
Luka di betis kiri Lyodra langsung sembuh seketika setelah meminum ramuan sembilan bintang. Bekas lukanya langsung menutup rapat secara cepat dan tidak ada bekas luka sama sekali di betis kiri Lyodra.
Semua mata melebar dan menganggap ramuan yang diberikan oleh Prida adalah ramuan ajaib. Padahal itu hanya ramuan yang dibuat seperti membuat obat pada umumnya.
Namun dengan komposisi tanaman dan takaran yang tepat. Dalam membuat ramuan tersebut dibutuhkan fokus dan ketelitian yang sangat tinggi.
Takut identitasnya ketahuan, Prida segera membawa Al dan meminta Lyodra untuk masuk ke mobinya, "Nona, cepat masuk ke mobilku. Kita berbincang nanti jika sudah sampai dirumahku. Kita akan membawa Al ke rumahku untuk mempercepat pemulihan tenaganya."
Setelah mereka masuk ke dalam mobil dan melajukan mobilnya walau perlahan, Prida merasakan sesuatu sedaari tadi.
hal ini sebelumnya tidak pernah terjadi, tapi setelah ia bersam Al mulai dari kantor polisi sampa bank dan sekarang mau pulang k rumahnya, ada sesosok roh jahat yang terus mengawasi mereka berdua. Lebih tepatnya mengawasi Al.
Roh jahat tersebut adalah telik sandi dari kerajaan iblis Mogharwala dan ditugaskan untuk mengawasi Al. Dia juga membawa misi untuk menghabisi Al jika ada kesempatan.
Tpai roh jahat tersebut tentu saja tidak adda kesempatan selama Al bersama Prida. Karena kharisma jagat agung memiliki banyak pasukan khodam yang siap dipanggil kapan saja.
"Al, apakah kamu melihatnya? Atau merasakannya?" Prida fokus menyetir dan juga mencoba fokus untuk melihat dengan pasti roh jahat apa yang sedang mengawasi Al.
"Iya, nona. Aku pikir itu adalah teman atau khodam nona," jawab Al polos.
Prida menggeleng pelan sambil menyetir, "Bukan. Pasukan khodamku ada ciri khusus mereka memakai rompi kerajaan dahulu berwarna kuning."
Lyodra hanya bungkam seribu bahasa, namun melihat Prida dan Al yang cukup akrab membuat hatinya teriris-iris.
"Maaf ya, dra. Gara-gara aku kamu jadi tertabrak."
Setelah menyerap aura kharisma jagat agung milik Prida, sensor batinnya jadi lebih peka dan merasakan jika Lyodra sedikit cemburu pada Prida. Makanya Al mencoba meminta maaf untuk mengalihkan fokus Lyodra.
[Selamat tuan telah menaikan level Indigo ke level cenayang]
Mata kanan Al yang berwarna merah tiba-tiba mendapat penglihatan-penglihatan yang menurutnya tidak normal.
Al mampu melihat gerakan-gerakan suatu objek seperti benda maupun manusia yang bergerak 3 detik selanjutnya. Padahal kondisi sesungguhnya benda ataupun manusia tersebut masih diposisi yang sama dan belum berubah.
__ADS_1
"Aaaarh ...!" mata kanan Al dari kelopak matanya mengeluatkan darah yang merembes ke pipi. Al meringis kesakitan.
Prida dan Lyodra panik. Terlebih Prida, ia langsung menekan tombol klakson berkali-kali agar mobil yang berada di depanya menyingkir, "Pak, minggir! Temanku sedang kesakitan dan butuh dibawa ke rumah sakit!"
Prida terus menekan tombol klaksonnya dan Lyodraa yang berada di kursi belakang mencoba menenangkan Al dengan menyanyi lagu kesukaannya, "Al tenanglah, dengarkan aku! Kita pasti bisa membawamu ke rumah sakit."
'Di pucuk pohon cemara
Burung kutilang berbunyi
Bersiul siul sepanjang hari
Dengan tak jemu jemu
Mengangguk angguk sambil bersiul
Trilili lili lilili!'
Lyodra bernyanyi dengan suara yang sangat merdu sambil menaruh kepala Al di belahan dadanya yang berukuran c cup.
Prida membawa Al ke RSud Indramayu, Al sudah terlelap tidur dan Lyodra setia memegangi tubuh Al agar jangan sampai mengenai Prida yang sedang menyetir.
"Nona aku Lyodra temannya Al. Apakah Al tidak apa-apa nona? Setahuku Al tidak punya riwayat penyakit sama sekali," tanya Lyodra dengan raut muka khawatir.
"Tenang saja, Al pasti baik-baik saja. Aku yang akan menanggung semua biaya pengobatan Al sampai sembuh. Al telah berjasa besar bagi kepolisian," jawab Prida dengan senyum yang mengambang supaya Lyodra tidak khawatir pada pemuda gendut yang sudah terlelap dengan mendengkur keras.
'Dengan begini satu Sramana tumbang berkat Al,' batin Prida tersenyum licik.
Ya, berkat ppenemuan mayat Endang, kasus Undi kembali dibuka, bahkan langsung masuk ke pengadilan lagi. Undi sudah ditangkap 4 jam setelah ditemukan mayat Endang di depan lobi Polres Indramayu.
Namun anehnya, 15 tahun menghilang, sidik jari Undi masih ada di beberapa bagian tubuh Endang dan bekas cairan suurgawi milik undi pun masih tersisaa di lembah sempit milik Endang ketika di otopsi.
Mobil Prida sudah sampai di depan RSUD indramayu daan Al segera dibawa ke ruang ICU untuk segera ditangani.
__ADS_1
Prida ke bagian administrasi untuk melunasi biaya perawatan Al dan Lyodra menunggu Al di depan pintu ICu dengan raut muka khawatir.
Ingin sekali Lyodra menelepon Yuzan, namun baterai ponselnya telah habis dan ia tidak membawa alat isi ulang baterai ponselnya.
Dengan terpaksa ia duduk dan mencoba menenangkan diri dengan menarik nafas dalam-dalam dan menghela nafas panjang beberapa kali.
"Oh, tuhan semoga AL baik-baik saja," gumamnya dengan bibir bergetar dan kelopak matanya menggenang.
......................
4 jam kemudian.
Al sudah melewati berbagai pemeriksaan terutama bagian mata dan sudah dipindahkan ke kamar VVIP 01 dengan biaya permalamnya 5 juta.
Tapi itu tidak menjadi masalah, sebab Prida yang mengurus semuanya.
"Dokter Rizer, bagaimana kondisi temanku?" tanya Prida yang berada di luar kamar rawat Al.
"Tidak apa-apa. Sepertinya ia sudah mengalami kebangkitan aksa dua kali dan ini sudah diluar batas Sramana biasanya."
"Sramana yang biasa dan bisa membangkitkan satu kemampuan mata saja itu sudah setara dengan Sramana setingkat dengan minimal tingkat kharisma jagat."
" Apalagi ini dua kemampuan aksa. Dia bukan Sramana lagi, bisa jadi dia adalah legenda Kosawa yang akan muncul 10.000 tahun sekali," jelas Dokter Rizer daan membuat mata Prida melebar.
"Sepertinya dugaanmu itu benar Dokter Rizer. Lalu menurutmu tindakan kita apa?' tanya Prida meminta pendapat Dokter Rizer yang juga merupakan tetua di akademi Wong Alus.
"Jika dia menjadi musuh kita bunuh saja, dan kita bisa melanggengkan akademi Wong Alus sampai kapanpun tanpa ada intervensi dari siapapun."
"Selama kita mempunyai kitab jagat buana, akademi Wong Aus akan tetap mencetak Sramana-Sramana yang pilih tanding dan bisa kita kendalikan demi kepentingan akademi Wong Alus," jawab Dokter Rizer dengan menyunggingkan senyum.
Bagi Dokter Rizer Akademi Wong Alus adalah segalanya dan tujuan utamanya tetap menjadi salah satu tetua di Akademi Wong Alus.
"Maaf, Dokter Rizer. Jika dia mau menjadi bagian dari kita, apa yang harus aku lakukan?" tanya Prida lagi.
__ADS_1
Prida sudah seperti boneka milik Dokter Rizer yang tak bisa mengambil keputusan sendiri. Padahal ia seorang pemimpin di Akademi Wong Alus.
"Didik dia dengan baik, tapi jangan sampai ia mendekati kitab jagat buana," tegas Dokter Rizer dengan tatapan tajam, lalu meninggalkan Prida seorang diri di dalam ruangan milik Dokter Rizer.