
"Al, kamu tidak apa-apa?" Vivian segera memapah Al yang sudut bibirnya sudah mengeluarkan darah.
Al menjawab dengan tatapan tajam seperti manik mata Elang ke arah Narindra, "Tidak apa-apa. Maafkan aku yang membuat hari indahmu rusak. Kamu pulanglah bawa motorku ini! Kamu pasti bisakan mengendarainya? Aku ada urusan yang harus aku selesaikan dengan ayahnya Lyodra."
Vivian menuruti perintah Al dengan mengangguk, ia merasakan ini masalah yang cukup serius dan mungkin jika ada dirinya di dekat Al, justru akan menghambatnya.
Vivian pun segera menaiki motor Al setelah melepaskan tangan Al dipundaknya, 'Semoga kamu baik-baik saja Al.'
Al meregangkan tangan dengan menautkan tangan hingga berbunyi 'krutuk-krutuk' dan berkata pada Narindra, ""Oh, ternyata tuan Narindra juga seorang Sramana. Tapi sayang otaknya kemasukan air. Seharusnya anda berterima kasih padaku yang telah menyelamatkan Lyodra dari energi kematian."
Semua pengunjung ketakutan melihat mereka mengeluarkan aura yang sangat mendominasi, hingga pemilik kafe pun tak berani ikut campur untuk melerainya.
"Hanya Sramana yang bau kencur saja mau mengguruiku. Jangan berlagak di depanku, hanya salah satu ajian nawadewanata saja bukan masalah bagiku, aku juga bisa. Ajian Moksala Rudra!"
Narindra melesat ke arah Al dan meninggalkan begitu saja tubuh Lyodra yang sedang pingsan. Hatinya sudah dipenuhi rasa sombong, prasangka buruk, egois dan iri hati, selalu menganggap orang lain rendah, Lyodra pun ia tak lagi diperdulikan.
Narindra sudah tiba di belakang Al dan dengan niat membunuh yang sangat kuat, melesatkan tusukan ajian bayu kumara ke punggung Al atau lebih tepatnya titik vital Al yaitu bagian jantung.
Tanpa menoleh, Al menyunggingkan senyum dan mencibir, "Tuan Narindra aku akui ajian moksala rudra mlikmua sangat cepat. Tapi aku sudah menguasai semua ajian di dalam kitab nawadewanata. Ajian Chakra Visnu!"
BAM!
Narindra terpental sejauh 10 meter dengan telapak kaki bergsesekan dengan permukaan lantai paving blok. Hanya kepulan asap yang tercipta dari tubrukan dua benda yang sangat keras yang menghalangi pandangan.
Al segera melesat ke arah tubuh Lyodra dan membawannya dengan ajian moksala rudra sambil menyerap energi kematian yang tersisa menuju panti Insan Madani.
"Apa?! Tidak mungkin?!" Mata Narindra melebar, selebar-lebarnya.
Pukulan pamungkas dengan elemen angin yang mendesis tak mampu menggores sedikit pun tubuh Al, malah dirinya sendiri yang terpental.
Narindra sama sekali tak peduli jika Al membawa Lyodra dengan raut muka geram ia masuk ke dalam mobil dengan membanting pintunya kuat-kuat.
BLAM!
"Sialan, bocah kencur itu membuatku kalah telak, awas saja jika bertemu lai pasti aku akan habisi. Semua ini gara-gara dia Lyodra jadi seperti ini," kata Narindra dengan menggertakan gigi dan urat otot di dahinya yang menonjol kuat.
Al terus berlari cepat sembari menghisap energi kematan di dalam tubuh Lyodra dengan deityas aksa. Urat ototnya menonjol kuat dengan ruam akar berwarna ungu.
Rasa sakit yang mata sangat ia tahan, sebab sebenntar lagi akan sampai di panti Insan Madani.
Kecepatan ajian moksala rudra memang luar biasa, walau itu hanya 40% dari tingkat kekuatan yang Al bisa dapatkan.
[Xixixixi .... Selamat tuan berhasil menaikan rank tubuh dari rank G ke rank F. Semua kekuatan ajian nawadewanata ditingkatkan menjadi 60%]
[Xixixixi .... Selamat tuan berhasil menaikan rank tubuh dari rank F ke rank E]
[Xixixixi .... Selamat tuan berhasil menaikan rank tubuh dari rank E ke rank D]
__ADS_1
[Xixixixi .... Selamat tuan berhasil menaikan rank tubuh dari rank G ke rank F. Semua kekuatan ajian nawadewanata ditingkatkan menjadi 60%]
[Selamat, ajian gada brahma kekuatannya naik menjadi 60%, kekuatan setara 6 ekor gajah]
[Selamat, ajian moksala rudra kekuatannya naik menjadi 60%, kecepatan tuan setara angin]
[Selamat, ajian angkusa sangkara kekuatannya naik menjadi 60%, tuan bisa menggunakan 3 pedang bayangan]
[Selamat, ajian trisula sambhu kekuatannya naik menjadi 60%, tuan bisa menciptakan dua tombak trisula bayangan dan bisa membunuh makhluk halus setingkat jin]
[Selamat, ajian bajra isvara kekuatannya naik menjadi 60%, tuan bisa menyegel makhluk halus setingkat roh jahat daan menyegel pergerakan Sramana di tahap mata batin]
[Selamat, ajian chakra visnu kekuatannya naik menjadi 60%, tuan mampu menahan serangan fisik Sramana setingkat Kharisma Alit dan Makhluk halus setingkat roh jahat]
[Selamat, ajian mahadewa nagapasa kekuatannya naik menjadi 60%, tuan bisa menciptakan 10 panah angin yang berbaur dengan elemen api. Jarak serang 10 meter]
[Selamat, ajian mahesora dupa kekuatannya naik menjadi 60%, tuan mendapatkan api kaisar, yakni api putih yang mampu membakar makhluk halus setingkat roh jahat]
Al sampai di depan gerbang dan tak menggubris suara mekanis sistem maupun layar antarmuka yang adda di depan wajahnya.
Al berlutut lemas sembari mengendong tubuh Lyodra, "Ibu! Vivian! Tolong!"
Ternyata Vivian belum sampai, Yuzan juga sedang memasak di dalam dan tak mendengar suara panggilan Al.
"Ibu! Vivian! Tolong siapa saja kemari! Tolong!" teriak Al dengan suara agak parau.
Alisa yang baru pulang sekolah melebar matanya melihat Al dengan tubuh beruam ungu disekujur tubuhnya, "Kak Al, kenapa ini?"
Alisa memapah Lyodra dan memanggil-manggil Yuzan, "Ibu! Ibu! Tolong bu! Teman-teman, tolong kak Al!"
Yuzan mendengar suara Alisa segea mematikan kompor dan bergegas ke pintu depan. Begitu pula anak-anak panti yang lain segera keluardari kamarnya.
Sesaat kemudian Vivian tiba, namun ia tak menemukan keberadaan Al dan ia anggap laki-lakki genndut tersebut masih berada di kafe sedaang menyelesaikan masalahnya.
Al ternyata melesat jauh entah kemana yang ia tuju pantai yang sepi pengunjung dan belum pernah dijamah oleh manusia.
Al duduk bersila di atas sebuah batu karang lalu berteriak, "Aduh mak! Sakit ...!"
Tiba-tiba muncul Maung Bodas di belakang Al denngan tubuh berkedip menggunakan ajian lempit sayuta.
"Aiiiih ... si aden mah jangan maksa atuh. Tubuh aden belum kuat menyerap hawa kematian sebanyak itu. Memangnya aden mau tubuhnya seperti dua Sramana yang aden temui sebelumnya?" tanya Maung Bodas dan mencoba menasihati Al.
"Uhuk ...." Al batuk darah beberapa kali daanmelanjutkan membakar tubuhnya dengan api pohon suci, "Ajian Edha Kalpataru Agni!"
Api hijau tersebut mnyebar keseluruh aliran darah da sel-sel di dalam tubuh Al. Tubuhnya rusak parah, organ vitalnya juga banyak yang hancur sebab menyerap energi kematian melebihi kapasitasnya.
Namun proese penyembuhan itu terlampau lambat, Maung Bodas membantu Al dengan menempelkan kedua telapak tangannya ke punggung Al sambil bersila, "Ajian jaggat semesta!"
__ADS_1
Tubuh Maung Bodas menyerap energi TM, energi TD, dan energi alam. Lalu dialirkan ke dalam tubuh Al untuk mempercepat regenerasi sel-sel di dalam tubuhnya.
Proses penyembuhan ini justru mengundang penguasa pantai utara yang memeiliki kerajaan iblis dan ratunya bernama Ratu Dewi Ambarawa Lanjar Amukangerti dan disingkat Dewi Ambal.
Sebuah kereta kencana yang ditarik 10 ekor kuda laut dengan kepala naga keluar dari dalam laut. gelombang air laut menyibak ke kiri dan ke kanan.
Ratu Dewi Ambal datang seorang diri tanpa dayang-dayang atau senopatinya. Entah mengapa ia sama sekali tidak takut dan justru tertarik dengan energi yang dipancarkan dari dalam tubuh Al.
"Apa kabar sahabat lama? Kau masih suka saja melajang yang rambut putih?"
Pertanyaan Ratu Dewi Ambal mengejutkan Maung Bodas yang sedang memejamkan mata untuk berkonsentrasi mengobati Al.
"Eh, si cantik. Ya kamu tahulah kenapa aku melajang selama puluhan ribuan tahun." Maung bodas membuka mata dengan sangat lebar melihat kecantikan Ratu Dewi Ambal senilai hampir 99.
"Bagaimana kalau pemuda ini ikut denganku dan kujadikan suamiku?" pinta Ratu Dewi Ambal.
"Jangan cari perkara! Mending kau menikah denganku. Meski aku berumur 10.990 tahun, tapi jika masalah ranjang aku masih kuat kok 5 ronde. Mau mencoba? Jika mau jadikanlah aku suamimu," kata Maung Bodas memainkan alis dengan menaik-turunkannya.
"Kau selalu saja menghalangiku!" Wajah da tubuh Ratu Dewi Ambal berubah dipenuhi sisik dengan taring-taring yang memanjang di mulutnya. "Ajian Cemeti Badranaya!"
Muncul cambuk berwarna merah menyala dan sellimuti petir merah di tangan kanan Ratu Dewi Ambal.
"Kau selalu saja lebih suka kekerasan daripada kelembutan. Ajian Mahkota Siliwangi!" seru Maung Bodas menggunakan ajian pamungkasnya.
Dua kujang kembar dari perubahan Maung Lodaya tergenggam erat di kedua tangan Maung Bodas yang sudah memakai jubah pera dengan mahkota kaisar berwarna putih keperakan.
Fluktuasi udara terjadi dalam radius 500 meter, awan hitam menggulung disertai badai yang kencang dan petir yang terus bersahutan satu sama lain.
Al merasakan energi positif dari batu karang yang ia duduki saat ini. Lalu mencoba mendeteksi,"Ajian Padma Siwa!"
Dalam persepsi terawangan Al ia melihat kesepuluh oranng tua jompo yang terjebak di dalam alam gaib.
Ratu Dewi Ambal merasakn jika Al sedang menerawang batas luar istana gaibnya, "Sialan, berani kau meihat semua persembahan tumbalku, Ajian Kalaseta!"
BOOM!
Pilar energi berwarna hitam pekat keluar dari dalam tubuh Ratu Dewi Ambal dan menjulang ke langit hingga menembus awan hitam.
"Bedebah, jadi para orang tua jompo tersebut dijadikan tumbal. Sungguh mereka orang yang tak berprimakhluk halusan eh salah, yang tak berkeprimanusiaan." Al geram dengan menggertakan gigi.
Al sudah tahu pangkal masalahnya dimana, walaupun pelaku penculikannya belum terungkap. Utamanya harus menyelematkan para orang tua jompo dahulu.
Ratu Dewi Ambal menyabetkan cambuknnya bertubi-tubi ke arah Maung Bodas dan ia sangat santai menerima cambukan tersebut. Sebab, Maung Bodas sekarang sudah naik tahap ke makhluk tahap iblis dan levelnya setara dengan Ratu Dewi Ambal.
Cambukan tersebutt hanya terasa seperti elusan kapas yang lembut mengenai jubah perak Siliwangi yang dipakai oleh Maung Bodas.
CTASH! CTASH!
__ADS_1
"Ratuku yang cantik, ayolah lebih kuat lagi! Aku sungguh mendambakan pelayanan dan sentuhanmu yang gahar itu, aaaurgh!"
Sambil menunggingkan pantat, Maung Bodas terus mengejek ratu Ambal yang tak bisa melukainya sedikit pun.