
9970 tahun yang lalu.
"Kak, bangun! Bukannya kita harus mencari kayu bakar?" Serani menepuk pelan pundak kakak kembarnya yang bernama Seruni untuk membangunkan.
"Hoaam .... Ya adikku sayang." Seruni bangun dengan meregangkan tubuh hingga tangannya sengaja mengenai kepala Serani.
Adik kembarnya tersebut malah terkekeh dengan terjatuh ke atas kasur gara-gara kejahilan kakaknya tersebut, "Ih, kakak jahil banget, hehehe ...."
'Dik, kita sudah menjalani hidup ini selama 22 tahun. Namun kehidupan ini belum berubah, padahal dunia sudah berubah dan penuh cinta damai di era kaisar WIjaya. Andaikan saja aku atau kamu menjadi selir kaisar ...,' batin Seruni membayangkan kehiupannya berubah drastis bergelimangan harta jika menjadi selir Kaisar Wijaya.
Seruni dan Serani merupakan kembar siam yang sewaktu lahir menyatu kepalanya. Untungnya kepala mereka memiliki 2 otak, dengan tabib handal dari kekaisaran, mereka berdua selamat melakukan pemisahan kepala. Itu semua juga atas permintaan Wijaya saat itu.
Wijaya yang keturunan dewa, tubuhnya tidak pernah menua, sama dengan kedua istrinya Ratu Asmarini dan Ratu Wulandari, hingga Seruni dan Serani beranjak dewasa pun ia tetap awet muda di tubuh pemuda berumur 22 tahun.
Wajar saja jika Serani dan Seruni sangat mengidolakan ketampanan Kaisar Wijaya.
Seruni dan Serani membersihkan diri di sungai, mereka berdua telah hidup yatim piatu semenjak berumur 13 tahun. Mereka berdua saling menguatkan untuk menjalani hidup yang begitu getir.
Pekerjaan mereka adalah mencari kayu bakar dan menjualnya pada juragan Sudamanik.
Juragan Sudamaniik pria yang sangat baik dan tulus, setiap kali memesan kayu bakar ia sudah memberikan upah di awal. Walaupun upah itu selayaknya pengumpul kayu bakar, yakni 10 ikat besar dihargai 1 koin emas.
Serani dan Seruni sudah selesai membersihkan diri dengan memakai pakain seadainya, yakni kemben yang hanya menutupi bagian gunung kembar.
Mereka berdua masuk ke dalam wilayah hutan gunung Kalahar yang dahulunya berada di wilayah kekaisaran Sri Maharaja Baduga Gajah Prawira.
Mereka bergandengan tangan sambil bernyanyi dengan riang sembari mengumpulkan beberapa potongan kayu bakar.
Setumpuk demi setumpuk mereka kumpulkan dan ikat, Serani yang ingin membeli baju baru di pasar, memaksa Seruni untuk mengumpulkan kayu bakar lebih banyak dan masuk hutan Kalahar lebih dalam.
Mereka berdua tidak menggubris larangan yang tidak boleh masuk hutan gunung Kalahar bagian dalam. Sebab, konon ada mitos siluman yang sangat menyeramkan dan ganas penghuni hutan Kalahar bagian dalam tersebut.
Serani asyik mengumpulkan kayu bakar, namun tidak bagi Seruni yang merasa ketakutan, bulu kuduknya meremang dan raut wajahnya pucat.
Semakin ke dalam suasanya semakin gelap. Sebab pohon-pohonnya sangat tinggi, hingga cahaya matahari di tengah ubun-ubun pun tidak mampu masuk.
"Seruni .... Haaaaah ...." Suara panggilan yang begitu menyeramkan tersebut tertangkap oleh kedua telinga Seruni.
"Rani, kita pulang aja yuk! Kakak takut," ajak Seruni dengan raut muka seputih kertas sambil menarik kain jarik yang sedikit terulur di pinggan Serani.
"Bentar lagi ya kak. Nanggung banget ini, kita bisa dapat 5 koin emas, ingat kakak juga ingin baju baru bukan? Besok ada acara besar di alun-alun kota. Siapa tahu kita bisa merubah nasib kita," sergah Serani dan menguatkan tekad Seruni.
"Seruni .... Haaah .... Seruni ...." Suara itu semakin dekat dan seperti berada di belakang Seruni.
Sekelebat bayangan hitam berdiri melayang di belakang Seruni dengan tangan kanan berkuku runcing hitam terulur pelan ke arah pundak Seruni.
Perempuan berambut merah lurus tersebut langsung menoleh ke belakang, namun tidak ada sesiapapun yang Seruni temukan.
"Iih .... Apakah hanya halusinasiku saja?" gumamnya mengelus pelan tengkuknya yang semakin meremang kuat.
__ADS_1
"Seruni .... Haaah .... Aku akan terus mengikutimu Seruni .... Haaah ...." Tangan hitam itu kembali muncul dan mengelus pelan di pundak Seruni seperti ulat bulu yang berjalan pelan.
Seruni yang sudah ketakutan terkencing-kencing hingga kain kembennya basah.
"Hmph! Kok bau pesing ya?" Serani menutup hidungnya, sebab bau air seni Seruni menusuk hidungnya.
Seruni tidak mau menengok ke belakang, raut wajahnya sudah benar-benar seputih kertas.
"Ra-ra-ra-rani, ki-kita pu-pulang saja. Ka-kakak merasa tak e-enak ba-badan." Tubuh Seruni bergetar dengan bibir bergetar hingga suara giginya yang saling terbentur terdengar oleh kedua telinga Serani.
"Sepertinya kakak memang sakit, ayo kita pulang saja." Serani memegang dahi Seruni lalu memapahnya dan berjalan cepat ke arah rumahnya untuk pulang.
Kemudian melanjutkan, "Nanti kakak istirahat saja. Untuk masalah kayu-kayu itu biar Rani yang urus."
Seruni hanya menganggukan kepala, sebenarnya ia ingin sekali mencegah Serani agar jangan kembali lagi ke hutan gunung Kalahar bagian dalam. Namun mulutnya seperti terkunci dan tubuhnya terasa sangat dingin.
'Rani, jangan kesana. Disana banyak setannya,' batin Seruni.
Tentu saja tidak bisa didengar oleh Serani, namun getaran batin tersebut sedikit mampu dirasakan oleh Serani yang merupakan adik kembar Seruni.
Tetapi Serani menganggap Seruni hanya sakit biasa, bukan terkena makhluk halus atau siluman yang bersemayam di hutan gunung Kalahar.
Setelah mengantarkan Seruni, Serani kembali ke hutan bagian dalam untuk mengangkut kayu bakar ke sebuah gubuk di hutan bagian luar dimana para centeng Juragan Sudamanik sudah menunggunya.
Setelah 10 kali angkutan, Serani cukup kelelahan dan beristirahat di dekat pohon besar dan sangat terlarang bagi warga sekitar.
"Huff ... huff ... huff .... Tanpa kakak cukup lelah melakukan ini. Padahal baru satu koin emas yang didapat," gerutu Serani sambil meminum air yang ia bawa di batang bambu yang telah dilubangi bagian atasnya.
Serani tidak menghiraukan panggiilan seram tersebut, ia malah asyik menenggak air yang berada di batang bambu hingga habis.
"Ah, sialan! Suara angin itu mengacaukanku."
Serani mengibas-ngibaskan tangan dikira tangan yang terjulur di belakangya tersebut hanya kibasan angin dari ranting-ranting kecil di pohon besar tersebut.
Serani kembali berjalan ke arah tumpukan kayu yang sudah ia ikat, totalnya masih 40 ikat lagi yang harus ia angkut seorang diri.
Serani ambil 3 ikat sekaligus dan mengendongnya di pinggang.
Serani gadis yang sangat pemberani juga kuat dan bertolak belakang dengan kakaknya Seruni yang penakut dan fisiknya cukup lemah.
Namun Serani tidak pernah mengeluhkan hal tersebut. Sebab Seruni hanya satu-satunya keluarga yang Serani punya dan kakaknya tersebut selalu memahami isi hatinya juga selalu mengalah demi adik kesayangannya tersebut.
Di rumah Seruni dan Serani, Seruni terkapar di atas kasur yang hanya terbuat dari anyaman daun mengkuang.
Tiba-tiba angin berdesir pelan dan semakin lama semakin bertambah kuat, hingga jendela kamarnya terhempas hingga terbuka lebar.
BRAK!
Sekelebat bayangan hitam masuk ke dalam kamar Seruni dan Serani, nampak sesosok hitam dengan lidaah yang sangat panjang dengan tubuh melayang. Bahkan lidah merah menyala-nyala tersebut smpai menyentuh ke permukaan lantai kamar mereka berdua.
__ADS_1
Matanya bulat dengan manik mata nanar menatap tajam Seruni, Keempat taringnya di bawah dan di atas mencuat panjang.
"Seruni .... Haaah .... Ayo kita bermain!" Siluman itu melayang ke arah Seruni.
Lidahnya bergesekan engan permukaan lantai dan membuat suara berderit yang begitu linu.
Tubuh Seruni begitu kaku dann sedikit mengejang, ingin rasanya ia berteriak tapi tak mampu. Seperti ada sesuatu yang menekan seluruh otot dibagian tubuhnya untuk mengejang kuat.
Siluman tersebut melayang di atas tubuh Seruni dan lidahnya menjilati dari ujung jempol Seruni.
Anehnya lidah yang berwarna merah menyala-nyala tersebut terasa dingin dan lama kelamaan seperti hujaman duri-duri es yang cukup menyakitkan betis Seruni.
'Serani, pulanglah! Kakak sangat takut!' Seruni menjerit dalam hatinya dan siluman tersebut malah semakin gencar menjilati tubuh Seruni.
Seakan ia tahu jika Seruni sangat ketakutan melihat sosoknya yang sangat menyeramkan.
Kedua kakinya yang memiliki kuku-kuku panjang tersebut diinjakan ke perut Seruni dan membuat tubuhnya mengejang kuat, namun tak bisa berteriak.
Seruni larut dalam ketakutannya dan mencoba untuk memejamkan mata, tapi siluman tersebut tak membiarkannya.
Ia menginjak perut Seruni cukup keras, "Ini adalah balas dendam atas kalian yang telah menggangu wilayahku!"
Kuku-kuku tajam tersebut menembus kulit perut Seruni dan langsung membuat bekas luka tersebut berwarna ruam ungu.
Tapi anehnya ketika kuku tajam tersebut diangkat, lubang bekas tusukan kuku tersebut tak berbekas, hanya meninggalkan ruam akar berwarna ungu dan menjalar ke seluruh tubuh hingga berubah warna menjadi warna hitam.
Bahkan sklera mata Seruni yang putih pun berubah menjadi hitam pekat dengan manik mata seperti siluman tersebut, yaitu merah menyala-nyala.
Siluman tersebut hilang dari pandangan Seruni, lalu pingsan, dan begitu bangun seperti sehabis bermimpi.
"Huff ... huff ... huff .... Apa yang terjadi denganku? Apakah tadi mimpi?" Nafas Seruni tak beraturan dan langsung duduk.
Tubuhnya seperti merasakan energi yang sangat kuat dan adrenalin yang terus terpacu. Begitu sangat prima dan sangat segar.
Seruni langsung keluar rumah mencari Serani, begitu ia memejamkan mata, Seruni mampu menerawang keberadaan Serani yang sedang mengangkut beberapa ikatan kayu bakar dengan peluh dan nafas tak beraturan.
"Apa yang terjadi denganku? Apa yang aku lihat di dalam pejaman mataku itu apakah nyata?" gumam Seruni sambil berpikir keras mengenai perubahan dirinya.
Tanpa basa-basi Seruni berlari secepat mungkin. Namun anehnya tubuh kecil itu mampu berlari sangat cepat seperti memijak lempengan angin setiap kali menginjak permukaan tanah.
"Rani, biar kakak saja yang membawanya, kamu beristirahatlah!"
Seruni menarik kayu yang berada digendongan pinggang Serani dan membuat gadis berambut pirang tersebut tersentak kaget. Sebab Seruni muncul tiba-tiba di belakangnya.
"Loh, bukankah kakak sedang sakit? Apakah sudah baikan?" tanya Serani khawatir.
Ikatan kayu yang berjumlah 4 ikatan besar tersebut diangkat dengan sangat mudah oleh Seruni. Serani yang sedang melihatnya matanya melebar selebar-lebarnya, "Ka-kakak?!"
Serani tahu jika tubuh Seruni sedari kecil itu sangat lemah, dan ini dapat kekuatan darimana. Tiba-tiba Seruni fisiknya menjadi sangat kuat.
__ADS_1
4 ikat kayu bakar seberat 20 kg tersebut diangkatnya dengan sangat mudah, bahkan hanya dengan satu tangan saja.