INDIGO SYSTEM

INDIGO SYSTEM
Indigo <>38 harta Kembar Siam V


__ADS_3

Angling Wirasena yang baru satu hari menngalahkan Mogharwala mendapatkan mustika gandariwa dan berhasil mengontrak salah sattu kera putih bernama Hanubara.


Hanubara datang sebab merasa tuannya tersebut dalamm bahaya.


"Oh, kau mau menyelamatkan tuanmu. Tapi kamu takan sempat, dia akan mati bersama dirimu. Ajian Chandra Getih!"


Aruna dan Arini diselimuti aura merah darah dengan raut muka menyeringai dan kuku-kuku yang lebih panjang serta runcing.


"Bos, bangun!" hanubara menepuk pundak kanan Angling Wirasena untuk menyadarkannya dari ajian sirep megananda yakni ajian bertipe ilusi yang ditanamkan melalui hembusan udara atau suara.


Angling Wirasena sudah sadar sepenuhnya dan langsung membulat matanya, "Hanubara?!"


"Bos, kita tidak bisa mengalahkannya. Lebih baik kita kabur." Hanubara bersiap menarik Angling Wirasena untuk kabur dari kepungan Kakawin, namun disergah oleh Angling Wirasena.


"Tidak, aku harus menyelamatkan mereka dari siluman itu!" tunjuknya pada Aruna dan Arini.


Angliing WIrasena memang paling tua diantara Birawa, Setyarini, Jayadipa dan Prisarari. Ia sudah dianggap kakak oleh mereka berempat dan selalu berusaha melindungi mereka.


Angling Wieasena menautkan tangan di tengah dada, "Ayo kita lakukan, lebih baik kita mati. Daripada harus lari sebagai pengecut! Ajian Gandariwa Subyakta!"


Hanubara berubah menjadi kepulan asap dan sudah menjadi sebuah tongkat besi berwarna hitam dengan kedua ujung berwarna putih.


Arini dan Arini bersiap menyerang, ia harus tetap waspada demi penyatuan Birawa, Jayadipa, Setyarini, dan Prisarasari dengan ajian pancer sudarsana.


Sebab jika gagal Aruna dan Arini yang akan mati dan Kakawin akan susah lagi menemukan wadah yang sama seperti Aruna dan Arini.


Aruna dan Arini terbang mmelesat ke arah Angling Wirasena dengan melepaskan cajjkaran beruntun.


STANG! STING!


Keempat cakaran tersebut ditangkis dengan tongkat besi Gandariwa. Mereka terus beradu serangan dan sangat lama, sudah ribuan gerakan, tetapi belum ada sau pun tandaa-tanda siapa yang akan kalah.


"Hahaha .... Aku akui kau bisa seimbang denganku. Tapi setelah mereka bangkit dengan keempat Jendralku, maka jangan harap kau bisa seimbang atau menang," kata Arini dan Aruna serentak dengan suara serak dan parau.


"Kita saja siapa yang kalah dahulu!" Angling Wirasena melemparkan tongkat Gandariwa ke uda lalu menautkan tangan, "Ajian Aksamala Gandariwa!"


Tongkat itu berubah menjadi banyak setelah ada kepulan asap beruntun dan tersusun mengelelingi Aruna dan Arini membentuk menjadi sebuah kerangkeng.


Kerangkeng itu lama kelamaan mempersempit ruang gerak Aruna dan Arini. Seiring mengeratnya tautan genggaman tangan Angling Wirasena.


"Hahaha .... Aku pastkan kau akan kusegel, walau aku mencintaimu," teriak Angling WIrasena.


Ia harus membuang jauh rasa cintanya pada Arini dan Aruna, semua ini demi menyelamatkan mereka semua. Sebaab ia tahu kedua gadis kembar terebut dalam pengaruh siluman.


"Kanda, lepaskan kami kanda," pinta Aruna yang tubuhnya berubah menajdi seperti semula, begitu juga Arini.


Tautan tangan Agling Wirasena mengendur setelah melihat kedua orang yang ia cintai meringis kesakitan terjebak dalam kerangkeng Gandariwa yang ia buat.


JLEB!


Perut Angling Wirasena tertusuk dari belakang elh tangan Prisarasari yang sudah berubah menjadi siluman seperti siluman landak yang dipenuhi duri-duri tajam dan besar di punggungnya.

__ADS_1


Sifat Birawa, Jayadipa, Setyarni, dan Prisarasari berubah menjadi jahat, setelaah melakukan penyatuan dengan keempat Jendral dari kerajaan iblis Kakawin Sena.


Mereka berempat berhasil menguasai ajian pancer sudarsana, yakni ajian yang menyatukan tubuh manusia atau Sramana dengan tbuh siluman dan kan meningkattkan kekuatan baik fisik maupunmental sang Sramana.


"Ini jawaban dari lubuk hatiku yang paling dalam. Sebenarnya aku sudah lama ingin membunuhku, kakakku yang paling baik, hahaha ....'


"Hahaha ...."


"Hahaha ...."


"Hahaha ...."


Birawa, Jayadipa, Setyarini dan Prisarasari menertawakn kebodohan Angling Wirasena yang mudah tertipu oleh merka berenam. Terutama ketika Angling Wirasena dibutakan cinta oleh pesona kecantikan Aruna dan Arini.


"Guhak! Kalian boeh menertawanku atas kebodohanku mencintai Ratu Dewi Chandri Arini dan Ratu Dewi Chandra Aruna. Tpai aku juga menipu kalian semua, aku memang benar-benar mencintainya, bukan untuk naikh tahta raja, Guhak!"


Angling wirasena berkata dengan terus memuntahkan darah, tapi dengan raut muka tersenyum.


Ia merasa lega bisaa menyatakan perasaannya walau itu ia anggap sebagai kata-kata terakhir sebelum ia mati.


"Ajian Lempitt Sayuta!" Tiba-tiba ada suara yang muncul dan sangat menggelegar.


Suaratersebut adalah suara perempuan, yakni Ratu Wulandari yang muncul di belakang Prisarasari yang masih menusuk pinggang Angling Wirasena.


Kakawin yang berada di dalam tubuh Aruna dan Arini langsung ketakutan dengan raut muka seputih kertas.


Ia tak menyangka jika Ratu Wulandari sudah menyempurnakan ajian padma siwa. Namun Kakawin tak mau kalah, "Hahaha .... Walau kau sudah menemukan kami. Tapi percuma, keempat senopatimu jiwanya sudah mati."


Ratu Wulandari mengaatakan hal tersebut sambil melayang memutari cepat kerangkeng yang mengurung Aruna dan Arini.


Ia sama sekali tak peduli dengan Anglng Wirasena yang tertusuk oleh Prisarasari.


Kerangkeng yang terbuat dari tongkat Gandariwa langsung dihantam pukulan keras hingga hancur oleh Ratu Wulandari.


BOOM!


Kerangkeng tersebut hancur sisertai kepulan debu dan asap. Aruna dan Arini langsung dicekik lehernya dan di angkat setara dengan wajah Ratu Wulandari.


Kedua matanya bergerak cepat seperti mesin slot dan berhenti di manik mata bermotif riak air dengan warna ungu pekat. Itu adalah sepasang deityas aksa.


"Ajian Aksamala Baureksa!"


Kedua manik mata deityas aksa bersinar dan menyerap Kakawin ke dalam kedua mata deityas aksa.


"Percuma saja jika batang, daun, dan rantingnya yang dipotong. Maka dia akan tumbuh kembali, tapi jika akarnya dicabut maka akan mati, hahaha ...."


Ratu Wulandari melepaskan cenkaraman di leher aruna dan Arini. Lalu menangkupkan tangan, tubuh Aruna da Arini berubah menjadi cahaya bola emas.


Ratu Wulandari telah mengeluarkan Kakawin dari dalam tubuh aruna dan Arni. Tpi konsekuensinya adalah kematian akan menimpa kedua gadis kembar tersebut.


Kakawin adalah perwujudan dari dua tetes darah yang terjatuh di pemukaan sewaktu terjadi pemmbelahan kepala Serani dan Seruni yang menyatu semenjak lahir oleh salah satu tabib istana Julang Emas,

__ADS_1


Kakawin adalah bagian dari takdir dari Serani dan Seruni atau Ratu Dewi Chandra Aruna dan Ratu Dewi Chandri Arini. Manifestai atau bentuk dari jiwa jahatnya yang tak sengaja tercipta.


Saking kuatnya jiwa jahat tersebut, Ratu Wulandari membuanngnya ke dalam kawah guunung Kalahar dan diminta untuk bersemedi.


Tapi sebab Aruna dan Arini yanng berada di sekitar gunung Kalahar, jiwa Kakawin tak tenang dan selalu membujuk setiap arwah gentayangan, roh jahat, jin, siluman, dan Ifrit untuk mendirikan kerajaan iblis.


Makanya dalam 15 tahun, Kakawin mampu mendirikan kerajaan iblis Kakawin Sena karena ia pandai membujuk makhluk halus dengan pesona ajian sirep megananda yang mempan pada siapapun termasuk makhluk halus.


Kembali ke Aruna dan Arini yang tubuhnya menjadi cahaya bola emas, "Aku namakan mustika ini Mustika Chandra Kembar dan kau harus menjaga petanya."


Ratu Wulandari mebalikan badan lalu melayang cepat ke arah Angling Wirasena. Birawa, Jayadipa, Prisarasari dan Setyarini semuanya terdiam mematung.


Mereka sama sekali tidak bisa berbicara ataupun menggerakan sedikit pun gerakan pada bagian tubuh mereka semenjak ratu Wulanndari muncul.


Mereka akhirnya sadar setelah ratu Wulandari berhasil menyegel kakawin ke dalam deityas aksa sebagai salah satu wadah energi di dalam tubuhnya.


Jika Ratu Wulandari mengurusi masalah gaib, maka Ratu Asmarini mengurusi masalah pemerintahan di kekaisaran Kurusetra. Sebab kaisar Wijaya tak pernah mau mengurusi masalah tersebut.


Keempat Senopati yang sudaah menjaddi Jendral Iblis, tubuhnya begetar ketakutan merasakan aura dominasi dari Ratu Wulandari,


Tangan Ratu yang lembut tersebut ditempelkan ke kening Angling Wirasena yang masih tertusuk tangan Prisarasari.


"Maafkan aku membunuh Aruna dan Arini. Ajian Jagat Semesta!"


Tangan Prisarasari dengan cepat seperti adda yang mendoorong tercabut dari pingggang Angling Wirasena dan luabng di perutnya dengan cepat menutup.


Angling Wirasena juga diberikan sebuah peta bernama harta karun kembar siam berisikan keberadaan mustika Chandra Kembar yang ditanam di dasar tanah dimana Ratu Wulandari menyegel Kakawin.


Namun untuk membukanya membutuhkan banyak energi positif yang harus dikumpulkan sesuai bentuk formasi dari ajian panver sudarsana, yakni laki-laki di sebelah barat dan sebelah utara, juga perempuan di sebelah timur dan selattan.


Peta harta kembar siam tersebut akhirnya di masa yang akan datang akan diketahui oeh Prisarasari. Setelah berhasil memberikan efek ilusi pada Angling Wirasena.


"Aku ampuni kalian, sebagai penebusan atas dosa-dosku, pergilah!" teriak ratu Wulandari.


Birawa, Setyarini, Prisarasari dan jayadipa yang sudah ke kondisinya semula berlari tunggang langgang entah kemana setelah mendengar teriakan Ratu Wulandari yang teralu mendominasi tersebut.


Angling Wirasena yang belum sempat mendapatkan jawaban cintanya merasa sangat kecewa dan frustasi. Ia menyalahkan Ratu Wulandari, kenapa ia membunuhnya dan itu dilakukan di depan matanya.


Angling Wirasena berkata dengan nada menggeram, "Selama ini aku selalu menuruti perintahmu Ratu. Tapi kau sudah membuat kedua orang yang aku cintai mati!"


Ratu Wulandari paham dengan kondisi hati Angling Wirasena, "Maafkan aku, Angling. Hanya ini yang bisa kulakukan. Aku telah memberimu dan keempat kawanmu umur yang sangat panjang. Itu sebagai permintan maafku padamu dan suamiku sudah menyetujuinya. Suatu saat kau akan mengerti akan hikmah kejadian ini."


Angling Wirasena yang masih tidak menerima marah besar, "Aku tak peduli. Mulai sekarang aku bukan salah satu senopati di Kerajaan pandigilang lagi!"


Setelah megatakn hal tersebut punggung Angling Wirassena sudah tak nampak lagi di pandangan mata ratu Wulandari.


"Aku harap kamu mengerti suatu saat nanti, Angling Wirasena. Ini semua rakyat Kurusetra. Jika aku tidak melakukannya maka akan banyak pertumpahan darah dimulai dari esok hari nanti."


"Di dalam tubuh kalian ada kebaikan dan kejahatan, begitu pula Kakawian menguatkan kejahatan kalian, maka aku juga menguatkan kebaikan kalian," gumam ratuWulandari dengan tatapan sendu.


Ini adalah tugas pertamanya sebagai Kosawa dari para Sramana dan tentu saja tidak mudah, bagi Ratu Wulandari. Sebab masala pertamanya adalah harus memilih antara rakyatnya atau orang yang dkasihinya.

__ADS_1


__ADS_2