
Setelah selesai makan Al, bergegas ke kamar untuk mengambil jaketnya. Saatnya ia kembali bertugas.
"Kamu mau pergi?" tanya Vivian di depan pintu kamar Al sambil bersandar manja di kusen pintu. Seakan Vivan tak mau Al untuk pergi.
"Iya, pekerjaanku cukup banyak. Aku harus mencari informasi mengenai penculikan orang tua jompo yang satu minggu ini lagi marak. Jika aku terlambat, mungkin main banyak korban." Al mengangguk sembari memakai jaket hitamnya.
"Bolehkah aku ikut. Semenjak kamu bli motor baru, aku belum naik. AKu ingin jadi wanita pertama yang menaiki motormu," pinta Viian dengan mata berkaca-kaca dan Al langsung luluh.
"Baiklah, tapi pakaian yang sopan jangan minim seperti pakain kerjamu. Aku tak ingin kamu dicap dan dilecehkan oleh mata-mata yang tidak bertanggung jawab."
Al mengatakan hal tersebut tulus dari dalam lubuk hatinya. Tentu saja membuat Vivian tambah mabuk kepayang, ia merasa Al memang menyukai dan laki-laki yang bisa menjaga martabat wanita.
"Baiiklah, tunggu ya."
Vivian segera ke kamarnya untuk berganti pakaian, kalau di panti ia selalu memakai hot pans dan tank top.
Tentu saja mngeundang birahi teman-temannya, tapi Al yang peka selalu memelototi teman-temannya yang melihat Vivian dengan penuh n****.
Al izin pada Yuzan bahwa ia akan kembali bekerja dan mengajak Vivian jalan-jalan sebentar sebelum bekerja.
Lngakh kaki Al ia arahkan ke motor sport besarnya itu, diikuti Vivian dari belakang yang sudah memakai kaos jersey klub sepakbola kesukaannya yaitu Chelsea dan memakai celana jeans ketat dengan warna seirama dengan kaosnya.
"nanti kamu masuk angin." Al melepas jaket hitam yang ia pakai dan memakaikannya ke Vivian. Kemudian melanjutkan, "Tenang saja. Perutku ini besar, segala macam angin pasti ku tampung."
"Xixixixi ...." Vivian cekkikikan sambil menoyor bagian belakang kepala Al dan melanjutkan, "Kamu ada-ada saja Al."
"Sudah siap?" tanya Al memandang kaca spion dan ia melihat Vivian begitu cantik, walau dengan riasan minim di wajahnya. Dan melanjutkan dengan bergumam, "Sayang, aku bukan manusia lagi."
"Kenapa Al?" Pertanyaan Vivian mengejutkan Al yang sedang bergumam.
"Tidak apa-apa. Ayo kita berangkat!" seru Al dengan tersenyum tipis dan memandang ke arah sipon.
Vivvian melihatnya dan membalas dengan tersenyum lebar, hingga gigi-giginya yang begitu putih terlihat jelas.
"Al, bolehkah aku memelukmu. Tapi jika kamu menolak aku tidak apa-apa. Aku hanya sedikit takut saja naik motor yang cukup tinggi. Aku takut juga pacarmu marah jika kamu naik motor denganku." Vivian dengan penuh harap meminta izin pada Al.
Al membalikan badan dan membolak-balikan tangannya di dahi Vivian, "Pacar? Apa tak salah kau bertanya tentang pacar padaku? Kamu kali pacarnya yang marah."
"Kamu itu suka ngadi-ngadi ya, Vivian. Mana mungkin muka kaya aku ini laku, gendut, item, punya kelainan mata pula. Aiiiiih .... Kamu kesurupan hantu pocong mana bertanya seperi itu," sambungnya dengan menepuk jidatnya beberapa kali.
'Aku Al yang menyukaimu. Kenapa kamu selalu tidak peka,' batin Vivian sedikit kesal.
Vivian pun mencoba memeluk perut Al yang cukup kenyal dan membal. Al merasakan sensai yang tak bisa diucapkan dengan kata-kata.
Kelembutan tangan Vivian terasa sangat aduhai di perut Al, ia menutupi rasa nikmat tersebut dengan melajukan motornya sesedang mungkin. Al pun merasakan di punggungnya ada sebuah benda kenyal yang menempel lekat dan itu sebuah perasaan yang tak bisa Al lukiskan dengan mudah.
__ADS_1
Al menahan hasratnya tersebut, Vivian pun sama. Rasa cinta, sayang, dan kasih mereka hanya bisa dipendam dalam hati masing-masing.
Setelah berkendara selama 10 menit dan sampai di kafe pinggir pantai Glayem, Al menghentikan motornya, "Kita istirahat saja dahulu. Aku juga ingin kamu membantu aku memecahkan kasus ini."
Vivian mengangguk dan dibantu Al turun dengan menggendongnya alla bridal style. Tubuh Vivian yang hanya memiliki berat 45 kg tersebut, sangat mudah dii angkat oleh Al.
Para kaum adam dan hawa yang sedang nongkrong dikafe bernama Jenggot Jebred tersebut merasa iri dengan keromantisan Al dan Vivian.
Sejenak Al bisa melupakan banyak masalah yang ia harus pecahkan dan Vivianlah obatnya.
"Perempuan itu kelilipan semangka kah? Mau sama pria gendut itu?"
"Hai, cinta itu tidak memandang fisik. Apa kamu gak tahu? Baru-baru ini nenek 71 tahun menikahi perjaka berumur 17 tahun?"
"Cara berpikirmu terlalu kuno sis. Meski ia gendut dan sediikit hitam. Coba perhatikan! Kalau dia kurus dan puth pasti sangat tampan, perempuan itu mengerti apa itu mutiara yang terjauh di kotoran kerbau."
Para muda-mudi terus mengomentari Al dan Vivian yang menurut mereka kedua tidak serasi secara fisik. Tapi ada jjuga yang mengomentari jika kedua serasi karena saling mengerti.
Al menarik kursi danmemperislahkan Vivian duduk. Ia harus memperlakukan Vivian seromantis mungkin walau merak tidak pacaran.
Kapan lagi Al bisa berduaan dengan Vivian, gadis yang sangat ia sukai. Al memesan miuman yakni dua kopi capucino. Al dan Vivian memilliki kesukaan minuman hangat yang sama yaitu kopi capucino.
Setelah kopi dihidangkan di ats meja mereka, Vivian mulai bertanya, "Apa yang bisa aku bantu?"
Al tidak menjawab, namun memperlihatkan layar ponsel berisi informasi mengenai tanggal, jam kejadian, jumlah korban, urutan korban, usia rata-rata korban, kendaraan yang digunakan pelaku, pakaian yang digunakan pelaku, dan jumlah pelaku, serta kendaraan yang digunakan.
"Apa yang kamu temukan dari data-data tersebut?' tanya Al penasaran.
"Hmm ...." Vivian menpang dagunya dengan telapak tangan kanan dan sesekali menyeruput kopi capucinonnya tersebut dan melanjutkan, "Lihat jam kejadian, rata-rata peristiwa terjadi antara pukul 21.00-22.00."
"Oke, aku paham. Ada petunjuk lain?" Al mulai mengerti dan otaknya sedang merangkai dan memprediksi apa, bagaimana, kapan pelaku tersebut akan melancarkan aksinya lagi.
Otak Vivian yang sanngat encer sangat membantu Al. Jika Vivian masuk tim penyidik, polisi akan lebih mudah mengungkap sebuah kasus seperti ini.
"Pelaku melakukannya tidak secara acak. Tapi dari urutan korban, ada sebuah pola. Perttama dan kedua pelaku menculik laki-laki, ketiga dan keempat menculik perempuan. Pasti kamu tahu kan selanjutnya apa?"
"Maka korban keseblas dan kedua belaas adalah perempuan."
Al menjawab dengan tegas dan sudah memeahami pola yang dilancarkan oleh pelaku.
Al langsung memberi pesan pada Bharada Jefry, akan pola dari pelaku.
"Selanjutnya, tempat kejadian. Dari polanya pelaku juga tidak menculik secara acak. Pertama rumah yang menghadap Barat, kedua utara, ketiga timur dan keempat selatan. Pola ini diulang sampai kesepuluh yaitu ruma yang menghadap ---"
"Maka selanjutnya, berarti pelaku akan menculik wanita jompo yang memiliki rumah yang menghadap ke timur," potong Al ia menemukan petunjuk lagi.
__ADS_1
Ini akan mempersempit polisi dan menjurus ke rencana pelaku selanjutnya. Dengan begini polisi bisa melakukan tindakan preventif.
"Tapi ini masih luas Vivian, kita harus lebih mempersempeit lagi ruangnya," celetuk Al yang masih belum puas dengan bantuan Vivian.
"Baiik, aku mengerti. Kita akan coba persempit lagi kemungkinannya. Tapi ini butuh waktu dan perutku juga sudah lapar, hehehe ...." Vivian terkekeh sambil mengelus-elus perutnya.
Al menepuk jidatnya yang cukup lapang, "Hadeuh .... Jangan sampai kau tertular viurs doyan makan dariku."
Vivian hanya bisa terkekeh melihat Al dan membatin, 'Semmoga saja kebahagian ini tidak cepat berlalu.'
Baru saja Vivian mengatakan hal tersebut, sebuah mobil Doyota Avanka berwarna hitam, berhenti di parkiran kafe.
Muka Al langsung cemberut melihat mobil tersebut. Mobil itu milik ayah Lyodra, yakni Narindra.
Deityas aksa tiba-tiba aktif dan begitu Lyodra keluar dari mobil, pandangan mata Deityas aksa melihat tubuh Lyodra diselimuti aura hitam.
Aura hitam tersebut sangat pekat, hingga membuat tanaman yang dilewati Lyodra seketika itu mati.
Al langsung menundukan wajah agar tak dilihat oleh Lyodra, sebab ia sudah berjanji pada Naridra untuk tidak lagi berdekata dengan Lyodra.
Sepandai-pandainya tupai melompat pasti akan terjatuh juga. Al tertangkap oleh mata Lyodra dan gadis berambut pendek tersebut mendekatinya.
Ada rasa cemburu pada hati Vivian, 'Kenapa kebahagiaan ini berlalu sangat cepat ya Tuhan.'
"Al, kenapa kau meninggalkanku di rumah sakit?" tanya Lyodra dan Al hanya bis bungkam dengan raut muka dingin.
Al memegang tangan Vivian dan menariknya, lalu membayar untuk dua gelas capucino di kasir.
"Al, bukannya kamu sangat akrab dengan Lyodra. Kenapa ---"
"Sudh jangan dibahas. Aku hanya ingin fokus ke kasus ini. Masalah Lyodra dan aku tak usah kamu perdulikan, lagipula kita hanya teman biasa," potong Al dengan menaruh jari telunjuk di bibir vivian dan membuatnya tersipu malu.
'Apakah Al sekarang lebih mementingkan perasaanku sehingga ia mengatakan hal itu?' pikir Vivian dengan menunduk malu.
'Benar-benar sialan ayah Lyodra. Padahal sedikit lag aku dan Vivian memecahkan kasus ini. Menggangu saja, seharusnya jaga Lyodra agar tak mendekatiku lagi. Ayah yang ---'
Sebelum Al melanjutkan kata-katanya dalam hati. Tiba-tiba Lyodra melerai pegangan tangan Al pada tangan Vivian dan memeluknya dar belakang, "Katakan Al! Apakah aku punya salah padamu?"
Al merasakan tubuh Lyodra yang sangat dingin dan lebih dingin dari Sarkoji serta Wina. Setara dengan suhu minus 50 derajat celcius dan membuat tubuh Al sedikit mati rasa.
Al pun tak tega dan melepaskan pelukan tangan Lyodra, "Kenapa tubuhmu begitu dingin? Apa yang terjadi?"
Deiytas aksa bersinar dan menyerap energi negatif yang sudah berubah menjadi energi kematian dari dalam tubuh Lyodra.
Proses penyerapan ini tak bisa dilihat oleh mata biasa, hanya para Sramana termasuk Narindra yang mampu melihatnya.
__ADS_1
Narindra segera melesat dan memukul wajah Al hingga ia terpundur dan akkhirrnya terjungkal menabrak pagar besi kafe.
"Al!" teriak vivian khawatir dan langsung mendekatinya dan seketika itu juga Lyodra langsung pingsan.