INDIGO SYSTEM

INDIGO SYSTEM
Indigo <>42 Harta Kembar Siam IX


__ADS_3

Di puncak gunung, Bharada Jefry tiba di dahulu dibandingkan Hanubara. Matanya berkeliling mencari keberadaan Ki Gondang, namun tak ada siapapun di puncak.


"Aku akui kamu memang hebat Angling Wirasena."


Suara Prisarasari tiba-tiba terdengar di belakang Angling Wirasena dan ia langsung berbalik dengan menghantamkan pukulan.


BAM!


Kedua pukulan beradu, sebab Prisarasari reflek menghantamkan pukulan juga dan keduanya terpundur sejauh 20 meter.


Prisarasari menghilang dari pandangan Jefry, ia menggunakan ajian panglimunan agar tak bisa dideteksi, baik suara, aura, rasa serta gerakan tubuhnya.


Bharada Jefry matanya berkeliling dan bersiaga dengan sikap kuda-kuda," Ajian Warhana Sandya!"


Bharada Jefry mengaktifkan radar gaib, namun radar tersebut tidak dapat mendeteksi keberadaan Prisarasari.


Prisarasari memang benar-benar tak terlihat ataupun terdeteksi oleh radar gaib maupun pandangan mata Bharada Jefry.


Dan ....


JLEB!


Perut Bharada Jefry berhasil ditusuk oleh pedang yang terbuat dari tulang. Prisarasari berhasil menyatukan dua khodam miliknya ke dalam tubuhnya, yakni khodam Kodrambardur dan Atharwa.


Akibat penyatuan tersebut ia bisa menumbuhkan apapun dari tulangnya dan berkamuflase tanpa harus merapal mantra ajian panglimunan ataupun ajian mallih rupa, cukup niat dan bayangkan seketika itu Prisarasari bisa menggunakan ajian panglimunan dan ajian malih rupa.


"Guhak!" Bharada Jefry memuntahkan seteguk darah.


"Cepat berikan pecahan mustika  jagat saksana dan mustika Gandariwa. Maka aku akan mengampunimu sebagai teman."


Prisarasari menggenggam gagang pedang tulang tersebut dengan sangat kuat dan menusukan bilah pedang tulang tersebut semakin dalam.


"Hahaha .... Aku tak menyangka persahabatan kita yang sudah ratusan tahun harus terhapus hanya demi sebuah mustika kopong?"


Bharada Jefry berkata sambil tertawa jahat, ia sama sekali tidak takut mati. Memang sebenarnya ia ingin mati sejak lama, sejak melihat Aruna dan Arini tewas di depannya.


Sudah 10.000 tahun lebih ia hidup menyendiri dan tak pernah berbagi kasih sayang pada wanita manapun. Itu semua demi mempertahankan cintanya pada Aruan dan Arumi.


"Bodoh aku memang tak membutuhkannya, tapi temanku butuh. Cepat berikan atau kurobek perutmu!" ancam Prisarasari dan sudah bersiap merobek perut Bharada Jefry.


Hanubara tiba-tiba berputar-putar di udara seperti bola dan berubah menjadi tongkat Gandariwa yang berputar bagai gasing dan menghantam pelipis kanan Prisarasari hingga terpental menabrak bebatuan.


BOOM!


Batu yang terhantam tubuh Prisarasari hancur dengan kepulan debu dan asap yang sangat pekat.


Tongkat Gandariwa berputar cepat mengelilingi tubuh Bharada Jefry sebagai perisai agar sulit ditembus oleh Prisarasari yang selalu muncul tiba-tiba.


"Kau pikir kau saja yang meningkatkan kekuatan aku juga. Ajian jagat saksana!"


Tubuh Bharada Jefry diselimuti aura berwarna biru pekat dan lubang di perutnya menutup dengan sangat cepat.


" Prisarasari kau bodoh sekali rupanya, hahahaha ...." Birawa yang sudah berada di ketinggian 20 meter menertawakan Prisarasari yang bisa  terhantam oleh Hanubara, dan melanjutkan, "Kau itu benar-benar bodoh, punya dua khodam tapi rasanya seperti Sramana biasa. Apa aku perlu aku juga yang turun tangan?"


"Diam kau Birawa sialan!" Prisarasari bangun dengan raut muka dipenuhi otot di dahinya dan menangkupkan tangan, "Ajian Nritya Merta!”


Seluruh tubuh Prisarasari dipenuhi duri-duri tulang yang berwarna hitam dan juga sangat beracun.


Ia segera melesat ke arah Bharada Jefry dan menebas bertubi-tubi. Bharada Jefry menangkisnya dengan tongkat Gandariwa


STANG! STING!

__ADS_1


Bharada Jefry harus sangat waspada agar jangan sampai tergores atau tertusuk duri-duri sepanjang bilah pedang yang ada di seluruh tubuh Prisarasari.


“Kenapa? Kau takut mati makanya menghindar?” 


Dengan menyunggingkan senyum Prisarasari terus menyerang Bharada Jefry dengan sangat brutal dari berbagai sisi.


Bharada Jefry tersudut, ia hanya bisa menghindar dan bertahan tanpa bisa menyerang.


‘Sial, gerakannya terlalu cepat. Aku tak bisa menyerang balik,’ batin Bharada Jefry menyeringai kesal.


“Kau terlalu lama Prisarasari! Ajian Segoro Agni!” 


Birawa yang melayang turun cepat ke ketinggian 10 meter dan menarik nafas dalam-dalam. lalu menyemburkan api ke arah Prisarasari dan Bharada Jefry.


Api itu sangat besar bahkan mampu membakar permukaan tanah dalam radius 200 meter.


BOOM!


Keduanya terbakar hebat dan meledak, “Dengan begini aku bisa memiliki kedua pecahan mustika jagat saksana, hahaha ….” Birawa tertawa jahat penuh kemenangan melihat kedua sahabatnya mati dengan tangannya sendiri.


Dia sudah kehilangan sisi kemanusiannya dan sudah berubah menjadi iblis.


“Bangsat kau Birawa! kau juga aku bunuh padahal semua ini adalah rencana ku!” teriak Prisarasari yang berhasil selamat walau terkena luka bakar 50% pada tubuhnya.


Hanubara segera masuk ke dalam tubuh Bharada Jefry yang sudah pingsan namun kritis. Ia harus segera menolongnya setelah merubah dirinya menjadi mustika Gandariwa.


“Bos, terima kasih sudah hampir 10.000 tahun kita bersama. Namun aku akan korbankan dirimu agar selamat.”


Hanubara menyeka air matanya ketika masuk ke dalam wadah energi Bharada Jefry.


Hanubara akan menyatukan jiwa sepenuhnya ke dalam pecahan mustika  jagat saksana.


Dengan melakukan hal tersebut maka ia sudah dianggap mati sebab menjadi esensi energi yang belum ditemukan istilah energi tersebut. Hanya hanubara yang tahu akan hal ini.


BOOM! 


Dari dalam tubuh Bharada Jefry mengeluarkan gelombang kejutan disertai pilar energi putih yang menjulang ke langit.


Gulungan awan hitam yang disertai petir yang bersahutan langsung terhempas dan berganti menjadi cahaya bulan purnama yang sangat terang. Bahkan seperti siang hari di puncak Gunung Kalahar.


Al yang sedang bersemedi sambil melayang dibawa awan hijau milik naga Taksaka membuka mata.


“Apa yang terjadi? Bagaimana keadaan pak Jefry?” Al sangat khawatir dengan Bharada Jefry.


Sebab sensor energi melalui ajian padma siwa menunjukan aktifitas dua energi kematian yang sangat pekat di sekitar Bharada Jefry.


“Aku harus bergegas! Naga Taksaka kita harus bergegas!” pinta Al pada Naga Taksaka yang sedang bersemedi di dalam ruang batin Al.


Ia sangat paham walau sedang bersemedi di dalam ruang batin Al untuk menyerap energi alam.


Awan hijau tersebut bergerak sangat cepat dan kecepatannya ditingkatkan oleh Naga Taksaka dari dalam ruang batin Al.


Di puncak, Bharada Jefry terbangun dengan mata putih dan tubuhnya diselimuti petir berwarna putih. tatapan matanya sangat tajam pada Prisarasari dan Birawa.


“Aku akan bunuh kalian berdua!” kata Jefry dengan dua suara serentak menjadi satu.


Bharada Jefry hilang dari pandangan Birawa dan Prisarasari, “Sangat cepat?!”


Keduanya melebarkan mata, sebab hanya dalam sepersekian detik tubuh Bharada Jefry ada dua tubuh dan muncul di depan Birawa dan Prisarasari melepaskan tendangan ke depan yang sangat kuat.


BOOM!

__ADS_1


Keduanya terpental sangat jauh hingga terjun ke kawah Gunung Kalahar yang sudah dingin.


Bharada Jefry tidak menyia-nyiakan hal tersebut langsung melesat dengan kecepatan tinggi ke arah kawah Gunung Kalahar untuk mengejar Birawa dan Prisarasari yang sudah terluka parah.


“Ajian Gandariwa!”


Sambil melesat, Bharada Jefry mengumpulkan energi TD di kepalan tangan kanannya.


Tubuhnya menjadi dua dan melesat masing-masing ke arah Birawa yang ada di sebelah kirinya dan Prisarasari di sebelah kanannya.


BOOM!


Bharada Jefry menghantamkan pukulan yang sangat kuat ke arah dada Birawa dan Prisarasari hingga membuatnya tertembus.


“Guhak!” Birawa dan Prisarasari memuntahkan darah yang sangat banyak.


Mereka tak menyangka akan mati semudah itu di tangan sahabatnya sendiri. Walaupun sekarang mereka bukan lagi sahabat setia karena memiliki jalan yang berbeda.


Kedua tubuh Bharada Jefry membawa kedua mayat  sahabatnya tersebut ke atas kawah agar mudah ditemukan.


Penyatuan mustika Gandariwa dengan pecahan mustika jagat saksana sudah mencapai batasnya, yakni cuma 1 menit.


Setelah sampai, kedua tubuh Bharada Jefry menjatuhkan kedua tubuh sahabatnya tersebut di permukaan tanah, sebab sudah tak kuat lagi dan berlutut satu kaki dengan nafas tak beraturan.


“Huff … huff … huff …. Kenapa kau meninggalkanku Hanubara dan melakukan tindakan senekat ini.” Bharada Jefry dengan nafas tak beraturan, menyeka air matanya yang terjatuh cukup banyak di kedua pipinya.


Bharada Jefry kehilangan seorang sahabat sejati yang telah lama menemaninya. Walaupun Hanubara hanya kodah makhluk halus yang ia kontrak, namun ia tak pernah menganggapnya sebagai bawahan atau suruhan. Namun ia anggap sebagai sahabat dan keluarga.


Setelah kekalah Prisarasari oleh Bharada Jefry, raja Mogharwala yang masih terluka dan ingin menyerang, mengurungkan niat setelah Al datang.


Sedari tadi raja Mogharwala yang sudah beraliansi atau  bersekutu dengan Kerajaan kakawin Sena, terus mencari waktu yang tepat.


Namun melihat aura mustika Gandariwa telah redup ia mengurungkan niat untuk menyerang Al dan Bharada Jefry, “Dasar hanubara bodoh! Mau saja berkorban demi manusia lemah! Sialan!”


Setelah mengatakan hal tersebut raja Mogharwala hilang dari pandangan dengan tubuh berkedip menggunakan ajian lempit sayuta.


Di wilayah teritorial milik Jayadipa, Kakawin, Setyarini dan Jayadipa terus memperhatikan Bharada Jefry yang sudah lemas dan Al yang baru saja tiba.


“Kalian jangan ikut campur, aku akan membunuh keturunan Ratu Wulandari itu seorang diri!” Jayadipa dan setyraini hanya mengangguk pelan mendengar perintah dari Kakawin.


Kakawin merubah tubuhnya menjadi Ratu Chandra Aruna dan Ratu Chandri Arini yang sangat cantik dan mempesona.


Mereka berdua masuk ke dalam pusaran putih dan keluar di hadapan Al juga Bharada Jefry.


“Arini?! Aruna?!” Bharada Jefry melebarkan mata dan tangisnya pun tambah pecah.


ia sudah hilang akal setelah menahan rindu selama 10.000 tahun. Bharada Jefry dengan merangkak mendekati kedua gadis kembar tersebut.


Al hanya terdiam dan tak melakukan apa-apa, sebab ia tak paham dua gadis kembaryang sangat cantik tersebut musuh atau teman.


Tidak ada sekali rasa ancaman yang muncul dari Aruna dan Arini. Al membantu Bharada Jefry dengan berdiri dan berjalan ke arah Aruna dan Arini.


Anehnya  detiyas aksa seketika tidak bisa diaktifkan ketika Al berada di dekat Aruna dan Arini.


"Sayang, namun apakah kalian mencintaimu? Jawablah!" 


Bharada Jefry melepaskan tangan Al dan langsung menubruk tubuh Aruna dan Arini untuk memeluknya.


Jiwa Arini dan Aruna di dalam tubuhnya yang disegel oleh Kakawin beresonansi dengan perasaan Bharada Jfery yang sedang ia utarakan.


“Ya, kang mas kami juga mencintaimu.” Aruna dan Arini serentak memeluk Jefry bersamaan seperti teletubies berpelukan dan bulir-bulir bening tersebut membanjiri kedua pipi masing-masing.

__ADS_1


Benar-benar cinta yang tak pernah lekang oleh waktu, padahal sudah 10.000 tahun.


 


__ADS_2