
Siluet pedang yang awalnya seukuran keris mini sepanjang 5 cm meter, langsung memanjang sepanjang 1 meter dan berputar seperti gassing merobek kulit pergelangan tangan Bayi Bajang.
Cengkraman kedua jarinya tersebut terlepas daan Al langsung memeluk Lyodra dengan melesat mundur.
"Ajian Bajra Isvara!"
Dari telapak tangan kanan Al melepaskan siluet rantai berwarna unguu gelap daan berhasil menjerat tubuh Bayi bajang yang sedang mengerang kesaakitan sambil berdiri.
Tubuh setinggi 30 meter tersebut terikat daari leher sampai ujung kaki terikat oleh siluet rantai ungu.
"Dasar bocah dungu! Kau pikir rantai ini bisa memnyegelku? Sungguh bodoh! Aku akan membunuhmu dan perempuan itu, aaaargh ...!"
Bayi Bajang menegangkan tubuh dengan mengerang, suaranya sangat mengelegar hingga membuat wilayah dimensi teritorialnya bergetar hebat.
Siluet rantai yang mengikat seluruh tubuh Bayi Bajang retak akibat tekanan energi TM dari dalam tubuhnya.
Al bingung harus bertindak apa, karena masuk dalam wilayah teritoral ajian jayadipa milk Bayi Bajang.
Ia berlari pun tak ada gunanya karna tak menemukan pintu keluar. Saat ini Al benar-benar menemui jalan buntu, diitambah lagi Lyodra masih pingsan.
Al tidak leluasa bertindak melawan Bayi Bajang dan tak bisa melindungi Lyodra secara bersamaan.
Al menghela nafas panjang, dan berkata sangat pasrah, "Disaat seperti ini, apa yang harus aku lakukan? Andai saja paman rambut putih ada disini?"
Bayi Bajang berhasil lepas dari jeratan rantai bajra isvara dan siluet-siluet rantai tersebut hancur berkeping-keping.
Bayi bajang melompat tinggi ke arah Al dan menjatuhkan kedua kakinya dengan tekanan yang sangat kuat hingga membuat Al juga Lyodra terpental jauh.
Al terlua parah terkena gelombang hempasan energi yang dihasilkan dari hantaman kedua kaki Bayi Bajang.
"Guhak!" Al terkapar dengan memuntahkan banyak darah dan tubuhnya tidak bisa bangun, juga Lyodra berada di sammpingnya masih pingsan.
"Aku sudah tak menginginkan matamu lagi, aku akan membunuhmu beserta ---"
"Silahkan kau boleh membunuhku, tapi keluarkanlah Lyodra dari sini. Dia tidak bersalah!" potong Al dengan mencoba berteriak walau suaranya sudah parau.
"Diam!" Bayi Bayang berpindaah tempat di saamping kanan All dan langsung menghantamkan bogem mentah ke tubuhnya.
__ADS_1
Semakin banyak Al memuntahkan darah, bahkan tulang rusuknya retak. Bayi Bajang tidak mengeluarkan tenaga maksimalnya untuk memukul Al, ia hanya ingin menyiksa Al untuk mati perlahan.
Namun anehnya, Bayi Bajang menuruti permintaan Al untuk mengeluarkan Lyodra dari dalam teritorial dan dimensi gaib yang dibuat oleh Bayi Bajang.
Tubuh perempuan berambut pendek tersebut terhisap masuk ke daalam pusaran merah dan mengembalikannya ke kamar rawat Al.
Dari dalam Kundalini Al, api dewa pohon suci menyala berkobar-kobar dan meregenerasi luka-luka Al dan dalam sekejap mata, luka dalam dan luka luar Al dipulihkan.
"Jujur aku akui, hanya kamu makhluk halus yang memiliki jiwa ksatria."
Dengan tubuh tertindih kepalan tangan Bayi Bajang, tngan kanan Al mengacungkan jemppol ke arahnya.
Kemudian melanjutkan, "Aku memang takan menang melawanmu. Tapi, aku tidak akan mati semudah itu. Jadi aku memberikan perlawanan."
Kepalan tangan Bayi Bajang sepeti terdorong energi yang sangat kuat dari dalam tubuh Al.
Bahkan tubuhnya ikut terpundur, padahal tubuh itu sangat besa, "Baiklah, aku mengakuimu sebagai seorang ksatria dan aku Jayadipa Mangkuwardhana menerima tantanganmu."
Tubuh Bayi Bajang mengecil setingg 250 cm, tubuhnya berwarna merah kehitaman, dengan dua tanduk bsar menjulang ke atas. Bayi Bajang hanya menutupi bagian vitalnya dengan kain berwarna putih yang sudah lusuh.
Al menciptakan satu ppedang bayangan di genggaman tangannya dan memasang kuda-kuda dengan tatapan mata yang tajam ke arah Bayi Bajang.
Mata Al melebar karena melihat pergelangan tangan Bayi Bajang yang terkena sabetan pedang angkusa sangkara ternyata teruka dan lukanya semakin melebar.
'Bukannya ajian ini hanya mempan kepada manusia? Lalu kenapa terhadap makhluk halus ini mempan? Apa dia bukan makhluk halus?' pikir Al menemukan sedikit kejanggalan.
Al melesat ke arah Bayi Bajang dengann ajian moksala rudra dan menebas cepat berubi-tubi tubuh Bayi Bajang.
Benar saja, kulit tersebut terluka dengan luka robekan di beberapa bagian tubuh.
"Manis, darah ini sangat manis." Bayi Bajang menjilat darah di sekujur tubuhnya dengan menyeringai dan melanjutkan, "Sudah 100 tahun aku sudah tak merasakan darah menetes ditubuhku, hahaha ...."
"Analisaku, monster ini adalah manusia, tapi kenapa tubuhnya seperti ini? Biar aku coba, Ajian Trisula Sambhu!"
"Kau bilang aku monster? Hai, aku ini juga manusia atau lebih tepatnya Sramana, kau pun pasti tahu." Setelah mengatakan hal tersebut, siluet tombak trisula yang cukup besar, ujungnya menimpa kepala Bayi Bajang.
BOOM!
__ADS_1
Suara ledakan disertai kepulan asap menghalngi pandangan Al, "Hahaha ... Kau pikir serangan seperti akan mempan padaku?"
"Tidak, aku hanya sedang mengetes apakah tebanku salah atau benar. Ya, aku percaya sekarang kau adalah Sramana. Namun menurutku kmu memiiki tahap yang informasinya belum aku pahami."
Dengan senyum yang mengambang, Al sangat percaya diri melawan Bayi Bajang.
"Aku hanya satu-satunya Sramana yang mampu mengoptimalkan pecahan mustika jagat saksana dan melakukan penyatuan dengan khodamku, yakni iblis merah. Tapi ...."
Bayi Bajang hilang dari tempatnya berdiri dan tidak melanjutkan perkatannya dan langsung melakukan pukulan bertubi-tubi ke arah Al.
Riipela aksa aktif, Al bisa melihat gerakan-gerakan Bayi Bajang atau sudah mendapatkan gambaran prediksi apa yang akan dilakukan oleh Bayi Bajang.
Dengan mmiringkan badan, Al berhasil menghindari pukulan-pukulan tersebut dan hanya mengenai ruang kosong belaka.
"Oh, matamu itu sangat menarik. Tapi aku tidak tertarik, Ajian Segoro Geni!"
Bayi Bajang melepaskan api dalam tubuhnya berkobar membakar apapun yang dilewatinya.
Al sigap melompat mundur terus menerus dan sejauh mungkin agar tidak terkena gelombang api tersebut.
Bayi Bajang memang tidak serius dan hanya ingin mempermainkan Al. Tetapi sebaliknya, Al serius ingin membunuh Bayi Bajang sekuat tenaga.
Kobaran api tersebut berhenti ketika sampai di radius 50 meter dan Al melemparkan pedang bayangan ke arah Bayi Bajang.
Dan ....
JLEB!
Telapak tangan kiri Bayi Bajang terkena siluet pedang bayangan dan darah merah pekat merembes deras.
Bukannya, marah atau geram, Bayi Bajang justru mengulas senyum lebar dan melambaikan tangan, "Terima kasih atas permainannya kali ini. Aku harap kita bisa bertemu lagi."
Bayi Bajang menjentikan jari dan tubuhnya serta tubuh Al terhisap masuk ke dalam pusaran merah.
Al mendapati dirinya sudah berada di dalam kamar rawat inapnya dan berada di samping Lyodra yang masih belum sadarkan diri.
Bayi Bajang punya pemikiran tersendiri, kenapa tidak menuruti perintah Grisena untuk menghabisi Al, malah melepaskannya. Ada sesuatu dari Al yang membuat Jayadipa Mangkhudara atau Bayi Bajang tertarik.
__ADS_1