
................
RSUD Indramayu.
7 hari kemudian.
Kini yang dirawat di kamar Al berganti menjadi Lyodra yang masih koma. Jiwanya masih syok sebab masuk ke dalam alam gaib.
Namun, tidak ada lagi makhluk halus yang berani mengusik Al dan Lyodra. Tidak ada yang berani mengusik mereka sebab Al memancarkan aura seperti aura milik Jayadipa Mangkudhara atau Bayi Bajang.
Al sedang bersemedi untuk menyeimbangkan energi TM dan energi TD yang selama 7 hari ini terus bertubrukan semenjak keluar dari teritorial milik Jayadipa Mangkudhara.
"Aku ingin segera dua kasus lagi, tapi Lyodra masih belum sadar," gumam Al bimbang.
Tiba-tiba salah satu seorang pria masuk ke dalam ruangan dan langsung menampar Al, "Sial, semua ini gara-gara kamu!"
PLAK!
Tamparan itu sangat keras dan membuat Al terjtauh ke samping. Tamparan itu dari tangan kanan ayah Lyodra bernama Narindra Kusaji.
Nama Lyodra sendiri adalah Lyodra Saphiira Kusaji, bagian dari keluarga Kusajii yang cukup terkenal di wilayah Kecamatan Juntinyuat.
"Maaf, pak."Al tertunduk lesu.
Al merasakan ini memang salahnya, jadi menyimpulkan dirinya, bahwa ia tidak boleh berteman dengan siapapun. Sebab dalam kesimpulan Al, teman-teman yang berdekatan dengan dirinya pasti akan celaka.
"Tiada kata maaf bagimu, pergi sana! Jangan dekati Lyodra lagi! Dasar pembawa sial!" hardik Narindra dengan kedua kepalan tangan siap beraksi dan urat otot diwajahnya menonjol besar.
"Baik, pak." Al pun bangkit berdiri dengan menunduk lesu dan membalas dengan lirih.
Tekadnya dikuatkan, bahwa ia harus menghindari dan tak akan berteman dengan Lyodra lagi. Dalam pikirannya, jika Al terus berteman dengan Lyodra maka Lyodra akan celaka seperti sekarang ini.
Kondisi kesehatan Al sudah pulih, sebab 6 hari yang lalu ia sudah boleh pulang dari rumah sakit.
__ADS_1
Namun, karena Lyodra koma, Al menunggunya sampai saat ini. Selama 7 hari ini tidak ada sau pun sanak famili atau kedua orang tua Lyodra yang menjenguk.
Mereka terlalu asik dengan pekerjaan mereka, sampai-sampai Lyodra pun ditelantarkan di Rumah Sakit.
Al keluar dari rumah sakit dan menunggu ojek online yang akan menjemputnya menuju Polres Indramayu untuk menemui Bharada Jefry.
Bagaimana pun juga masih ada dua misi ksus yang ia harus selesaikan untuk membantu Bharada Jefry.
Setelah ojek online datang, Al pun naik. Namun ia merasakan hal yang aneh di dalam tubuh driver ojek online tersebut.
Dari pandangan bhayangkara aksa, Al melihat aura gelap di dalam tubuh sang driver ojek online.
"Pak, anda tidak apa-apa?" tanya Al mencoba membuka pembicaraan.
"Tidak apa-apa, mas. Hanya kelelahan saja," jawab driver ojek online bernama Sarkoji sambil terus melajukan kendaraannya pelan ke arah Polres Indramayu.
Dalam lima menit mereka berdua sampai ke depan Polres Indramayu. Al yang sudah mendapatkan nomor telepon Bharada jefry segera menelponnya. Setelah memberi ongkos perjalanannya dari RSUD Indramayu ke Polres Indramayu.
Sebagai intel atau informan Polri, Al hanya berpakaian bebas dan bahkan disuruh harus bisa berkamuflase dimana pun dan bagaimana pun di berbagai tempat.
"Pemisi pak, dimana ya pak Jefry?' tanya Al pada salah satu bapak polisi yang berjaga di resepsionis pengaduan masyarakat.
Bapak polisi yang bernama Bharada Jaenudin tersebut memandangi Al dari ujuk kaki hingga ke kepala seperti mengingat-ingat sesuatu.
"Apakah anda mas Al?" tanya Bharada Jaenudin.
"Benar pak, aku Al," jawab Al tegas.
"Baik mas Al. Ini surat perintah anda menjadi intel atau informan Polri dan ini juga ada surat informasi berisi beberapa kasus yang adna harus cari tahu."
Bharaka Jaenudin memberikan dua surat pada Al dengan mengulas senyum ramah. Tetapi dibalik senyum tersebut seperti tersirat makna yang tak bisa diterka.
Al mengangguk tegas dengan tersenyum ramah dan berkata, "Terima kasih pak."
__ADS_1
Setelah menerima surat tersebut, ia segera keluar dan mencari tempat yang aman untuk membuka surat tersebut, terutama surat yang berisi beberapa kasus yang harus ia cari tahu informasinya, agar polisi mudah menentukan langkah dan informasi di dalam surat tersebut tidak bocor keluar.
Al membuka surat tersebut disalah satu warteg dan memesan makanan, sudah satu minggu lebih perutnya belum terisi makanan, hanya terisi energi TD dan energi TM saja.
"Mba, aku mau makan, lauknya sama ini dan ini!" Al menyentuh kaca yang sudah seperti layar digital ponsel. Ia menunjuk ayam bakar dan rawon. Kemudian melanjutkan duduk dan bergumam dengan membuka surat, "Aku cari informasi dari kasus yang lebih mudah dahulu. Sepertinya ini mudah."
Al menatap surat tersebut dan memberikan tanda garis pada pikirannya pada kasus pencarian tentang perjudian tersembunyi di desa Amis.
Setelah makan dihidangkan, Al makan begitu lahap sembari memikirkan strategi untuk mencari informasi. Semenjak mendapatkan kebangkitan ripela aksa, kecerdasan Al meningkat jauh sangat pesat.
"Nampaknya aku harus membeli motor," gumamnya sambil bersendawa setelah menghabiskan satu piring nasi ditambah ayam bakar dan rawon.
Bagaimana pun juga ia harus bergerak kesana kemari untuk mencari informasi. Jika terus menggunakan ojek online, uangnya bisa jebol. Apalagi jarak yang ditempuh saat ini menuju desa Amis kurang lebih satu setengah jam perjalanan yang membutuhkan ongkos yang tidak sedikit.
Ia merogoh saku dan mengeluarkan kantong plastik ajaib untuk mengeluarkan uang pecahan 50.000 dan memberikannya pada pelayan warteg yang cukup cantik dan terus tersenyum lekat memandang Al.
Pemuda yang sudah sedikit kurus tersebut keluar dari warteg, dan mendapati Sarkoji sedang terduduk lesu di motornya.
Aura gelapnya semakin pekat menyelimuti tubuhnya, "Pak. Bapak sedang menunggu penumpang?" tanya Al mengejutkan Sarkoji.
"Eh, mas yang tadi. Belum dapat penumpang lagi mas," jawabnya tersenyum tipis tapi raut wajahnya semakin seputih kertas membuat Al jadi kasihan.
"Bapak sudah makan? Kalau belum silahkan makan pak. Aku yang traktir dan bapak makan sepuasnya."
Al menepuk pundak bapak tersebut dan tubuhnya terasa sangat dingin walau terhalang jaket tebal merah yang melindungi tubuhnya.
"Terima kasih mas. Bapak sudah makan," jawab Sarkoji dan melanjutkan mencoba menawarkan jasanya lagi pada Al, "Apa mas mau bapak antarkan lagi?"
"kalau bapak tidak menunggu penumpang, bisa antarkan aku ke dealer motor terdekat," pinta Al dengan tersenyum ramah.
Sarkoji haya mengangguk dengan tersenyum dan memberikan helm pada Al dan Al segera menaiki motor tersebut.
Dalam perjalanan, Sarkoji beberapa kali terbatuk dan mengeluarkan hawa aura gelap dari mulutnya. Tentu saja mengundang rasa penasaran pada Al.
__ADS_1
'Kenapa ada hal aneh seperti ini? Apakah ini hal buruk atau baik? Dilihat dari ekspresi dan kondisi tubuhnya, bapak ini seperti orang sakit. Tapi daya konsentrasinya masih normal?' batin Al berpikir saangat keras.