
Sesampainya Al di depan panti Insan Madani, matanya berkeliling dan kemudian membulat setelah melihat jendela juga pintu bangunan tersebut rusak.
“Ibu! Vivian! Fregy! Alisa! Lyodra!” Al berlari masuk ke dalam dengan tergesa-gesa dan penuh rasa khawatir.
“Apa yang terjadi? Kemana mereka?” Al terus mencari di setiap kamar panti dan tidak ada satupun anak panti yang berada di dalam panti.
Sekelebat bayangan hitam melemparkan sebuah kertas yang diikatkan pada gagang belati.
Dengan sigap kedua jari kanan Al menangkap bilah belati tersebut dan matanya berkeliling mencari keberadaan sosok yang telah melemparkan belati tersebut.
“Sial, siapa yang berani melemparnya? Siapa disana?” teriaknya.
Bilah belati itu juga sangat beracun, namun berkat Naga Taksaka sudah bergabung dengan tubuh Al semua racun apapun dinetralisir oleh ajian wisanggeni milik Naga Taksaka.
Baru saja Al melepaskan kertas tersebut, Maung Bodas tiba-tiba muncul di belakang Al dan membuatnya terkejut, “Paman rambut putih?! Hampir saja jantungku copot?!”
“Maaf, aden. Ini kabar sangat penting. Geng Camping Ireng telah menculik semua orang disini dan membawanya ke suatu tempat. Namun anak-anak yang sepertinya berumur 17 tahun dipisahkan tempat penyekapannya. Aku sama sekali tidak bisa menembus kubah penghalang gaib tersebut terlalu kuat,” jelas Maung Bodas dan tambah membual Al panik serta khawatir.
Pasalnya, Maung Bodas saja yang sangat kuat menurut Al tidak mampu, apalagi dirinya.
Ditambah lagi pasti para penculik tidak akan mengizinkan Al untuk lapor polisi, maka tugas penyelamatan ini hanya Al dan Maung Bodas yang bisa melakukannya.
Urat otot di dahi Al menonjol kuat dan mengepalkan tangan sekuat-kuatnya, “Kenapa mereka jadi targetnya dan ikut dalam masalahku?”
“Ada apa aden? Apa hal yang merisaukan aden?” tanya Maung Bodas yang melihat muka Al begitu kusut saat ini.
Bagaimana tidak kusut, ia harus menyelamatkan semua orang yang terpisah serentak dan itu tidak bisa dilakukan oleh Al seorang diri.
“Tidak apa-apa paman. Bawa aku ke tempat tersebut! Kita pikirkann rencananya di jalan.”
al dituntun cepat menuju angkot kuning yang merupakan jelmaan Maung Lodaya dan langsung masuk ke dalamnya.
__ADS_1
Sesampainya di kursi penumpang Al bingung mana dahulu yang harus didahulukan, daan membatin kesal, ‘Bangke, naga buduk itu tidak bisa dipanggil saat ini! Padahal aku membutuhkan bantuannya.”
“Aden menurutku kita selamatkan dahulu anak-anak panti yang berumur 17 tahun. Aku merasakan sesuatu yang buruk terhadap mereka,” celetuk Maung Bodas dan langsung mencerahkan serta menenangkan pikiran Al.
“Baik, paman rambut putih. Antar aku kesana! Pasti ada cara untuk melewati penghalang tersebut!” Al bersemangat dengan mengepalkan kedua tangannya sangat erat.
Angkot kuning jelmaan Maung lodaya memang bukan angkot biasa. Baru saja Al berkedip 3 kali, angkot tersebut sudah tiba di depan sebuah gang depan pabrik kosong di daerah Palimanan.
Suasananya sunyi dan mencekam, tidak satupun kendaraan yang lewat, juga tidak ada satupun orang yang lalu lalang.
Al membuka kertas yang terikat pada gagang belati dan membaca isi pesan dalam kertas tersebut.
Mereka menamakan dirinya geng Camping Ireng dengan tebusan kedua mata Al, atau semua sandera akan dibunuh esok pagi jam 6 jika tak menemui mereka jam 12 malam di pantai Tirtamaya.
Al kembali bimbang dan mencoba menjernihkan kepala dengan menghela nafas panjang, “Paman mereka tidak mau uang, tapi meminta kedua mataku,” terang Al.
maung Bodas terdiam sesaat dengan mengelus dagu, “Sepertinya mereka memang mengincar aden setelah berhasil membunuh kedua kawan mereka,” gumamnya.
“Paman kita bagi saja dua tim. Paman bereskan yang ada di pantai Tirtamaya bersama Macan raksasa ini. Disini biar aku yang urus,” titah Al dan langsung disahuti dengan anggukan tegas oleh Maung bodas.
Al pun turun dari angkot dan mengaktifkan dua mata sekaligus, ia sudah tak peduli jika umurnya akan terus berkurang.
“Ajian Padma Siwa!” Al mengaktifkan radar gaib untuk mendeteksi setiap makhluk halus dan manusia yang berada di wilayah pabrik kosong tersebut.
Al menemukan sebuah kelemahan di bagian selatan kubah pelindung gaib, disana makhluk halus penjaganya begitu sedikit dan sangat lemah, ditambah lagi sepertinya bagian selatan tersebut merupakan pintu masuk dan keluar.
Al menyunggingkan senyum, “Baru kali ini ada yang membuat kubah pelindung gaib begitu bodoh dan lemah. Ajian macam apa ini? Aku akan membuat pengalihan.”
Tombak trisula bayangan yang berjumlah 10 mengelilingi Al, ditambah 10 pedang bayangan dan 10 panah angin disertai api yang berkobar-kobar.
“Rasakan ini!” Al mengangkat tangan kanannya dan semua senjata bayangan tersebut melesat ke arah selatan, barat dan utara kubah pelindung gaiib yang hanya bisa dilihat oleh Al ataupun Sramana lain.
__ADS_1
BOOOM! BOOM!
Suara rentetan ledakan disertai bola-bola cahaya yang menyilaukan mata dan kepulan asap menghalangi pandangan.
Al langsung melesat menggunakan ajian moksala rudra menuju bagian selatan kubah pelindung.
“Ada serangan! Cepat cari penyusupnya!”
Pasukan makhluk halus yang terdiri dari Wewe Gombel, siluman ular dan siluman kalajengking menyisir ke berbagai arah kecuali arah selatan.
Mereka menganggap jika serangan tersebut dan pelakunya berada di area sekitar ledakan. Nyatanya itu hanyalah sebuah pengalihan.
Al mengeluarkan pedang naga Taksaka dari inventaris sistem dan menusuk lapisan kubah untuk merusaknya. Rencana Al diketahui sang pemilik kubah yakni Sambadra, seorang dukun bertahap paranormal.
Sambadra yang telah menjaga anak-anak panti yang berumur 17 tahun dan telah diculik oleh anak buah Undi.
“Rupanya ia nekat, aku akan menelepon Undi untuk —-”
“Percuma saja tuan,” potong Al yang sudah berada di hadapan Sambadra dan hanya berjarak 5 meter darinya. “Aku sudah melumpuhkan semua energi elektromagnetik dalam radius 1 km. Sinya ponsel milik tuan aku jamin sinyalnya hilang.”
“Apa?! Tidak mungkin?! bagaimana kau melakukannya?!” Sambadra melebarkan mata.
“Bukan hanya itu, tempat ini juga sudah aku kurung dengan ajian bajra isvara dan tidak ada yang bisa keluar tanpa seizinku. jika memaksa maka hasilnya akan seperti ini.”
Al menarik rambut Wewe Gombel dan menebas lehernya hingga putus. Al kembali lagi dirasuki Naga Taksaka setelah mengaktifkan kedua matanya.
Efeknya Al tidak akan kehilangan setiap detik umurnya, tapi ia akan dirasuki Naga Taksaka yang sudah menyatu dengan Cupu Manik Astagina yang merupakan wadah dari mustika Jagat Saksana.
Sambadra memanggil khodamnya yang merupakan seekor siluman kerbau betina bertanduk empat dan siluman tersebut berubah menjadi pusaka celurit kembar.
“Itu bagus. jika itu maumu. maka aku sendirian yang akan memiliki pedang itu dan kedua matamu, hahaha ….”
__ADS_1
Sambadra memasang kuda-kuda dan berisap melesat ke arah Al. namun sebelumnya ia memperkuat tubuh dan lengannya dengan ajian lembu sekilan serta ajian brajamusti.