


Para khodam yang sudah menyatu dan kontrak dengan para Sramana akan berkeliaran mencari energi yang bisa meningkatkan level mereka.


Salah satunya adalah membunuh Sramana lain dan mengambil pecahan mustika jagat saksana untuk meningkatkan kekuatan khodam tersebut.

__ADS_1


Al meratapi nasibnya dan merasa ia bukan seorang manusia lagi. Dengan semua anugrah atau kutukan dimatanya, Al kali ini merasa benar-benar terpukul dan memutuskan untuk pulang dahulu ke panti agar hatinya bisa tenang.


Al mengendarai motornya dengan air mata yang membanjiri kedua pipinya. Suara isakan tangis itu pun pecah dibalik helm full face miliknya.


"Sebenarnya aku siapa? Aku ini anak siapa? Kenapa orang tuaku tega meninggalkanku?" Al berteriak namun teriakan itu teredam oleh helm miliknya.


Dalam perjalanann 30 km tersebut dari Indramayu kota ke Karangamapel, Al terus terisak dan terus berteriak dengan meracau tidak jelas. Emosi Al benar-benar tak karuan, ia butuh pundak untuk bersandar.


Setibanya di panti Insan Madani, Al mendorong gerbang paksa dengan tubrukan ban depan motornya dan itu dilihat oleh Vivian.


Wanita berambut curly dan begitu cantik itu langsung marah pada pria gendut yang mmemakai helm. Vivian belum tahu jika itu adalah Al yang sedang sedih, gusar, nestapa, dan juga gelisah.


"Kamu apa-apan sih? Siapa kamu lancang masuk ke wilayah panti?" Vivian yang sudah marah sambil membawa sapu, memukul gagang sapu tersebut ke helm Al.


Al yang emosinya sedang tidak stabil langsung membuka helm dengan tatapan yang sangat tajam dengan ripela aksa dan deityas aksa yang sudah aktif.


Tanpa basa-basi Al langsung mencengkram leher Vivian hinga nafasnya sesak, "Al ... le-lepaskan, a-aku bi-bi-bisa ma-mati."


Yuzan yang mendengar ribut-ribut diluar langsung keluar begitu pula anak panti yang lain.


Melihat Al sedang mencekik Vivian, Yuzan bergegas untuk melepaskan tangan Al dari cengkraman leher Vivian.


"Al, apa yang kamu lakukan?' teriak Yuzan dan menampar Al.


PLAK!


Al pun melepaskan cengkraman lehernya dan sadar jika telah berbuat salah dengan menunduk sesal, "Maafkan aku bu. Aku tak sengaja, ini semua salahku."


Vivian menarik nafas dalam-dalam dan mencoba menenangkan diri agarritme paru-parunya kembali normal. Lalu berkata, "Ini semua salahku bu. Al tidak salah, aku yang memukul kepalanya pertama kali."


"Sudah-sudah, ayo kita masuk dahulu!" seru yuzan menarik tangan Al dan Vivian.


"Aiih .... Lagi-lagi si monster itu yang buat masalah."


"Ya, aku yakin bukan Vivian yang melakukannya."


"Aku setuju. Biasanya juga si gendut itu yang selalu buat masalah dengan Vivian. Lebih baik kita provokasi ibu untuk mengusir si gendut," timpal Zicky dengan memberikan usul.


"Sepertinya itu ide yang sangat bagus," balas Farzi dengan tersenyum licik.


Sedari kecil teman-teman di pani memang tidak menyukai Al, apalagi Al sering sekali ribut dengan Vivian.


Anak-anak panti sangat menyukai Vivian sedari kecil, sebab VVivian cantik, suka menolong dan sangat ramah pada teman-temannya di panti maupun sekolah.


Tapi tidak seperti biasanya Al yang merasa bersalah dan meminta maaf dahulu. Biasanya Al akan marah dan masuk ke kamarnya untuk mengurung diri jika bertengkar dengan Vivian.


Al dan vivian duduk berdampingan, lalu pria gendut itu berkata dengan menunduk sesal, "Maafkan aku Vivian. Ini semua salahku, kamu jadi terluka seperti ini."


Tanpa disadari Al, Vivian, daan Yuzan, cengkraman tangan Al tersebut berhasil melukai leher Vivian. Luka itu juga langsung sembuh dan tak berbekas, namun efeknya Al mengirimkan energi dari bhayangkara aksa ke dalam otak Vivian.


Al merasakan fluktuasi energi kematian dari dalam tubuh Vivian, tetapi ia lambat menyadarinya dan menganggap itu hanya energi biasa saja.

__ADS_1


__ADS_2