INDIGO SYSTEM

INDIGO SYSTEM
Indigo <>14 Misteri Sramana V


__ADS_3

...****************...


...Rumah Bharada Jefry....


Tahun 2023.


Al hanya manggut-manggut mendengar cerita Bharada Jefry, ia hanya paham tentang Kaisar Wijaya beristri dua.


Sebagai seorang pemuda ia ingin sekali memiliki pacar, tapi apa daya, tubuhnya yang gemuk dan muka hitam, pas-pasan, siapa yang mau, itu yang terbesit dalam pikiran Al.


Padahal tanpa ia sadari Lyodra dan Vivian menyukai Al, sebab kedua matanya yang berbeda memiliki daya tarik tersendiri bagi kedua pemudi tersebut.


"Apakah kamu mengerti tentang Sramana?"


"Tidak pak."


Bharada Jefry menepuk jidatnya sendiri mendengar jawaban Al, ia merasa sia-sia menceritakan panjang lebar tentang misteri Sramana. Nyatanya, Al sama sekali tidak mengerti.


"Aku hanya ingin bertanya tentang mayat Endang Eka Sriyati, apakah kamu yang menaruhnya?"


Pertanyaan Bharada Jefry mengenai mayat wanita tersebut membuat Al ketar-ketir, tubuhnya gemetar dan raut wajahnya seputih kertas. Bulir-bulir keringat dingin mengalir perlahan di tengkuk dan dahinya.


"Pak, tapi bukan aku pelaku pembunuhnya, itu tuan Undi," sergah Al menyeka keringat di dahinya dan mencoba menenangkan diri.


"Ya, kami sudah tahu. Tenang saja, justru kami akan memberimu penghargaan bisa menemukan mayat yang tak bisa diketemukan oleh Sramana setingkat Kharisma jagat Agung sekalipun. Aku rasa kamu juga seorang Sramana."


Bharada Jefry melempar senyum lebar pada Al, sambil matanya difokuskan untuk melihat tingkatan Sramana Al berada ditahap apa.


'Mata batin?! Bagaimana mungkin?' batin Bharada jefry melebarkan mata.


Pasalnya, Sramana Kharisma jagat Agung yang merupakan Sraamana tingkat tinggi tak mampu mendeteksi keberadaan mayat tersebut.


Tapi Al yang hanya merupakan Sramana tingkat mata batin bisa menemukannya, walau ihal itu mendapat bantuan dari Maung Bodas dan petunjuk dari arwah gentanyangan Endang.


Al menghela nafas panjang, rasanya begitu lega dan mulai menceritakan dari awal sampai akhir tentang penyelidikannya pada arwah gentayangan Endang. Mulai dari mimpinya bertemu arwah Endang hingga bisa menemukan mayatnya.


'Al bukan pemuda gendut biasa, matanya juga berbeda memancarkan energi yang tak bisa ditangkap atau dideteksi oleh ajian pendeteksi apapun. Aku akan mencoba membujuknya menjadi dukun dan intel polisi, tapi apakah dia mau ya?' pikir Bharada Jefry.


"Pak, bapak tidak sibuk? Bukannya harus kembali ke kantor. Jika bapak ingin kembali ke kantor, mohon jangan bawa aku ya pak. Aku takut dicecar banyak pertanyaan," pinta Al dengan mata berkaca-kaca.

__ADS_1


"Justru kamu harus dibawa, agar pelakunya mendapatkan hukuman yang setimpal, kamu juga akan mendapatkan hadiah dari kepolisian atas pengungkapan pembunuhan 15 tahun yang lalu. Apakah kamu tidak mau dapat hadiah?" bujuk Bharada Jefry dengan tersenyum licik.


Bharada Jefry menganggap Al pasti mau jika dibujuk dengan uang.


"Aku rasa pemuda sepertimu pasti pengangguran, bagaimana jika kamu bekerja sebagai intel polisi?" pinta Bhaaradda Jefry dengan kata-kata menohok.


'Betul juga, aku lagi butuh pekerjaan. Tapi jadi intel apakah gajinya besar dan sesuai dengan resikonya?"


"Tapi kalau aku pulang ke panti dengan tangan kosong, pasti akan membuat teman-teman panti mengejekku dan ibu pasti sedih. Apalagi aku berhutang pada ibu, bagaimana ya?' pikir Al menimbang baik-buruk keputusaannya.


[Xixixi! Misi lanjutan terbuka]


¤--------------¤--------------¤


[Misi: Bantu Bharada Jefry menyelsaikan 3 kasus]


[Hadiah: Uang Rp,10.000.000, 1000 poin Indigo, 10 cairan penurun lemak 1%]


[Batas Waktu:-]


[Hukuman:-]


¤--------------¤--------------¤


[Ya/Tidak?]


tana basa basi Al langsung menekan tombol 'Ya' pada layar antarmuka atau panel hologram berwarna putih tersebut.


"Pak, aku terima pekerjaannya menjadi intel. Tapi sbelum kita pergi ke kantor, aku akan mencuci motor bapak dahulu, tunggu ya."


Sebelum ia dan Bharada Jefry kembali ke kantor Polres Indramayu, sesuai janjinya Al mencuci motor Yabohai R13 milik bapak polisi berumur 42 tahun tersebut.


"Woaah .... Motor ini sangat keren, kapan aku bisa memilikinya ya?"


Dengan mata berbinar-binar Al mulai menyiram perlahan dari depan sampai belakang. Lalu menggosok-gosoknya dengan busa yang sudah dicelupkan pada air sabun.


Al senang bukan main mencuci motor tersebut, walau itu hanya mencuci tapi serasa ia memiliki.


Setelah selesasi mencuci dan mengeringkan motor tersebut dengan kain lap kanebo, Bharada Jefry membawa Al ke kantor Polres Indramayu untuk memberikan keterangan.

__ADS_1


Sesampainya di depan kantor, Bharada Jefry mebawa Al ke ruang interogasi untuk memberikan keterangan dan Bharada Jefry temani.


"Ini siapa pak Jefry?" tanya Bharaka Andri dengan tatapan tajam pada Al.


Pemuda gendut itu langsung menundukan wajah dengan raut muka pucat pasi dan tubuh gemetar, ia takut akan masuk penjara.


"Ini Vectorio Alzinsky atau dukun V.A," jawab Bharada Jefry dengan nada tegas.


"Ha-ha-ha .... Pak Jefry, anda jangan bercanda." Bharaka tertawa terbahak-bahak dengan memegangi perutnya.


Sebab menurutnya tidak mungkin Al bisa menemukan mayat yang hilang selama 15 tahun dan itu masih sama kondisinya seperti 15 tahun yang lalu.


Seharusnya mayat itu sudah menjadi tulang belulang, bukan mayat gadis cantik yang mengalami penyiksaan dengan banyak luka terutama sobekan dibagian jantung.


"Silahkan Al, jelaskan semuanya!" seru Bharada Jefry.


Bharaka Andri merupakan polisi yang maih muda dengan segudang prestasi, dibanding Bharada Jefry yang sudah kepala emppat, tapi jabatannya lebih tinggi dibanding Bharada Jefry.


Namun bukan berarti dia tak mengenal dunia Sramana, ia sangat paham walau bukan seorang Sramana.


Bahkan kasus Endang pun yang mengusulkan untuk menyewa Kharisma Agung Jagat untuk membantu polisi adalah atas usul Bharaka Andri.


Kharisma Agung Jagat yang bernama Prida Maheswari adalah teman sekolahnya dahulu di SMKn 1 Losarang.


Al duduk di kursi yang berhadapan dengan meja Bharaka Andri daan mulai bercerita dari awal sampai akhir.


"Siapa yang membantumu? Aku tahu dunia Sramana, jujur saja. Siapa khodammu?" tanya Bharaka Andri langsung ke intinya.


"Bapak-bapak, jujur kalian membuatku pusing bertanya tentang khodam dan Sramana. Aku hanya dibantu paman rambut putih untuk menemukan mayat nona Endang dan pak RT Sarkowi. Bisakah pertanyaanya dipermudah?"


Al mengacak-acak rambutnya merasa frustasi jika sudah ditanyakan tentang Sramana, dn ditambah lagi tentang khodam. Rasanya ia ingin menjerit di dalam air saat itu juga.


"Anggap saja Sramana itu manusia supernatural dan khodam itu siluman atau jin yang bantu kamu," timpal Bharada Jefry mempermudah istilahnya.


"Oh, itu," Al membulatkan mulutnya dan melanjutkan, "Saat ini aku hanya bisa melihat hantu pak dan yangmembantuku itu setahuku hanya paman rambut putih."


Diam-diam Bharaka Andri mengirim pesan ke Prida Maheswari dan menanyakan tentang khodam yang berambut putih.


Prida Maheswari tidak menjawabnya, namun langsung meunju Polres Indramayu untuk mengetahui Al yang memiliki khodam Maung Bodas.

__ADS_1


"Bagaimana pak, apakah sudah selesai interogasinya? Oh, ya, kata bapak ini aku akan mendapatkan hadiah, apakah benar? Dan juga menjadi intel, gajinya berapa pak?" al menunjuk dengan jemplnya ke arah Bharada Jefry dan bertanya seperti wartawan, nyerocos gak karu-karuan.


__ADS_2