INDIGO SYSTEM

INDIGO SYSTEM
Indigo <>44 Jembatan Saksi Bisu I


__ADS_3

Dua orang pemuda sedang bercanda dan menaiki motor. Si pemuda bernama Arizal menghantarkan pacarnya yang bernama Munawati untuk pulang ke rumahnya.


“Kak, kita pulang malam sekali, sih!” gerutu Muna sambil memeluk pinggang Arizal.


“Maafkan aku ya dek. Setelah ini janji aku tidak akan mengantarmu pulang malam-malam lagi.”


Dengan tetap fokus menyetir, Arizal menyesal, baru pertama kalinya ia malam minggu dengan sang pacar pulangnya kemalaman.


Sewaktu di pasar malam di Desa Rajasinga motor bermerk Satrio Fuzo milik Arizal bannya pecah dan harus diganti.


Akhirnya mereka pulang kemalaman karena harus  mencari bengkel yang masih buka.


Sayang disayang, mereka berdua sudah mencari selama 1 jam belum menemukan bengkel yang masih buka. Padahal biasanya masih banyak yang buka di antara jalan kecamatan Terisi menuju jalan kecamatan Gabus Kulon.


“Kak, nanti kalau lewat jembatan itu jangan lupa bunyikan klakson. Ini sudah malam hari jam sebelas malam. Aku agak merinding.” Muna mengeratkan pelukannya dan membuat Arizal senang bukan main.


Sebab dua benda kenyal milik Muna yang selama ini Arizal impikan bisa ia rasakan dengan sangat mudah, tanpa harus merayunya.


Motor mereka berjalan agak cepat sekitar 50 km/jam. Anehnya tak ada satupun kendaraan yang lewat, biasanya di jam-jam tersebut masih ramai, apalagi ini malam minggu.


“Tenang saja dek. Aku jamin kita aman, kamu pikirkan yang buat kamu senang saja. Misalnya ketika kita sedang berciuman.”


“Ih, kakak! Kita ini masih kecil tahu!” Muna merajuk sambil mencubit pinggang Arizal.


“Aw! Pelan-pelan dek, aku bisa-bisa menabrak —”


Baru saja mengatakan hal tersebut, ban depan motor Arizal seperti melindas sesuatu dan terangkat cukup tinggi.


Sontak Arizal menekan pedal rem dan menarik tuas rem depan. Motor pun terangkat ke depan, untung saja Muna memeluk pinggang Arizal sangat erat dan akhirnya mereka berdua selamat. Setelah motor mendarat dengan selamat ke permukaan tanah.


Nafas Muna dan Arizal tak beraturan, hormon adrenalin di dalam tubuh mereka menjalar cepat dan memacu ritme jantung semakin cepat.


“Huff … huff … huff …. Hampir saja.” Arizal menyeka keringat dingin di dahinya dan menghela nafas panjang untuk menenangkan diri.


“Ma-maafkan aku kak. Ta-tapi a-aku takut.” Bulu kuduk Muna langsung meremang ketika memegangi kaki kirinya.


Ia rasakan seperti ada cairan kental dan sangat anyir baunya. Ketika ia meraba lagi betisnya, ada benda setenag bulat dan kenyal ia rasakan.


Begitu di ambil dan ditunjukan pada penglihatannya dengan rasa penasaran ,”I-i-itu mata!”


“Aaaaakh …!” Kedua pemudi tersebut langsung pingsan dan tanpa mereka sadari sudah berada di salah satu jembatan yang terkenal angker di jalan antara kecamatan Terisi dan kecamatan Gabus Kulon.


Padahal  mereka menginjak kepala dari makhluk halus yang suka mengganggu tersebut jaraknya masih 500 meter lagi dari jembatan tersebut.


…………….


Keesokan paginya.


“Min, Darmin! Bangun min! Ada kabar menggemparkan min!” Sujana menggoyang-goyangkan darmin yang masih tidur di pos ronda Desa Plosokerep.

__ADS_1


“Hoaaam …! Berisik banget si Sujana!” Darmin menguap lalu membentak Sujana dan melanjutkan, “kamu mengganggu saja, gak tau apa aku lagi mimpi ike-ike kimochi sama Liu Hu, sialan!”


Sujana menoyor kepala Darmin,”Alah, kamu taunya wik-wik mulu. Makanya kamu nikah Darmin, ingat umur sudah kepala tiga belum punya jodoh saja. Makanya kalau tidur bantalnya yang benar jangan kemiringan. Begini nih, madesu!”


“Ah, kamu Sujana Jiwa Sraya Angkasa Pura Martabakana Terasa Katakana anak cucu Drona! Mikir coba mikir, memang ada yang mau denganku pemuda pengangguran dan jelek seperti ini?” 


Sambil mencibir Sujana, Darmin menunjuk mukanya sendiri tanpa malu-malu menegaskan bahwa dirinya bukan orang yang memenuhi standar perempuan saat ini.


“Min, aku tahu alassanmu bukan itu. Ibumu juga curhat sama aku, kamu gak pernah pulang semenjak kejadian itu. Ikhlaskan dia min, ikhlas min!”


Sujana mengelus-elus dada darmin agar ia bisa mengikhlaskan kejadian yang membuat hatinya selalu perih dan tak pernah mau pulang ke rumah. 


Setiap hari Darmin hanya duduk di pos ronda dan tidur juga di pos ronda. Darmin hanya akan pulang untuk mandi dan ganti baju, setelah itu ia akan kembali ke pos rondaa menatap jalan utama sambil  terbengong.


Anehnya ia sudah hampir 6 bulan tidak makan, namun  badannya tetap bugar. Darmin menunggu seseorang yang merupakan dambaan hatinya yang sudah lama menjalin kasih.


Darmin banngkir berdiri dan menaruh sarungnya dengan diselempangkan menyilang di dadanya. 


Lalu berjalan ke arah dimana Ariza dan Muna terjatuh, cukup jauh sekitar 1 km lagi dari pos ronda yang sering Darmin tidur.


“Min, mau kemana min?” tanya Sujana mengejar darmin sambil berteriak.


Sujana berteriak sebab takut Darmin melakukan hal-hal yang membuatnya panik dan khawatir seperti memasangkan badan di rel kereta. 


Sebab dari pos ronda tersebut ada jalan setapak ke arah utara yang menuju rel kereta. Jaraknya memang masih jauh sekitar 1,5 km. Tapi tetap saja hal tersebut membuat Sujana Khawatir.


Darmin terus berjalan cepat dengan tatapan kosong, Sujana mengejarnya dengan berlari.


“Min, tunggu min!” Sujana meningkatkan kecepatan larinya, naun anehnya  ia sama sekali tak bisa mengejar darmin yang hanya berjalan cepat.


Tanpa disadari Sujana, ia sudah sampai di  jembatan yang terkenal angker tersebut. Sudah banyak warga yang berkerumun, dan ada juga dukun setempat yang sedang membaca jampi-jampi mantra untuk membuat kedua pemuda tersebut sadar, akan tetapi hasilnya nihil.


Darmin dengan tatapan kosng menyibakan kerumunan warga dan berkata tegas, “Pak, apa yang anda lakukan percuma. Jiwa mereka telah ditawan di bawah ini.”


darmin menunjuk bawah jembatan dan setelah itu Darmin bersikap biasa, bahkan seperti orang yang linglung, “Jana! Kok, aku disini?”


“Sialan Darmin kau berlari sangat cepat … huff … huff … huff …. Sampai-sampai nafasku ngos-ngosan.” 


Sujana memegangi dadanya yang kembang-kempis dengan nafas tak beraturan dan ritme jantung yang tak beraturan juga.


Dukun yang bernama Ki Rasdi tersebut langsung manggut-manggut dan meninggalkan kerumunan dengan melambaikan tangan, “Lebih baik kita pulangkan kedua pemuda tersebut ke rumahnya. Aku tak sanggup.”


Di daerah sekitar jembatan sudah terjadi banyak hal yang diluar nalar. Dalam satu minggu bisa terjadi dua atau tiga kasus.


Semua warga sekitarnya tidak ada yang berani lewat jika sudah adzan maghrib berkumandang. Mereka percaya jika melewati setelah adzan maghrib berkumandang akan diganggu oleh penunggu sekitar jembatan yang dinamakan jembatan Saradan.


Sudah terhitung hampir ratusan Ki Rasdi menangani kasus yang seperti ini. Namun kali ini dia benar-benar tidak sanggup untuk menanganinya.


Ada sesuatu dalam diri Arizal atau Muna yang membuat mereka di tahan di dalam dimensi gaib jembatan Saradan.

__ADS_1


Satu mobi Alonza Vernandes berwarna perak berhenti ditemani mobil kepolisian. Mobil perak itu merupakan orang tua dari Arizal.


Orang tuanya yang khawatir dari semalam Arizal belum pulang langsung lapor polisi di sektor CIkedung. Sebab domisili Aizal di desa Cikedung dan Muna berdomisili di desa Kroya.


Sudah 3 bulan mereka berpacaran dan sering lewat jembatan tersebut ketika malam hari. Namun tidak pernah terjadi apa-apa dan aman-aman saja. 


Ki Rasdi yang sudah kenal dengan salah satu polisi karena memang ia yang menghubunginya untuk memastikan informasi tersebut agar cepat disebar ke seluruh Polsek di kabupaten Indramayu.


“Pak, kasus ini cukup sulit,” bisiknya dengan menunduk pasrah pada AKP Mujahid Sarwani selaku Kapolsek Terisi.


Sebab kejadiannya terjadi di wilayah kecamatan Terisi dan harus berkoordinasi dengan Polsek Cikedung selaku domisili dari salah satu korban.


“Apakah ada masalah pelik pak?” tanya AKP Mujahid berbisik juga.


“Ya, ini cukup serius. Aku juga sama sekali tidak bisa menembus bagian dalam. AKu tidak sanggup membawa mereka berdua pulang,” jawab Ki Rasdi dengan berbisik.


AKP hanya bisa menggeleng pelan menerima kenyataan tersebut. Dari hampir seratus kasus kejadian yang sama di jembatan Saradan. Baru kali ini Ki rasdi merasa menyerah untuk menanganinya.


Setelah Darmin mengatakan Muna dan Arizal ditawan, ia mencoba menerawang untuk masuk ke dalam tapi hasilnya nihil.


Baru pertama kali ia menerawang tidak ada gambaran sama sekali. Seperti ada sesuatu yang sangat kuat yang menghalanginya.


“Kita kembalikan dahulu mereka ke rumah masing-masing. Nanti aku coba hubungi teman-temanku di akademi. Siapa tahu ada jalan,” bisik Ki rasdi sedikit menguatkan AKP Mujahid.


Setidaknya ada setitik harapan walau itu cukup sulit.


AKP Mujahid mulai mengingat sesuatu, yakni kasus yang 6 bulan lalu cukup menggemparkan.


Seorang wanita diperkosa dan dibunuh, tap organ bagian jantung nya hilang dan kejadian itu menimpa Siwi, wanita yang sangat dicintai oleh Darmin.


Namun anehnya, setelah kejadian tersebut tidak ada kejadian aneh dan mistis menghantui jembatan Saradan maupun daerah sekitarnya.


Biasanya setiap kali terjadi kasus pembunuhan atau bunuh diri di sekitar jembatan Saradan. maka warga akan diteror oleh hantu penunggu jembatan tersebut, sampai-sampai mereka sangat ketakutan dan tidak mau beraktifitas.


AKP Mujahid berbisik pada Kapolsek Cikedung bernama AKP LIstra Anumerta Putri, “Bu, kasus ini firasatku akan cukup rumit dan yang pingsan ini dalam beberapa waktu tidak akan siuman.”


AKP Listra membulatkan mata dengan nada agak pelan, “Kenapa pak? Bukankah ini kasus kecelakaan biasa.”


Kedua orang tua Arizal daan Muna yang berada di dekat mereka berdua sedikit mendengar bisikan AKP Mujahid dengan AKP Listra langsung histeri, “Pak., tolog anakku pak! Tolong!”


Mereka paham apa yang membuat mereka susah menyelesaikan bukan kecelakan biasa tersebut daan apa yang dimaksud dengan Muna daan Arizal akan sadar dari pingsannya agak lama.”


“Bu, tenang bu! kita akan bawa ke dokter di rumah sakit terkenal di Indramayu. Kita juga akan bawa Muna bersama Arizal. Aku yakin pasti sembuh bu,” kata Pak Rimlan ayah dari Arizal pada Sarti ibu dari Arizal.


Sebagai orang tua tentu akan bertanggung jawab atas perbuatan anaknya tersebut. makanya pak Rimlan siap mengurus semua keperluan dari Muna, sebab Arizal yang membawanya semalam.


Mobil ambulan membawa Muna dan Arizal ke rumah sakit RSUD di Indramayu untuk segera diberi penanganan khusus. 


Sebab hanya RSUD Indramayu yang menerima pasien gejala khusus yang menangani kejiwaan. Atau divisi khusus masalah kegaiban, seperti kasus Muna dan Arizal tersebut.

__ADS_1


__ADS_2