INDIGO SYSTEM

INDIGO SYSTEM
Indigo <>15 Misteri Sramana VI


__ADS_3

"Tentu." Bharaka Andri mengangguk dan melanjutkan, "Tapi bukan kami atau institusi Polri yang membayar."


Bharaka Andri diam-diam juga melihat layar ponselnya dan mendapati pesan dari Prida Maheswari untuk menahan Al jangan sampai keluar dari ruang interogasi sampai ia datang.


"Lalu siapa pak?" Al bertanya dengan menyipitkan mata.


"Tunggu saja, orangnya akan datang," jawab Bharaka Andri dengan tersenyum tipis.


'Apa yang sedang dilakukan Bharaka Andri, sepertinya ia sedang merencanakan sesuatu pada Al. Semoga saja bukan sesuatu yang buruk. Memang benar intel dan uang hadiah bukan institusi Polri yang memberikan, tapi Akademi Wong Alus yang memberikannya. Apakah dia akan datang?' batin Bharada Jefry.


Setelah bungkam seribu bahasa dan tak ada satupun yang memulai pembicaraan. Terdengar suara mobil Merkodes Benz SLK 700 berwarna perak sedang parkir di tempat parkir khusus berderetan dengan para petinggi Polres Indramayu.


Seorang wanita yang memiliki rambut pirang panjang dengan gaya rambut keriting membuka pintu mobil berwarna perak tersebut.


Tatapan matanya tajam dengan manik mata berwarna merah muda, dan bukan manik mata pada umumnya manusia.


Dia adalah Prida Maheswari, penerus Akademi Wong Alus yang bermarkas pusat di dimensi gaib Pantai utara, Indramayu.


Prida memakai blazer putih dengan dalaman merah muda dan sepatu hak tinggi berwarna putih.


Jalannya berlenggak-lenggok seperti pantat bebek yang begitu aduhai. Semua mata para lelaki terpana melihatnya dan nilai kecantikannya adalah 99.


Soalnya Prida menggunakan Ajian Embun Bulan untuk memperkuat kharisma dan pesona kecantikannya.


Prida menyapa dengan mengulas senyum pada semua orang yang ia temui, semua mata perpana melihat kecantikan Prida Maheswari.


Namun tidak bagi Al yang sedang menundukan wajah memikirkan siapa orang yang akan mempekerjakannya sebagai intel dan memberinya hadiah serta gaji.


"Pak Jefry! Pak Andri," sapa Prida dengan tersenyum ramah.


Mereka berdua membalas dengan tersenyum ramah dan pipi merah merona menatap wanita yang begitu seksi serta sintal dengan ukuran gunung kembar D cup.


Al masih duduk dengan menundukan wajah sedangkan Bharaka Andri dan Bharada Jefry sudah berdiri menyambut Prida.

__ADS_1


Bharaka Andri menangkupkan tangan dan melirik ke arah Al memberikan kode bahwa pemuda berbadan gendut itu yang berhasil mengungkap kejahatan yang selama 15 tahun susah untuk dipecahkan.


"Hai!" Prida menepuk pundak Al dengan tersenyum ramah sabil melancarkan ajian Gendam Permoda untuk menghipnotis Al.


"Ya, nona." Al mendongakan kepala ke arah Prida yang sudah berada di sisi kirinya.


Namun Prida melebarkan mata karena ajian gendam tingkat tinggi tersebut malah tidak mempan pada Al.


'Kenapa tidak mempan?' pikir Prida melebarkan mata dan melanjutkan, 'Selama ini belum ada satupun manusia yang gagal aku gendam dengan ajian ini, walau itu di tahap Kharisma Jagat sekalipun. Tetapi dia tidak apa-apa dan datar saja mukanya menyambutku, tidak seperti kedua polisi ini dengan tersenyum mesum.'


"Maaf, nona. Apakah nona yang akan memperkejakanku menjadi intel dan memberiku hadiah? Aku Vectorio Alzinsky, pemuda pengangguran," tanya Al polos.


Sedari tadi yang ia pikirkan hanya tentang uang dan pekerjaan, tidak ada yang lain. Bahkan wanita secantik Prida pun ia abaikan.


"Ya, berapa nomor rekeningmu mas ---"


"Panggil saja Al. Maaf, nona aku belum punya nomor rekening. Aku baru lulus sekolah," potong Al polos.


'Lulus sekolah?! Tapi mukanya sudah seperti pria berumur 30 tahun. Aduh, hampir saja aku menyinggungnya,' batin Prida sedikit menyesal dan melebarkan mata.


"Pak Andri mohon bantu mas Vectorio Alzinsky untuk menadi intel atau informan Polri. Aku akan membawanya ke bank ABC terdekat untuk memberikan hadiahnya," pinta Prida dengan mengulas senyum lebar.


"Baik, nona Prida." Bharaka Andri mengangguk tegas dan Bharada Jefry ikut senang mendengarnya.


"Ayo mas Al! Kita akan ke bank terdekat mengambilkan hadiah uang untukmu!" seru Prida sudah membalikan badan dan melambaikan tangan ke depan untuk mengajak Al.


"Sebentar, nona. Pak jefry dan Pak Andri terima kasih, nanti aku akan traktir makan bapak-bapak ya. Aku harap bapak mau menerimanya."


Al mengulas senyum dengan menangkupkan tangan lalu berjalan mengekor di belaakang Prida.


Al hanya tersenyum dengan mata berkaca-kaca, akhirnya ia bisa menghasilkan uang. Dalam pikirannya yang pertama kali ia ingat hanya ibu Yuzan.


"Nanti aku akan telepon ibu, kalau aku sudah dapat pekerjaan," gumam Al dan sudah di depan mobil Prida dan wanita cantik tersebut membukakan pintu untuk Al.

__ADS_1


"Aduh, nona. Jadi keenakan aku, he-he .... " Al menggaruk kepalanya yang tdak gatal sambil terkekeh lalu masuk dan duduk di kursi yang sejajar dengan kuris kemudi.


Kemudiaan melanjutkan, "Maaf, ya nona. Setahuku di film-film romantis, seharusnya laki-laki yang membukakan pintu, tapi malah nona yang membukakan pintu."


"Tidaak apa-apa." Muka Prida berubah dengan menyeringai tajam, aura Kharisma Jagat Agung ia keluarkan untuk menekan Al.


Bhayangkara Aksa aktif otomatis dan menyerap TM dari aura Kharisma Jagat Agung yang dikeluarkan oleh Prida.


'Ti-Tidak mungkin?!' batin Prida melebarkan mata kesekian kalinya dibuat terkejut oleh Al dan melanjutkan, 'Mata apa itu? Aku belum pernnah sama sekali melihatnya?!'


Sekilas Prida melihat manik mata sebelah kiri milik Al berwarna ungu dan setelah menyerap aura kharisma jagat agung milik Prida, mata itu kembali normal ke manik mata berwarna biru.


Prida sedikit ketakutan melihat hal tersebut dan segera melajukan mobilnya menuju bank ABC terdekat di pusat kota Indramayu.


Hnaya dalam 3 menit, mobil milik Prida sampai di valet parkir bank ABC. Prida merupakan pelangan VVIP bank ABC dan para karyawan menyambutnya dengan ramah ketika Prida dan Al masuk ke dalam lobi bank.


"Seperti inikah menjadi orang kaya dan kecantikan yang begitu mempesona?Semua orang akan menaruh hormat padanya," guma Al matanya berkeliling menatap para karyawan dan karyawati bank ABC yang terus mengulas senyum ke arah Prida satu persatu.


Al hanya duduk di kursi pelanggan biasa sambil menunggu Prida dan tak ada satupun mata yang berani menatapnya dengan sinis, sebab Al dibawa oleh Prida.


Jika hanya seorang diri memakai kaos biasa dan sandal jepit, mungkin Al akan diusir oleh penjaga keamanan bank tersebut.


Al menunggu Prida yang berada dilantai paling atas untuk mencairkan uang untuk Al, dan yang dicairkan oleh Prida bukan uang yang sedikit.


Ia berencana memberikan uang 200 juta atas jasa besarnya menemukan mayat Endang.


Sedang asyik-asyiknya menunggu, tiba-tiba di tempat parkir berhenti mobil jeep bermerk Power Ranger dengan membawa 4 anggota.


Mereka berempat membawa senjata AK-47 yang suidah diberi peredam dan memakai topeng emas bermotif feniks.


CUG! CUG!


Dua penjaga keamanan dan 2 penjaga parkir langsung dilumpuhkan dengan menembak kedua betis mereka.

__ADS_1


Para pelanggan bank langsung panik dan jongkok dengan melindungi kepala mereka dengan tautan tangan.


Satu perampok topeng emas masuk dan menodongkan senjata, "Diam dan kooperatif! Atau kepala kalian aku tembak!"


__ADS_2