
"Siapa kedua wanita kembar tersebut, wajahnya seperti pinag dibelah dua. Kecantikannya pun sama tanpa cacat sedikit pun?"
"Entahlah, tapi aku merasa itu warga kita."
"Ah, masa. Memangnya kita punya perempuan secantik itu di desa ini?"
"Iya juga. Tapi aku merasa dibalik kecantikan wajah mereka berdua. Bentuk tubuh dan aura yang terpancar seperti terasa sangat familiar."
Semua orang bergosip ria mengenai Serani dan Seruni yang sekarang berubah identitas menjadi Chandra Aruna dan Chandri Arini.
HIngga tiba kereta kuda yang sangat mewah, di dalamnya ada Kaisar Wijaya seorang diri.
Semua warga yang mendekat berlutut satu kaki memberikan penghormatan pada kaisar mereka yang sangat mereka cintai.
'Kakak, sepertinya itu kereta kencana yang membawa Kaisar Wijaya,' batin Aruna sambil menujuk kereta kencana yang membawa Kaisar Wijaya dengan jempol kanannya.
'Ya, adikku. Kita ada kesempatan bisa mendekatinya. Jika jadi dayang pun tak apa. Yang penting bisa di dalam istana Julang Emas,' balas Aruni dalam batinnya.
Prajurit yang melihat Arunamenjulurkan jempol langsung bereaksi menangkap Aruna, "Dasar lancang! Kau pantas mati!"
Mendengar suara teriakan tersebut, Wijaya segera kelaur dari kereta kencana dengan aura mendominasi. Ia hanya memakai baju pendekar biasa, bukan selayaknya seorang Kaisar. Ia merasa jika memakai baju kaisar, jutsru akan menjauhkan dari rakyatnya dan ada dinding pembatas dengan mereka.
"Tenang, paman. Mereka hanya ingin menyapaku, ya kan nona Serani dan nona Seruni."
Mendengar pernyataan Wijaya, semua orang matanya melebar dan menjatuhkan rahang, "A-apa?! Ti-tidak mung-mungkin?! Ba-bagaimana bisa?!"
Bukan hanya seluruh warga Desa Kalahar, tetapi juga Aruna dan Arini ikut melebarkan mata dengan rahang terjatuh.
Padahal ia sudah berdandan secantik mungkin, tapi Wijaya bisa tahu. Padahal semua orang sudah pangling melihat mereka berdua dan terpana dengan kecantikannya.
"Mulai sekarang kalian akan ikut Senopati Prisarasari di Kadipaten Pandigilang. Kalian tak perlu terkejut, justru bagiku kalian adalah berkah di tanah kekaisaran Siliwangi," titah Wijaya dengan mengulas senyum ramah dan melanjutkan dengan menunjuk Prisarasari, "Senpoati bawa mereka berdua ke Istana Kadipaten Pandigilang. Perlakukan mereka dengan baik dan ajari mereka tata cara kebangsawanan."
Aruna dan Aruni langsung tersenyum lebar mendengar titah dari Kaisar Wijaya.
Walau tidak hidup distana Julang Emas, namun tetap saja mereka akan hidup di lingkungan kekaisaran dengan aturan bangsawan yang sangat ketat, yakni bangsawan yang penuh dengan norma, tata etika, dan sopan santun dalam melayani rakyat.
"Mari nona Serani dan nona Seruni!" ajak Prisarasari ke arah salah satu kereta kencana miliknya.
"Nyonya Senopati, izinkan kami memperkenalkan diri kami yang baru. Nama yang telah diberikan oleh Bulik Ratu Amogharwati. Nama kami adalah Chandra Aruna dan Chandri Arini."
Aruni sebagai kakak menangkupkan tangan memberi hormat pada Prisarasari, Kaisar Wijaya dan seluruh orang yang hadir di alun-alun desa.
"Chandra Aruna dan Chandri Arini ya?" gumam Angling Wirasena mematri kedua nama tersebut di dalam pikirannya.
"Baiklah, mulai sekarang nama kalian Dewi Chandra Aruna ddan Dewi Chandra Arini. Kedua ratu kembar yang akan memerintah Kerajaan Pandigilang dan dibawah naungan kekaisaran Kurusetra!" titah Wijaya dan langsung dicatat oleh perdaana menteri Raksa Wijaya.
Bagi mereka titah Wijaya adalah titah mutlak sebab Wijaya adalah keturunan dewa dan tidak ada yang berani membantahnya.
__ADS_1
Aruna daan Arini segera dii bawa oleh Prisarasari menuju istana Kadipaten Pandigilang.
Di dalam kereta kencana, mereka berdua terus mengulas senyum lebar dan raut wajahnya sangat sumringah.
Mereka berdua tak menyangka jika mendapat durian runtuh seperti ini. Entah berkat kecantikan mereka atau Wijaya mengetahui sesuatu tentang jasa mereka di waktu kecil untuk kekaisaran.
Kurusetra.
"Rupanya nona sangat senang dibawa ke istana ya?" tanya Prisaarasari.
"Tentu saja nyoonya senopati. Siapa yang tak senang jika tinggal di dalam istana dan itu merupakan impian kami berdua selama ini," jawab Arini dengan penuh percaya diri.
"kalian memang pantas mendapatkan hal tersebut. Sebab berkat kalian, Ratu Wulandari selamat dari kutukan. Darah dari pembelahan keepla kalian merupakan obat mujarab bagi sang ratu," jelas Prisarasari membuat mata Aruna dan Arini melebar, selebar-lebarnya.
Pasalnya ketika Wjaya mendapat wangsit untuk mencari darah bayi kemar siam yang lahir di bulan purnama.
Hanya mereka yang cocok sesuai wangsit tersebut dan darah pembelahan kepala mereka yang menyatu dijadikan obat untuk penyakit aneh ratu Wulandari, setelah pasca mengeluarkan mustika jagat saksana.
Namun, Prisarasari yang merasakan energi fluktuasi dari dalam tubuh mereka bereaksi cepat.
Tubuhnya urat ototnya menegang kuat di sekujur tubuh dengan ruam otot seperti akar berwarna gelap.
'Hahaha .... Kamu perempuan menarik. Bagaimana jika kamu serahkan pecahan mustika tersebut, sebelum Ratu Wulandari menyempurnakan ajian yang bisaa melacak keberadaan pecahan mustika jagat saksana.'
Suara tawa jahat dan sebuah pernyatan terdengar di dalam kepala Prisarasari. Namun ia tak mengerti dengan pecahan mustika jagat saksana yang dibicarakan oleh suara tersebut.
'Kau pikir kekuatanmu itu darimana? Jika bukan dari pecahan mustika jagat saksana yang masuk dalam dirimu ketika kamu mandi disungai?'
Suara tersebut cukup membuat Prisarasri membulatkan mata. Sebab kejadian sebenarnya memang seperti itu dan sesuai apa yang diutaraka kedua siluman setingkat iblis yang merasuki Seruni dan Serani atau Chandra Aruna serta Chandri Arini.
'Aku tidak tahu cara mengeluarkannya. Lagipula jika aku memberikannya padamu, nanti kekuatanku hilang,' sergah Prisarasari melalui komuniaksi dengan iblis kembar bernama Kakawin.
Siluman iblis ini ada dua ssok tapi selallu muncul denngan satu sosok dengan dua wajah, satu wajah di depan dan satu wajah di belakang.
Seruni dan Serani telah kesurupan sosok tersebut, juga telah diketahui oleh Bulik ratu Amogharwati.
Makanya mantan permmaisuri kekaisaran siliwangi tersebut menurunkan ajian chandra triasih, ajian chandra purnama, dan ajian chandra getih untuk menguatkan kekuatan Kakawin yang akan digunakan untuk menghabisi Kaisar Wijaya beserta keluarganya.
Prisarasari tergoda dengan bujukan Kakawin dan menyetujuinya, 'baiklah, tapi apa yang harus aku lakukan?'
'Malam hari tepat bulan purnama, datanglah ke bagian hutan dalam Kalahar. Carikan 3 orang lagi yang memiliki pecahan mustika jagat saksana. Agar ajian pancer sudarsana sempurna dan kalian akan aku satukan dengan keempat Jendralku di kerajaan iblis Kakawin Sena,' titah kakawin melalui komunikasi telepati.
Setelah mendengar hal tersebut, Prisarasari kepalanya keluar dari jendela jkereta kencana untuk bersiul memberi isyarat perintah pada kusir kereta kencana agar lebih cepat.
Sesampainya di depan istana Kadipaten Pandigilang yang menjadi pusat pemerintahan di kekaisaran Siliwangi yang dianungi oleh kekaisaran Kurusetra.
Aruna dan Arini disambut bak ratu, perlakukan baik oleh para prajurit dan para dayang.
__ADS_1
Mereka langsung dituntun menuju kamar dalem peristirahatannya. Bulik Ratu Amogharwati sudah meramal ini akan terjadi dan kedua gadis kembar itu akan masuk ke dalam jajaran ratu dari beberapa kerajaan yang akan dinaungi oleh Wijaya.
Namun penglihatan ramalannya belum menemukan titik terang. Jika mereka berdua akan berhasil menghabisi kaisar Wijaya beserta keluarganya.
Makanya Bulik Rtau Amogharwati terus mendekati Serani dan Seruni setiap kali ia datang ke pasar. Langkah terakhirya adalah menurunkan ajian chandra getih yang seharusnya tidak diturunkan pada mereka berdua.
Ramalan itu sudah 50% melenceng dari keharusannya, ditambah lagi muncul Kakawin yang sudah masuk ke dalam tubuh kakak-beradik kembar tersebut dan menanamkan ajian kalaseta yang akan aktif ketika bulan purnama.
Senoptai Prisarasari menyandarkan punggungnya di salah satu tiang di dalam aula istana Pandigilang sambil bergumam, "Apakah aku ajak saja Birawa, jayadipa dan Setyarini untuk ikut? Kalau Angling aku yakin pasti tidak akan mau, apalagi jikalau tahu kedua wanita pujannya memiliki sesuatu yang sulit dijangkaunya."
......................
14 hari kemudian, malam bulan purnama.
Prisarasari berhasil membujuk Birawa, Jayadipa, dan Setyarini untuk ikut masuk ke dalam hutan bagian dalam gunung Kalahar.
Angling juga ikut, sebab ia sedang pendekatan dengan Aruna dan Arini. Ia berencana meniikahi mereka berdua agar bisa menduduki tahta raja di kerajaan Pandigilang.
Karena Aruna dan Arini sudah ditetapkan oleh Wijaya Kusuma untuk menjadi ratu di kerajaan Pandigilang sebagai balas jasanya pada Ratu Wulandari.
Angling Wirasena ikut untuk menjaga Aruna dan Arini yang sengaja pergi mengikuti Prisarasari.
Tubuh Aruna dan Arini 100% total sudah dikendalikan oleh Kakawin yang ingin menumbalkan Angling Wirasena sebagai persyaratan penurunan ajian pancer sudarsana.
Berkat Kakawin pula, Prisarasari bisa mengetahui pecahan mustika jagat saksana yang bersemayam dii dalam tubuh Birawa, Jayadipa, dan Setyarini.
Sesampainya di sebuah altar yang dikelilingi empat pohon besar, angling Wirasena tersadar, "Dimana ini?"
Ia langsung menghunuskan keris, sebab sudah terkan ajian kalaseta. Pandangan matanya melihat Birawa, Jayadipa, Setyarini, aruna dan Arini berubah menjadi iblis seperti kakawin.
Angling Wirasena menyerang dengan membabi buta ke arah mereka secara acak.
"Tolong! Senopati Angling Wirasena telah gila!" teriak Aruna dan Arini serentak, berpura-pura ketakutan agar rencana Kakawin berhasil.
Birawa dengan kekuatan penuh melesat ke arah Angling Wirasena untuk mengentikannya. Angling Wirasena sudah dalam pengaruh Kakawin ditingkatkan kekuatannya untuk menyerang balik Birawa.
Bukan hanya Birawa, tapi Setyarini, Jayadipa dan juga Prisarasari. Mereka berempat terpental ke arah empat pohon besar setelah terkena pukulan Angling Wirasena dengan memuntahkan darah yang cukup banyak.
"Guhak!" Darah itu termuntah tepat menenagi salah satu akar pohon yang menonjol keluar dari permukaan tanah. Lalu terserap ke dalam dan perjanjian kontrak ajian pancer sudarsana terpenuhi.
"Hahaha ...." Aruna dan Arini melayang setinggi 5 meter dengan tertawa jahat.
Rencananya selama 10 hari yang sudah ia pikirkan dan disusun secara matang telah berhasil.
TTubuh mereka berempat diselimuti aura hitam dari ajian kalaseta dan memunculkan segel kutukan bermotif kepala serigala dikelilingi empat bilah shuriken.
"Auuuuu ...!" Aruna dan Arini berubah menjadi Kakawin dengan bentuk yang pernah ditemui oleh Seruni.
__ADS_1
Mereka berempat bangkit berdiri dengan posisi, Birawa di pohon sebelah barat, Jayadipa di pohon sebelah utara, Setyarini di pohon sebelah timur dan terakhir Prisarasari di pohon sebelah barat.