INDIGO SYSTEM

INDIGO SYSTEM
Indigo <>34 Harta Kembar Siam I


__ADS_3

Narindra keluar dari dalam mobil dengan urat otot di dahi dan berjalan cukup cepat ke arah pintu masuk panti.


Lyodra yang biasanya menunduk patuh, langsung berontak melihat Narindra, "Sungguh miris, aku malah ditolong orang lain. Apakah aku anak papah?"


Lyodra tahu dari Yuzan dan Alisa yang menceritakan semua kejadiannya. Selama ini ia selalu menganggap Narindra dan Juwita baik, nyatanya kedua orang tua Lyodra tak peduli sama sekall pada anak semata wayangnya tersebut.


Gara-gara itu juga, Lyodra hampir saja terjangkiti aura kematian dari ajian kalaseta yang ditularkan oleh Jayadipa melalui pegangan tangannya.


"Kau?!" Narindra ingin menampar Lyodra dan Al langsung memelototinya.


Tangan itu langsung diundurkan dan dilipat di belakang pinggang, "Ayo kita pulang!"


"Papah saja yang pulang. Aku sementara tinggal dipanti." Mendengar penuturan Lyodra, Narindra menekuk muka dan langsung pergi dari panti.


Bukan untuk membiarkan Lyodra menenangkan diri, tetapi memang sudah tak peduli dengan apapun keputusan Lyodra.


'Tuan, jika anda ingin adu jotos denganku dan menyelesaikan masalah kita. Aku kapan saja siap melayanimu,' tantang Al melalui komunikasi telepati ke dalam pikiran Narindra.


'Bocah sombong! Lihat saja aku akan buat kau hilang dari pandangan Lyodra selamanya,' jawab Nraindra dengan nadda geram melalui komunikasi telepati ke dalam pikiran Al.


Selang 10 menit setelah Narindra pergi, Al meminta izin untuk kembali ke kantor Polres Indramayu untuk menjelaskan infromasi yang ia dapat terkait pelaku yang akan beraksi kembali untuk menculik para orang tua jompo yang akan dijadikan tumbal oleh Prisarasari.


"Vivian, maukah kau menemaniku? Aku tak bisa menjelaskannya lebih baik daripada dirimu ke atasanku," pinta Al padda Vivian dengan mata yang berkaca-kaca.


Raut wajah Lyodra langsung dingin dan datar, lalu masuk ke kamar Al, sebab Yuzan sudah mengizinkannya untuk tinggal di panti sementara.


Al juga dingin pada Lyodra, ia lakukan agar Lyodra jangan terlalu berharap dengannya. Ia takut masalahnya akan semakin panjang jika Lyodra terus berdekatan dengan dirinya.


Vivian pun tidak mau membahas apa yang terjadi dengan Al dan Lyodra. Dia langsung keluar daan menaiki motor Al tanpa bantuan pria gendut tersebut.


Al meminta izin pada Yuzan untuk membawa Vivian ke kantor Polres Indramayu, guna membantu Al memecahkan petunjuk mengenai komplotan pelaku yang akan beraksi menculik para orang tua jompo.


Yuzan menyetujui Al membawa Vivian, asal jangan pulang terlalu malam.

__ADS_1


Vivian juga tidak peduli atas perubahan kulit Al yang sangat bersih, putih, dan mulus bagai giok kaca. Yuzan dan anak panti juga tak peduli akan perubahan hal tersebut, sebab kejadian ini pernah terjadi sewaktu Al berumur 7 tahun dan hanya bertaahan selama satu minggu.


Al pun menaiki motor dan melajukan cukup cepat, sebab ia sudah ditunggu oleh AKBP Wiraguna.


Dalam perjalanan yang ditempuh 45 menit tersebut, baik Vivian dan Al sama-sama bungkam, tidak ada tegur sapa di anntara mereka berdua sedikit pun.


Hingga sampai ke parkiran motor Polres Indramayu pun, mereka maih sama-sama bungkam.


Semua mat terppana melihat Al dan Vivian berjalan menuju ruangan pertemuan yang biasa digunakan untuk menyelesaikan sebuah kasus.


"Meskipun gendut, tapi pemuda itu cukup tampan."


"Ya, sangat serasi dengan pemudi itu sangat cantik."


Para polisi pria dan polisi wanita terus berbisik-bisik memuji kecantikan Vivian dan kemulusan kulit Al bagai giok kaca.


Al sampai di ruaang pertemuan sesuai arahan Bharada Jefry dipesan dalam ponselnya.


Al masuk diikuti oleh Vivian dan semua polisi yang hdir di dalam rapat terpana dengan keserasian mereka berdua.


"Vivian yang akan membantu untuk menjelaskan beberapa petunjuk tentang informasi yang telah kita dapat dan digali lebih dalam mengenai pelaku penculikan para orang tua jompo yang terjadi di kecamatan Lelea."


"Salam kenal!" Vivian menangkupkan tangan di tengah dada lalu menunduk hormat ke arah semua polisi yang hadir di dalam ruangan rapat.


"Silahkan Al daan Vivvian!" AKBP Wiraguna melambaikn tangan lurus ke depan untuk mempersilahkan.


Vivian menuliskan pola dua perempuan dan dua laki-laki di papan tulis. Kesimpulannya jika malam ini terjadi penculikan, maka korban yang diculik adalah laki-laki.


Vivian jugamenuliskan pola rumah yang mmenghadap ke arah mana yang akan diculik malam ini. Setelah menuliskan pola sesuai urutan korban.


"Nona Vivian, jika itu asumsi nona. apakah ada petunjuk lain untuk mempersempit pelaku akan beraksi di rumah mana? Ata desa mana?" tanya Bharaka Andri dengan tatapan sangat serius.


"Biak, pak. Ini sangat mudah, sepertinya pelaku orang yang sangat handal mengenai tata letak semua desa di kecamtan Lelea. Kita lihat saja dari urutan korban asal desanya darimana. Pelaku adalah orang yang penuh perhitungan atau punya pola tertentu untuk menculik ---"

__ADS_1


"Interupsi! Sepertinya ini berhubungan dengan sebuah peta di zaman dahulu tentang harta kembar siam!" Bharada Jefry mengacungan tangan.


"Peta harta kembar siam?!" Semua kepala menoleh ke arah Bharada jefry dengan raut muka penasaran.


"Ya, peta harta kembar siam. Peta itu menunjukan empat arah mata angin daan setiap arah mata angin memiliki simbol, simbol yin dibarat dan utara, juga simbol yang ditimur dan selatan. Pola desa asal dari korban juga memiliki pola yang sama seperti peta harta kemba siam," jelas Bharada Jefry sambil berdiri.


Semua orang belum paham dengan penjelasan Bharada Jefry termasuk Vivian. Namun Al sudah paham maksudnya.


"Aku tahu, jika pusat desa di kecamatan Lelea adalah desa Lelea, maka desa yang berada di selatan yang berdekatan adalah desa Taman Sari, Desa Pengauban, Desa Telagasari, Desa Nunuk dan terakhir Desa Tugu serta Desa Tunggul Payung," timpal Al.


"Tepat, tapi rekam jejak penculik, mereka tidak menculik di desa Pengauban ata lainnya. Tapi mereka menculik hanya di empat desa sekitar kecamatan Lelea, yakni Desa Kasmaran di timur, Desa Lelea itu sendiri di utara, Desa Cempeh di barat dan Desa Tamansari di selatan." Bharada Jefry mengacungkan jempol pada Al.


AKBP Wiraguna langsung menghubungi kanit Polsek Lelea untuk mencari informasi mengenai kakek-kakek yang memiliki rumah yang menghadap selatan di Desa Tamansari.


Al pun sudah tahu, reaksi ppenculik selanjutnya. Jadi meminta Vivian pulangke panti menggunakan motornya, sebab Al akan membantu pihak kepolisian untuk menyelesaikan kasus ini. Mungkin denngan adanya Al, pelaakunya bisa cepat tertangkap.


AKBP Wiraguna merasa senang dengan beberapa kontribusi Al yang banyak membantu memecahkan kasus di kepolisian Indramayu.


'Apakah di mau jika menjadi taruna di akpol?' batin AKBP Wiraguna penuh pengharapan jika Al mau sekolah menjaddi polisi dengan rekomendasinya.


"Hati-hati Al!"


Dengan penuh rasa cinta Vivvian menggenggam kedua tangan Al. Namun Al menanggapinya tanpa ekspresi, sebab ia juga tak mau berharap besar pada Vivian.


Takut jika Vvian mengetahui kebenaran tentang dirinya, Vivian akan meninggalkannya. Maka dari itu seminimal mungkin Al tidak mau berhubungan dengan wanita manapun.


Al pergi bersama Bharada Jefry dengan menaiki motornya. Mereka sebelumnya akan menuju kantor Polsek Lelea untuk meminta beberapa keterangan terkait kakek yang memiliki rumah menghadap ke selatan di Desa Tamansari.


Bharada Jefry melajukan motornya secepat mungkin agar tidak sampai terlalu malam di Polsek Lelea. Baginya tugas ini harus cepat diselesaikan dan bukan kasus yang mudah.


Ia sudah mencium bau-bau Sramana yang terlibat dalam kasus tersebut. Maka dari itu Bharada Jefry alias Angling Wirasena siap berperaang dengan kekuatan penuh, jika yang ia hadapi bersama tim kepolisian baik Polres maupun Polsek merupakan komplotan Sramana.


Sepanjang jalan mereka berdua terus berbincang mengenai penyelamatan Al bersama Maung Bodas di pantai utara daan melawan Ratu Dewi Ambal.

__ADS_1


Namun Al tidaak mengetahui jika sekutu dari ratu Dewi Ambal adalah Prisarasari, teman satu perjuangan Angling Wirasena di akademi Wong Alus yang sudah berdiri sejak 9999 tahun silam daan sangat tersembunyi.


__ADS_2