INDIGO SYSTEM

INDIGO SYSTEM
Indigo <>9 Asal Mula IX End


__ADS_3

Kuntilanak dan pocong lainnya melayang cepat dengan mengibaskan cakar dan kain yang melilit kakinya ke arah Vectorio yang nafasnya mulai tersengal-sengal.


Pemuda gendut tersebut mulai mendapatkan reaksi tubuhnya yang tak mampu menahan ajian Moksala Rudra.


Dengan sedikit limbung, Vectorio melepaskan pukulan ke arah makhluk halus yang mewujudkan tubuh mereka di depannya.


Maung Bodas tidak bisa membantu karena Griesena, panglima kerajaan Iblis Mogharwala muncul dan mau membawa arwah gentayangan Endang.


BAM! BAM!


Vectorio berhasil menghabisi 2 pocong dan 1 kuntilanak yang menyerangnya dengan pukulan ajian Gada Brahma.


[Xixixixi, selamat tuan berhasil membunuh makhluk halus di level arwah gentayangan dan mendapatkan 10 poin Indigo]x3


[Selamat, tuan berhasil naik tingkatan ke level mata batin]


[Selamat, tuan mendapatkan kemampuan Bhayangkara Aksa


[Bhyangkara Aksa merupakan kemampuan melihat makhluk halus secara jelas dan nyata, sampai tingkatan iblis tanpa bisa terkena ilusi tingkat tinggi dari ajian malih Rupa]


[Saat ini tuan hanya bisa mengguanakannya selama 1 menit. Semakin tinggi level Indigo, semakin lama pula durasi pengunaannya]


"Bhayangkara Aksa!" seru vectorio mengaktifkan manik mata berwarna ungu gelap di pupil mata sebelah kiri. Pupil mata biru itu benar-benar berubah sekejap menjadi warna ungu gelap.


Bukannya berani karena berhasil menaikan tingkatannya, Vectorio ,malah mundur dengan raut muka seputih kertas dan tubuh gemetar.


Pasalnya, ia melihat dengan sangat jelas kawanan siluman monyet bermata merah menyala-nyala menatap tajam ke arahnya dengan muka menyeringai.


"Aden, cepat tarik kain mori yang menyelubungi batang pohon itu, aaaargh!" Maung Bodas berteriak memberi petunjuk pada Al.


Namun nahas, bahunya terkena cakaran panglima Grisena dan siluman harimau berparas laki-laki patruh baya yang cukup tampan tersebut berlutut satu kaki sambil memegangi bahu kanannya.


"Matilah kamu dan pergilah ke neraka bersama maharesi Janggut putih!" teriak Grisena memanjangkan kelima kuku di tangan kanannya.


Kuku-kuku itu berkilau dan siap menerjang leher Maung Bodas.


"Tidak semudah itu." Maung Bodas berhasil menangkap tangan kanan Grisena dan mencengkram tangannya kuat-kuat dan melanjutkan, "Apakah kamu tahu perbedaanku dengan tingkatan Ifrit sepertimu? Biar aku tunjukan."

__ADS_1


Energi negatif yang terbentuk dari arwah gentayangan yang berhasil dihabisi oleh Al terserap ke dalam tubuh Maung Bodas.


Disekitar tubuhnya memunculkan fluktuasi udara disertai petir kecil bergemericik, maung Bodas naik tingkatan ke level Ifrit, yang sebelumnya di tingkatan setan atau siluman.


Kuku-kuku yang berwarna putih memanjang, kedua pipinya muncul tiga kumis di sisi kanan dan kiri pipinya dan matanya menyala-nyala dengan manik mata merah.


"Tidak mungkin?!" Grisena melebarkan mata dengan raut muka meringis, sebab pergelangan tangannya dicengkram kuat oleh tangan kanan Maung Bodas.


Pasukan siluman monyet beralih target ke arah Maung bodas, karena akan melukai panglima mereka.


Al menggunakan keempatan itu sebaik mungkin, ia bangkit berdiri walau pandangan matanya agak buram dan pijakan kakinya agak limbung.


Al melompat ke arah batang pohon yang diseimuti kain mori dan berhasil menerobos bartisan Genderuwo.


Kain mori itu ditarik dengan menggalirkan energi ajian Gada Brahma ke telapak tangan kanannya untuk menghancurkan perjanjian ajian Ciung Wanara yang sempat dipelajari oleh Undi dan menggunakan media tubuh Endang sebagai media tumbal.


Pohon itu begetar dan menampakan sosok tubuh Endang yang masih utuh seperti 15 tahun yang lalu dengan leher tergantung tali merah.


"Paman, aku berhasil mendapatkannya, lalu apa yang harus aku lakukan?" tanya Al dengan berteriak dan membuat barisan Genderuwo tersebut berbalik ke arah al dan siap melepaskan cakarannya.


"Groaaar ...!" Barisaan Genderuwo tersebut meraung kesakitan karena lehernya tertebas cakaran maung Bodas.


Lama kelamaan, Genderuwo-genderuwo tersebut hancur, luruh menjadi debu.


"Cepat simpan mayat itu!" titah Maung Bodas tanpa menoleh ke arah Al di belakangnya.


Nampaknya, siluman pria paruh baya tampan tersebut tahu akan kebenaran kantong plastik yang Al taruh di saku kanan celananya.


Tanpa basa-basi Al segera menyimpan mayat Endang ke dalam kantong plastik ajaib.


Tapi kondisi mereka di kepung oleh pasukan siluman monyet yang sudah bertambah banyak.


"Ajian Beluk Saandarawa!" seru Maung Bodas sambil menangkupkan tangan.


Motor zaman baheula tersebut berubah menjadi Harimau besar berwarna merah dengan loreng hitam. Ukuran tubuhnya sangat besar sepuluh kali lipat dari harimau biasa dengan mata merah menyala.


"Groaaar ...!" Harimau Lodaya meraung keras menggetarkan wilayah hutan Alas Sinang dalam radius 100 meter.

__ADS_1


Pasukan siluman monyet pun mundur perlahan karena aura Maung Lodaya terlalu kuat dan mendominasi.


Maung Bodas memegang pinggan Al daan langsung melompat ke punggung Muang Lodaya.


"Jangan biarkan dia lolos, tangkap mereka hidup atau mati!" teriak Grisena berapi-api.


"Mimpi, Maung Lodaya, habisi mereka dan bukakan jalan!"


Maung Lodaya melesat cepat sambil mencabik setiap siluman monyet yang menghalangi jalannya.


Kecepatan Maung Lodaya memang tidak cukup cepat, namun kekuatannya sungguh sangat mengerikan. Setiap siluman monyet yang ia temui langsug ditebas oleh cakarnya menjadi dua bagian.


Al sendiri mulai limbung dan pandangannya mulai buram, tenaga metafsika dan tenaga dalamnya sudah mulai habis.


[Xixixixi! Tuan telah kehabisan TD (tenaga dalam) dan TM (tenaga metafsika). Akan dipulihkan daalam 24 jam dan menggunakan 5% lemak di tubuh tuan]


Al pingsan di dan disangga oleh Muang Bodas yang beraa di belakangnya.


Berkat kehebatan Maung Lodaya, mereka bisa kabur dari wilayah hutan Alas Sinang dengan selamat.


Maung Lodaya berhenti di perbatasan desa Jmabak dan desa Cikedung. Lalu merubah dirinya menjadi angkot kuning dengan Ajian Malih Rupa.


Maung Bodas menggendong Al ala bridal style, walau berat Al turun 5% menjadi 80,8 kg, tetap saja tidaak berpengaruh besar pada Maung Bodas.


Seolah-olah tubuh Al yang gendut tersebut hanya bantal guling yang mempunyai beban 1 kg.


Maung Bodas menaruh Al di depan dan maung Bodas di bagian kemudi melajukan mobil angkot tersebut menuju Polres Indramayu untuk menyerahkan mayat Endang Sriyati.


Hanya dalam satu jam mobil angkot yang tak bisa dilihat oleh mata biassa tersebut sampai di depaan Polres Indramayu. Kondisinya masih sangat gelap, karena mereka sasmpai pukul 02.30.


Al masih belum siuman, maung Bodas mengambil katong plastik tersebut dan berpindah tempat ke depan lobi Polres Indramayu untuk menaruh mayat Endang.


Meski nanti akan menjadi berita heboh dan viral, sebab ada mayat wanita di depan Polres Indramayu.


Maung Bodas menulis secarik kertas yang sudah dibentengi pagar gaib, hanya bisa ddiambil oleh manusia biasa, tapi tidak bisa bagi makhluk halus sampai tingkatan Ifrit.


'Bapak dan ibu polisi yang terhormat, Ini adalah mayat Endang Eka Sriyati yang diketemukan kami di dalam hutan Alas Sinang memalui ritual gaib. Mohon dibuka kembali kasusnya dan bisa mengaadili pelakunya seaddil-adilnya, agar arwah nona Endang tidak gentayangan lagi. Tertanda dukun gaul zaman now, VA.'

__ADS_1


__ADS_2